My First Love Story

My First Love Story
Episode 67


__ADS_3

Malam semakin larut. Detakan jam terdengar konstan, namun tidak dengan detak jantung orang tua Kezia dan sahabatnya. Ricko dan Arland yang juga sudah sampai, masih setia menunggu lampu ruang operasi padam. Waktu 4 jam terasa begitu lama. Tak ada suara di antara mereka. Hanya suara isakan yang sesekali terdengar pilu.


“Krett…” pintu ruang operasi terbuka. Dokter Herdiman keluar seraya membuka masker yang menutup mulutnya.


“Dok,, gimana keadaan anak saya?” Martin segera menghampiri dokter Herdiman.


“Operasinya berjalan lancar. Sebentar lagi pasien akan dimasukkan ke ruang ICU. Malam ini, biarkan dia istirahat, besok pagi.. mulai lah ajak dia bicara walaupun tidak ada respon. Bicaralah hal-hal yang menyenangkan,jangan membuatnya bersedih. Selama 3 hari kedepan, kami akan mengobservasinya dengan ketat. Semoga ada perbaikan respon di hari ketiga.” Terang dokter Herdiman dengan pembawaan tenang.


“Baik dok, terima kasih banyak….” Martin menyalami dokter Herdiman dan menggenggam tangannya dengan erat. Dokter herdiman hanya mengangguk.


Tak lama berselang, ranjang tempat Kezia berbaring tampak keluar dari ruang operasi. Tubuhnya masih diselimuti selimut yang cukup tebal dan hanya memperlihatkan wajahnya. Sebuah selang oksigen menutup lubang hidungnya. Dengan sebuah tiang infus setia menemani kemana ranjang kezia menuju. Bunyi monitor terdengar nyaring dan konsisten.


Kania memeluk sherly saat matanya bersitatap dengan wajah pucat Kezia. Ada tangis yang sejak tadi terus di tahannya. Sherly tersedu di balik pelukan Kania. Sementara Dena, mencoba menggenggam tangan Kezia yang terasa begitu dingin. Eliana dan Martin berjalan di samping suster yang mendorong ranjang putrinya menuju ruang ICU. Sementara Arland masih menyandarkan tubuhnya di tembokan dengan kepala tertunduk. Air matanya  menetes begitu saja, namun segera ia mendongakkan kepalanya menahan laju air matanya. Ricko setia menemani Arland sambil mengelus bahu sahabatnya.


“Inget lo gag boleh bersedih di depan Dia, okey…” bisik Ricko yang sebenarnya juga sedang menahan tangis. Arland kembali tertunduk dan tak merespon ucapan Ricko.


****


 


“Kalian pulang lah,, besok kan masih harus sekolah. ” pinta Martin pada sahabat-sahabat Kezia.


“Tapi Om…”


“Dena,,, ingat kata dokter, hari ini biarin zia istirahat. Besok kalian boleh nengokin dia lagi ke sini. Kalian pun perlu istirahat.” Tukas Martin sambil mengusap pucuk kepala Dena.


“Om… maaf, saya…” tutur Kania yang menangis tersedu dihadapan Martin.


“Nak kania, ini bukan kesalahan kalian. Ini adalah kecelakaan… om akan mengurus ini dengan pihak berwajib. Jadi pulanglah…” sahut Martin, tak membiarkan Kania terus menyalahkan dirinya sendiri.


“Baik om, kami permisi pulang….” Tutur Kania sambil menyalami martin. Martin mengangguk mengiyakan.


“Om, maafkan saya karena gagal menjaga kezia dengan baik…” tutur Arland saat berdiri dihadapan Martin.


Martin berusaha tersenyum di hadapan Arland. Di tepuknya bahu Arland perlahan. “Pulang lah, besok temani kezia di sini..”tukas Martin. Arland mengangguk. Dengan langkah gontai ia berjalan menjauh dari Martin.


Sahabat-sahabat Kezia berjalan pergi meninggalkan Martin dalam kesunyian. Ia menengadahkan wajahnya menahan derai air mata yang tiba-tiba menetes dengan deras. Ia mendudukan tubuhnya di bangku yang ada di depan ruang ICU. Lalu ia tertunduk dengan kedua tangan menopang kepalanya. Meremas rambutnya dengan frustasi. Sekuat apapun ia menahan kesedihannya, akhirnya ia harus menyerah. Ia menangis dalam kesendirian.


“Tuhan, apa ini teguran untukku karena terlalu sibuk bekerja dan tidak memperhatikan putriku? Tolong jangan ambil dia, bagaimana kami bisa hidup tanpa putri kami? ” gumam Martin dalam hatinya.


****


 


“PRANG!!!!”


Sebuah suara pecahan terdengar dari kamar Angga. Dengan segera Hendra menghampirinya.

__ADS_1


“Tuan muda?” seru Hendra yang melihat Angga tengah berjongkok di lantai


Terlihat pecahan kaca berserakan di dekat kaki Angga.


“Biar saya saja tuan..” ujar Hendra menahan tangan Angga.


Angga mendudukan tubuhnya di atas tempat tidur. Gelas yang hendak ia pakai untuk minum obat, jatuh begitu saja dari tangannya. Angga menatap kedua tangannya yang gemetar.


“Anda baik-baik saja tuan?”


“Hem…” sahut Angga.


Entah mengapa tiba-tiba dadanya berdebar sangat kencang. Perasaannya tak menentu. Entah apa yang membuat suasana hatinya tak nyaman.


“Saya ambilkan lagi airnya, mohon tuan tunggu sebentar.” sambung Hendra.


Angga tak menjawab. Ia membaringkan tubuhnya kemudian berbalik memunggungi Hendra. Di raihnya handphone yang ada di dekat kepalanya. Ia menatap wajah Kezia yang selalu menemaninya setiap saat.


“Schnucki, aku kangen…”lirihnya.


Digenggamnya handphone dengan erat lalu didekapmya. Pikirannya berputar, mengingat wajah dan tawa Kezia yang tiba-tiba sangat di rindukannya.


“Tuan muda, silakan airnya..”ujar Hendra yang sudah kembali di samping Angga.


Angga berusaha untuk bangkit. Lalu meminum obat yang telah di sediakan Hendra.


Hendra terpaku, ia berusaha mencerna keinginan tuan mudanya. Melihat ekspresinya saat ini, ia berusaha menebak isi pikiran Angga.


Angga menyerahkan selembar kertas. Ternyata tebakan Hendra benar, Angga sedang ingin menemui seseorang yang sangat dirindukannya.


“Akan saya persiapkan tuan.”sahut Hendra seraya berlalu.


Angga masih tetap terpaku. Ia menyandarkan tubuhnya ke pinggiran tempat tidur, perlahan memejamkan matanya yang terasa begitu lelah.


“Schnucki…”Lirihnya


*****


 


“ Papah, apa zia boleh makan es krim?” tanya kezia dengan tatapan lugunya.


“Kamu sedang sakit nak… jangan dulu makan es krim yaaa…” cegah Martin sambil mengusap pucuk kepala Kezia.


“Tapi zia mau es krim pah…. Kalo gag boleh, zia mau minta sama kakak ajah!” sahut Kezia sambil memalingkan wajahnya.


“Sayang, kakakmu udah meninggal…” lirih Martin sambil mengenggam tangan Kezia.

__ADS_1


“Zia mau nyusul kakak aja, biar papah gag usah repot nurutin maunya zia.” Sahut Kezia sambil berjalan menjauhi Martin.


“Zia… Kezia…. Jangan tinggalin papah nak, jangan tinggalin papah!” teriak Martin sambil berlari mengejar Kezia, tapi bayangan Kezia sudah menghilang di antara kabut. “Ziaaa!! Ziaaa papah mohon nak, jangan pergi. Ziaaa…” Martin jatuh tersungkur tapi Kezia tidak memperdulikannya ia tetap meninggalkannya. Dia menangis sejadinya. Tak ada siapapun di sekelilingnya. Hanya suasana gelap yang mencekam dan menyedihkan.


“Ziaaa!!!” teriak Martin dengan putus asa. Ia tak lagi melihat bayangan Kezia. Ia jatuh terduduk sendirian. Kezia benar-benar pergi meninggalkannya.


“Pah,, bangun pah… papah kenapa?” sebuah tangan menepuk bahu Martin, Martin segera tersadar. Dihadapannya ada Eliana yang sedang berdiri dengan tatapan sendunya. Martin segera berdiri dan memeluk Eliana.


“Mah… Papah gag mau kehilangan zia mah… papah gag bisa… Papah janji, papah akan lebih memprioritaskan mamah dan zia di banding kerjaan, papah janji mah,. Papah janji…” tutur Martin dengan tangis terisak di bahu Eliana.


Eliana mengelus punggung Martin. Air mata yang sudah hampir kering, kini kembali berurai.


“Kita gag akan kehilangan anak kita lagi pah… kita harus percaya pah….” Lirih Eliana yang mengeratkan pelukannya. Martin terangguk mengiyakan.


Pada dasarnya, Martin sadar, ia hanya seorang ayah yang rapuh. Tidak sanggup baginya jika harus kembali kehilangan anak kesayangannya. Semuanya terlalu cepat. Ia tidak pernah membayangkan bahwa ia akan mengalami hal ini.


****


 


Pagi menjelang. Kicauan burung bernyanyi di luar jendela. Pagi itu, perawat sudah selesai melap tubuh Kezia dan mengganti bajunya.


“Terima kasih sus…” tutur Eliana yang sebentar melihat Kezia. Suster tersebut tersenyum kemudian pamit meninggalkan Eliana dan Kezia.


Kezia di rawat di ruang ICU, sehingga Eliana tidak bisa leluasa menungguinya. Hanya sesekali ia diizinkan menemuinya dan mengajaknya bicara. Eliana meraih tangan kiri Kezia. Kemudian mengusapnya dengan lembut.


“Sayaang,,, udah pagi nak, ayo bangun… Kamu harus sarapan, supaya gag kurus kayak gini…” lirih Eliana sambil menahan tangis. Sejenak Eliana memalingkan wajahnya, kemudian mengusap air mata yang menetes di pipinya. “ Kamu tau nak, kata papah, mulai sekarang, kita adalah prioritasnya papah. Papah gag akan ninggalin kita berdua di rumah lagi. Papah akan pulang tepat waktu, dan akan sering-sering mengajak kita jalan-jalan. Kamu suka kan jalan-jalan sama mamah dan papah? Jadiii ayo bangun nak, kita pake baju kembaran terus jalan-jalan ke mall sama mamah dan papah.” Tutur Eliana dengan suara bergetar. “Dokter bilang, mamah gag boleh nangis depan kamu tapi mamah gag bisa, kenapa juga ini air mata terus keluar. Mata mamah sampe bengkak. Perih sekali.” Sambung Eliana sambil mengusap air matanya. Bahunya berguncang karena tangis yang coba di tahannya. Dadanya terasa begitu sesak.


Tapi, Kezia tidak memberikan respon apapun.


“Selamat pagi bu… saya suster Lia. Saya akan memberikan putri ibu makanan cair dan obat. Mohon ibu menunggu di kursi sebelah sana…” terang suster cantik yang tengah berdiri di hadapan Eliana.


“Bagaimana anak saya bisa makan sus?” tanya Eliana dengan tersedu.


“Ini adalah selang makan ibu, saya memasukkan susu ke sini, supaya tetap ada nutrisi yang masuk untuk putri ibu…” jelas suster tersebut.


Eliana mengangguk menyetujui. Dia segera mundur dan memberi ruang untuk suster memberikan makan. Eliana melihat dari kejauhan. Beberapa kali suster memberikan susu lewat selang dan dengan telaten kembali merapihkannya. Tangan yang terpasang infus, di suntikan obat beberapa kali. Lalu kembali ia mengecek kondisi infusan agar tetap menetes.


“Selamat pagi Ibu…” sapa dokter Herdiman.


“Selamat pagi dok…” Eliana segera berdiri.


“Saya akan memeriksa putri ibu dulu yaaa, semoga ada perkembangan baik…” ujar dokter Herdiman dengan hangat. Eliana mengangguk, mempersilakan.


Tangan dokter herdiman mulai memeriksa tubuh Kezia. Dimulai dengan mata, kemudian lengannya sedikit di ketuk dengan palu kecil, lalu telapak kakinya sedikit di garis dengan ballpoint. Perawat yang ada disamping dokter Herdiman mulai mencatat hasil pemeriksaannya. Setiap hari itulah yang dilakukan dokter dan para perawat untuk mengobservasi kondisi Kezia. Walau Kezia belum terbangun, tapi secara medis, kondisinya ada perbaikan.


*****

__ADS_1


Boleh minta like dan komen dong, hehehe... Makasiihh happy reading love


__ADS_2