My First Love Story

My First Love Story
Episode 142


__ADS_3

Pagi ini tidak seperti biasanya, Kezia terlihat lebih banyak diam, bermain dengan fikirannya dan celotehan Sean tak satupun ia tanggapi. Makanan di hadapannya hanya di aduk-aduk tak jelas. Wajahnya terlihat sangat lelah dengan lingkar mata hitam dan sedikit sembab. Sapuan bedak tipis tak bisa menutupi wajah putih pucatnya.


Semalam adalah malam yang panjang bagi Kezia. Tidak sedetik pun ia mampu memejamkan matanya. Pikirannya melayang entah kemana. Beberapa kali terdengar isakan dari kamar Kezia yang membuat Eliana gusar. Namun sepertinya putrinya butuh waktu. Ia akan menunggu putrinya sendiri yang berbicara karena ia mengenal jelas putrinya yang tidak suka berbicara saat hatinya belum siap.


Sedikit banyak Eliana mendengar pertengkaran Kezia dan Arland semalam. Ia ikut merasakan kesedihan yang dirasakan kezia. Eliana tau, seberapa besar Kezia dan Arland saling mencintai dan saat ini putrinya pasti sangat terluka.


Martin bersitatap dengan Eliana dan Eliana hanya menggelengkan kepala. Walaupun Martin tidak bisa terima putrinya disakiti Arland, namun ia tidak ingin terlalu jauh mencampuri hubungan keduanya. Ia khawatir alih-alih masalahnya selesai, malah membuatnya semakin runyam.


“Sayang, sean biar papah yang anter ya…” suara Martin memecah keheningan.


“Tapi sean mau sama mima opaa…” rengek Sean yang segera mencondongkan tubuhnya ke arah Kezia.


Kezia menghentikan kegiatan mengaduk makanannya. Di liriknya Sean yang bersandar padanya.


“Apa mima sakit?” tanya sean dengan wajah cemasnya.


Kezia menggeleng seraya tersenyum. Ia merasa sedikit bersalah karena sedari tadi mengabaikan celotehan Sean yang asyik menceritakan teman-teman sekolahnya.


“Nggak sayang, mima baik-baik aja. Ayo kita siap-siap berangkat…” ajak Kezia dengan sedikit lengkungan senyum di bibirnya.


“Yeaaayy… Sean mau bawa bekal buatan oma, sean mau bagi sama temen-temen…” seru Sean dengan semangat.


Beberapa kebiasaan Kezia sudah mulai ia contoh. Ia senang berbagi makanan dengan teman-temannya dan pembawaannya lebih kalem namun tetap ceria.


“Boleh sayang,  ini bekalnya.” Eliana menyodorkan sekotak makanan yang cukup besar pada Sean.


“Makasih oma…” sahut Sean seraya memasukkan bekal makananya.


Kezia beranjak dari tempat duduknya. Ia mengambil tas kerja serta kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Sean menggenggam tangan Kezia dengan erat. Sesekali mengayun-ayunnya dan meloncat dengan riang.


“Hati-hati di jalan sayang…” ujar Eliana dengan wajah cemasnya. Kezia hanya mengangguk kemudian berlalu.


Kezia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan suara Sean mengisi rongga telinganya. Beberapa kali fokusnya terbagi dengan pikirannya sendiri.


“Mima, mima gag dengerin sean…” protes Sean seraya menyilangkan tangannya depan dada. Bibirnya terlihat mengerucut kesal.


“Oh sayang maaf, mima lagi konsen nyetir dulu yaa…” sahut Kezia seraya tersenyum pada Sean. Sean mengangguk perlahan. Walaupun masih kecil, Sean bisa melihat raut sendu di wajah mimanya.


“Mima, hari ini sean mau nemenin mima kerja aja, boleh?”


“Sayang, mima mau ke rumah sakit. Ada banyak pasien di rumah sakit dan anak kecil gag boleh ke rumah sakit, nanti bisa tertular penyakit…” terang Kezia yang membuat dahi Sean berkerut.


“Apa mima juga tertular penyakit? Wajah mima pucat dan dari tadi mima diem terus…” Sean benar-benar memperhatikan Kezia.


“Nggak sayang, mima hanya lelah aja. Nanti juga baikan…” kilah Kezia seraya mengusap kepala Sean. Ia sangat bersyukur memiliki Sean di sisinya yang selalu membuatnya merasa senang dengan berbagai tingkahnya.


“Kalo sean udah besar, sean mau jadi dokter kayak mima. Jadi Sean bisa temenin mima kerja di rumah sakit….” Sean berujar dengan yakin.


“Pinter anak mima. Kalo gitu sean belajar yang rajin, supaya sekolahnya lancar dan bisa jadi dokter…”


“Ya mima, sean mau belajar, biar pinter kayak mima dan dada….” Sahut Sean.


“Dada…” gumam Kezia dalam hatinya.


Entah mengapa, tiba-tiba Kezia merasa sangat merindukan Angga. Hatinya meringis saat ia sadar ia sudah terlalu terbiasa dengan Angga yang selalu ada di sisinya saat ia merasakan kesedihan. Kali ini ia harus menghadapinya sendiri. Ia sadar, Angga telah menempati tempat tersendiri di hatinya dan tidak akan pernah terganti.


“Apa mima rindu sama dada?” tanya Sean yang bisa membaca perubahan ekpresi Kezia.


Kezia terangguk seraya tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Selalu ada rasa sesal saat ia mengingat Angga. Laki-laki yang begitu mencintainya, namun Kezia tak bisa membalasnya.


“Kata dada, kalo mima kangen sama dada, mima boleh kok nangis, tapi jangan lama-lama sedihnya, nanti dada ikut sedih…” lanjut Sean dengan tatapan polosnya.


Kezia terisak. Ia meminggirkan mobilnya sejenak. Dipeluknya Sean dalam tangis yang dalam. Sean mengusap punggung Kezia dengan lembut, layaknya seorang laki-laki dewasa yang sedang melindungi wanitanya.


“Sean akan cepat besar dan menjaga mima dengan baik…” lirih Sean. Kezia terangguk.


“Terima kasih sayang… Mima sayang sean…” tutur Kezia perlahan.


Untuk beberapa saat, pelukan Sean adalah hal ternyaman yang di rasakan Kezia. Ia akan mendengarkan  Kezia tanpa banyak bicara apalagi protes. Angga mengajarinya dengan baik, itu yang dirasakan Kezia saat ini.


*****

__ADS_1


“Dok, pasien Ramdan hari ini menyatakan ingin menghentikan pengobatan…” suara Indri mengiang di telinga Kezia yang sedang memeriksa rekam medis pasiennya.


“Alasannya kenapa?” tanya Kezia yang segera melihat rekam medis yang dimaksud Indri.


“Masalah biaya dok. Mereka sudah tidak sanggup membayar biaya pengobatan. Keluarganya juga tidak ada yang mengantar saat dia datang ke sini.” terang Indri.


Kezia memijat pangkal hidungnya perlahan. Progress kesehatan pasiennya terlihat baik, namun pengobatannya harus terhenti karena masalah biaya.


“Apa dia gag punya asuransi kesehatan?”


“Nggak dok. Ini surat pernyataan yang dia isi pagi ini. Kasian dok, sepertinya dia tinggal sebatang kara sekarang…” lanjut Indri.


Kezia menatap wajah Indri yang ada di hadapannya. Perasaan yang dirasakan Indri ia bisa merasakannya.


“Kita temui pasien yang lain dulu…” ajak Kezia seraya menutup buku rekam medis yang sedang di bacanya.


Kezia dan Indri berjalan beriringan menyusuri koridor ruang rawat inap. Beberapa pasien terlihat lebih segar dan kondisinya membaik. Namun ada juga yang kondisinya mengkhawatirkan. Kezia memeriksa masing-masing pasien dengan seksama. Dengan sigap Indri mencatat semua advice yang dituturkan Kezia.


Selesai melakukan pemeriksaan dan beberapa tindakan, Kezia dan Indri kembali ke ruangannya. Ternyata di sana sudah menunggu Fritz yang terduduk di atas sofa. Fritz tersenyum menyambut kedatangan Kezia.


“Sudah lama?” tanya Kezia seraya menaruh stetoscope di mejanya.


“Belum..” jawab Fritz dengan santai.


“Dok, saya permisi dulu…” wajah Indri terlihat sedikit canggung.


Ia berfikir bahwa laki-laki yang berbicara dengan bahasa jerman dihadapannya adalah kekasih Kezia.


“Gag pa-pa Indri, kamu di sini dulu aja. Kita bahas masalah pasien-pasien hari ini.” tutur Kezia.


“Em baik dok…” Indri segera duduk di hadapan Kezia.


Ia membuka satu persatu rekam medis yang pasien yang di periksa Kezia.


Fritz mendekat dan duduk di samping Kezia. Kezia dan Indri mulai membahas masalah pasien. Mulai dari pemberian nutrisi dan beberapa surat pengantar untuk konsultasi dengan dokter lain. Fritz memperhatikan Kezia dengan seksama. Ia semakin kagum pada gadis yang ada di sampingnya. Sesekali Fritz ikut berbicara saat melihat rekam medis yang dibuka Kezia, membuat Indri merasa jadi orang ketiga.


“Cocok banget sih mereka. Sama-sama pinter, sama-sama cakep. Nih cowok gemesin banget sih liatin dokter kezianya…” batin Indri yang sesekali tersenyum melihat interaksi Kezia dan Fritz.


“Okey, saya minta data pak ramdan beserta kontaknya ya…” tukas Kezia yang melihat Indri sedikit terpaku.


Bayangan Indri pun menghilang di balik pintu.


“Ada apa dengan matahariku hari ini, sepertinya tidak terlalu cerah…” sindir Fritz seraya tersenyum.


“Jangan menggodaku. Ayo temani aku ke suatu tempat.”


“Heemm, apa ini ajakan kencan?” Fritz tidak pantang mundur.


“Mimpi!” ketus Kezia. Fritz membalasnya dengan tawa geli.


****


Siang itu, sebelum menjemput Sean, Kezia menyempatkan untuk melihat proyek pembangunan rumah sakit. Kepala proyek segera menghampiri Kezia dan menyambutnya dengan ramah. Ia menceritakan detail pembangunan yang sudah mencapai 60%.


Beberapa bakal ruangan ia tunjukkan. Beberapa bangunan malah sudah berdiri kokoh sementara lainnya masih dalam proses. Kezia bisa melihat kesungguhan dalam proses pembangunan ini. Rasanya rumah sakit akan segera selesai sebelum deadlinenya. Ia berkeliling di lahan yang cukup luas. Mempotret beberapa bagian dan mengirimkannya pada Hendra. Ia menyatakan kepuasannya terhadap progress pembangunan. Hendra tersenyum senang di sebrang sana.


Seusai berkeliling, Kezia mampir ke sebuah kedai makanan dan membeli beberapa bungkus makanan. Fritz yang menemani Kezia berkeliling terlihat sedikit bingung dengan yang dilakukan Kezia.


“Untuk siapa makanan sebanyak ini?” tanya fritz dengan tangan menjinjing masing-masing kantong keresek di kiri dan kanan tangannya.


“Untuk sodara-sodaraku…” sahut Kezia seraya tersenyum.


Ia masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Fritz. Perjalanan tidak terlalu jauh hingga mobil Kezia terparkir di halaman panti. Kezia turun bersama Fritz dengan makanan di tangannya.


“Bundaaa,,, ada kakak bidadari…” seru salah satu anak seraya berlari ke dalam panti.


Nia yang sudah mengerti maksud anak tersebut segera menyambut kedatangan Kezia. Terlihat senyum hangat dari Nia yang menyambut kedatangan Kezia.


“Sayaaang, bawa apa ini? Kok repot-repot segala…” tutur Nia seraya memeluk Kezia.


“Sedikit makanan untuk adik-adik bun…” sahut Kezia.

__ADS_1


Beberapa anak diminta untuk membawakan makanan ke dalam panti.


“Loh siapa ini?” Nia baru tersadar akan kehadiran Fritz, pria tampan dengan mata biru dan rambut coklat.


“Eemmm ini teman aku bun. Namanya fritz, dia temen waktu di jerman.” Terang Kezia. “Fritz stellt vor, das ist Bunda Nia. Der Besitzer dieses Waisenhauses (Fritz perkenalkan, ini bunda Nia. pemilik panti ini)” lanjut Kezia.


Fritz membulatkan mulutnya membentuk huruf O, lalu meraih tangan Nia dan menciumnya dengan lembut. Nia menyambutnya dengan hangat.


“Ayo masuk…” ajak Nia.


Kezia dan Fritz mengekori dari belakang. Suasana di dalam panti sudah riuh saat melihat tumpukan makanan yang begitu banyak. Beberapa anak menatap Kezia dan Fritz bergantian lalu saling berbisik.


“Kakak bidadari, pacarnya bule ya?” cetus salah satu anak perempuan yang bergigi ompong.


“Sayang, ini namanya kak fritz, ayo salim…” pinta Kezia.


Anak-anak tersebut memberondong Fritz untuk bersalaman, membuat Fritz sedikit kerepotan.


Sementara Fritz sibuk dengan anak-anak tersebut, Kezia menghampiri Dena yang sedang di kamarnya.


“Key!!” teriak Dena saat melihat Kezia yang muncul dari balik pintu.


“Haayy, masih sibuk ajaa…” goda Kezia seraya memeluk Dena.


Sekilas Kezia melihat meja belajar Dena yang terisi penuh dengan buku-buku berbahasa Jerman. Kezia tersenyum simpul.


“Tumben lo ke sini, kangen gue…” celoteh Dena.


“Iyaa gue juga kangen. O iya, ada yang mau ketemu lo di depan…”


“Siapa?”


“Lo liat dulu aja…” hasut Kezia seraya menarik tangan Dena.


Dena yang saat itu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek dengan rambut berantakan hanya bisa mengikuti langkah Kezia.


“Sialan lo!” Dena mengibaskan tangan Kezia dan hendak kembali masuk ke kamarnya saat melihat Fritz ada di hadapannya.


Ia merasa penampilannya tidak layak untuk dilihat oleh Fritz.


Binggo! Tebakan Kezia benar, Dena menaruh hati pada Fritz. Dena adalah anak yang cuek dan bebas. Tidak pernah memikirkan penampilannya sekalipun. Ketika bertemu seseorang dan ia merubah kebiasaannya, sudah pasti ada sesuatu yang terjadi dengan hatinya.


“Lo mau kemana sih?” Kezia menahan tangan Dena.


“Gue belum mandi beg*k…” bisik Dena yang salah tingkah. Wajahnya bersemu kemerahan.


“Udah, lo temuin dulu…” paksa Kezia yang membalik badan Dena hingga berhadapan Fritz.


Dengan terpaksa Dena tersenyum pada Fritz dan mengulurkan tangannya.


“Hey, wie geht es dir? (hey, apa kabar?)” sapa Dena dengan terbata-bata.


"Uuuwww..." seru Kezia seraya membelalakan matanya, ia merasa takjub dengan sahabatnya yang ajaib ini. Rupanya Kezia tidak salah arti dengan buku bahasa jerman yang menutupi permukaan meja belajar Dena tadi.


“Mir geht es gut. (kabarku baik.)” sahut  Fritz dengan senyum mengembang.


“Na, lo juga harus bahagia. Gue bakal bantu lo..” batin Kezia seraya tersenyum melihat Dena dan Fritz yang anteng berbincang.


Terkadang Dena sedikit terdiam, saat Fritz berbicara terlalu cepat. Sepertinya otaknya sedang memproses data yang cukup berat. Tidak sungkan Fritz mengulang ujarannya lebih lambat agar bisa dimengerti oleh Dena.


“Kalian gemesin sih…” batin Kezia seraya tersenyum.


Kezia membiarkan Dena dan Fritz berbincang. Ia menghampiri Nia yang sedang asyik menata makanan yang di bawa Kezia.


“Ada yang perlu key bantu bun?” tawar Kezia.


Nia menoleh seraya tersenyum. “Gag perlu sayang…” sahutnya. Kezia mengangguki. “Fritz, sengaja kamu ajak buat ketemu dena?” terka Nia tanpa memandang Kezia. Kezia mengangguk membuat gerakan tangan Nia terhenti.


“Key gag mau dena berjamur karena kelamaan diem di kamar bun…” cetus Kezia seraya terkekeh.


“Anak nakal!” gemas Nia, seraya memukul pelan tangan Kezia.

__ADS_1


Mereka melanjutkan berbincang di sela menyiapkan makan siang untuk anak-anak panti. Nia banyak bertanya tentang Fritz juga tentang kehidupan Kezia di Jerman. Mereka tenggelam dalam cerita yang seru dan ringan.


****


__ADS_2