
“Wah lucu bangeett bang amar Junior…” seru Sherly saat memandangi bayi Kania yang ada di gendongan Kezia.
“Kok bang amar sih? Gue yang ngandung, gue yang lahirin, mirip guelah sher!” protes Kania.
“Itu karena waktu hamil kayaknya lo cinta banget sama bang amar, makanya mirip dia ka!” Imbuh Dena.
“Mana ada gue cinta banget sama dia, yang ada dia kecintaan sama gue. Iya kan yang?” kilah Kania sambil mengedipkan matanya pada Amar.
“Iya, aku kan selalu cinta sama kamu.” sahut Amar
“Ee ciieee……” riuh sahabat Kania bersamaan.
"Gila, ini kali ya yang bikin kania meleleh sama bang ammar…” goda Dena
“Eemmm sayanggg….” manja Kania seraya melingkarkan tangannya di pinggang Ammar yang berdiri di sampingnya.
Amar memberi respon dengan mengecup pucuk kepala Kania.
“Ah gila, bikin jiwa jomblo gue bergejolak aja lu!” seru Dena sambil memalingkan wajahnya.
“Hahahha… makanya, cepetan nyari cowok, jangan sampe keabisan…” sahut Sherly dengan tawa tergelak. Dena hanya mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
“Key, lo udah cocok loh gendong bayi gitu.” ujar Kania seraya menatap Kezia yang sedang menimang bayinya.
“Iya kah?” cetus Kezia sambil tersipu.
“Kode tuh land, cepetan , mau kapan?” goda Ricko seraya menyenggol lengan Arland.
“Mau nikah besok juga gue udah siap kok.” sahut Arland sambil membenarkan posisi dasinya.
“Cieeee,,,, gimana tuh key, tinggal nunggu persetujuan lo!” Sherly menimpali.
Kezia hanya tersipu dan memandang Arland yang menatap ke arahnya. Arland tersenyum dengan hangat, ia tau kekasihnya tidak sanggup berkata-kata.
“Fix, kita semua ngontrak, dunia ini milik lo berdua.” cetus Dena dengan nada meledek
“Tau nih, kita yang baru married tapi mereka yang lebih mesra sih! Udah dong liat-liatannya” protes Sherly. Kezia hanya tersenyum dengan wajah yang merona.
“Jangan senyum gitu deh key, tar lo di makan sama Arland.” cetus Kania sambil menatap Arland.
“Dimakan? Di makan Arland?” cetus Dena dengan wajah bingungnya
“Berisik lo bungsu…” sahut Kania seraya tergelak yang diikuti tawa lainnya.
Dena hanya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Entah apa yang dibicarakan para sahabatnya ini.
****
“Key…” suara Arland memecah keheningan selama perjalanan pulang.
“Hem…” sahut Kezia yang sejak tadi memandang keluar jendela mobilnya. Kali ini ia mengalihkan pandangannya pada Arland.
“Aku suka liat kamu gendong bayi kayak tadi, dapet banget auranya.” tutur Arland. Arland meraih tangan Kezia lalu menggenggamnya dengan erat dan mengecupnya lembut. “Aku harap, kamu akan jadi ibu dari anak-anak aku, kamu mau kan?” lanjutnya. Kezia tersenyum seraya mengangguk.
Ada desiran halus yang menyelusuk aliran darah Kezia, membuat perasaannya terasa hangat, perasaan yang selalu ia rasakan saat bersama Arland.
“Aku selalu berharap, kalau semua hal buruk yang kita lewati hanya mimpi buruk dan seperti ini lah hidup kita sebenarnya.” lirih Kezia dengan tatapan hangatnya.
Arland menepikan mobilnya dan menghentikan lajunya. Ia memfokuskan diri menatap gadis yang dicintainya dengan tatapan hangat.
Diraihnya wajah Kezia , lalu di selipkannya rambut yang menutupi wajah Kezia ke belakang telinga. Dengan lembut Arland mengusap pipi Kezia. Wajahnya semakin dekat dan dekat lagi. Arland meraih tengkuk Kezia, spontan Kezia memejamkan matanya. Terasa sentuhan hangat di bibir Kezia yang lembut mel*mat bibirnya. Kezia membalasnya perlahan. Semakin lama, Arland semakin memperdalam ciumannya hingga rongga dadanya terasa sesak karena kehabisan udara.
__ADS_1
Kezia melepaskan pagutannya. Mencoba mengisi kembali udara yang habis dari rongga dadanya. Arland menempelkan dahinya di dahi Kezia lalu tersenyum dengan mata masih terpejam.
“Bibir kamu manis banget” lirih Arland dengan suara tersengal-sengal karena kehabisan nafas. Kezia hanya tersenyum. Seketika suasana hening. Hanya suara nafas yang terdengar seirama dari keduanya.
****
Hari itu, sesuai rencana Fritz akan pulang ke Jerman. Kezia mengantarnya ke bandara bersama Dena. sudah beberapa hari ini dokter Albert terus menghubunginya dan memintanya untuk pulang. Terlihat raut kecewa di wajah manis Dena.
“Kalo kamu menikah, kamu kabari aku ya…” kalimat itu yang pertama keluar dari mulut Fritz. Kezia menganggukinya seraya tersenyum. “Kamu harus bahagia, tidak hanya untuk hari ini saja tapi untuk seterusnya.” Imbuhnya seraya menepuk bahu Kezia.
“Thanks fritz, kamu juga harus bahagia. Dan ingat, di sini akan selalu ada yang menunggu kamu.” Ujar Kezia seraya melirik Dena.
Dena memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan Kezia dan Fritz. Fritz menatapnya lalu tersenyum.
“Salam buat dokter albert dan mrs carolin. See you..” lanjut Kezia seraya memberikan pelukan perpisahan untuk Fritz. Fritz menyambutnya dan sesaat mengeratkan pelukannya pada Kezia.
“Ya, jaga diri kamu baik-baik. Aku akan merindukanmu.”
Kezia melepaskan pelukannya. Kemudian melirik Dena yang masih mematung di dekatnya. Pandangannya entah berpedar kemana.
“Na, gue tunggu di mobil ya…” lanjut Kezia seraya mengusap bahu Dena, Dena menganggukinya.
Mata Dena dan Fritz bersitatap. Terlihat raut sedih di wajah Dena. Fritz tersenyum seraya meraih tangan Dena dan menggenggamnya.
“Apa kamu akan kembali?” mata Dena mulai berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak. Fritz menyentuh wajah Dena dan mengusapnya perlahan.
“Apa kamu bersedia menunggu?” lirih Fritz dengan tatapan tajamnya. Dena mengangguk dengan semangat. “Saat aku tidak ada, sering-sering lah berbincang dengan sean, gunakan kata-kata yang lugas saat kamu berbicara bahasa Jeman. Dan kelak, mengobrolah dengan dady dan momy tanpa ragu, hem…?” lanjut Fritz.
Seketika ada perasaan bahagia yang menyeruak di dada Dena. Jika ia boleh berbaik sangka, sepertinya Fritz menerima cintanya. Hal ini membuat tangisnya perlahan pecah. Dena terisak perlahan. Ia masih belum bisa berpisah dengan cinta pertamanya.
“Hey, kamu sudah berjanji tidak akan menangis saat aku pergi.” lirih Fritz seraya menyeka air mata yang menetes di wajah Dena.
“Maaf aku cuma…”
“Terima kasih sudah memberikan waktu yang indah selama di indonesia. Dan terima kasih telah membantuku membuka pikiranku.”
Dena mengangguk. Wajahnya merona, senang bercampur malu.
“Tunggu aku untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya.” Sambung Fritz seraya mengusap pucuk kepala Dena.
“Ya aku akan menunggu…” sahut Dena.
Di rangkulnya tubuh tegap Fritz. Ia sudah tidak memperdulikan orang-orang yang menatap ke arahnya. Sejenak, ia ingin menikmati dekapan hangat laki-laki yang akan sangat di rinduknnya, sebentar saja.
Selama perjalanan pulang, Dena hanya terpaku. Bermain dengan imajinasi yang tidak terlihat oleh Kezia. Sesekali ia tersenyum, namun kemudian kembali ke wajah sedihnya.
“Na, dia bakalan kembali, cuma buat lo.” lirih Kezia dengan senyum tersungging di bibirnya. Sepertinya Kezia paham benar perubahan ekspresi di wajah Dena.
“Iya key, kalo dia gag balik, bakal gue susul!” cetus Dena dengan semangat.
“Hahhaha.. nah gitu dong, itu baru sahabat gue.” Seru Kezia yang merasa lebih tenang karena Dena tidak terlarut. “Ya udah, gue laper. Ayo kita beli makanan buat dimakan bareng anak-anak!” imbuh Kezia.
“Baik bidadari cantikk…” sahut Dena dengan suara anak-anak yang biasa ia dengar. Kezia hanya tergelak melihat kelakuan ajaib sahabatnya.
****
Sebuah ketukan pintu mengalihkan perhatian Arland. Pintu ruangannya terbuka dan terlihatlah Ricko yang tengah berjalan ke arahnya.
“Sibuk gag bro?” sapa Ricko sambil duduk di sofa ruang kerja Arland.
“Lumayan, kenapa?” Arland menghampirinya dan duduk di hadapan Ricko.
__ADS_1
Ricko menaruh sebuah amplop di hadapan Arland.
“Apa ini?” Arland mengambil amplop tersebut lalu membukanya.
“Orang gue udah nemuin orang yang coba jahatin Kezia. Gue gag nyangka dia masih berani berurusan sama lo dan kezia.” terang Ricko seraya memijat kepalanya walau tidak pening.
“Hah difa?” tanya Arland saat melihat beberapa foto yang ada di hadapannya.
“Iya, tapi pas orang gue ngecek ke rumahnya, dia udah pergi. Rumahnya kosong gag ada apa-apa.” lanjut Ricko
“Sial, ini cewek maunya apa sih? Berkali-kali dia ganggu hubungan gue sama kezia. Gag bisa gue diemin.” Arland berdiri sambil berkacak pinggang.
“Kayaknya lo harus ngobrolin ini sama kezia. Gue saranin sih mending di proses hukum. Gue takut dia ngelakuin sesuatu yang lebih bahaya buat lo sama Kezia.”
Arland mengusap wajahnya kasar. Ia kembali mendudukan tubuhnya di sofa dengan punggung tersandar.
“Iyaa, gue harus nyelesein masalah ini segera. Gue gag ada waktu lagi main-main sama hal kayak gini.” tukas Arland. Ricko menganggukinya sepakat. “Ko, mungkin gue bakal repotin lo lagi kali ini..” lanjut Arland.
“Ada apaan?” Ricko mencondongkan tubuhnya ke arah Arland. Arland tampak serius menatap Ricko dan Ricko menunggu dengan tidak sabar kalimat Arland berikutnya.
****
Pagi-pagi sekali Arland sudah melajukan mobilnya menuju rumah Kezia. Tampilan kasual yang membungkus tubuhnya dan topi hitam yang membuatnya terlihat begitu segar. Sepanjang perjalanan bibirnya tak henti tersenyum, membayangkan wajah Kezia yang menari di pelupuk matanya.
“Pagi tante….” sapa Arland dengan senyum tampan di wajahnya.
“Pagi nak arland.” sambut Eliana.
Eliana tampak keheranan melihat Arland yang sudah ada di depannya sepagi ini.
“Kezianya ada tan?”
“Oh ada, ayo masuk..” Eliana membukakan pintu lebar-lebar untuk Arland.
Eliana dan Arland berjalan beriringan. Di ruang keluarga terlihat Martin yang sedang asyik dengan laptopnya.
“Tunggu bentar ya, tante panggilin zia dulu..” pamit Eliana.
“Iya tan, makasih…” sahut Arland. “Pagi om…”
“Eh land, sini …” Martin melambaikan tangannya dan meminta Arland duduk. Arland segera mengambil tempat di samping Martin.
“Om arland mau ngajak Kezia jalan, boleh kan?”
“Boleh lah, kalian udah bukan ABG lagi, om percaya sama kamu. Tapi inget, jangan bikin zia nangis lagi.”
“Saya janji akan menjaga kezia dengan baik om.” sunggut Arland dengan mantap.
“Nah, gitu dong…” Martin menepuk bahu Arland dengan bangga.
Tak lama Kezia turun dari kamarnya. Ia terlihat cantik dengan dress polos berwarna jingga dengan leher model sabrina. Kali ini ia menggunakan kalung pemberian Arland sebagai aksesorisnya. Arland terpukau melihat gadis di hadapannya.
“Tuh, yang di tunggu udah dateng.” tunjuk Martin pada putrinya.
“Hem iyaa om. Kalo gitu arland pergi dulu ya om…” pamit Arland sambil menyalami Martin.
“Iya, hati-hati. Kalo arland macem-macem, telpon papah ya sayang…” tukas Martin seraya melambaikan tangan pada putrinya.
“Siap pah!” seru Kezia seraya melakukan hormat singkat.
Arland hanya terkekeh melihat tingkat gadis dan calon mertuanya.
__ADS_1
Arland dan Kezia memulai perjalanannya. Selamat perjalanan mereka mendengarkan music yang mengalun dari music player di mobil Arland. Sesekali mereka tertawa, menertawakan hal receh yang mengundang gelak. Arland mulai iseng dengan menggoda Kezia membuat ekspresi wajah Kezia sesekali berubah kesal dan menghadiahi Arland dengan pukulan penuh cinta yang membuatnya mengaduh manja. Sepertinya hari ini akan berlalu dengan indah.
****