
Suara tepukan bergemuruh di pelataran rumah sakit yang saat ini tengah di resmikan. Kezia, Anna dan Mahesa baru selesai menggunting pita sebagai penanda rumah sakit telah resmi di buka. Mereka tersenyum bahagia karena telah berhasil mewujudkan salah satu mimpi orang terkasih yang kini tengah kembali ke samping sang penciptanya.
Anna memeluk Kezia dengan erat, derai air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia tahan. "Terima kasih sayang, terima kasih untuk semuanya….” bisik Anna yang diselingi isakan.
“Sama-sama mah. Mimpi kak angga adalah mimpiku juga, sudah selayaknya kita mewujudkan semuanya.” sahut Kezia seraya mengusap punggung Anna dengan lembut.
Anna melepaskan pelukannya, ia menatap Kezia dengan lekat dan mengusap wajah cantik itu dengan penuh kehangatan kasih seorang ibu.
“Tuhan benar-benar baik, ia tak hanya menganugrahkan kamu paras yang cantik tapi juga hati yang rupawan. Semoga Ia selalu menjagamu sayang…” Anna mengusap rambut Kezia dengan lembut. Mata sembabnya menatap Kezia dengan penuh kebanggaan. Sungguh perasaannya sangat bahagia.
Kezia ikut terharu, matanya berkaca-kaca, merasakan kebahagiaan yang kini ada dalam genggamannya.
“Key, kamu wanita yang bijaksana, sepenuhnya papah serahkan rumah sakit ini di tangan kamu dan suamimu. Papah yakin, kamu akan mengaturnya dengan baik.” ujar Mahesa yang juga merasakan kebahagiaan yang teramat dalam.
“Terima kasih pah, kami akan berusaha menjaga amanah papah dan mamah.” sahut Kezia seraya menoleh Arland yang berada di sampingnya.
Arland menganggukinya seraya tersenyum.
Rumah sakit ini berdiri dengan megah di tanah luas dengan tinggi 4 lantai. Semua ruangan perawatan di buat sama. Tidak ada perbedaan kelas bagi para pasien. Bagi kezia, semua pasien yang kelak di rawat di sini berhak mendapatkan pelayanan dan kenyamanan yang sama. Ini adalah salah satu bentuk dukungan Kezia terhadap para pejuang kanker yang tidak pernah berhenti berjuang untuk kesembuhannya.
Kezia masih menatap tidak percaya, bahwa mimpinya benar-benar terwujud. Ia tersenyum sendiri menatap bangunan yang saat ini ia pijak.
"Kita bisa mewujudkannya kak, apa kak angga senang di sana?" batin Kezia seraya memejamkan mata, berharap kalimatnya di dengar Angga.
Dalam bayangan Kezia, ia melihat Angga yang tengah berdiri di pintu masuk rumah sakit. Ia terlihat rapi dengan stelan serba putih dan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Kezia menatap sendu saat bayangan itu rasanya tersenyum padanya. Kezia membalas senyum itu, senyuman milik Angga yang selalu terlihat menenangkan.
"Sampai kamu tiada pun, kamu ngasih kebahagiaan untuk banyak orang, bahagialah di sana kak, dengan penciptamu yang maha sempurna. Minta lah bidadari sebanyak yang kakak mau." lanjut Kezia yang kembali membuka matanya saat bayangan Angga perlahan memudar.
Kezia bersama Arland melanjutkan langkahnya mengelilingi area rumah sakit. Ruangan direktur utama berada di lantai 3 dengan ukuran ruangan yang cukup besar. Saat masuk ke ruangan tersebut, Kezia bisa langsung melihat lukisan wajah Angga yang terlihat gagah dengan stelan jas lengkapnya. Semuanya Kezia minta pada Hendra, karena baginya ini adalah peninggalan terpenting dari Angga.
Selain itu, Kezia dan Arland sepakat memajang lukisan tersebut di ruang direktur utama, agar mereka senantiasa mengingat cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Angga.
“Gimana, apa kamu suka dengan ruangan-ruangannya?” tanya Arland seraya melingkarkan tangannya di pinggang Kezia.
Saat ini mereka tengah berada di depan jendela besar yang menampilkan pemandangan lalu lintas ibu kota.
“Ya , sangat suka. Kamu begitu memahami yang aku mau land…” sahut Kezia seraya mengecup pipi Arland yang berada di samping wajahnya.
“Istriku dokter yang hebat, ia tak hanya menyembuhkan penyakit tapi juga memberi semangat pasien-pasien yang bahkan tidak kamu kenali. Aku sangat bangga sama kamu sayang…” puji Arland dengan tulus.
Kezia tersenyum mendengar ucapan Arland. Arland selalu bisa membuatnya merasa bahagia dan terharu.
__ADS_1
Sejenak mereka masih saling terdiam, menikmati suasana bahagia yang mengisi hati masing-masing. Rasa hangat di dada, menjadi ikatan kuat di antara keduanya. Mata keduanya menatap kendaraan yang hilir mudik dengan cahaya lampu yang saling bersautan. Di malam hari pasti akan terlihat lebih indah.
Sesekali arland mengecup leher jenjang Kezia dan Kezia mengusap lembut pipi Arland yang menempel di pipinya. Tangannya saling berhimpitan, mengusap lembut perut Kezia yang masih rata.
"Aku bahagia, teramat bahagia land." lirih Kezia.
Arland tersenyum tipis, seraya mengecup pucuk Kepala Kezia. Betapa ia pun merasakan hal yang sama.
****
Hari ini, tahun ke lima pernikahan Kezia dan Arland. Mereka merayakannya dengan sebuah liburan di vila bersama Sean dan putri sulung mereka yang bernama Maira. Di perut Kezia pun ada seorang lagi jagoan yang sebentar lagi akan lahir.
Kezia dan Arland duduk di atas sebuah tikar dengan beragam menu makanan di hadapannya. Arland merebahkan tubuhnya dengan kedua paha Kezia sebagai bantalan. Ia mengusap perut Kezia dengan lembut seraya berbicara pada calon jagoannya.
"Kamu nendang-nendang lagi mima nak? Udah mau keluar apa pengen jadi pemain bola nantinya?" lirih Arland yang merasakan tendangan sang bayi di telapak tangannya.
"Dia aktif banget, mirip dadanya. Kayaknya dia hobi salto deh di dalem." timpal Kezia seraya mengusap kepala Arland.
Arland segera bangkit dari baringannya dan menatap Kezia dengan lekat. Ia pun menggenggam kedua tangan Kezia yang terlihat lebih berisi.
Di kehamilan kedua ini, Kezia memang memiliki peningkatan berat badan yang cukup signifikan, namun entah kenapa Arland sangat menyukainya. Baginya, bentuk tubuh terseksi Kezia adalah saat ia tengah mengandung.
"Kamu tau sayang, aku sangat bahagia. Aku gag pernah membayangkan kalau kita akan berada di posisi seperti ini. Dewasa bersama, saling melengkapi dan menyempurnakan hidup kita dengan anak-anak yang terlihat bahagia." ungkap Arland dengan penuh kesungguhan.
Arland mengecup kening Kezia dengan lembut dan cukup lama, seolah ia tengah menumpahkan perasaannya yang begitu mendalam dan Kezia tersenyum dengan bahagianya mendapat perlakuan lembut dari Arland.
Kali ini perhatian Arland beralih pada perut Kezia yang semakin membesar. Kedua kakinyapun tampak bengkak dan Arland meraihnya. "Apa ini sakit?" tanya Arland seraya menekan lembut punggung kaki Kezia.
"Nggak, itu biasa buat ibu hamil apalagi menjelang dia lahir." Kezia mengusap perutnya dengan lembut.
"Aku pijat yaa..." tawar Arland yang mulai melakukan penekanan lembut di punggung kaki Kezia.
"Makasih dada..." timpal Kezia. Arland menganggukinya.
Dari kejauhan mereka memperhatikan Sean dan Maira asyik berkejaran dengan layang-layang di tangan Sean.
“Kak seaann, jangan cepet-cepet aku capek…” keluh Maira dengan nafas terengah.
Saat ini Maira, putri pertama Kezia dan Arland berusia 4 tahun. Dan bermain bersama Sean adalah favoritnya. Ia sangat menyayangi kakaknya dan tidak jarang lebih manja pada Sean di banding pada kedua orang tuanya.
Sean menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Maira yang berdiri dengan tubuh condong ke depan. “Ayolah, nanti kakak kasih hadiah kalo maira bisa tangkap Kakak.” seru Sean menyemangati adiknya.
__ADS_1
Dengan malas Maira berjalan mendekati Sean. Sean menunggunya seraya tersenyum.
Maira seorang anak cantik dengan mata bulat mirip Kezia dan hidup mancung serta bibir tipis mirip Arland. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Kulitnya yang putih bersih, terlihat kemerahan dan menggemaskan saat ia kelelahan seperti ini.
Sementara Sean, tumbuh menjadi remaja tampan dengan mata tajam dan wajah rupawan. Ia sangat menyayangi Maira seperti adiknya sendiri. Baginya, Maira adalah segalanya.
“Ah aku capek!” keluh Maira yang menjatuhkan dirinya terduduk di rerumputan. Bibirnya menguncup kesal. Tangannya menjambak rumput di sekitarnya.
Sean tersenyum melihat tingkah manja Maira. Ia berjalan menghampiri Maira lalu berjongkok membelakanginya.
“Ayo kakak gendong.” tawar Sean
“Asyiiikkkk…. “ Maira segera bangkit dan naik di punggung Sean. “Berarti kak sean jadi dong ngasih aku hadiah.” lanjut Maira yang sudah mengalungkan tangannya di leher Sean.
“Heemm.. jadi itu alasan kamu aja ya tadii..” Sean baru sadar bahwa dirinya dikerjai adik kesayangannya.
Maira tertawa riang berhasil mengejai kakaknya. Dengan perlahan, Sean berdiri. Maira sudah ada di punggungnya dan tertawa kegirangan.
Dari kejauhan Kezia dan Arland ikut tertawa melihat tingkah kedua anaknya.
“Aku seneng banget, sean bisa menyayangi maira dengan tulus.” ungkap Kezia yang masih menatap kedua anak kesayangannya.
“Ya sayang, sean adalah kakak terbaik untuk anak kita. Dan si kecil ini, kelak akan jadi jagoan dada…” ungkap Arland seraya mengecup perut kezia yang semakin membuncit.
Kezia membelai kepala Arland dengan lembut.
“Äku sangat bahagia…” aku Kezia
Arland menatap Kezia dengan hangat. Di genggamnya jemari Kezia dengan lembut. “Akupun sangat-sangat bahagia.” sahut Arland. Mereka sambil saling melempar senyum dan bersitatap dengan hangat. “Boleh aku tengokin jagoan kita?” bisik Arland.
“Nanti anak-anak nyari kita…”
“Sebentar aja, aku kangen denger kamu manggil aku sambil mendesah.” goda Arland.
“Iisshh kamu yaaa…” Kezia mencubit hidung mancung Arland.
“Tapi boleh kan?” Arland mengulang pertanyaannya.
Kezia terangguk seraya tersipu. Bagaimana bisa ia menolak suaminya begitu saja. Dalam beberapa saat, mereka meninggalkan Sean dan Maira yang masih bermain bersama untuk menengok jagoan kecilnya.
Terima kasih cinta, untuk setiap rasa bahagia yang selalu mengalir deras dalam setiap pelukan, kecupan bahkan genggaman tangan. Jangan sisakan sedikitpun kesedihan, kita hanya harus bahagia dan bersyukur untuk setiap hal yang ada, apapun bentuknya.
__ADS_1
With Love, Kezia dan Arland.
****