My First Love Story

My First Love Story
Terbakar cemburu


__ADS_3

“ Selamat pagi nyonya putra…” sapa Difa pada Kezia yang baru datang. Difa tertawa ringan melihat Kezia yang celingukan kebingungan.


“ Kamu ngomong sama siapa fa?” Kezia duduk bersisihan dengan Difa


“ Ya sama kamu lah key…” jawab Difa sambil kembali terkekeh


“ Aku?” Kezia menunjuk batang hidungnya sendiri.


“ Yaa!! Bukannya tadi kalian datang ke sekolah sambil bergandengan tangan? Udah resmi dong jadi nyonya putra?” ledek Difa sambil menyenggol tangan Kezia. “ Selamat yaaa…”


“ Ya ampun fa, tadi tuh arland cuma becanda. Kita gag ada apa-apa….” Tutur Kezia yang  salah tingkah seraya menyelipkan rambutnya di sela telinga.


“ Kok hidung kamu tambah panjang? Bohong yaaaa….” goda Difa.


“ Iisshhh kamu kira aku pinokio!” cetus Kezia sambil memalingkan wajahnya dari Difa.


“ Sejak kapan key?” Tanya Difa sambil mengangkat-angkat alisnya.


“ Apanya yang sejak kapaaannn?” Kezia mencubit gemas pipi Difa.


“ Adduhhh sakit juga yaa cubitan kamu.” Cetus Difa sambil tertawa.


"Tau ah!"


“ Aku kira, si arland bakalan bertepuk sebelah tangan, tau-taunya gayung bersambut..” seru Difa dengan wajah sumeringah.


“ Ah sok tau kamu!” seru Kezia sambil menaruh tasnya di atas meja.


“ Kamu gag tau ya key, waktu kelas 1, tiap hari dia diem depan jendela kelas buat liatin kamu. Bahkan beberapa kali dia kena hukum guru gara-gara keasyikan ngeliatin kamu dari kaca. Untungnya tuh anak pinter, bisa aja kalo di suruh ngerjain soal ke depan ato tiba-tiba di tanya guru.” Kenang Difa dengan sesekali tertawa gemas mengingat tingkah Arland kala itu.


“ Sumpah, beneran gitu fa?” Tanya Kezia dengan wajah memerah. Difa terangguk dengan yakin.


Terkembang senyum di bibir Kezia. Ia mengusap-usap pipinya yang terasa menghangat. Dan Difa ikut tersenyum melihat tingkah Kezia.


"Ddrrtt… ddrrttt…” Handphone Kezia bergetar dengan nama Tyo yang muncul di layar perseginya.


"Ya kak…” jawab Kezia segera seraya menaruh jari telunjuk di bibirnya. Difa hanya etrangguk seraya menahan senyumnya.


"Key, bisa ke perpus? Hari ini mulai mau bahas soal buat olympiade. Aku di suruh pak amar ngebahas soal yg waktu itu.” Terang Tyo dengan serius.


"Emm okey kak. Aku ke situ sekarang.”


Kezia mengakhiri panggilannya. "Aku ke perpus dulu yaa…” tutur Kezia sambil mengambil beberapa buku.


"Okey, goodluck yaa…”

__ADS_1


"Thanks fa…” jawab Kezia sambil berlalu meninggalkan Difa.


****


Suasana Perpustakaan sedikit ramai dengan beberapa anak kelas 1 yang sedang belajar di sana. Mereka membuka-buka Atlas dan melihat ke bola Dunia. Beberapa di antaranya berdiskusi dan yang lainnya mencatat.


Kezia masuk ke perpustakaan dan tampak Tyo sedang berdiri di salah satu rak buku sambil membuka-buka buku halaman demi halaman. Kezia muncul di hadapan Tyo yang terlihat sedang serius membaca.


"Udah nunggu lama kak?” Tanya Kezia dengan mendekap beberapa buku di tangannya.


Tyo menurunkan buku yang ada di tangannya.


"Hay key, belum lama kok. O iya sini liat, ada rumus lain nih di sini…” terang Tyo sambil menunjukkan sebuah halaman buku pada Kezia.


Kezia berdiri di samping Tyo, lalu memperhatikan rumus tersebut. Tanpa mereka sadari wajah mereka tertutupi oleh


buku besar tersebut dan seseorang melihatnya dari luar. Ya, dialah Arland. Kezia dan Tyo asyik membahas soal tersebut dengan rumus yang ditemukan oleh Tyo.


"Sambil duduk yuk key!” ajak Tyo. Kezia pun mengikuti. Di taruhnya beberapa buku yang didekapnya sedari tadi. Tyo dan Kezia duduk berdampingan. Mereka mulai terlarut dalam pembahasan soal.


Sebuah deringan di ponsel Kezia menjeda perbincangan mereka. Ada sebuah pesan masuk dan pengirimnya adalah Dena.


"Ke kantin sekarang” _ Dena


"Gag ke sini lo bakal nyesel” _ Dena.


"Kenapa key?” Tyo memperhatikan Kezia yang sejak tadi kasak-kusuk dengan benda pipih di tangannya dan sesekali mengernyitkan dahinya.


"Emm ini kak, aku ke kantin dulu boleh?”


"Oohh ya udah, aku juga sekalian mau beli minum.”


"Emmm, okey. Yuk!” seru Kezia sambil melangkah keluar dari ruang perpustakaan dengan diikuti Tyo.


Mereka berjalan beriringan. Selama perjalanan Kezia dan Tyo tidak banyak bicara. Sesampainya Di kantin, terlihat


sahabatnya sedang berkumpul dengan anak club basket. Di salah satu sudut terlihat Arland sedang berdiri dan dengan ponsel di telinga kanannya.


Melihat Kezia yang datang bersama dengan Tyo, Arland tampak acuh. Ia memalingkan pandangannya dari Kezia dan kembali menyibukkan diri dengan telpon. Kezia hanya memandanginya dari kejauhan.


"Mau gabung sama temen-temenku kak?”


"Eemm gag usah deh. Aku disini aja.” Jawab Tyo dengan canggung.


"Okey, kakak mau minum apa, biar sekalian aku pesenin.”

__ADS_1


"Samain aja sama kamu.” Jawab Tyo.


Arland yang mendengar jawaban Tyo segera menoleh dan mengakhiri panggilannya. Ia menghampiri teman-temannya lalu duduk dengan wajah kesal. Di teguknya es jeruk yang ada di hadapannya hingga tandas.


Kezia memesankan minuman, kemudian mengambil pesanannya. Sementara minuman Tyo di antar oleh pelayan kantin. Saat kezia sedang berjalan tiba-tiba,


"BRUG!”


Irene dengan sengaja menabrak Kezia. Minumanpun tumpah ke baju seragam Kezia.


"Uppss! Sorry, gag sengaja.” ujar Irene yang segera mengambil lap meja yang ada di sebelahnya dan mengusapkannya pada baju Kezia.


"Gag usah kak, aku bisa sendiri.” Kezia berusaha menghindar tapi bajunya sudah kotor terkena kotoran dari lap yang digunakan oleh Irene.


Melihat kejadian tersebut, sahabat-sahabat Kezia segera mendekat termasuk Arland.


"Heh, Lo sengaja ya?” Tanya sherly seraya mendorong tubuh Irene.


"Iyaa! Gue emang sengaja, kenapa, lo gag suka?!” seru Irene sambil balik mendorong tubuh Sherly. Kezia segera memegangi tangan Sherly yang hendak memukul Irene.


"Udah sher, gue gag apa-apa.” Tutur Kezia. “ Sory ya kak, kami permisi.” Lanjut Kezia sambil menarik tangan Sherly.


"Heh kezia, mau kemana lo?" gertak Irene membuat Kezia menghentikan langkahnya dan kembali berbalik. "Lo gag usah sok baik, sok cantik dan sok suci. Gue gag suka sama lo! Jauhin arland sekarang juga, jangan sampe lo nyesel!” Ancam Irene setengah berteriak.


"Apaan lo maen ancam-ancam temen gue segala, hah?” seru Kania yang mulai terpancing.


"Emang kenapa? Temen Lo itu lemah banget ya, sampe mesti di temenin body guard sebanyak ini buat ngelawan gue?” Irene kembali berteriak dengan seringai sarkas yang ia tujukan pada Kezia.


"Dia bukan lemah. Dia orang baik, makanya punya banyak temen. Gag kayak lo yang songong dan cuma bisa pamer harta orang tua lo!” timpal Dena.


"Apaan lo anak haram pake ikutan ngomong!” seru Irene dengan tatapan tajam.


"Udah ya, cukup!!" seru Kezia yang mulai terpancing. "Gue gag ngelawan lo bukan karena takut, tapi gue menghormati lo sebagai sesama perempuan supaya gag jadi tontonan banyak orang. Tapi kayaknya lo emang seneng jadi tontonan orang. Dan lo gag usah bawa-bawa temen gue. Lo ada urusan sama gue, lo selesein sama gue!” tantang Kezia


Sahabat Kezia tercengang dengan ucapan Kezia. Tidak biasanya Kezia marah sampai di batas ini.


“Mendingan lo pergi sekarang, cari temen yang banyak biar lo gag stress hidup sendirian dan gangguin hidup orang!” imbuh Kezia dengan senyum sinis.


"Shit! Awas lo ya, lo bakalan nyesel berurusan sama gue. Dan lo land, udah mulai kerasa kan akibat dari nolak gue?” tutur Irene dengan senyum sinis. Irene pun berlalu pergi begitu saja.


"Key, sorry, harusnya gue gag minta lo kesini…” lirih Dena yang segera merangkul Kezia.


" Gue yang harusnya minta maaf na, gag semestinya lo denger kata-kata yang irene ucapin tadi…” lirih Kezia. Sherly, Kania dan Dena bersamaan memeluk Kezia.


****

__ADS_1


__ADS_2