
Karena asyik berias, Dena sampai lupa waktu. Ia segera mengajak Kezia berangkat karena Sherly dan Kania yang terus menelponnya. Sepanjang perjalanan mereka tertawa bersama saat mengingat kejadian-kejadian lucu di sekolah.
Hingga sampai di sekolah, suasana sudah sangat ramai. Para alumni sudah berkumpul memenuhi aula. Kezia segera memakai hells nya saat turun dari mobil. Ia berjalan beriringan dengan Dena menuju aula.
Suasana di aula terlihat sangat riuh. Masing-masing saling bercengkrama melepas rindu.
Beberapa pasang mata tertuju pada Kezia dan Dena yang berjalan masuk ke dalam aula. Sementara sherly sudah tiba lebih dulu bersama Ricko, Kania dan Amar. Mereka menemani Kania mencicipi makanan yang disajikan.
“Gilaaa, orang-orang ngeliatin kita key…” ujar Dena yang tampak tegang.
Ia berjalan di samping Kezia yang terlihat begitu menawan.
Arland yang sedang berbicara dengan Difa pun mengalihkan perhatiannya pada Kezia. Difa terlihat begitu kesal karena Kezia menarik semua perhatian terutama perhatian Arland. Malam itu Arland terlihat sangat tampan dengan jas biru yang menampakkan auranya.
“Cakep banget ya kezia…” ceteluk Difa dengan senyum palsunya.
“Iyaa,, janda muda abad ini!” cetus teman Difa yang iringi lirihan tawa mereka.
Arland menatapnya dengan wajah tidak suka.
“Emang dia janda?” tanya Difa dengan wajah polos yang terkesan di buat-buat.
“Iya fa, temen gue bilang suaminya meninggal setahun lalu.”
“Aduuhh kasian yaa,,, cantik, masih muda, karir bagus tapi sayang , janda…” cetus Difa seraya melirik Arland.
Arland yang sudah benar-benar muak dengan Difa dan teman-temannya segera pergi menghampiri Ricko yang tengah bergabung bersama pasangan dan teman-temannya.
“Uuhhh liat inii, siapa autie cantik yang ada depan kamu nak…” ujar Kania seraya mengusap perutnya.
“Hay baby bumb, gimana kabarmu hari ini?” sapa Kezia seraya mengusap perut Kania dengan gemas.
“Baik auntie cantikkk…” Kania menyahuti dengan suara anak kecil.
“Hay key, apa kabar?” Amar mengulurkan tangannya.
“Kabar saya baik pak..” Kezia menyambut uluran tangan Amar.
“Jahat lo key, masa manggil suami gue bapak?!” protes Kania seraya mengerucutkan bibirnya.
“Oo ahahhaha,, sory, terus gue panggil apa dong?”
“Kita manggilnya abang… iya kan abanggg…” goda Sherly seraya menyengaukan suaranya seperti lady boy. Mereka tertawa bersama saat mendengar ujaran Sherly.
“Bro lo dari mana aja?” sapa Ricko saat melihat Arland yang baru datang.
“Gue tadi di sana..”
“Ooo difa gag lo ajak gabung?” tanya Ricko.
Arland hanya menggelengkan kepalanya, kemudian menatap Kezia yang ada di samping Sherly dan Kezia memalingkan wajahnya saat pandangan keduanya bertemu.
“Key…” sapa seseorang dari belakang. Kezia segera menoleh.
Tampak Rana dengan laki-laki di sampingnya.
“Kak rana….”
“Kamu masih inget dia key?” Rana tersenyum tipis seraya menyenggol seseorang di sampingnya. Terang saja Kezia mengenalinya.
“Kak tyo apa kabar?”
__ADS_1
“Hay key. Kabar baik..” Tyo terlihat canggung. Melihat Rana yang menggandeng Tyo, Kezia yakin inilah suami yang dibangga-banggakan Rana beberapa hari lalu.
Kezia menatap Rana seraya tersenyum. Kezia tahu benar, sejak dulu Rana sangat menyukai Tyo. Betapa menyenangkan bisa bersama orang yang kita sayangi.
****
Hingar bingar reuni terus berlanjut. Setelah acara formal berupa Donasi dan menyapa para guru, masing-masing kembali dengan kesibukannya saling menyapa. Kezia keluar dari aula dan berjalan menuju lapang basket. Pijaran lampu kerlap kerlip menghangatkan suasana malam yang dingin.
Kezia duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir lapang basket. Ia memeluk tubuhnya sendiri saat hembusan angin malam membelai lembut wajahnya dan memberikan hawa dingin. Kezia tersenyum, melihat malam yang begitu terasa hangat dengan tawa dari para sahabatnya.
“11 tahun 2 bulan 4 hari lalu kita berada di sini..” tutur Arland yang berjalan menghampiri Kezia.
Kezia hanya terdiam tanpa menoleh. Kini Arland duduk di sampingnya. Ia membuka jasnya lalu menyampirkannya di bahu Kezia.
“Yang lalu, hanya cukup untuk di kenang, bukan untuk di ulang.” Sahut Kezia seraya tersenyum menatap kilauan lampu yang saling berkedipan.
“Kita belum bicara apapun key…” lirih Arland sambil menatap Kezia yang ada di sampingnya.
“Bicara?” Kezia tersenyum. “Beberapa hari lalu kita udah banyak bicara…” lanjut Kezia.
“Maksud aku bukan tentang kerjaan…”
“O iyaa,, selamat untuk pertunangannya. Aku ikut bahagia.” Ujar Kezia seraya menatap hangat Arland. Arland mengernyitkan dahinya. “Difa gadis yang baik, jangan sakiti dia.” Imbuh Kezia seraya berdiri.
“Tunggu key…” Arland menahan tangan Kezia namun kezia mengibaskannya.
“Land, kita udah pisah 11 tahun lalu, semuanya sudah selesai. Kita lanjutkan hidup kita masing-masing, hem...” Pinta Kezia seraya menyerahkan jas Arland dan meninggalkannya.
Namun ternyata Arland berlari mengejar Kezia. Ia memeluk Kezia dari belakang dan mendekapnya dengan sangat erat.
“Maafin aku mhiu, tolong kasih aku kesempatan…” bisik Arland yang begitu hangat di telinga Kezia.
“Land, kita gag bisa kayak gini terus. Kita harus hidup dengan jalan masing-masing dan jangan saling menyakiti lagi.” tukas Kezia seraya melepaskan diri dari pelukan Arland.
“Siapa yang tersakiti? Aku tau, aku masih ada di hati kamu. Kita seperti ini bukan menyakiti orang lain, tapi menyakiti diri sendiri.” Tegas Arland
“Tapi land, kamu dan difa…”
“Cup!” tiba-tiba Arland mengecup bibir Kezia. Untuk beberapa saat Kezia hanya bisa terdiam. Arland menggigit lembut bibir Kezia dengan penuh perasaan, rasanya ia ingin menumpahkan semua kerinduannya saat ini. Namun, dengan segera Kezia mendorong tubuh Arland menjauh. Ia mengusap bibirnya dengan kasar dan berlalu pergi meninggalkan Arland.
Arland terdiam di tempatnya melihat Kezia yang semakin jauh pergi meninggalkannya. Selalu, Kezia pergi tanpa sepatah kata pun. Dalam hati Arland yakin, ia dan Kezia masih memiliki perasaan yang sama, perasaan yang tidak pernah berubah meski banyak waktu yang mereka lewati dengan jalan masing-masing.
Sementara itu, Kezia yang baru sampai di tempat parkir segera masuk ke mobil. Ia merutuki pertemuannya dengan Arland, ia menyesali kejadian beberapa saat lalu yang pasti tidak akan mudah ia lupakan. Ia tidak mau benteng pertahananya hancur.
“Kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu selalu bertindak semaumu tanpa memikirkan masalah dibelakangnya. Kenapa kamu selalu ingin membuatku merasa lebih sakit? Kenapa kamu selalu membuatku tak bisa melupakanmu. Kenapa land, kenapa?” umpat Kezia dengan tangis yang pecah.
Tangannya mencengram stir kuat-kuat sementara wajahnya menelungkup di atas kedua tangannya. Hatinya kembali berdesir bahkan hanya karena mengingat suara dan hembusan nafas Arland. Rasanya pintu yang sudah ia tutup perlahan kembali terbuka dengan luka yang kembali terasa perih. Ia tidak mau tersakiti lagi terlebih ia tidak mau menyakiti siapapun.
****
Arland berlari mengejar Kezia namun tak menemukan jejaknya. Tempat parkir Kezia sudah kosong. Dalam pikirnya, Arland harus menjelaskan semuanya pada Kezia. Namun ia terlambat. Ia teringat kata-katanya sendiri saat akan berpisah dengan Kezia. Arland berfikir mungkin Kezia masih marah dengan semua ucapannya.
Dari kejauhan, tampak seorang wanita berjalan menghampiri Arland.
“Land…” suara Difa lah yang mengusik lamunannya.
“Ada apa kamu ke sini?’ tanya Arland tanpa menoleh Difa sedikitpun.
“Land, aku kurang enak badan. Kamu bisa nganter aku pulang gag?”
__ADS_1
“Kamu kenapa? Kalo sakit aku antar ke rumah sakit.” Arland masih dingin seperti biasanya bahkan saat Difa mengatakan ia sakit. Selalu seperti ini, Arland tidak pernah menaruh perhatian lebih padanya.
“Gag usah land, aku mau istirahat di rumah aja.” Difa mencoba menahan tangisnya yang menyesakkan.
Akhirnya Arland mengantarkan Difa pulang. Rumah Difa dan Arland yang dulu memang berdekatan. Mereka kuliah di kampus yang sama. Bedanya, Difa mengambil jurusan komunikasi public, sementara Arland mengambil manajemen bisnis.
Sepanjang perjalanan Difa dan Arland saling terpaku dengan pikirannya masing-masing. Arland mengenang perpisahannya dengan Kezia sementara Difa mengenang setiap hari-hari yang ia lewati bersama Arland.
11 tahun, nyatanya bukan waktu yang pendek. Namun 11 tahun itu pula, semua usaha Difa hancur begitu saja saat Kezia kembali pulang. Tidak, tepatnya selama 11 tahun itu Difa tidak pernah berhasil sedikitpun mengambil hati Arland. Arland peduli padanya, hanya saja peduli sebagai teman dan rekan kerja. Berbeda dengan Difa yang berada di samping dengan perhatian sepenuh hati. Berbagai cara ia lakukan untuk mendekati Arland, tapi gunung es itu bahkan tidak pernah sekalipun mencair.
Pada titik ini ia sadar, yang selalu ada di samping seseorang terkadang tidak mampu mengubah hati seseorang. Arland tidak pernah sekalipun membuka hatinya untuk Difa. Ada jarak yang terlampau jauh yang ia bangun untuk wanita lain. Ia selalu menjadi Arland yang tidak membutuhkan siapapun selain pikirannya dan perasaannya sendiri tentang Kezia. Bodoh, ya sangat bodoh. Entah cara seperti apa yang bisa dilakukan untuk membuang semua perasaan Arland dan membuatnya berbalik menatap Difa.
Sayangnya, hati Difa tidak selunak itu. Ia tidak mau kehilangan Arland yang bertahun-tahun ia temani. Sekali ini saja ia ingin memaksakan keinginannya pada Arland terlepas cara yang dilakukannya mungkin bodoh dan menjijikan.
Mobil Arland berhenti di depan rumah Difa yang sepi.
“Orang tuamu kemana?” Suara Arland membuyarkan lamunan Difa.
“Mereka pulang kampung. Kamu masuk dulu land..”
“Gag usah fa, aku langsung pulang aja.” tolak Arland.
“Aduh…” tiba-tiba Difa memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Kamu kenapa?" Aland segera mengecek kondisi Difa yang tidak biasanya.
"Kepalaku sakit banget." keluh Difa seraya memegangi kepalanya.
"Ya udah, ayo aku anter kamu masuk.” Akhirnya Arland mengalah. Ia memapah Difa hingga ke kamarnya, lalu membaringkan Difa. “Kamu di sini sebentar, aku ngambil hp ku yang ketinggalan di mobil.” lanjut Arland. Difa menganggukinya.
Arland segera menuju mobilnya dan mengambil benda persegi yang tergeletak di jok kemudinya. Setelahnya Arland kembali ke rumah Difa.
“Kamu dari mana?” ujar Arland saat melihat Difa berjalan dengan terhuyung.
“Ini aku bikinin teh hangat.” Difa membawa secangkir teh di tangannya.
“Kamu kan lagi sakit, kenapa gag baringan aja.” Arland meraih air teh yang di bawa Difa.
“Aku baik-baik aja land, cuma kecapean aja kayaknya.” terang Difa seraya mendudukan tubuhnya di kursi. “Land, ada yang mau aku omongin sama kamu.” lanjut Difa seraya menatap Arland dengan hangat. Arland menatapnya sejenak tapi bukan tatapan seperti ini yang Difa harapkan. Ia menginginkan tatapan yang sama yang Arland tujukan pada Kezia.
“Ada apa?”
“Land, kamu tau, sejak dulu aku sayang sama kamu. Apa aku masih punya kesempatan?” dengan segenap keberanian pertanyaan itu meluncur dari mulut Difa. Tangannya mengepal kuat karena gugup. Ia tidak tahu seperti apa pandangan Arland tentangnya terlebih setelah ia menyatakan perasaannya.
Arland meneguk teh hangat yang ada di hadapannya sebelum menjawab pertanyaan Difa.
“Fa, aku udah pernah bilang, kita hanya bisa jadi temen. Gag bisa lebih.”
“Kenapa? Apa karena kezia udah kembali?” sentak Difa. Arland hanya terdiam. “Land, dia ninggalin kamu buat laki-laki lain. Setelah laki-laki itu pergi, dia kembali dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kenapa kamu mau-maunya di manfaatin sama dia? Kenapa? Aku tulus sayang sama kamu sejak dulu. Kamu minta bantuan aku buat deketin kezia, aku bantuin. Tapi saat kezia pergi ninggalin kamu, kamu malah gag pernah ngelirik aku sedikitpun. Kenapa land, kenapa? Kenapa hanya Kezia yang ada di hati kamu?!” teriak Difa yang mulai tidal bisa menguasai dirinya.
Arland bukan tidak tahu perasaan Difa terhadapnya, ia bisa merasakan perhatian Difa yang terkadang memang bukan sekedar perhatian seorang teman atau rekan kerja. Tapi perasaannya untuk Kezia terlampau kuat, bukan karena Kezia telah kembali tapi karena baginya Kezia tidak pernah pergi.
“Difa, aku minta maaf, aku cuma cinta sama Kezia dan aku…” tiba-tiba kepala Arland terasa begitu pusing. Ia menatap Difa yang ada di hadapannya dan perlahan bayangannya mulai kabur. Ia terhuyung dan akhirnya tak sadarkan diri di atas sofa.
“Maafin aku land, maafin aku. Aku terpaksa harus ngelakuin ini sama kamu. Aku gag mau kamu ninggalin aku…” lirih Difa seraya terisak. Ia sadar, ini cara paling licik dan menjijikan untuk mempertahankan Arland di sisinya
****
Difa, lo mau ngapain? Keluar jalur lo woy! Padahal udah mau gue tamatin ini, aduuuhh....
__ADS_1
Happy reading gais, by Difa