
Sepulang kerja, Arland segera masuk ke apartemennya. Beberapa panggilan masuk dari Ricko di abaikannya. Hari ini tubuhnya terasa sangat lelah. Arland mengambil air putih yang berada di atas meja makan dan meneguknya. Tenggorokannya yang kering kembali terasa dingin.
Seharian ini matahari memang terasa lebih panas dari biasanya. Arland meraih handuk dan segera masuk ke kamar mandi. Guyuran air shower menyegarkan sekujur tubuhnya. Tak butuh waktu yang lama Arland melakukan ritual mandinya. Mungkin karena tubuhnya yang lebih kurus membuatnya lebih cepat merasa kedinginan.
Arlang berdiri di depan cermin dan memandangi tubuhnya yang memang lebih kurus. Tulang rahangnya terlihat lebih tegas. Membuatnya terkesan lebih dingin dan garang. Rambut-rambut halus mulai tumbuh di atas bibirnya. Arland merapihkannya dengan mencukurnya. Wajah tampannya terlihat lebih berseri.
Di ambilnya kaos oblong dan celana boxer dari dalam lemari. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi telentang. Tulang belakangnya teras lurus dan nyaman. Ia memandangi wajah Kezia di langit-langit kamarnya.
“Hay mhiu, hari ini aku sangat lelah. Tadi aku ketemu mamah dan papah kamu. Mereka masih sangat ramah, sama seperti dulu. Apa mereka sebenarnya tidak pernah marah padaku?" Arland menjeda kalimatnya dengan sebuah senyuman tipis.
"Hem… minggu depan, aku mulai kuliah. Bagaimana sekolahmu di sana? Mhiu, apa kamu masih bisa menungguku? Suatu hari aku akan pergi ke jerman dan menjemputmu pulang. Semoga kamu gag marah karena menungguku terlalu lama… Mhiu, apa kamu pernah merindukanku, sekali saja….” Celoteh Arland yang berbicara dengan foto Kezia yang berada di langit-langit kamarnya.
Setiap hari, itulah yang dilakukan Arland. Setiap saat bersitatap dengan mata Kezia, dia akan menyapanya dan berbicara layaknya orang gila yang sedang berhalusinasi. Tak pernah lagi ada air mata yang menetes di pipi nya, walau sebenarnya dadanya masih sering terasa sesak.
Arland memejamkan matanya, dan menutup matanya dengan lengan kanannya.
“Land…” Seseorang muncul dari balik pintu.
“Lo gag tau cara ketuk pintu ya?” tutur Arland tanpa membuka matanya.
Ricko hanya tersenyum. Ricko tau, Arland sudah menyelesaikan story tellingnya dengan Kezia.
“Makan yuk! Gue bawa bebek goreng.” Ajak Ricko yang hanya menampakkan kepalanya di pintu kamar Arland.
Arland bangkit dan menghampiri Ricko. Perutnya memang sangat lapar. Ricko dan Arland berjalan menuju meja makan, dan menempatkan makanan di atas piring yang telah Arland ambil. Mereka duduk berhadapan dengan bebek goreng di piring masing-masing.
Ricko memandangi Arland yang dengan santai menikmati makannya. Tubuhnya melengkung menunduk menikmati makan. Ada perasaan simpati dan takjub di hati Ricko saat menatap sahabatnya. Setelah semuanya hancur, Arland berusaha bangkit dengan caranya sendiri.
“Land, tadi bokap nelponin lo, tapi gag lo angkat katanya…” suara Ricko memecah keheningan.
“Iyaa , pas gue lagi kerja kayaknya.” Sahut Arland tanpa merubah posisinya.
“Jadi gimana, lo mau sambil kerja di tempat bokap?”
“Gue belum tau kondisi pas udah masuk kuliah nanti. Kalo udah ada jadwal yang jelas, baru gue ambil keputusan.” Terang Arland. Ricko mengangguk mengiyakan.
“Land, gue berantem lagi sama sherly…” Ricko menghentikan makannya, berusaha memancing Arland dengan curhatannya.
“Bukannya biasanya nanti juga baikan lagi?” cetus Arland.
“Tapi sekarang, masalahnya agak sulit.” Keluh Ricko.
“Selagi dia ada di deket lo, kalian selesaikan lah baik-baik. Jangan kayak bocah! Jangan sampe lo nyesel kalo dia udah pergi, kecuali lo udah siap.” Terang Arland sambil menggigiti tulang bebek goreng favoritnya. Ricko mengangguk seraya tersenyum.
“Gue punya tetangga baru, anaknya cakep…”
“Gue kenyang. Terserah lo mau nginep apa pulang, tapi jangan lupa tutup pintu!” seru Arland sambil membawa piringnya masuk ke dapur. Selesai mencuci tangan ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Ricko hanya menggelengkan kepalanya. Selalu seperti itu, Arland menghindar saat Ricko membicarakan masalah perempuan. Padahal dari beberapa buku cinta yang dia baca, cara mengobati luka karena perempuan adalah dengan mencari perempuan lain. tapi ternyata hal itu tidak berlaku untuk Arland.
****
Suasana pagi di rumah sakit mulai ramai. Petugas medis dan pasien bergantian berlalu lalang. Tak terkecuali dengan keluarga Angga. Mereka telah bersiap di ruang perawatan Angga yang akan melakukan steam cell. Dokter Albert tengah menjelaskan prosedur yang akan mereka lakukan. Mahesa, Anna, Indira, Angga dan Kezia menyimaknya dengan baik. Karena ada beberapa kata dan istilah medis yang tidak dipahami kezia, Kezia kembali merekamnya untuk dia pelajari. Itupun setelah meminta izin pada dokter Albert dan keluarga Mahesa.
Steam cell ini dilakukan dengan mengambil cell sehat dari tubuh Angga sendiri, sehingga bila kondisi tubuh angga bagus, ia akan cepat beradaptasi, apa bila buruk, efek sampingnya lumayan menakutkan. Namun pada akhirnya dokter Albert tetap menyarankan agar suatu hari Angga melakukan cangkok tulang belakang untuk benar-benar membebaskannya dari leukemia.
Mahesa selaku wali, menyetujui semua yang disampaikan oleh dokter Albert dan menandatangani lembar persetujuan. Angga terlihat lebih tenang, berbeda dengan Kezia, Indira dan Anna yang terlihat lebih tegang.
“Ayolah, kalian jangan menakutiku dengan menatapku seperti itu…” protes Angga sambil menggengam tangan Anna.
“Kamu harus berjanji akan baik-baik saja di dalam sana yaa…” tutur Anna sambil memeluk angga.
“Iya aku akan keluar dalam keadaan masih bernafas. Tapi kalian harus bersiap untuk merawatku…” tukas Angga sambil menatap Kezia.
Kezia hanya mengangguk. Ternyata mentalnya tidak sekuat yang di bayangkan saat Angga benar-benar akan melakukan operasi.
Anggapun sebenarnya merasa sedikit takut, tapi ketakutan itu ia coba hilangkan dengan membayangkan kelak ia akan memiliki waktu yang lebih lama bersama Kezia.
“Baiklah tuan, mari saya antar ke ruang operasi…” tutur seorang perawat yang datang menghampiri Angga. Angga mengangguk setuju.
Ia memandangi satu per satu wajah orang yang disayangi, tak terkecuali Kezia yang menjadi alasannya mau menjalankan operasi. Saat melintas di depan Kezia,
“CTAK!” Angga menjentikkan jarinya di dahi Kezia.
“Iya aku do’akan operasinya lancar. Nanti kalo di dalem liat jarum suntik, jangan kabur yaa…” cetus Kezia sambil tersenyum.
Angga malah tertawa mendengar celotehan Kezia. Seketika ketakutannya hilang. Ia meminta suster agar segera membawanya ke ruang operasi.
****
2 jam berlalu sudah. Mahesa dan keluarga masih harap-harap cemas menunggu Angga yang tak kunjung keluar dari ruang operasi. Waktu terasa begitu lama berputar. Kezia menyodorkan air mineral pada Anna yang sedari tadi hanya berdiam seraya berdo’a. Mata sayunya menatap Kezia dengan penuh harap.
“Kak angga akan baik-baik aja tan…” lirih Kezia perlahan. Anna mengangguk. Diambilnya botol air mineral yang di berikan Kezia lalu meneguknya dengan perlahan.
Seorang wanita keluar dari sebuah ruangan dekat ruang operasi, menghampiri Mahesa dan keluarga.
“Pasien memerlukan darah. Apa di antara anda ada yang memiliki golongan darah AB positif?” Tanya perawat tersebut dengan segera.
“Saya!” tutur Mahesa dan Kezia bersamaan.
“Baiklah, silakan ikut dengan saya…” pinta perawat tersebut sambil memberikan baju pelindung dan penutup kepala pada Kezia dan Mahesa.
Dua buah blankar telah tersedia di ruangan tersebut. Sebuah kaca besar memisahkan Kezia dan Angga yang sedang berjuang. Kezia menolehnya sebentar. Petugas medis sedang mengerumuni Angga. Kezia melipat lengan bajunya lalu mengepalkan tangan kirinya.
Perawat mengambil sample darah Kezia dan Mahesa bergantian untuk memeriksakannya. Setelah yakin golongan darahnya sama dan kondisi keduanya memungkinkan untuk mendonorkan darah, perawat mengoleskan kapas alcohol dan meminta izin untuk melakukan pengambilan darah. Kezia mengiyakan.
__ADS_1
Darah segar mulai mengalir dari pembuluh darah Kezia ke kantong yang telah tersedia. Mahesa sedikit meringis ketika jarum suntik menusuknya di tempat yang sama seperti Kezia. Mahesa menatap Kezia yang terbaring di sampingnya.
“Terima kasih nak…” ucap Mahesa seraya mengusap pucuk kepala Kezia. Kezia hanya mengangguk.
Dua kantong darah terisi dengan cepat. Kezia dan Mahesa masih terbaring karena kepalanya terasa sedikit pusing.
“Ternyata di suntik jarum itu sakit yaa…” cetus Mahesa sambil tersenyum.
“Iya, seperti di gigit semut ya om…” Kezia menimpali. Keduanya tertawa bersama.
Setelah rasa pusingnya berkurang, Mahesa dan Kezia meninggalkan ruangan tersebut. Melihat wajah pucat keduanya, Indira berinisiatif membelikan minuman dan makanan.
“Aku ikut kak…” pinta Kezia.
“Kamu udah gag pusing?” Indira memegangi bahu Kezia.
“Enggak kak….” Sahutnya dengan senyum tersungging di bibirnya.
Indira dan Kezia berjalan menuju kantin rumah sakit. Mereka membeli coklat hangat dan beberapa roti. Mereka menikmatinya di tempat. Tak lama seseorang menghampiri mereka.
“Boleh gabung di sini?” tanyanya dengan ramah. Indira mengiyakan. “Kalian sedang apa di sini? Hey kau gadis manis, apa kau masih mengingatku?” Tanya Fritz yang tiba-tiba mencolek Kezia yang sedang asyik dengan handphonenya.
“Oh hay…” sapa Kezia sambil mengingat-ingat laki-laki bermata biru yang ada di hadapannya. Indira menatap Kezia dengan mengisyaratkan “Siapa?”, namun Kezia hanya mengangkat bahunya.
“Rupanya kau melupakanku. Aku sangat kecewa….” Celotehnya dengan senyum jenaka. Kezia masih mencoba mengingat. “Cream soup yang tumpah dan mengenai tanganmu…” lanjutnya.
“Oohh fritz…” cetus Kezia yang baru mengingat nama laki-laki tersebut.
“Sedang apa kalian di sini?” Tanya Fritz dengan ramah.
“Kami sedang menunggui keluarga yang sakit.” Sahut Indira. “Kamu?” Indira balik bertanya. Sementara Kezia masih sibuk menguyah rotinya.
“Aku menunggu papahku…” jawab Fritz sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Kezia segera menghabiskan suapan terakhirnya dan meneguk susu coklatnya sekali habis.
“Yuk kak!” ajak Kezia dengan bahasa Indonesia.
“Kami duluan…” timpal Indira dengan bahasa jerman.
“Okey… sampai jumpa beautiful kezia…” sunggut Fritz sambil tersenyum. Kezia tersenyum tipis dan segera pergi bersama Indira.
“Di rumah sakit aja kamu daper gebetan key?” goda Indira.
“Jangan meledekku kak…” cetus kezia sambil menempelkan kepalanya di bahu Indira. Indira tersenyum sambil mengusap pipi Kezia dengan gemas.
“Sepertinya Angga ada saingan…” gumam Indira.
__ADS_1
****