My First Love Story

My First Love Story
Episode 88


__ADS_3

Setelah keluar dari café, Angga mengajak Kezia untuk masuk ke area universitas Heidelberg. Angga bermaksud menyemangati Kezia dengan melihat langsung kondisi di kampus almamaternya.


“Kelilingnya naik sepeda aja yaa…” ajak Angga sambil mengajak Kezia ke tempat peminjaman sepeda.


Di area kampus memang di sediakan beberapa tempat peminjaman sepeda. Karena kampus yang luas, sehingga tidak memungkinkan mahasiswa untuk berjalan kesana kemari. Sementara kendaraan  bermesin dilarang di area kampus. Di Jerman sendiri memang tidak hanya area kampus saja yang memiliki tempat peminjaman sepeda, di jalanan biasa pun banyak. Tujuannya adalah agar lebih sehat dan mengurangi polusi.


“Kak, aku gag bisa naik sepeda…” tutur Kezia dengan polos. Angga kembali tertawa.


“Okeey, peer mu nambah, yaitu belajar sepeda. Kali ini saya maafin, saya bisa kasih kamu tumpangan. Ayo!” seru Angga sambil memukul jok yang ada di belakangnya.


Dengan senang hati Kezia segera duduk di boncengan Angga.


“Pegangan schnucki, nanti kamu jatuh…” seru Angga yang masih anteng menggowes sepeda.


Sedari tadi Kezia memang tidak berpegangan karena canggung. Namun akhirnya Kezia memilih berpegangan pada pinggiran baju Angga. Angga hanya tersenyum melihat tingkah Kezia.


*****


 


Mereka berkeliling mengitari area kampus yang sangat luas. Bangunan abad pertengahan mendominasi area kampus. Beberapa Fakultas ada yang sudah dibangun dengan gaya modern, salah satunya adalah fakultas matematik, almamaternya Angga. Di salah satu sudut taman, ada pohon bunga sakura yang mulai berguguran di tanah, membuat jalanan yang mereka lewati terasa cukup romantis.


Angga menghentikan laju sepedanya di depan kantin kampus. Dia membeli dua botol air mineral dan salah satunya untuk Kezia. Mereka duduk di pelataran Kantin sambil meneguk dengan nikmat air mineral yang ada di tangannya.


Kezia memperhatikan Angga dengan seksama. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Keringat membasahi wajah dan tubuhnya, hingga terlihat jelas di kaos yang ia kenakan.


“Apa kakak baik-baik aja?” Tanya kezia


“Ya saya baik-baik saja….” Sahutnya dengan tenang. “Saya belum melihatmu menggunakan handphone mu, apa kamu lupa membawanya?” lanjut Angga.


“Em anu, hp ku hilang, tapi gag tau dimana…” jujur Kezia.


“Ctak!” Angga kembali menyentil dahi Kezia.


“Handphone itu penting schnucki, kenapa kamu bisa begitu ceroboh? Bagaimana kalo orang yang tidak bertanggung jawab menemukan handphonemu dan menggunakannya untuk melakukan kejahatan?” cerocos angga. Kezia terdiam. Kezia baru sadar akan hal itu. Awalnya dia hanya berfikir, hilang ya hilang saja, sudahlah. Ternyata ada hal penting lain di balik handphonenya. “Setelah ini kita beli handphone baru, dan kamu blokir semua akun yang ada di handphone lamamu.” Tandas Angga.


Kezia hanya mengangguk menuruti perintah Angga.


Angga berdiri dan mengajak Kezia untuk membeli handphone baru. Kezia masih berfikir, harga handphone di sini pasti sangat mahal. Uang tabungannya yang semula memiliki delapan digit, setelah di tukar dengan mata uang euro menjadi empat digit saja.


“Harusnya aku lebih hati-hati, jadi ada biaya tak terduga deh!” dengus Kezia dalam hati.

__ADS_1


****


Toko handphone dan gadget lainnya tidak terlalu jauh dari area kampus. Namun Angga memilih menggunakan mobilnya sambil perjalanan pulang.


Disana beragam jenis handphone terpajang dengan rapi. Angga memilihkan satu handphone untuk Kezia. Saat melihat label harganya, bulu kuduk Kezia berdiri. Otaknya langsung mengkalkulasikan harga yang harus dibayar dengan uangnya yang minim.


“Kak handphonenya yang biasa aja…” bisik Kezia.


Padahal sebenarnya walau Kezia bicara dengan suara normal, penjaga toko juga tidak akan mengerti mereka bicara apa.


Angga hanya tersenyum mendengar permintaan Kezia. tidak seperti yang Kezia harapkan, Angga malah memilih handphone keluaran terbaru dengan harga yang bikin jiwa missquen berontak. Terpaksa Kezia mengeluarkan kartu debitnya.


“Ini kak… “ Kezia menyodorkan kartu debetnya pada pada Angga dengan tangan bergetar.


“Buat apa?” tanya Angga sambil memandang Kezia.


“Buat bayar lah …” sahut Kezia. Angga hanya tersenyum.


“Saya membelikannya untukmu. Anggap lah ini sebagai hadiah penyemangat karena kamu akan kuliah di Heidelberg.”  Terang Angga.


“Tapi kak, itu terlalu mahal buat jadi hadiah…” protes Kezia.


Kezia hanya bisa terdiam melihat Angga yang tidak bisa di bantah.


“Makasih kak…” pasrah Kezia. Angga hanya terangguk mendengar ujaran Kezia.


****


“Key, kamu gag keberatan kan kalo nemenin aku sebentar ke rumah sakit?”


“Kakak ngerasa sakit? Mana yang sakit?” reflex Kezia segera menempelkan punggung tangannya di dahi Angga. Angga hanya tersenyum.


“Bukan, saya masih harus terapi, jadi saya mau mindahin perawatan ke rumah sakit di kota ini. Lusa saya harus mulai terapi.” Angga menurunkan tangan Kezia dari dahinya.


“Aku kira kakak sakit sekarang, aku sampe kaget…” sahut Kezia sambil mengusap dadanya. Angga merasa sangat senang ternyata Kezia mencemaskannya.


Tak banyak waktu yang di gunakan untuk sampai di parkiran rumah sakit. Angga mengambil berkas rekam medisnya yang ia simpan di jok belakang. Lalu segera turun dan mengajak Kezia masuk ke rumah sakit.


Di meja receptionist sudah menunggu Hendra yang sedang berbicara dengan seorang dokter. Hendra memperkenalkan laki-laki yang berdiri di sampingnya sebagai dokter Albert, yang akan menjadi dokter penanggung jawab perawatan Angga. Dokter Albert mengajak Angga untuk masuk ke ruangannya. Angga mengajak Kezia serta untuk masuk, sementara Hendra menunggu di luar.


“Dieses schone madchen, ist sie deine zukunftgie frau? (Gadis cantik ini, apakah dia calon istrimu?)” pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut dokter Albert. Angga hanya tersenyum mendengar pertanyaan dokter Albert. Sementara Kezia tidak terlalu memperhatikan pembicaraan Angga dan dokter Albert barusan.

__ADS_1


Dokter Albert mulai membuka rekam medis yang di bawa oleh Angga. Dia menjelaskan kondisi Angga saat ini. Hanya Sedikit yang Kezia tangkap dari isi pembicaraan dokter Albert saat ia melakukan penekanan di kalimat yang dianggapnya penting. Dia pun menyampaikan rencana terapi dan pengobatan tindak lanjut untuk Angga. Yang terdengar oleh Kezia, hingga saat ini mereka masih belum menemukan donor sumsum yang cocok untuk Angga. Angga menyetujui segala rencana perawatan yang akan diberikan padanya dan menandatangani surat persetujuan tindakan yang tertulis dalam bahasa jerman.


“Bener-bener ini, aku harus focus belajar bahasa jerman…” gumam Kezia saat melihat lembar persetujuan yang membuatnya sangat pening.


Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter Albert, Angga pamit untuk pulang. Mereka berjanji akan kembali lusa. Angga tetap membawa mobilnya sendiri sementara Hendra mengikuti dari belakang.


“Kak, apa kakak pernah mempertimbangkan untuk stem cell?” walau takut, Kezia coba menanyakan pertanyaan ini pada Angga.


“Ya , saya sudah mempertimbangkannya. Dokter yang merawat saya sebelumnya, merencanakan untuk menyelesaikan chemo dulu. Setelah itu, apabila ada cell yang sehat dari tubuh saya, saya bisa melakukan stem cell dengan mengambil cell dari tubuh saya sendiri untuk meminimalisir efek samping. Tapi sampai sekarang, kondisi tubuh saya masih seperti ini. Mungkin belum waktunya…” terang Angga sambil terus menatap ke depan.


“Kak, kata dokter yang merawatku dulu, tidak ada sakit yang tidak bisa sembuh, asal kita semangat dan berusaha.” tutur Kezia dengan penuh kesungguhan.


Angga menoleh sejenak ke arah Kezia, kemudian tersenyum.


“Berdasarkan artikel yang saya baca, stem cell itu sedikit terasa sakit saat tubuh kita berada dalam kondisi adaptasi. Apa kamu mau menolong saya kalau saya kesakitan?” tanya Angga dengan ragu.


“Kenapa tidak, kakak adalah kakak terbaikku. Aku akan membantu kakak selama aku mampu…” sahut Kezia dengan semangat.


“Yaaa benar, saya kakak terbaikmu…” tutur Arland sambil mengalihkan pandangannya pada Kezia. Kezia tersenyum dengan lesung pipi yang terlihat jelas di pipi kanannya.


“Kamu selalu menganggap saya sebagai kakakmu key,sampai kapan? Apa suatu hari itu bisa berubah?” batin Angga.


****


Suasana malam di rumah mewah ini terasa sangat hening. Kezia membuka laptop dan membuka satu per satu email yang masuk, salah satunya dari Eliana. Kezia segera mengunduh lampiran berkas administrasi pendidikannya. Ia teringat pesan Angga agar memblokir semua akun yang ada di handphone lamanya agar tidak digunakan oleh yang tidak bertanggung jawab.


Sebelum memastikan akunnya telah non aktif, Kezia membuka akun media sosialnya. Ia membuka media sosial ketiga sahabatnya dan menyimpan foto saat mereka bersama. Selain itu, Kezia pun membuka profil media sosial Arland. Dadanya kembali berdebar kencang. Di tatapnya wajah Arland yang begitu ia rindukan. Tangan kanannya menggenggam kalung yang melingkar di lehernya.


“I miss you….” lirih Kezia.


Sejenak matanya terpejam. Mengingat semua kenangan dia dan Arland di masa lalu. Tangisnya benar-benar pecah saat mengingat wajah dingin Arland yang meninggalkannya sendirian.


“Sekarang kamu membenciku land, tapi itu lebih baik daripada kamu terluka dan celaka…” gumam Kezia dengan bibir bergetar.


Disimpannya salah satu foto Arland di handphonenya. Arland pun mengunggah foto saat Dia menggenggam tangan Kezia yang masih terpasang jarum infus. Kezia menyentuh punggung tangan kirinya, mencoba mengingat kembali hangatnya genggaman tangan Arland yang kini tinggal kenangan. Bahunya bergetar dengan tangis yang benar-benar tak tertahan. Ia merindukan setiap tatapan, sentuhan lembut bahkan bisikan Arland yang selalu terngiang di telinganya.


Setelah menyimpan satu foto Arland, Kezia menonaktifkan akun media sosialnya. Semua di mulai dari awal lagi. Tapi kenangan tentang Arland akan selalu tersimpan di hatinya.


Kezia membenamkan kepalanya di tempat tidur. Ingin sekali ia teriak sekerasnya tapi bibirnya benar-benar terasa terkunci, hanya isakan yang mewakili suasana hatinya saat ini. Hingga tanpa terasa, ia terlelap dalam tangisnya.


****

__ADS_1


__ADS_2