
Mobil Kezia berhenti di sebuah resto makanan cepat saji. Ia turun bersama Sean untuk membeli ayam goreng yang sangat diinginkannya. Sean mulai memilih makanan yang ia mau. Dalam sekejap menu pesanan mereka sudah ada di depan mata. Kezia segera membawa makanan mereka ke salah satu meja yang masih kosong.
Mata Sean berbinar melihat setumpuk ayam goreng di hadapannya. Ia mulai mengambil salah satu potong ayam dan bersiap melahapnya.
“Cuci tanganmu dulu sean…” tutur Kezia seraya meraih tangan Sean.
“Heemmm.. mimaa…” gumam Sean dengan kesal.
Dengan terpaksa ia menuju tempat cuci tangan dan segera mengeringkan tangannya. Ia kembali ke tempat duduk dan bersiap menyantap ayam goreng dengan saus sambal di depannya.
“Emmm.. Ini enak sekali mima…” seru Sean dengan mata berbinar-binar.
Kezia hanya tersenyum melihat Sean yang begitu senang. Ia menyangga dagunya dengan tangan kanannya tanpa menyentuh ayam goreng itu sepotong pun. “Mima gag makan?”
“Mima sudah makan. Kamu makan lah yang banyak. Tapi ingat, jangan sering-sering minta makan begini yaa…” tutur Kezia seraya mengusap lembut kepala Sean. Sean menganggukinya.
Sean benar-benar menikmati makanan di hadapannya. 2 potong ayam di lahap begitu saja. Sesekali ia minum dengan buru-buru karena merasakan pedas di mulutnya. Kezia hanya terkekeh gemas melihat tingkah Sean.
Tampak seseorang sedang memperhatikan Kezia dan Sean dari kejauhan. Ia berjalan menghampiri tanpa mereka sadari.
“Key…” sapa suara laki-laki.
“Arland…” Kezia segera menegakkan posisi duduknya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Boleh aku duduk di sini?” Arland bertanya dengan santai. Kezia hanya terdiam tidak menyahuti. Arland segera duduk di samping Kezia tanpa menunggu izin.
Jika mengingat kejadian beberapa saat lalu, entah apa yang terlintas di pikiran Arland hingga ia menurunkan Difa di jalan dan memilih membuntuti mobil Kezia dari kejauhan. Antara bodoh dan penasaran atau memang keduanya bersarang di kepala Arland. Yang jelas, Kezia seperti magnet yang menariknya untuk mendekat bahkan mungkin melakukan hal gila untuk mengejar wanita milik orang lain. Entahlah, saat itu ia mengabaikan semuanya. Ia hanya ingin mendekati Kezia lagi dan lagi. Katakan saja ia baj*ngan atau sejenisnya, ia akan menerimanya.
“Mima, Wer ist dieser mann? (Mima siapa laki-laki ini?)” tanya Sean dengan tatapan tajam pada Arland.
“Mobber. Macht nichts aus. (Penganggu, jangan kamu hiraukan.)” timpal Kezia.
Sean menatap sinis pada Arland yang tersenyum padanya.
“Hallo Dude, ich bin Arland. ich bin der freund deiner mutter aus kindertagen. (Halo sobat, aku arland, teman masa kecil ibumu.)”
Mata Kezia dan Sean terbelalak saat ternyata Arland bisa berbicara dengan bahasa Jerman.
“Mima bilang kau penganggu? Apa kau sering mengerjainya saat mima masih kecil?” ujar Sean seraya menaruh ayam goreng di tangannya.
Mulutnya masih dipenuhi saus dan minyak dari ayam goreng.
“Tidak, kami hanya pernah beberapa kali salah paham.” Sahut Arland sambil mengusap mulut Sean dengan tisue. Arland melirik Kezia seraya tersenyum.
“Apa kau sudah minta maaf pada mima?” serang Sean.
“Dia tidak mau menemuiku dan berbicara denganku, jadi aku belum sempat meminta maaf.” terang Arland, sambil menatap Kezia.
“Kamu ngomong apa sih land?” gerutu Kezia dalam hati.
“Ini hadiah untukmu. Bantu aku agar dia mau berbicara denganku. Aku akan meminta maaf padanya..”
Arland memberikan satu set mainan mobil-mobilan terbaru. Dengan senang hati Sean menerimanya.
__ADS_1
“Terima kasih onkle. Aku akan membantu onkle bicara dengan mima.” sepertinya Sean sudah terbujuk rayuan Arland. Lihat saja matanya yang berbinar-binar setelah mendapat hadiah dari Arland.
“Anak yang pintar. Okey, onkle pulang dulu, kita ketemu lagi nanti. Hubungi onkle saat kamu berhasil membujuk mima mu.” Arland menyerahkan kartu namanya pada Sean.
“Ay ay Onkle!” seru sean dengan senyuman polosnya.
Sejenak Arland menatap Kezia lalu tersenyum. Senyum yang membuat hati Kezia getir. Ia khawatir hatinya kembali tersentuh.
“Sean, kamu harus lebih hati-hati dengan orang asing.” gerutu Kezia yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ralat, mungkin lebih tepatnya kekhawatirannya.
“Iya mima. Tapi dia bukan orang asing. Dia teman mima dan mima harus belajar memaafkannya.” Celotehan Sean terdengar seperti seorang kakek 70 tahun yang berbicara berdasarkan yang dia tau, tanpa mau mendengar alasan orang lain.
Kezia hanya menghembuskan nafasnya kasar, sangat sulit berbicara tentang perasaan dengan seorang anak kecil.
Sementara itu, Arland terus mencari informasi tentang Kezia dan Angga dari kenalannya di Wibawa Group. Dari semuanya yang ia tanya, mengatakan bahwa Angga telah menikah dengan Kezia, namun sudah meninggal setahun lalu. Arland menengadahkan wajahnya, menatap langit yang sebentar lagi berwarna jingga. Apakah terlalu jahat kalau saat ini ia tersenyum dalam sedikit kelegaannya? Adakah kesempatan untuknya?
****
Malam itu, warna langit semakin pekat. Tidak ada cahaya bintang atau pun bulan yang bisa ia pandangi. Kezia duduk di halaman belakang rumahnya dengan segelas coklat hangat di tangannya. Ia menyeruputnya perlahan, merasakan nikmatnya coklat hangat yang membasahi tenggorokannya.
Bayangan Arland berkelebatan di pikirannya. Wajah yang selalu ia rindukan dan tidak pernah bisa ia lupakan.
Benda pipih di tangan Kezia bergetar dengan sebuah notifikasi panggilan masuk dari nomor tidak dikenalnya.
“Haloo…” sapa Kezia dengan malas.
“Halo key, ini aku difa.” sahut suara di sebrang sana.
“Oh fa, ini nomor kamu?”
“Iya fa, gag pa-pa… mungkin lain waktu kita bisa ngobrol lebih banyak.”
“Key, hari sabtu besok kamu dateng kan ke acara reuni?”
“Reuni? Reuni apa ?” kezia mengernyitkan dahinya.
“Reuni sekolah key. Kalo gag salah, 5 angkatan yang di undang. Kamu dateng kan?”
“Oo gitu yaa.. Aku belum tau, soal acaranya aja aku baru tau sekarang.”
“Aku harap kamu bisa hadir supaya kita bisa ngobrol banyak. Aku juga mau dateng kok, sama calon suami aku.” seru Difa dengan dengan sedikit pancingan pada Kezia.
“Okey liat nanti yaa… Aku masih belum tau..” namun sayangnya Kezia tidak terpancing.
Difa mengeram kesal tapi sepertinya ia tidak kehabisan cara untuk memancing Kezia.
“Key, calon suami aku itu,,, arland. Kamu gag marah kan?”
Sejenak jantung Kezia terasa mau copot mendengar nama yang di sebut Difa. Kezia segera menarik nafas dalam-dalam untuk memulihkan kesadarannya.
“Loh kenapa aku harus marah? Selamat ya fa, aku ikut seneng.” suara Kezia terdengar bergetar. Terang saja, menyembunyikan perasaan bukanlah keahlian Kezia.
“Emm makasih key, aku harap kamu masih mau temenan sama aku dan bisa membiarkan arland bahagia sama aku.”
“Iya tentu…” sahut Kezia dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
“Ya udah, sampe ketemu di acara reuni yaa… Jangan lupa bawa pasangan, biar gag ada yang gangguin kamu.” Cetus Difa dengan sengaja.
Kezia hanya membalasnya dengan senyuman.
Panggilan pun terputus. Kezia menatap layar handphonenya. Ada sebuah pesan masuk dari Kania yang isinya sama persis dengan yang di ucapkan Difa yaitu acara reuni. Kezia hanya membalas “Heemm…” jawaban kebiasaan Kezia saat tidak tau harus menjawab apa.
Kezia memikirkan kembali ucapan Difa. Kezia tau, Difa dan Arland memang sudah berteman cukup lama. Sangat wajar kalau akhirnya mereka bersama-sama. Dan saat ini, tidak ada hak bagi Kezia untuk protes karena semua tentang Arland dan Kezia memang sudah berakhir sejak lama. Walau dugaan awal bahwa Arland sudah menikah patah begitu saja tapi menjadi perusak hubungan orang bukanlah jalan yang bisa ia pilih.
“Astaga, kenapa aku seolah-olah jadi pelakor ya buat difa? Difa kan temen aku juga.” Gumam Kezia. Ia kembali meneguk coklat hangatnya yang sudah dingin hingga habis. Dihatinya sudah bulat keyakinan untuk tidak menggubris Arland sama sekali.
****
Sore itu, Dena sudah berada di rumah Kezia dengan misi mengajaknya ke acara reuni sekolah. Kezia sudah menyatakan kalau dia akan berdiam di rumah di akhir pekan ini namun ketiga sahabatnya tetap memaksanya untuk datang, bahkan Dena sudah menjemputnya dari sore. Dengan setia Dena menemani kezia di kamarnya yang masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.
“Key, ponakan lo cakep yaa…” puji Dena sambil melihat-lihat aksesoris yang berjejer di meja rias Kezia.
“Iyaaa, dia juga anak yang pinter.” Kezia menimpali.
“Gue bingung, mau ngajak ngobrol tapi ngomongnya masih begitu. Ada sih gue ngerti dikit-dikit bahasa indonesianya dia, tapi banyaknya dia ngomong bahasa jerman.” keluh Dena.
“Ya sekalian aja lo belajar bahasa Jerman na, siapa tau lo dapet jodoh orang Jerman.” goda Kezia.
“Mana ada gue dapet jodoh orang jerman? Lo aja yang 11 tahun di sana balik ke sini gag bawa cowok jerman. Apalagi gue yang berdiam diri di NKRI tercinta.” ceracau Dena.
Kezia tertawa mendengar jawaban Dena.
“Ya jodoh kan gag ada yang tau…”
“Iya sih… Tapi gue beneran salut ya tuh sama anak lo, kecil-kecil bahasa jermannya bagus, bikin gue minder…” keluh Dena dengan wajah memelasnya.
“Ya iya b*gok, dia kan orang jerman! Mana ada dia ngomong bahasa jepang!” protes Kezia yang kesal dengan ke absurb-an sahabatnya.
“Hahahhaa iya yaa…” Dena menertawakan kebodohannya sendiri.
Kezia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang tidak pernah berubah.
Kezia beranjak dari meja belajar yang sekarang jadi meja kerjanya. Ia meraih handuk dan bergegas ke kamar mandi. Melihat kezia yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, Dena tersenyum senang dan Ia pun segera berganti pakaian sambil menunggu Kezia.
Tak lama Kezia keluar dari kamar mandi lalu menuju lemari tempatnya menyimpan beberapa gaun pesta. Kezia memilih baju yang akan dikenakannya. Pilihannya jatuh pada dress warna merah maroon yang memiliki panjang asimetris dan off shoulders. Dipinggangnya ada aksen pita yang memperlihatkan bentuk tubuh ideal kezia.
Kezia dan Dena mulai merias diri. Dena yang lebih piawai dalam menggunakan kuas wajah, membantu Kezia untuk berdandan. Riasannya tidak terlalu tebal dan tetap memperlihatkan kecantikan alami Kezia. Rambutnya dibiarkan tergerai dan sedikit bergelombang membentuk siluete cantik di wajah kezia.
“Ah gila, cakep banget lo key!” puji Dena seraya berdecak kagum.
“Ini karena polesan make up dari tangan lo!” tangan Dena memang memiliki sihir kalau dalam hal merias wajah.
Dena hanya tersenyum mendengar pujian dari sahabatnya. Ia mulai merias diri karena tidak ingin kalah cetar dari sahabatnya. Gaun warna abu muda membalut tubuhnya yang ramping. Sementara rambutnya yang panjang sebahu di biarkannya terurai begitu saja. Sangat manis.
****
Kasih gambaran dikit yaaa, hahahay...
__ADS_1