My First Love Story

My First Love Story
Episode 145


__ADS_3

Malam terasa begitu indah. Hembusan angin menerpa rambut Kezia yang terurai begitu saja. Anak rambutnya menari-nari mengusap lembut pipi putih Kezia yang bersemu kemerahan. Kezia merasa dirinya memerlukan sedikit ketenangan setelah melihat kerumunan orang-orang dan sapaan yang menghampirinya.


Sejenak ia berbalik, pandangannya tertuju pada Dena dan Fritz yang tengah berbincang. Kezia tersenyum gemas melihat ekspresi Dena yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Sebenarnya Fritz sudah mulai bisa sedikit berbicara dengan bahasa Indonesia namun terbatas hanya bahasa formal saja. Namun isengnya dia malah terus berbicara dengan bahasa Jerman saat bersama Dena, hingga sesekali membuat Dena menggigit lidahnya sendiri atau tersedak ludah karena dialek bahasa yang berbeda.


Di balkon hotel, Kezia menyendiri menikmati kerlipan lampu yang melintas bergantian di bawah kakinya. Terlihat mereka saling bersahutan memberi tanda.


Seseorang berdiri tak jauh dari Kezia memandangi punggung Kezia yang tertutup kain brukat gaunnya. Rasa rindu di dadanya menyeruak, membuatnya berangan memeluk tubuh itu dari belakang. Namun ia mencoba menghargai waktu yang dibutuhkan oleh gadisnya. Waktu yang ia butuhkan pula untuk membuktikan ketidak bersalahannya. Ya, dialah Arland yang terpaku menatap gadis yang begitu dicintainya.


Hanya dengan melihatnya, hatinya bisa merasa tenang. Tak perduli dengan apa yang ia lihat saat Kezia tiba bersama Fritz, jika itu cemburu biarlah hanya menjadi bumbu dalam perjalanan cintanya.


Sebuah suara memanggil Kezia dan teman-temannya untuk berfoto bersama pengantin. Kezia segera menghampiri Sherly dan Ricko yang menunggunya di atas pelaminan. Dena dan Kania sudah lebih dulu tiba di sana, melambaikan tangan pada Kezia. Gaun Kezia tidak terlalu panjang sehingga ia bisa berjalan lebih cepat.


Sherly dan Ricko berada di tengah-tengah mereka. Sementara Kania berdiri di samping Ricko bersama Amar. Di sebelah Sherly ada Dena yang tengah tersenyum. Kezia merapatkan tubuhnya pada Dena dan tetiba Arland berdiri disampingnya dengan jarak yang sangat dekat.


Saat kilatan flash menerpa wajahnya, Kezia telah memalingkan wajahnya menatap kaget melihat Arland yang bersisihan dengannya. Jepretan berikutnya Arland balik menatap kezia yang membuat Kezia sedikit tertunduk. Melihat hasil foto yang kurang focus, sang kameramen mengerahkan mereka untuk melihat ke kamera lalu tersenyum dan hanya foto itu yang membuat Kezia terlihat fokus diantara beberapa jepretan lainnya.


Selesai berfoto Sherly mengambil handphone yang juga digunakan untuk mempotret mereka.


“Udah pasti deh begini…” keluh Sherly saat melihat hasil fotonya.


“Ahahahha nih ada satu yang bener fotonya." seru Kania yang ikut tergelak.


“Apaan sih?” Dena ikut berbaur, sementara Kezia segera berjalan menjauhi Arland. “Ya elah key, lo kapan sih seriusnya kalo di foto.” lanjut Dena dengan seingai gemas.


“Emang apa yang salah, gue merem?” tanya Kezia yang segera melihat foto di handphone Sherly. Kezia ternganga melihat ekspresi wajahnya sendiri saat berfoto.


1 foto ia melihat ke arah Arland, foto kedua ia bertatapan dengan Arland, foto ketiga ia menunduk dengan Arland menatap ke arahnya dan baru foto ke empat barulah ia tersenyum ke arah kamera itupun dengan ekspresi kakunya.


“Awas ya kalo lo post!” ancam Kezia.


“Hak gue kali non…” kilah Sherly seraya tergelak.


“Untung nih anak gag doyan foto sama medsos, kalo doyan, mesti banyak hastag tentang dia.” Seru Dena yang mencubit gemas pipi Kezia.


“Sialan lo, lo kira gue barang endorse?!” protes Kezia yang mengerucutkankan bibir tipisnya.


“Ahahaha iya, terus tulisannya, permak muka jadi cantik kakak…. Pasti laku deh tuh produk!” sambung Sherly yang diikuti gelak tawa kedua sahabatnya termasuk Ricko.


Sementara itu Arland hanya menahan tawanya seraya memandangi Kezia yang memang terlihat sangat cantik malam ini.


****

__ADS_1


Karena hari semakin larut, beberapa tamu sudah beringsut pamit. Setelah puas menggoda pengantin baru, Kezia dan kedua sahabatnya pun sudah berniat untuk pulang.


“Gue ke toilet bentar yaa…” ujar Kezia saat Dena akan mengajaknya pulang. Ia sudah menunggunya di balkon bersama Fritz.


Kezia berjalan menuju toilet. Seorang pelayan menyodorkan minum dan Kezia mengambilnya. Tengorokannya memang terasa kering karena sejak tadi ia tidak makan atau minum apapun. Setelah meneguk orange jus, Kezia kembali berjalan menuju toilet. Tidak lama ia berada di toilet, setelah urusannya selesai ia segera menghampiri Dena dan Fritz.


Namun tiba-tiba saja, kepalanya terasa pusing. Langkahnya sempoyongan menyusuri lorong dari toilet. Kezia bersandar pada dinding untuk beberapa saat guna mengusir rasa pusingnya yang semakin menjadi. Penglihatannya mulai kabur untungnya ada Arland yang kebetulan berada di tempat yang sama dengan  Kezia. Ia segera menghampiri Kezia sebelum jatuh terduduk dengan tangan masih memegangi kepalanya. Arland mencoba meraih tubuh Kezia.


“Key, kamu kenapa?” Arland menopang tubuh Kezia dengan tangan kekarnya.


Pandangan Kezia sedikit buram ia berusaha memincingkan matanya untuk melihat laki-laki di depannya lebih jelas. Kesadarannya mulai menurun namun adannya terasa begitu panas dan bergairah.


“Haayy tampan, kamu terlihat mirip mantan pacarku yang brengsek!” celoteh Kezia.


Arland mengernyitkan dahinya dan tidak menanggapinya. Ia  mencoba membantu Kezia berdiri.


“Hem… kamu cakep banget sihhh…” Kezia menggerakkan tangannya mengelus rahang Arland sambil tersenyum sensual. Ia mendekatkan tubuhnya pada Arland bahkan berusaha menciumnya.


“Astaga, kamu kenapa ini…” Arland melihat ke sekeliling, untungnya tidak ada yang memperhatikannya.


Namun tiba-tiba tubuh Kezia ambruk. Dengan sisa tenaga ia masih berusaha meraih Arland bahkan menciumnya. Ia menggeliat seperti cacing kepanasan.


Jarak terdekat adalah apartemennya. Hanya butuh beberapa menit Arland membawa Kezia ke apartemennya. Gadisnya terlihat sangat liar. Beberapa kali ia mencium Arland. Suatu hal yang seharusnya Arland syukuri, namun di sisi lain ia merasa khawatir.


Pintu apartemen Arland terbuka. Dengan hati-hati Arland membaringkan Kezia yang setengah sadar di sofa. Arland berniat mengambilkan Kezia air minum, namun Kezia malah menarik tangan Arland dan mencium bibirnya dengan ganas.


Melihat sikap wanita yang dicintainya seperti ini, Arland ikut terbuai. Ia membalas pagutan Kezia lebih dalam dan dalam lagi hingga dadanya terasa sesak karena kehabisan nafas. Setelah mengambil nafas Kezia kembali menarik wajah Arland dan menciumnya dengan gila.


Arland melepas dasi yang terasa mencekik lehernya. Bagaimanapun Arland laki-laki normal yang tidak bisa dengan mudah menolak perlakuan Kezia yang selama ini dicintainya.


Namun seketika nalarnya berfikir, Kezia melakukannya dalam kondisi tidak sadar. Ia segera melepaskan pagutan Kezia. Walau Kezia meronta, Arland berusaha mengabaikannya.


“Key, jangan gila. Aku bisa lebih gila.” dengus Arland namun Kezia mengabaikannya. Ia malah tersenyum dengan begitu menggoda.


Arland segera menggendong Kezia ke kamar mandi dan menempatkannya di bath tube. Ia menyalakan air dan mengguyur tubuh Kezia. Arland sadar kemungkinan Kezia telah meminum sesuatu yang seharusnya tidak ia minum.


Tubuh Kezia mulai terrendam air. Badannya menggigil kemudian terkulai tidak sadarkan diri. Arland segera menggendong kezia ke tempat tidur dengan baju basah kuyup. Arland kebingungan sendiri mengurus Kezia. Ia segera mematikan Ac ruangannya agar Kezia tidak terlalu kedinginan. Ia harus mengganti baju Kezia, tapi tidak mungkin melakukannya sendiri.


Arland meraih handphone yang ada di saku celananya. Ia mencari nomor handphone Dena dan memanggilnya.


“Na, cepetan ke apartemen gue. Penting!” seru Arland.

__ADS_1


Tanpa mendengar jawaban Dena, Arland segera mengakhiri panggilannya.


Dena sedikit celingukan bingung. Tidak biasanya Arland melakukan hal ini. Tiba-tiba Arland mengirim foto Kezia yang terbaring tak sadarkan diri. Dena yang menangkap maksud Arland, bergegas mengajak Fritz menuju apartemen Arland.


****


 


Dena menekan bell dengan keras. Tak lama pintu terbuka.


“BUK!!!” sebuah tinjuan mendarat di wajah Arland. Tinju yang di arahkan Fritz mendarat dengan sempurna di pipi kiri Arland hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Fritz meraih kerah baju Arland yang terlihat berantakan dan basah kuyup lalu menguncinya dengan lengan kekarnya.


“Brengsek! Apa yang kamu lakukan pada Kezia!” gertak Fritz, namun Arland hanya terdiam.


“Fritz, udah stop! Jangan kasar kayak gini!” Dena berusaha menghalangi dan melepaskan cengkraman Fritz.


“You, SHIT!!!” dengus Fritz seraya mendorong tubuh Arland. Arland jatuh terduduk mengenai tembokan.


Ia mengatur nafasnya yang memburu seraya tertunduk. Begitupun dengan Fritz, ia berusaha mengatur nafasnya yang menderu karena emosi. Bagaimanapun ia tau ia bersalah karena memanfaatkan kesempatan yang tidak seharusnya.


Dena sudah tak memperdulikannya. Ia segera masuk ke kamar Arland dan menemui Kezia yang terbaring tidak sadarkan diri. Gaun dan tubuhnya basah kuyup.


“Astaga key, lo kenapa bisa kayak gini?” lirih Dena dengan suara bergetar. “Land, pinjem baju lo!” teriak Dena dari kamar.


Arland segera bangkit dan menghampiri Dena. Ia mengambil kemeja berwarna putih dan memberikannya pada Dena.


“Lo hutang penjelasan sama gue!” sergap Dena yang diangguki pasrah oleh Arland. “Keluar lo!” titah Dena.


Arland mengikuti saja perintah Dena. Baginya, berdebat saat ini tidak ada untungnya.


Dengan hati-hati Dena mengganti baju Kezia, lalu menyelimutinya hingga ke dada. Sejenak Dena memandangi wajah kezia yang terlelap. Wajahnya terlihat pucat. Rasa khawatir mengisi relung hati Dena. Namun ia masih harus mendengar penjelasan dari Arland.


Dena menutup pintu kamar Arland perlahan. Terlihat Arland sudah terduduk di sofa dengan kedua tangan menangkup wajahnya. Sementara Fritz masih berdiri dengan menyandar di tembok.


“Lo apain kezia?” tanya Dena dengan kasar.


Arland membuka tangkupannya, kemudian menatap Dena dengan mata merahnya. Perlahan Arland mulai menceritakan kejadian di pesta Ricko tadi. Dena tersentak, bagaimana bisa seseorang merencanakan hal buruk pada Kezia. Dan bagaimana bisa dengan mudah kezia masuk ke perangkap tersebut.


Fritz yang ikut emosi, memukul dinding sekerasnya hingga tangannya berdarah. Ia merasa telah gagal melindungi Kezia. Dena bisa menerima penjelasan Arland dan memintanya untuk menyelesaikan masalah ini.


*****

__ADS_1


__ADS_2