
Arland menghentikan laju kendaraannya di halaman sebuah bangunan mungil yang sebagian besar terbuat dari kayu. Perjalanan selama hampir 2 jam tak di rasa lama oleh keduanya. Begitulah cinta, saat sedang bersama-sama waktu terasa merambat cepat. Tapi saat terpisah, detikan jam begitu lama bergulir.
Kezia turun dari mobil dengan Arland yang menggenggam tangannya. Udara terasa begitu sejuk. Iya bisa menghirup udara segar sebanyak yang ia mau. Banyaknya pohon rindang dan bunga-bunga yang menghias halaman bangunan tersebut membuat mata siapa pun yang melihatnya merasa sejuk.
“Ini rumah siapa land, kayaknya aku kenal deh,” selidik Kezia saat Arland mengajaknya untuk masuk.
“Iya , kamu pasti pernah melihatnya. Ini adalah vila yang ada di salah satu foto di apartemen aku.” terang Arland.
“Oh iya, aku inget…” seru kezia. “Wah aslinya lebih indah yaa…” Kezia terkagum-kagum melihat pemandangan di setiap sudutnya.
“Syukurlah kalo kamu suka.” ujar Arland seraya mengecup tangan Kezia.
“Selamat siang den, udah dateng?” sapa seorang laki-laki paruh baya.
“ Oh selamat siang pak umar. Pak umar gimana sehat?” Arland menyahuti.
“Alhamdulillah sehat den. Wah ini calon istrinya den Arland, cantik sekali..” ujar Umar seraya mengangguk sopan pada Kezia.
“Iya pak, ini calon istri saya.” Arland memperkenalkannya dengan bangga.
“Selamat siang pak, saya Kezia…” Kezia mengulurkan tangannya dan Umar dengan sigap menyambutnya.
“Oo iya non.. Ini den, vilanya udah saya rapihin, makanan juga udah saya siapin di dapur. Kalo aden perlu apa-apa, aden tinggal telpon aja, rumah saya gag jauh dari sini.” terang Umar dengan detail.
“Iya pak, terima kasih banyak.”
“Iya den, mari saya permisi, non…” pamit Umar yang di balas anggukan oleh Arland.
“Yuk!” seru Arland sambil merangkul pingggang ramping Kezia. Kezia mengikuti seirama langkah kaki Arland.
Arland mendorong perlahan pintu Vila. Suasana rapi dan apik terlihat jelas di sana. Satu set sofa yang terbuat dari ukiran kayu menyambut mereka di ruang tamu. Jendela-jendela dengan ukuran besar membuat Kezia bisa melihat pemandangan sekitarnya. Kezia berlarian melihat setiap sudut vila yang begitu unik. Dua kamar tidur ada di sana dengan sebuah ruang keluarga dan dapur yang di desain minimalis.
“Ya ampun, vilanya nyaman banget land…” seru Kezia sambil mendudukan tubuhnya di sofa lalu menengadahkan wajahnya menatap langit-langit yang terbuat dari kayu hitam. Sebuah lampu besar menggantung di sana.
“Kamu suka?” tutur Arland yang segera duduk di samping Kezia dan memeluknya lalu mencium leher Kezia.
“Land, nanti ada yang liat…” Kezia menggeliatkan tubuhnya, berusaha melepaskan pelukan Arland.
Jendela yang terbuka tanpa gorden membuatnya tak leluasa.
“Kacanya gelap sayang kalo di liat dari luar…” sahut Arland yang masih anteng mengecupi pipi dan leher Kezia membuatnya bergidik geli.
“Tapi aku masih pengen keliling di sini..” Kezia mendorong sedikit tubuh dan melepaskan pelukannya. Arland hanya terkekeh melihat reaksi Kezia.
“Kamu takut sama aku key?” bisik Arland yang menggenggam Kezia dalam pelukannya.
“Hah? Em, enggak ko…” sahut kezia dengan wajah memerah. “Duh aku gerah banget, mau cari angin…” lanjut Kezia sambil mengipasi wajahnya dengan tangan kananya.
Arland melepas pelukannya dan membiarkan kezia bernafas lega. Arland menahan tawanya melihat ekspresi menggemaskan Kezia.
__ADS_1
“Land, ini pintu kemana?” tunjuk Kezia pada pintu yang ada di belakangnya.
“Coba kamu buka..” Arland menghampiri Kezia dan berdiri di sampingnya.
Kezia memutar handle pintu dan mendorongnya perlahan. Matanya terbelalak saat melihat hamparan bunga di hadapannya. Ada jalan setapak dengan deretan bunga di sampingnya. Tak jauh dari sana, ada sebuah danau kecil dengan kemilau air saat terkena cahaya matahari. Kezia membekap mulutnya sendiri, tidak mampu berkata-kata.
“Kamu suka?” bisik Arland. Kezia mengangguk-angguk. “Ayo kita ke sana..” Arland menarik tangan Kezia dan mengajaknya ke tepian danau.
Kezia mengeratkan genggaman tangan Arland dan berjalan di belakangnya. Matanya masih mengeliling melihat indahnya bunga bermekaran di mana-mana.
Di tepian danau ada sebuah pohon yang cukup rindang memayungi sebuah meja dengan dua kursi di sana. Ditengahnya ada sebuah buket bunga segar dengan air yang masih membasahi kelopaknya. Kezia berjalan di depan Arland, mengambil buket bunga tersebut lalu menciumnya. Matanya terpejam merasakan wangi yang bercampur menusuk hidungnya.
“Land ini…” ujar Kezia seraya berbalik
Kalimatnya terhenti , saat ia melihat Arland tengah berlutut di hadapannya. Sebuah kotak berwarna silver dengan cincin yang berkilauan di tengahnya.
“Key, aku gag tau apa ini cukup romantis ato nggak. Yang jelas, aku berusaha agar kamu tidak pernah melupakan hari ini. Hari yang aku tunggu untuk menyampaikan semua perasaanku. Aku cinta sama kamu key. Sejak pertama kali aku menggenggam tangan kamu, jantungku selalu berdetak lebih kencang. Saat aku menatap matamu, waktu terasa berhenti berputar. Dan saat aku memelukmu, aku merasa bahwa bahagia itu sangat nyata. Hanya ada satu nama disini, nama yang terukir sejak lama yang tidak pernah hilang meski aku berusaha melupakan. Kezia Artiandinia Fashia, maukah kamu menjadi pelabuhan terakhirku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” tutur Arland dengan senyum merekah yang menghiasi wajah tampannya.
Kezia terpekik. Air matanya meleleh begitu saja.
“Land, aku…” Kezia mengusap air mata yang tak henti menetes. Rasanya ia kehabisan kata-kata. “ Ya, aku mau…” lanjut Kezia dengan yakin.
Arland segera bangkit dan memeluk Kezia dengan erat. Kezia membenamkan wajahnya di dada Arland. Arland mengusap punggung Kezia dengan lembut. Rasa haru dan bahagia mengisi hati keduanya. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan kebahagiaan mereka saat ini.
Arland mulai melepaskan pelukannya. Ia meraih tangan Kezia dan menyematkan cincin di jari manisnya. Kezia benar-benar terharu, Arland mengecup tangan Kezia dengan lembut seraya menatapnya lekat-lekat.
Kezia mulai membalas, mengikuti setiap irama kecupan yang Arland lakukan di atas bibirnya. Gigitan kecil berhasil membuat Kezia mendesah, membuat gairah keduanya semakin tersulut terlebih saat lidah keduanya bertemu saling memagut saling menghisap.
Senyum bahagia tergambar jelas di wajah keduanya.
Arland mengusap kepala Kezia dan menempelkan dahinya di dahi Kezia. Nafas keduanya masih memburu. Arland tersenyum melihat kezia yang masih memejamkan mata dengan nafas terengah-engah. Permainan panas yang mereka lakukan untuk pertama kalinya.
“Hari ini, Aku masih punya batas, tapi setelah hari itu tiba, batas itu akan hilang dan kita akan menjadi satu-satunya untuk satu sama lain.” lirih Arland, membuat Kezia menelan ludahnya kasar-kasar. Ucapan Arland begitu membekas di ingatannya.
****
“Land, kamu mau makan apa?” tanya Kezia seraya membuka-buka kulkas yang penuh dengan bahan makanan.
“Makan kamu!” bisik Arland
“Ish, dasar mesum!” cetus Kezia seraya mencubit perut Arland.
“Adududuh…” Arland pura-pura meringis.
“Apaan, orang gag kena cubit. Perut kamu gag ada dagingnya tau, susah banget di cubit.” keluh Kezia.
“Bukan gag ada dagingnya yang, ini otot semua, makanya kekar. Kamu mau liat?” goda Arland yang berusaha mengangkat baju yang dikenakannya.
“Iisshh gag usah!! Aku gag mau liat!!” cetus Kezia seraya menutup matanya.
__ADS_1
“Hahahha… Okey, tunggu halal dulu ya, semuanya bakal jadi milik kamu.” tandas Arland seraya mencolek dagu Kezia.
“Dasar mesum!” Kezia bergidik dan segera meninggalkan Arland. Arland hanya terkekeh gemas melihat tingkah Kezia.
Kezia memilih bahan masakannya. Beberapa sayuran dan ikan ia siapkan. Ia membersihkan semuanya dan memilahnya pada beberapa wadah. Arland memilih baringan di sofa. Ia mengambil handphone yang ada di sakunya. Serasa dejavu saat ia melihat Kezia berada di dapur dengan kemeja miliknya membuat Arland tersenyum sendiri.
Cukup lama Kezia mengolah makanan. Arland mulai sedikit bosan. Ia kembali menghampiri Kezia, melangkah kemanapun Kezia melangkah dan selalu tepat berada di belakangnya.
“Land, kamu iseng sih…”
“Cup!” Arland mendaratkan sebuah kecupan di bibir kekasihnya.
“Ayo sebut lagi nama aku, aku jadi makin semangat” ujar Arland.
“Land, jangan macem-macem deh…” Kezia melotot kesal.
“Kamu galak gitu tambah seksi sih” goda Arland sambil mencubit pipi Kezia.
Kezia menaruh spatula lalu memukul lengan Arland. Arland berlari menjauhi Kezia yang terus menghujaninya dengan pukulan. Kezia mengejarnya namun tanpa di sangka Arland menghentikan langkahnya dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Tubuh Kezia ikut jatuh bersamaan di atas Arland. Tatapan mereka saling bertemu. Arland mengeratkan pelukannya.
“Kamu agresif juga ya, aku suka” ujar Arland yang segera menggigit bibir tipis Kezia.
“Eemmhhhhmm..” Kezia berusaha melepaskan pagutan Arland.
Namun Arland malah menangkup wajah kezia dan meneruskan lumatannya hingga Kezia memukul-mukul dadanya karena terasa sesak. Arland melepaskannya, lalu memeluk Kezia denngan erat.
“Sebentar aja ya, jangan protes. Aku gag akan makan kamu sekarang.” bisik Arland.
Desahan nafas Arland membuat bulu kuduk Kezia berdiri. Ada sapuan sayap kupu-kupu yang menari di atas perutnya.
“Land, nanti masakannya gosong…” rengek Kezia dengan manja. Arland terkekeh.
“Okey, sekarang aku lepasin kamu. Lain kali nggak!” ancam Arland, Kezia segera bangkit dengan omelan di bibirnya yang tidak terdengar oleh Arland.
Arland menjadikan kedua lengan kekarnya sebagai bantalan. Matanya masih mengikuti gerak gerik Kezia dari kejauhan. Entah mengapa, Arland merasa kalau bibir Kezia terasa seperti candu baginya. Wangi tubuh Kezia selalu membuat dirinya bergairah dan rengekan manjanya, membuat semangat menggodanya begitu berkobar. Saat bersama Kezia terkadang ia tidak mengenali dirinya sendiri yang mulai usil dan gombal.
Ah gila, Kezia benar-benar merubah banyak hal dalam diri Arland. Dan yang paling jelas, Arland merasa sangat nyaman saat berada di samping Kezia.
****
Dapet gag sih fell bapernya? Hahahaha
Jangan lupa like komen dan vote yaa, makasih...
__ADS_1