My First Love Story

My First Love Story
Episode 79


__ADS_3

Malam itu, Kezia memilih untuk tidur di kamar lamanya. Semua barang telah di pindahkan dan kembali ke tempatnya semula. Kezia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah lebih dari satu bulan ia tinggalkan. Dia memeluk guling dan bantalnya bergantian, ia benar-benar merindukan suasana kamar ini.


Guling lepek adalah salah satu favoritnya. Biasanya dia baru akan tertidur lelap saat memeluk guling kesayangannya. Ia berguling-guling di kasur, persis anak kecil yang sedang kangen-kangenan dengan barang-barang kesayangannya. Di atas meja riasnya ada air hangat  dalam sebuah tempat dan handuk kecil yang sudah dia siapkan untuk mengompres kakinya. Walaupun dia sudah bisa berjalan, tapi kakinya masih terasa kaku, sehingga sebelum tidur ia akan mengompres kakinya dengan air hangat untuk melancarkan peredaran darahnya.


Kezia tengah melakukan rutinitasnya saat tiba-tiba handphonenya berdering dengan notifikasi sebuah panggilan video masuk.


“Hay mhiu, kamu lagi apa?” sapa Arland dari sebrang sana.


“Hay… aku lagi kompres kaki,kamu belum tidur?”


“Belum, baru selesai nyiapin berkas buat daftar ke universitas.” Sahut Arland sambil melepas kacamatanya. “Gimana kakinya, apa ada keluhan?”


“Aku baik-baik aja. Rasa kesemutannya udah gag sering lagi, hanya sesekali saja kalo kakinya tertekan terlalu lama… Kamu semangat sekali nyiapin buat kuliah. Emang jadinya mau ngambil jurusan apa?”


“Heemm.. iya dong harus semangat. Aku mau ngambil jurusan manajemen bisnis.”


“Kamu jadi kuliah bareng ricko?”


“Sepertinya nggak. Aku milih kuliah dengan beasiswa di universitas swasta di dalam negri.”


“Wah ada calon pebisnis muda nih…” goda Kezia.


“Iya dong, aku mau ngebangun dari awal lagi bisnis papah yang sekarang gag bersisa apa-apa.” Ada raut sedih di wajah Arland saat mengingat bahwa dia sudah tidak punya apa-apa.


“Semangat phiu, aku yakin, kamu akan jadi orang sukses…” sahut Kezia seraya tersenyum dengan mata bulat yang menatap hangat Arland. Arland tersenyum tipis, walau sederhana, nyatanya semangat yang diberikan Kezia menjadi moodboster bagi Arland.


“Kalau ternyata suatu hari aku gag jadi orang sukses seperti yang kamu harapkan, apa kamu bakal ninggalin aku?” Arland bertanya dengan tatapan tajam.


“Jangan pesimis gitu dong, ayo semangatlah…”


“Key aku bertanya dengan serius, apa suatu hari kamu bakal ninggalin aku?”


“Land, kalo pun suatu hari kita berpisah, alasannya bukan karena kamu sukses atau gagal. Karena status laki-laki sukses atau gagal buka patokan untuk aku bertahan atau pergi, tapi saat kamu berusaha keras, aku pasti akan mendukung kamu tidak peduli hasilnya seperti apa.” jawab Kezia. Entah dari mana kalimat itu berasal yang jelas Kezia hanya ingin mengatakan sejujurnya perasaan dan pemikirannya.


“Kalo bukan karena aku gagal atau sukses, apakah karena laki-laki lain yang lebih dari aku?” Arland mulai mengerucutkan tujuan pertanyaannya.


“Hey, kamu berfikir terlalu jahat. Apa kamu berfikir aku wanita yang sangat matre dan hanya memikirkan uang?” Kezia mulai kesal dengan pertanyaan Arland yang menurutnya terlalu mengada-ada.


Namun, tak begitu dengan fikiran Arland. Selain masalah kesuksesan, yang membuat Arland ragu akan perasaan Kezia adalah, sikapnya yang terlalu terbuka pada Angga. Saingan terberat Arland yang bukan hanya kaya, tapi juga bisa memberikan apapun pada Kezia.


“Aku hanya akan bersama orang yang bisa membuatku nyaman dan tenang, jadi berhenti bertanya yang tidak-tidak itu membuatku merasa tidak nyaman.” Tegas Kezia.


“Aku hanya gag mau kehilangan kamu key…” lirih Arland.


“Ayolaahh, jangan seperti itu…” pinta Kezia sambil tersenyum. Arland membalas pandangan Kezia. Selalu ada kecemasan dalam dirinya. “Kamu berarti buat aku land, jadi jangan terlalu banyak berfikir yang tidak-tidak, kita sama-sama meraih masa depan kita seperti janji kita, hem?" Kezia mengacungkan jari kelingkingnya pada Arland dan Arland tersenyum kecil melihat tingkat manis Kezia. Ia mengusap wajah Kezia yang selalu ia rindukan bahkan saat mereka sedang bersama.


“Key, apa besok kamu ada waktu? Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat..”


“Kamu mau ngajak aku kemana?”


“Kejutan dong… Tapi kamu bisa kan?”


Kezia mengangguk dengan yakin.


“Ya udah, besok jam sepuluh aku jemput ya, sekarang istirahatlah…”


“Okeeyy, sampe ketemu besok. Good night phiu…”


“Nite…”


Kezia mengakhiri panggilannya. Ia tersenyum bahagia. Bayangan wajah Arland masih mengisi rongga kepalanya. Tanpa terasa air kompresan mulai dingin. Dengan malas ia beranjak ke kamar mandi untuk membuangnya, lalu segera kembali ke tempat tidurnya.


Dibukanya gallery handphonenya. Hanya ada 1 foto Arland, itupun saat pertandingan basket. Arland mengenakan kaos basketnya, dengan bola di tangan. Keringat membasahi wajah dan tubuhnya, membuatnya terlihat berkilauan. Kezia sangat menyukainya. Kezia mulai memejamkan matanya. Tanpa Kezia tahu, beberapa kali ada panggilan masuk dari angga, namun Kezia tak mengangkatnya karena handphone dalam mode silent. Ia tenggelam dalam kenangannya bersama Arland. Setiap kebersamaannya bersama Arland selalu terasa manis dan enggan tergantikan oleh apapun.


****


“Pagi mah…” sapa Kezia yang baru turun dari kamarnya.


“Pagi sayang… “ Eliana melihat Kezia dengan tampilan rapi dan terlihat lebih segar. “Kamu mau kemana? Bukannya ini hari libur?”


“Iya mah, zia ada janji sama Arland.” Jawab kezia sambil tersipu.

__ADS_1


“Hemmm,okey! Tapi sebelum pergi, sarapan dulu yaa…” Eliana menyodorkan sepiring nasi goreng favorit Kezia dengan susu coklat di sampingnya.


“Makasih mah… O iya, papah kemana mah?”


“Papah tiba-tiba di telpon sama orang kantor, katanya ada urusan penting.” Terang Eliana.


Kezia hanya mengangguk paham. Dengan segera ia melahap nasi goreng yang ada di hadapannya. Dan tak lama, seseorang mengetuk pintu rumah. Cepat-cepat Kezia menghabiskan sisa nasi goreng dan meminum susu di hadapannya.


“Sayang, buru-buru banget… nanti keselek lagi…”


“Nggak mah, gag apa-apa kok. Kasian itu Arland nanti nunggunya kelamaan.”


“Kenapa gag di suruh masuk dulu?”


“Sag usah takut malah ngobrol lama, nanti pulangnya kesorean!” sahut kezia sambil mencium pipi mamahnya.


Kezia segera membuka pintu untuk Arland yang yang sejak tadi menunggunya. Benar saja, saat Kezia membuka pintu, Arland sedang duduk di teras rumah sambil memainkan handphonenya.


“Yuk!” ajak Kezia.


“Aku belum izin om atau tante key…”


“Udah aku pamitin kok…” sahut Kezia.


“Oh okeyy!”


Arland mulai menarik gas motornya dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Sekitar satu jam perjalanan, Mereka sudah sampai di sebuah kawasan apartemen yang tidak terlalu jauh dari kampus swasta terkenal. Arland memarkir motornya dan mengajak Kezia masuk ke gedung apartemen tersebut. Setelah berada di dalam lift, Arland menekan tombol 16 dan lift pun mulai berjalan.


Di lantai 16 ini, hanya ada 4 kamar apartemen. Berbeda dengan lantai lainnya yang bisa memuat 8-10 unit apartemen. Arland menekan kode akses masuk unitnya dan terbukalah pintu kamar apartemen tersebut.


“Ini apartemen siapa land?” pandangan Kezia mengeliling melihat setiap penjuru apartemen yang cukup besar dan sangat rapi.


“Sudah beberapa hari ini, aku tinggal di sini. Ayo duduk.” sahut Arland sambil mempersilakan Kezia duduk di sofa ruang tamunya.


Arland berjalan menuju dapur kecil dan membuka lemari es yang sudah terisi penuh. Diambilnya dua botol minuman isotonic dan menyimpannya di hadapan Kezia.


“Terus rumah kamu?” Kezia yang masih penasaran, memperhatikan setiap detail apartemen Arland.


Sejenak Kezia menatap Arland yang sudah terduduk di sofa. Kezia berjalan menghampiri Arland yang duduk termenung sendirian. Sedikit banyak, Kezia mengerti perasaan Arland. Rumah yang dijual Arland adalah rumah peninggalan orang tuanya, tempat dia di besarkan. Pasti banyak kenangan di sana. Dengan Arland menjual rumah itu, pasti ada alasan tersendiri yang mungkin tidak perlu Arland jelaskan.


“Mudah-mudahan, suatu hari aku bisa membelinya kembali.” Imbuh Arland.


Kezia terangguk, ia memandangi Arland yang tersenyum padanya. Senyuman yang sebenarnya tidak perlu Arland perlihatkan, karena raut kesedihan terlihat lebih kuat di wajahnya. Kezia ikut tersenyum, berusaha menyemangati Arland.


Kezia kembali memedarkan pandangannya. Ada sebuah foto Arland kecil dengan kedua orangtuanya terpajang di salah satu sudut. Mereka berfoto di depan sebuah bangunan yang terlihat seperti vila.


“Itu dimana Land?” Kezia menunjuk ke arah foto.


“Itu vila yang papih bangun buat aku. Di belakangnya ada danau kecil. Suatu hari aku akan mengajak kamu ke sana.” ungkap Arland.


“Iya, janji lain kali ajak aku ke sana yaa…”


“Hem…”


Kezia berdiri di depan jendela besar. Dari sana terlihat kampus universitas swasta pilihan Arland.


“Wah , boleh juga nih, kamu simpan satu kursi disini…” cetus Kezia


“Buat apa?”


“Ya buat nongkrong, kalau kamu bosan , kamu bisa liatin mahasiswi-mahasiswi cantik dari sini…” sahut Kezia sambil menatap Arland yang udah ada di sampingnya.


“Dasar, mana ada wanita yang lebih cantik dari kamu.” tukas Arland seraya mengacak rambut Kezia.


“Gombal!” timpal Kezia


Tersungging senyum di bibir Arland mendengar ucapan Kezia.


“Point nya bukan di situ, ayo sini ikut aku..” Arland menarik tangan Kezia dan menuju sebuah kamar yang kemungkinan kamar Arland. “Coba liat, dari sini apa yang kamu liat?”


Arland mengajak Kezia melihat dari jendela kamarnya. Sebuah pemandangan yang indah. Di kejauhan sebuah taman terlihat begitu mungil dan cantik.

__ADS_1


“Bukannya itu taman…” Kezia menatap Arland dengan ragu-ragu.


“Ya, itu taman favorit kita.” Sambung Arland.


Wajah Kezia merona seketika. Segera Kezia memalingkan wajahnya dari Arland. Memory di kepalanya memutar ingatan saat tiba-tiba Arland menciumnya. Kezia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha tersadar dari lamunannya.


Arland tersenyum melihat tingkah Kezia. Mata Kezia kembali berkeliling dan terhenti saat ia melihat fotonya yang tempo hari terlihat jelas di kamar Arland sebelumnya.


“Foto itu juga kamu bawa?” Kezia malu sendiri melihat ekpresi wajah polosnya dan tercetak dengan ukuran besar.


“Ya, dia yang akan menemani aku…” sahut Arland.


“Apa kamu gag bisa pajang foto lain yang lebih bagus?” protes Kezia.


“Ada, tuh!” Arland menunjuk langit-langit kamarnya.


Kezia menengadahkan wajahnya, tampak lah wajah Kezia di langit-langit kamar Arland yang terbentuk dari kolase ratusan foto Kezia.


“Kamu…” Kezia terperangah melihat wajahnya dengan kolase banyak fotonya.


“Aku cuma bisa tidur setelah melihat foto itu,,,” sahut Arland.


Wajah Kezia kembali merona. Bahkan kali ini terasa hangat karena malu. Kezia memegangi wajahnya sendiri. Arland memandanginya dengan gemas.


****


Sore itu, Kezia menerima telpon dari martin yang memintanya untuk segera pulang. Kezia agak bingung, tidak biasanya Martin menelponnya dengan terburu-buru. Tak lama berselang, Kezia segera pulang dengan di antar Arland.


“Sore pah…” sapa Kezia yang melihat Martin sudah menunggunya di ruang keluarga.


“Sini sayang, duduk sama mamah.” Sahut Eliana sambil menepuk sofa di sampingnya. Martin hanya menatap Kezia dan tidak berbicara apapun.


“Kamu pulang sama siapa?” tanya Martin dengan tatapan dingin.


“Sama arland pah. Tapi dia langsung pulang, ada urusan katanya.” Sahut Kezia sambil mendudukan tubuhnya di samping Eliana.


Kezia menatap Eliana, seolah bertanya ada apa dengan Martin. Namun Eliana hanya menggelengkan kepalanya.


“Kamu harus segera bersiap-siap, karena besok kamu akan berangkat ke Jerman!” tutur Martin tanpa kata pengantar apapun.


“Loh , ada apa pah. Kok tiba-tiba zia harus berangkat ke Jerman?” Tanya Kezia yang kebingungan.


“Kamu akan meneruskan sekolah disana. Papah sudah tanda tangan surat izin beasiswa sekolah kamu.” Sahut Martin sambil menyerahkan sebuah map biru bertuliskan nama Kezia.


“Pah, kok papah gag nanya zia dulu? Kenapa papah seenaknya ngambil keputusan sih?!” sahut Kezia yang segera berdiri karena merasa tak terima.


“Ini bukan penawaran, kamu hanya harus ikut , ini perintah!” sahut Martin tak kalah sengit.


Baru kali ini Martin sangat diktator. Selama ini, Martin dan Eliana selalu memberikan kebebasan pada Kezia dalam hal apapun termasuk pendidikan. Dan ini pertama kalinya, Martin memaksakan sesuatu pada Kezia.


“Tapi pah, zia gag mau kuliah di luar negri, zia mau kuliah di sini aja.” Protes Kezia.


Martin tak menggubris protes kezia.


“Papah gag mau denger protes kamu, kamu ikutin semua aturan papah tanpa kecuali.” Tegas Martin sambil berlalu meninggalkan Kezia dan Eliana.


“Tapi pah, pah!” Kezia berteriak memanggil Martin namun Martin masih tetap meneruskan langkahnya menuju kamar dan menutup pintu dengan kasar.


“Mah, ini kenapa sih papah? Tiba-tiba nyuruh zia sekolah ke jerman lah,gag boleh nolak lah. Kok seenaknya gini sih?” protes Kezia dengan wajah Kesal.


“Sayang, sini duduk dulu nak…” Eliana menarik perlahan tangan Kezia dan mendudukannya. “Dengar, apapun yang papah lakukan, pasti untuk kebaikan kamu sayang… Mamah sendiri, gag mau jauh-jauh dari kamu. Tapi, ini demi masa depan kamu…” lirih Eliana sambil mengusap kepala Kezia.


“Tapi ini gag masuk akal mah, mamah sama papah tiba-tiba pengen zia pergi alesannya buat masa depan zia. Emang sekolah di sini zia gag akan punya masa depan apa?” lagi-lagi Kezia memprotes.


Eliana terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan Kezia. Melihat kebisuan Eliana, Kezia tambah kesal.


“Zia ke kamar dulu, capek!” seru Kezia sambil berlalu.


Eliana menggeleng-gelengkan kepalanya. Untuk pertama kalinya di rumah ini ada perang antara Kezia dan Martin. Sementara Eliana tidak bisa melakukan apapun, selain menangis.


****

__ADS_1


__ADS_2