My First Love Story

My First Love Story
Episode 152


__ADS_3

Mata Kezia terbuka saat suara dering telpon menggetarkan gendang telinganya. Ia segera meraih handphone  yang tidak jauh dari tempat tidurnya dan tampak sebuah panggilan dari rumah sakit tempatnya bekerja. Kezia segera mendudukan tubuhnya, menyandar pada pinggiran tempat tidur.


“Halo..”


“Iya, halo. Selamat pagi dok. Maaf pagi-pagi buta saya menghubungi dokter.” ujar suara di sebrang sana


“Iya gag pa-pa. ada apa?”


“Ini dok, ada pasien post chemo mengalami shock pagi ini. Sekarang dia masih di UGD, sedang di tangani oleh dokter UGD. Tapi kondisinya tidak terlalu baik.” terang perawat di sebrang sana


“Okey, kamu kirim datanya ke saya, terus minta dokter UGD untuk membuat pengantar  untuk pemeriksaan laboratorium ya, saya segera ke sana.”


“Baik dok.”


Kezia segera memutus telponnya. Ia membersihkan tubuhnya sebentar lalu bergegas berganti pakaian. Diraihnya kunci mobil dan barang pribadinya yang ada di dalam tas. Dengan langkah cepat ia menuju garasi, menyalakan mesin mobil dan bergegas berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan beberapa kali ia menerima telpon. Hingga akhirnya ia tiba di rumah sakit.


“Pasiennya di ruang observasi dok, masih belum sadarkan diri.” ujar perawat seraya menyerahkan stetoscope pada Kezia.


Kezia mulai memeriksa pasien  yang terbaring di hadapannya. Kondisinya cukup buruk. Dari hasil pemeriksaan lab, ia harus meminimalkan terapi untuk pasiennya. Ia mencatat beberapa hal di buku rekam medisnya dan meresepkan obat untuk terapinya.


“Apa keluarganya ada riwayat penyakit yang diturunkan?” tanya Kezia pada perawat di sampingnya.


“Kami belum melakukan konfirmasi ke keluarganya dok.” sahut perawat tersebut.


“Minta keluarganya masuk, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan.”


“Baik dok.”


Seorang wanita duduk di hadapan Kezia. Kezia mulai menanyakan beberapa hal. Dengan sesegukan putri pasien tersebut menjawabnya. Kezia pun menerangkan kondisi pasien dan rencana pengobatannya, walau dengan perasaan sedih, putrinya bisa menerima penjelasan kezia.


“Mba nya terus kasih support dan do’a ke ibu ya, yang kuat, usahakan jangan menangis di hadapan ibu.” pungkas Kezia.


“Baik dok, terima kasih banyak.” sahut gadis tersebut.


Ia berusaha menegarkan dirinya. Perasaan yang sama pernah Kezia rasakan juga saat mendampingi Angga melewati pengobatan. Hal yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan. Pikiran Kezia melambung, memutar ingatannya saat bersama Angga. Hingga tanpa ia sadari gadis tersebut sudah menghilang dari hadapannya.


*****


Badan Kezia terasa begitu lengket karena keringat. Ia berniat membersihkan tubuhnya dengan cepat. Beberapa kali handphonenya berdering, namun tidak satupun yang terangkat.


Ditempat lain, Arland terus memandangi handphonenya, menunggu Kezia menghubunginya kembali, namun tidak pernah sekalipun handphonenya menyala.


“Mima belum ada jawab telpon onkle ya?” tanya Sean yang sedang asyik menikmati Eskrimnya.


“Iya , padahal ini udah siang. Harusnya dia udah selesai periksa pasien.” gumam Arland dengan wajah panik.


“Kita ke tempat mima aja onkle, sean kangen sama mima…” usul anak tampan tersebut


“Okey, ayo kita jemput mima.” Sahut Arland seraya menggiring tubuh Sean ke mobil. Sean melangkah dengan senang.


Selama perjalanan perasaan Arland terasa tidak tenang. Sean berceloteh riang namun Arland hanya mendengarnya selintas. Entah mengapa, ia terus menerus kepikiran Kezia.


Di depan rumah sakit terlihat orang-orang berkerumun. Arland segera memarkirkan mobilnya, lalu mengajak Sean turun.


“Ada apa ini mba?” tanya Arland pada salah seorang wanita yang sedang melihat kejadian tersebut.


“Itu ada perempuan gila, ngancam dokter rumah sakit. Pake bawa pisau segala.” ujar wanita itu seraya bergidik.


Arland tercengang. Dari kejauhan ia melihat beberapa petugas keamanan sedang berusaha mendekat.

__ADS_1


“Gue bilang jangan ada yang berani mendekat atau gue bunuh wanita ini!” seru wanita tersebut.


“Mimaaa!!!” teriak Sean yang melihat Kezia sedang berada dalam cengkraman seorang wanita dengan sebilah pisau mengarah ke lehernya.


“Sean, jangan ke sini nak!” teriak Kezia dengan suara bergetar.


Namun Sean malah berlari ke arah Kezia. Sisa eskrim di tangannya terjatuh begitu saja. Arland tidak sempat menahan Sean yang berlari begitu cepat. Seorang wanita lain dengan cepat menangkap tubuh Sean.


“Hahahaha bagus, kita dapet dua ikan sekaligus!” ujar wanita satunya.


“Difa, lepasin sean!” teriak Arland yang mengenali kedua wanita tersebut sebagai Difa dan Irene.


“Hay sayang, kamu mau aku lepasin yang mana?” tanya Irene seraya terkekeh. Terlihat pula seringai jahat di wajah Difa.


“Kalian jangan becanda! Itu bahaya!” seru Arland.


“Loh, siapa yang becanda land? Kamu selalu ngelindungin kezia kan, coba lindungi lagi dia sekarang. Saat aku bener-bener cinta sama kamu, kamu malah lebih milih wanita serakah ini. Kalo aku gag bisa dapetin kamu, dia juga gag akan bisa dapetin kamu!” teriak Irene.


“Fa, kamu bisa bawa aku, tapi tolong lepasin sean, dia gag bersalah…” lirih Kezia dengan suara bergetar.


“Hahahaha gag bisa! Kalo kamu mau aku lepasin anak ini,  kamu harus janji kamu bakalan ngasih arland buat aku.” tukas Difa.


“Kalian gag boleh nyakitin mima, ga boleh!” teriak Sean sambil mengigit tangan Difa.


“Aw! Sialan, dasar setan Kecil!” Difa mengaduh


Sean segera berlari dari Difa, namun Difa berusaha mengejar Sean dan mengarahkan pisau pada Sean. Di saat bersamaan Arland menghadangnya


“Sret…” sebuah luka sayatan mengenai perut Arland. Orang-orang di sekitar menjerit histeris saat noda merah itu mulai menetes.


Arland memegang perutnya yang berdarah. Tangan Difa tampak gemetar, ia begitu terkejut. Pisau yang digunakannya pun jatuh.


“Land, aku gag sengaja…” ujar Difa dengan tangan gemetar berusaha menggapai tubuh Arland.


Mereka berlari di bawah kejaran beberapa petugas keamanan.


“Ckiiiittt!! BRAK!!” sebuah mobil terhenti, ia menghantam tubuh Irene yang berjalan di depan Difa. Irene terkulai dengan bersimbah darah. Sementara Difa hanya mematung, ia terlihat sangat shock.


“Land!!” teriak kezia yang segera berlari menghampiri Arland yang jatuh tersungkur dengan darah di perut dan menembus kemejanya. Ia tidak memperdulikan darah yang terus menetes di lehernya. “Kamu tahan sebentar, kita segera ke rumah sakit.”  tutur Kezia seraya menekan darah yang keluar dari luka Arland. Arland meringis menahan sakit dari lukanya.


****


Tak lama, beberapa perawat membawa blankar dan menempatkan Arland di atasnya. Dengan cepat mereka mendorong tubuh Arland menuju UGD.


“Mima, sean takut…” pekik Sean seraya memeluk Kezia yang juga gemetaran.


“Tenang sayang, onkle arland pasti baik-baik aja…” Kezia segera menggendong Sean yang memeluknya dengan erat.


Kezia berlari di belakang blankar yang membawa tubuh Arland. Sampai saat itu Arland masih sadarkan diri, hanya saja tubuhnya cukup lemah karena kehilangan banyak darah.


Arland di masukkan ke ruang UGD. Dengan sigap seorang dokter yang tak lain adalah Rana, memeriksa Arland.


“Sean, tunggu di luar sama suster ya, mima liat onkle dulu.” bujuk Kezia. Sean mengangguk mengiyakan. “Sus, tolong jaga anak saya sebentar.” imbuh Kezia pada perawat di hadapannya. Dengan senang hati perawat tersebut membawa Sean keluar ruang UGD.


“Key, itu leher kamu juga berdarah.” ucap Rana dengan wajah Khawatir.


“Iya kak,  aku bisa ngobatin lukanya sendiri, kakak tolong arland dulu aja.” timpal Kezia dengan panik.


Ia segera membersihkan lukannya di depan sebuah kaca yang ada di wastafel. Lukanya tidak terlalu dalam, sehingga cukup dengan memberinya obat luka dan menutupnya dengan kasa.

__ADS_1


“Aaahhh…” terdengar suara Arland yang mengerang menahan sakit di lukanya. Kezia segera menghampirinya.


“Lukanya cukup panjang, tapi beruntung otot perutnya bagus sehingga lukanya tidak terlalu dalam.” Terang Rana yang sedang membersihkan luka Arland. “Aku mulai jahit lukanya ya land…” lanjut Rana yang sudah bersiap. Arland terangguk setuju.


Kezia memegangi tangan Arland dengan erat. Sesekali ia mendesis menenangkan Arland yang terlihat kesakitan. Arland memandangi wajah kezia yang ada di sampingnya. Perlahan rasa sakit berkurang teralihkan dengan perasaan tenangnya melihat Kezia yang baik-baik saja.


Dengan cepat Rana menyelesaikan pekerjaannya. Membalut luka Arland dengan beberapa lembar kasa.


“Dok, saya boleh di rawat di rumah aja kan?” tanya Arland


“Udah pasti lo minta kayak gitu karena ngerasa ada yang bakal ngerawat ya?” ledek Rana.


Arland hanya tersenyum mendengar ledekan Rana. “Lo beruntung punya kezia, pasien kanker aja bisa sembuh apalagi luka cetek begini.” lanjut Rana seraya menekan sedikit luka Arland.


“Aaww…” Arland kembali mengaduh


"Kak ranaa..." protes Kezia dengan kesal pada keisengan Rana.


“Pacarmu cengeng key!” cetus Rana.


“Enak aja pacar, calon suami tau!” sahut Arland.


“Iya, iya calon suami.” tukas Rana seraya tersenyum. Kezia tersenyum tenang saat melihat Arland masih bisa berceloteh. Hampir saja jantungnya copot saat mengingat kejadian tadi. Rana mulai menuliskan beberapa resep obat untuk Arland. “Ini resepnya, nanti biar perawat yang ngambilin obatnya. Jangan lupa, luka kamu juga harus kamu rawat ya key, jangan sampe kenapa-napa.” lanjut Rana seraya mengusap bahu Kezia.


“Okey, makasih ya kak.. “ sahut Kezia dan Arland nyaris bersamaan.


Rana mengangguk seraya tersenyum. Tak lama ia pun berlalu, melanjutkan pekerjaannya memeriksa pasien lain.


*****


Saat itu, Kezia, Arland dan Sean telah tiba di apartemen Arland. Dengan perlahan Kezia membopong tubuh jangkung  Arland yang lebih tinggi darinya. Segera setelah Arland membuka passcode apartemennya, Kezia membaringkan Arland di tempat tidurnya.


Arland meringis saat merasakan perih dari lukanya.


“Istirahat dulu ya, aku siapin dulu makan..” tutur Kezia seraya menyelimuti Arland hingga ke perutnya. Arland mengangguk mengiyakan. “Tolong jaga onkle ya sayang..” imbuh Kezia pada si kecil Sean.


“Okey mima!” sahutnya dengan senyum yang mempertontonkan gigi ompongnya. Kezia tersenyum seraya mengusap kepala Sean. Ia segera pergi menyiapkan makanan untuk Arland dan Sean.


“Onkle apa rasanya sangat sakit?” Sean memandangi wajah Arland dengan tatapan cemasnya.


“Eemmm, sedikit!” sahut Arland sambil tersenyum


“Syukurlah… Sean sangat takut kalau dada terluka gara-gara sean.” Sean tertunduk lunglai


“Dada?” Arland menyernyitkan dahinya.


Sean terangguk. “Onkle akan menikah dengan mima, sean senang kalo ongkle akan jadi dada buat sean…” lirih bocah tampan tersebut seraya tertunduk memandangi luka Arland.


Arland tersenyum dengan senangnya. “Hem… sini peluk dada…” ujar Arland seraya merentangkan tangannya.


Sean menyelipkan tubuhnya diantara kekarnya kedua tangan Arland. Ia kembali merasakan kehangatan yang selama ini tidak pernah dirasakannya.


“Kalo sean sudah besar, sean akan jadi anak yang kuat. Sean akan jaga mima dan dada dengan baik. Jadi dada jangan sakit lagi…” lirih Sean yang membuat Arland begitu terharu.


“Sekarang pun sean sudah menjadi anak yang kuat. Dada bangga sama sean…” timpal Arland seraya mengecup pucuk kepala Sean. Mereka saling memeluk dengan erat.


Dipintu kamar, terlihat Kezia yang tengah menyeka air mata bahagiannya melihat kedekatan Arland dan Sean. Kezia sempat meragukan apa Sean bisa menerima Arland dengan baik atau tidak, karena bagaimanapun dada dia yang sebelumnya begitu sempurna bagi Sean, tidak akan mungkin terganti. Tapi melihat Sean bisa menerima Arland dengan baik, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi Kezia.


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2