My First Love Story

My First Love Story
Episode 117


__ADS_3

Angga tampak begitu rapi. Ia mengenakan stelan kasual dengan topi yang menutupi kepalanya. Rambut tipis yang tumbuh di sekitar dagu dan bibirnya pun ia cukur hingga bersih. Betapa harinya terasa  berbeda sejak beberapa hari lalu. Ia memutuskan untuk keluar rumah dan menemui seseorang yang telah membuat janji dengannya.


Hendra mengantarnya ke sebuah cafe dimana seseorang telah menunggu Angga. Angga menghampiri laki-laki yang sedang memainkan bibir cangkir yang ada di hadapannya dengan lamunan yang dalam.


“Sudah nunggu lama?” sapa Angga sambil menarik kursi di hadapan Fritz.


“Belum terlalu lama, minuman kita baru saja datang.” Sahut Fritz. “Ada apa kamu mengundangku ke sini?” tanya Fritz dengan santai


“Aku akan menikah!” sahut Angga dengan semangat.


“O yah?! Wah selamat bro! Perempuan mana yang begitu beruntung mendapatkan hati tuan muda tampan ini?” Fritz menyalami tangan Angga dengan erat seraya memeluknya.


“Bukan dia yang beruntung, tapi aku yang sangat beruntung!” sahut Angga dengan senyum tersungging.


“Astagaaa!!! Kau membuatku iri saja. Ceritakan seperti apa perempuanmu yang begitu istimewa itu...” Fritz terlihat begitu antusias.


“Aku tidak perlu menceritakannya. Kau mengenalnya dengan sangat baik.” tukas Angga dengan senyum bangga.


“Maksudmu?” Fritz tercengang. Angga mengangkat bahu begitu saja. “Apa dia schnuckimu?” terka Fritz dengan mata melotot. Angga mengangguk dengan senyum bahagianya. “Ah sial! Kau mengambilnya lebih dulu.” dengus Fritz seraya mengguyar rambutnya kasar.


“Segera cari wanita lain, dia akan segera menjadi milikku.” Angga dengan gaya angkuhnya meledek Fritz.


“Hah, hilang sudah harapanku...” dengus Fritz dengan wajah kesalnya yang ditimpali  tawa oleh Angga.


“Fritz, aku  tau kondisiku tidak baik-baik saja. Kalau aku pergi lebih dulu, tolong jaga schnucki ku...” lirih Angga dengan wajah sendunya.


“Bodoh! Kamu merebutnya dariku. Terus sekarang malah berencana meninggalkan dia, pikiran macam apa itu?!” seru Fritz dengan wajah kesalnya. Angga hanya terdiam. “Kalau kau membuatnya menangis apalagi membuatnya menjadi janda, aku akan menikahinya di depan makammu dan menertawakan kebodohanmu!” ancam Fritz.


“Kalau dia bersedia, aku tidak masalah. Tapi aku minta tolong hiburlah dia.. temani dia. Mungkin untuk beberapa lama dia akan bersedih.” tutur Angga dengan dada yang terasa sesak.


“Bertahanlah lebih lama. Aku tidak bisa menjaganya lebih baik darimu.” Fritz merasa ikut terluka mendengar kalimat Angga. Setelah lebih dari 10 tahun menjadi kakak posesif untuk Kezia dan sekarang bisa mendapatkan hati Kezia, rasanya tidak habis pikir jika kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Angga.


Fritz memandangi  Angga yang masih terpaku menatap pantulan wajahnya dari segelas teh hangat. Perasaannya berkecambuk. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Berapa lama aku bisa bertahan?” lirih Angga saat melihat tetesan darah di meja cafe yang menetes begitu saja dari hidungnya.


****


Meja makan terisi penuh dengan berbagai menu yang mumpuni di masak Kezia. Ia memang  memasak lebih banyak dari biasanya karena kedua orangtuanya akan tiba hari ini. Angga tengah menikmati sarapannya sambil memperhatikan kesibukan Kezia. Di hadapan Angga, Kezia telah menyiapkan obat yang harus diminum Angga.


“Sarapan dulu, ini udah makin siang...” tutur Angga sambil menepuk kursi di sampingnya.


“Iya kak...” sahut Kezia sambil mendudukan tubuhnya.


Dengan cepat Kezia menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, ia pergi ke kamar untuk menyiapkan kebutuhannya berangkat kerja.


Ia membiasakan membawa baju ganti. Karena ia tidak ingin memakai baju dari luar di lingkungan rumah sakit atau pun sebaliknya, ia tidak mau membawa penyakit dari rumah sakit ke rumah. Dan untuk berangkat kerja, ia mengenakan kemeja putih berleher V dengan lengan pendek yang dipadukan dengan celana kain berwarna cream. Bajunya ia masukan ke dalam dan belt coklat tua melingkar di pinggangnya yang ramping. Di lengan kirinya melingkar jam tangan mungil keemasan. Hells yang tidak terlalu tinggi membuat kakinya terlihat lebih jenjang. Rambut hitamnya ia biarkan tergerai indah dengan tas selendang berwarna coklat sebagai penyempurna penampilannya.

__ADS_1


Angga terlihat sedang menunggunya di ruang keluarga dengan koran di tangannya. Ia tertegun saat Kezia ada di hadapannya.


“Astaga,, aku gag seharusnya izinin kamu pergi...” cetus Angga sambil menatap Kezia. Rasanya ia tidak rela membiarkan mata laki-laki lain yang mungkin menatap Kezia dengan perasaan.


“Kakak gag jadi nganter aku?”


“Jadi. Bahkan kalau perlu aku akan menemanimu bekerja.” Sahut Angga.


“Kalo gitu ayolah, aku takut terlambat.”


Angga meraih tangan Kezia dan mengapitnya di lengan kanan. Mereka berjalan bersama. Angga sudah membayangkan kalau hari ini akan menjadi hari yang berat baginya karena selama 8 jam kedepan ia akan sangat merindukan gadis di sampingnya.


Selama perjalanan Kezia melihat keluar mobilnya. Awal musim semi terlihat begitu indah. Angga mendekatkan tubuhnya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kezia. Bibirnya mengecup lembut kepala Kezia.


“Indah ya kak...” tutur kezia melihat bunga yang bermekaran di sepanjang jalan.


“Iya...” Angga menyahuti. Ia begitu menikmati setiap detik waktu yang ia lewati bersama Kezia.


Hendra memperhatikan Angga dan Kezia dari spionnya. Ia tersenyum senang, tuan muda yang selama ini dijaganya bisa terlihat begitu bahagia.


****


Suasana rumah sakit masih sepi, karena hari masih cukup pagi. Kezia melangkahkan kakinya dengan yakin ke ruangan manajemen rumah sakit. Ia melapor bahwa hari ini ia mulai bekerja. Dokter Albert yang merupakan ketua tim pelayanan onkology, dengan senang hati menyambut Kezia.


Fritz sudah bergabung lebih dulu dan tampak lebih familiar dengan rekan-rekan kerjanya. Kezia merasa begitu senang, rekan-rekan kerjanya menyambut Kezia dengan hangat. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan Kezia, gadis asia yang begitu mempesona.


Setelah perkenalan, Kezia mengikuti rapat bidang. Mereka membahas kondisi pasien yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Kezia diberi tanggung jawab memegang 2 orang pasien dengan salah satunya adalah pasien remaja berusia belasan. Kezia mempelajari rekam medis pasien yang menjadi tanggung jawabnya dengan serius.


“Udah.. yuk...” Kezia menyahuti.


Mereka berjalan di koridor rumah sakit. Kezia mengetuk pintu ruangan pasien yang sedang mengaduh karena sesak. Pasien ini adalah salah satu pasien tanggung jawabnya.


“Selamat pagi...” sapa Kezia pada seorang ibu yang sedang mengusap-usap punggung anaknya.


“Selamat pagi dok..” ibu segera berdiri menyambut Kezia.


“Bagaimana kabarmu hari ini, gerald?” tanya Kezia sambil menatap pasien  yang ada di hadapannya.


Ia hanya mengerlingkan matanya dan kembali mengatur nafasnya yang memburu.


“Ia masih sesak dok dari kemarin.” Jawab Ibu Gerald.


Remaja berusia 18 tahun ini terlihat begitu pucat dengan penampilan yang berantakan. Kezia mengecek oksigen yang dihirup Gerald. Infusannya masih menetes dengan baik.


“Saya periksa sebentar ya...” izin kezia seraya tersenyum.


“Nak di periksa dokter dulu...” ujar Ibu Gerald.

__ADS_1


“Periksa ya periksa saja! Mau seperti apa, aku sudah sesak begini!” cetus Gerald dengan kesal.


“Tidak masalah kamu mau di periksa sambil duduk. Tapi akan sedikit mempersulit proses pemeriksaan. Berbaring sekitar 2 menit saja, bisa?” tanya Kezia dengan lembut.


Gerald melirik Kezia. Ia segera berbaring tanpa komentar. Kezia memeriksa Gerald dengan seksama. Sesekali sedikit melakukan penekanan di bagian tubuh Gerald dan Gerald tampak meringis.


“Jadi kapan saya mati? Persetan dengan semua pemeriksaan ini!” seru Gerald dengan kasar.


“Nak, jangan seperti itu... ibu mohon...” ujar Ibu Gerald sambil memeluk anaknya.


“Gerald, tidak ada yang tau pasti kapan seseorang mati. Bisa saja saya mati lebih dulu walau sedang sehat. Yang pasti, kita harus berusaha dulu untuk sembuh. Gerald bersedia untuk chemo?” tanya Kezia.


Selama ini Gerald memang selalu menolak pengobatan apapun. Baru hari ini dia mau di rawat itupun karena mengeluh sesak hebat.


Gerald menatap wajah Kezia penuh kebimbangan.


“Lihat, ibumu begitu mengkhawatirkanmu...” lirih Kezia. Gerald memejamkan matanya. Sementara ibunya hanya terisak. “Baiklah, kalau kamu mau beristirahat, beristirahatlah dulu. Kalau ada apa-apa bisa panggil suster.” Terang Kezia tanpa pemaksaan sedikitpun.


Kezia menganggukkan kepalanya ke ibu Gerald dan segera pamit.


“Tunggu! Apa chemo itu sakit?” tanya Gerald seraya membuka matanya. Tersungging senyum di bibir Kezia.


“Bergantung kondisi tubuhmu. Tapi, saya yakin kamu bisa kuat melewati setiap proses chemo.” Terang Kezia. Gerald menatap kezia dengan penuh ketakutan. “Hey ayolah, kamu anak yang kuat. Kamu bisa menghadapinya. Ibumu ada di sampingmu jika kamu membutuhkan apapun.” Lanjut kezia. Ibu gerald mengangguk dengan yakin.


“Kapan akan dimulai?” tanya Gerald.


“Secepatnya. Kamu bisa duduk dulu, kamu atur nafasmu agar lebih tenang. Biarkan oksigennya masuk, jangan melawannya supaya kamu tidak harus bernafas dengan cepat.” Bimbing Kezia.


Perlahan Gerald mengikuti saran Kezia. Nafasnya mulai teratur. Ia menatap ibunya yang duduk di sampingya. Kezia menuliskan beberapa advice untuk Gerald. Perawat menganggukinya sambil mencatat beberapa hal di rekam medis Gerald.


“Saya tinggal dulu, kita ketemu lagi nanti.” pamit Kezia seraya tersenyum. Gerald menganggukinya.


Kezia bergegas meninggalkan ruangan Gerald. Ia menuju pasien selanjutnya. Tampak seorang wanita yang berusia sekitar 60 tahunan terbaring di atas tempat tidur pasien. Seorang laki-laki dengan setia menemaninya sambil menggenggam tangan wanita tersebut. Kezia memperkenalkan diri lalu memeriksa pasien tersebut. Rupanya kesadarannya sudah mulai turun.


“Tuan, kapan terakhir nyonya merespon suara anda?” tanya Kezia dengan tangan yang masih memeriksa bagian tubuh Emma.


“Beberapa menit lalu...”


“ Tuan, sepertinya nyonya harus di pindahkan ke ruang ICU agar kondisinya lebih terkontrol.”


“Baik, silakan dokter...” suami Emma menyahuti dengan pasrah.


Kezia menulis beberapa hal di catatan medis nyonya emma dan meminta perawat segera memindahkannya ke ruang ICU.


Sepertinya hari pertama akan berjalan lancar di ruang rawat inap, namun entah di ruang rawat jalan.


****

__ADS_1


Penah gag sih kalian sakit terus ketemu sama dokter yang humanis? Dia seolah tau apa sakit kita. Aku gambarkan tokoh Kezia seperti itu yaaa, hihihi


Happy reading gais


__ADS_2