
Ricko menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah rumah mewah. Rumah milik keluarga Arland. Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Arland. Arland hanya menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya rapat-rapat.
“Bro, kayaknya lo harus berusaha lebih keras lagi…” tutur Ricko sambil menatap Arland.
“Apa gue masih ada kesempatan?” dengus Arland seraya membuka matanya yang tadi terpejam.
“Dia gag pernah nolak Lo. Jadi lo sebenarnya udah ada jalan.” Ricko mencoba meyakinkan.
“Tapi Dia juga gag pernah menolak Tyo.” dengus Arland dengan kesal.
“Ya tidak dengan mulutnya tapi sikapnya terlihat jelas bro! Lo harus lebih peka, dan terus yakinin dia.” Ricko menepuk bahu Arland yang terlihat mulai mengkerut.
“Terus laki-laki itu?”
“Dia ada di dekat Lo, kesempatan lo lebih banyak. Jangan nyerah dong bro!” seru Ricko dengan penuh semangat. “Kedepannya, Lo bakal lebih banyak saingan. Lo gag liat anak-anak cowok di kelas tiap hari stalking medsos Dia dan tiba-tiba followernya makin banyak padahal foto yang di posting cuma 6?” terang Ricko sambil tergelak geli saat mengingat kelakuan teman-teman lelakinya di sekolah.
“Asal saingan gue bukan sahabat gue sendiri, gue bisa hadepin…” jawab Arland sambil tersenyum kecut.
“Gue pendukung Lo, bukan musuh Lo.” Sahut Ricko. “Tapi Kezia tuh emang gag cuma cantik yaa… dia tuh punya semacam sihir yang bisa bikin cowok mana aja takluk sama dia.” Puji Ricko sambil membayangkan wajah Kezia.
“Berenti lo mikirin Dia, ato gue habisin Lo!” seru Arland yang mulai kesal.
Ricko tergelak melihat reaksi Arland.
“Gue cuma punya tempat buat Sherly di sini… lo gag usah khawatir!” terang Ricko sambil menunjuk-nunjuk dada kirinya.
“Lebay lo! Gue turun!” seru Arland sambil membuka pintu mobil dan turun dengan segera. Ricko melambaikan tangannya dan meninggalkan Arland yang masih mematung di pinggir jalan.
Arland mengeluarkan handphonenya dari saku celana. Di tatapnya wajah kezia yang menjadi wallpapernya. Jemarinya mulai menari.
“Sory tadi gag pamit. See u d sekolah..” _Arland
“Gpp… See u soon… good night!”_Kezia.
Arland melonjak kegirangan saat ternyata Kezia membalas pesannya. Wajahnya kembali bersinar secerah mentari di pagi hari. Dari bibirnya terdengar suitan berirama lagu cinta. Sesekali ia melonjak kegirangan membayangkan akan bertemu dengan kezia esok hari.
****
Pagi itu suasana sekolah sangat riuh. Setibanya kezia di sekolah, beberapa anak laki-laki menghampirinya dan
memberinya berbagai macam hadiah. Ada yang memberi coklat, bunga, boneka bahkan beberapa tawaran jalan bersama. Kezia sudah kerepotan membawa hadiah-hadiah yang diberikan padanya. Dena yang melihat sahabatnya begitu kerepotan, segera berlari menghampiri kezia dan membantu membawa beberapa hadiah.
“Gilaaa… nih hadiah-hadiah bisa bikin lo buka toko boneka dalam sehari..” cetus Dena yang mulai oleng karena kerepotan membawa bebannya yang terlalu banyak.
“Tau nih, emang anak cowok di sekolah kita sebanyak ini ya?” keluh Kezia
“Lo gag tau, dari statistic siswa di sekolah, cowok disini ada sekitar 68% dari total siswa.” Sahut Dena
“Gilaaa… Lo petugas sensus sekolah ya?” kezia tergelak mendengar jawaban Dena.
“Sialan Lo!” cetus Dena dengan kesal. “Makanya kalo jalan, lirik kiri kanan, jangan lurus-lurus aja. Lo gag tau kan kalo di sekolah kita banyak cowok ganteng dan tajir?!” imbuh Dena. Kezia hanya tertawa mendengar ujaran dena. “Jangan bilang kalo lo Cuma liat 3 cowok di sekolah ini…” selidik dena
“3 cowok, maksud lo?”
“Iya 3 cowok, Arland, Arland dan Arland! Hahahahha” seru dena sambil tergelak dengan
__ADS_1
nikmatnya.
“Dasar Lo!” cetus Kezia sambil sambil menyiku Dena, membuatnya oleng seketika. Untungnya keseimbangannya cukup bagus sehingga tidak membuatnya terjatuh.
“Dia nyusulin Lo kan? Ngapain aja dia di sana?” Tanya Dena setengah berbisik. Sejenak Kezia kembali teringat kejadian di taman depan hotel. Wajahnya bersemu merah. “Jangan-jangan…” lanjut Dena sambil tersenyum nakal.
“Mikir lo kejauhan!” cetus Kezia sambil menyenggol tangan Dena.
“Hahahahha emang lo tau gue mikir apa key? hahaha” dena kembali tertawa riang melihat ekspresi wajah kezia yang tersipu malu. Wajahnya memerah dan tidak berani berkata apa-apa.
*****
“Ya ampun, ini apaan????” keluh Kezia saat melihat tumpukan kado diatas mejanya. “Apa beneran populasi cowok di sekolah ini Cuma 68%?” lanjut Kezia berbicara dengan dirinya sendiri.
“Hay key…. Selamat yaa…” sambut Difa sambil memeluk Kezia.
“Makasih fa….” Sahut Kezia yang masih kebingungan melihat tempat duduknya.
“Sory key, ini sebagian udah aku pindahin ke bangku kosong di belakang, tapi dateng lagi-dateng lagi…” terang Difa sambil menunjuk bangku di belakang. Terlihat tumpukan kado dan bunga yang menghampar di atas meja belakang.
“Duh, maaf ya Fa, jadi ngerepotin gini…”
“Gag apa-apa, santai aja… o iya, apa kamu beneran ketemu sama Ryanggara?” Tanya Difa. Kezia mengangguk. “Pantesan banyak banget yang ngepost foto kalian, katanya kalian pasangan serasi.” Lanjut Difa dengan antusias.
“Aduuhh kalian dapet gossip apalagi????” kilah Kezia yang mulai mendudukan tubuhnya di atas kursi. Difa tergelak melihat ekspresi kesal Kezia. “O iya, gimana ini kita belajar, kelas berantakan banget…” keluh kezia sambil menoleh ke sana kemari.
"Kita gag belajar hari ini key…”
“Lo kenapa? Guru-guru ada rapat?” Tanya Kezia yang kebingungan.
“Emang kapan karyawisatanya?”
“Berangkat besok key, selama 2 hari 2 malam.” Jawab Difa segera
“Hah, ngedadak gini…” kezia mengernyitkan dahinya.
“Gag ngedadak kali, lo liat aja di kalender pendidikan tahun ini….” Sahut Difa sambil tersenyum. Kezia hanya mengangguk mengiyakan.
****
“Hay Kezia… aku doni… ini hadiah buat kamu… boleh minta tanda tangannya di sini?” Tanya laki-laki tersebut sambil menunjukkan punggungnya yang tertutup seragam.
“Aku tanda tangan di sini?” Tanya kezia yang kebingungan. Ketiga sahabatnya hanya tertawa melihat kejadian berulang tersebut.
“Iya tanda tangan di baju aku…” jawab laki-laki tersebut sambil tersipu.
“Nanti kamu dimarahin guru loh, corat coret baju gini… aku tanda tangan di kertas aja…” jawab Kezia sambil mengambil kertas pesanan menu dan membuat coretan tanda tangan di sana. “Ini aja yaa…” lanjut Kezia sambil menyodorkan kertas.
“Makasih kezia…” seru laki-laki tersebut dengan suka cita. Kezia mengangguk mengiyakan.
“Hahahha… sahabat gue udah jadi artis…” seru Kania sambil tertawa terbahak-bahak yang diikuti oleh kedua sahabatnya.
Saat ini kezia dan ketiga sahabatnya sedang berada di kantin. Sedari tadi mereka berjalan menuju kantin entah berapa orang yang meminta tanda tangan kezia bahkan foto bersama.
“Gue gag suka kayak gini… privasi gue terganggu…” keluh Kezia sambil menelungkupkan kepalanya di atas meja kantin.
__ADS_1
“Sabar Key… mungkin lo butuh manager , bisa gue bantu…” cetus Dena yang kembali tergelak.
"Mana ada! "sengit Kezia yang masih membenamkan wajahnya di atas meja.
“Hay gadis! Ikut aku sebentar yuk…” Ajak Ricko pada sherly yang duduk di hadapan Kezia.
“Ayooo…” seru Sherly dengan senang hati.
Kezia mendongakkan kepalanya. Terlihat ekspresi menggemaskan dari wajah Kezia yang kelelahan. Dihadapannya berdiri Arland dan Ricko yang hendak berlalu pergi membawa Sherly.
“Na, anter gue ke toilet dulu…” ajak Kania sambil menarik tangan Dena.
“Ayooo…” sambut Dena sambil berdiri.
“Hey, kalian mau kemana, kok gue di tinggal.” Ucap Kezia setengah berteriak.
Namun mereka tidak menjawab dan hanya melambaikan tangan.
“Aku temenin ya…” tawar Arland yang duduk di samping Kezia. kezia mengangguk mengiyakan. “Apa begitu banyak yang mengganggu kamu hari ini?” Tanya Arland sambil memandang kedua mata Kezia dengan hangat.
Kezia kembali mengangguk lalu memalingkan wajahnya sejenak. Diseruputnya jus jeruk yang ada dihadapannya.
Dadanya kembali mulai berdebar lebih kencang dari biasanya.
“Kenapa selalu begini sih kalo ada Arland di deket aku. Lama-lama bisa kena penyakit jantung beneran nih!” lirih Kezia dalam hati.
“Apa kita bisa bicara sekarang?” Tanya Arland sambil menoleh ke arah Kezia. kezia hanya mengangguk tanpa melepaskan sedotan dari bibirnya. “Aku boleh minta jus jeruknya?” lanjut Arland.
Kezia tercengang mendengar ucapan Arland.
“Kamu pesen aja, gag lama kok mereka bikinnya…” jawab Kezia seraya menunjuk ke penjualnya.
Namun tanpa aba-aba Arland mengambil jus jeruk Kezia dan menyeruputnya hingga habis. Matanya menatap Kezia dengan lengkungan senyum di bibirnya.
“Manis.. dan segar” tutur Arland sambil menyentuh bibirnya sendiri. Kezia memalingkan wajahnya tak ingin memperlihatkan wajahnya yang merona. “Key…” panggil Arland meminta perhatian Kezia.
“Hemmm…” jawab kezia yang mulai menatapnya.
" Kamu dan laki-laki itu…” Arland menggantung kalimatnya. Kezia mulai mengerti maksud Arland dengan kata “Bicara”
“Kak angga?” Tanya Kezia. Arland mengangguk perlahan. “Aku kenal dia udah cukup lama. Tapi aku gag tau dia itu Ryanggara P Wibawa. Aku baru tau pas ketemu di acara olimpiade kemaren. Aku sudah mengangap dia kakakku sendiri. Dan kami…”
“Apa kamu menyukainya?” Arland memotong kalimat Kezia. Kezia tercengang dengan pertanyaan Arland. Apa yang ada dipikirannya, itu yang belum bisa Kezia tebak.
“Ya aku menyukainya, dia laki-laki yang baik, pintar, ramah…” terang kezia sambil memalingkan wajahnya dari Arland.
“Apa dia ada di hati kamu…” Arland mulai mempersempit ruang gerak kezia. Ia terlihat tidak suka dengan cara kezia menggambarkan angga. Tatapannya tajam seolah mengintimidasi Kezia.
“Aku menyayanginya… seperti kakakku. Dan akan tetap seperti itu.” Terang kezia dengan yakin. Arland menghembuskan nafasnya dengan lega. Walau perasaanny masih terganjal dengan kata sayang yang ditujukan Kezia pada Angga.
“Biarkan aku mengejarmu, dan jangan pernah berpaling.” Bisik Arland di telinga kanan Kezia.
Kezia hanya mematung, menahan guncangan yang terasa begitu kencang di rongga dadanya. Wajahnya terasa panas. Terasa ada kupu-kupu yang menari di atas perutnya dan sayapnya mengusap lembut perut Kezia. Begitupun dengan Arland. Dadanya berdegub kencang, dan desiran keringat turun beriringan di punggungnya.
“Apa gag akan ada yang menjadi korban gara-gara ini Land?” batin Kezia.
__ADS_1
****