My First Love Story

My First Love Story
Episode 102


__ADS_3

Sesampainya di kamar, Angga melemparkan jasnya sembarang lalu menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke tempat tidur. Ia terlentang seraya memandangi langit-langit kamarnya. Pikirannya masih tentang Kezia. Ia masih mencium aroma segar tubuh Kezia dan membayangkan saat tangannya menyentuh lembut rambut panjang Kezia.


“Astaga , kenapa aku malah begitu bergairah!” dengus Angga yang merasakan sesuatu menegang dari balik celana dalammnya.


Angga bangkit dan duduk dengan kedua kaki menekuk di dadanya. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi tidak bisa mengusir bayangan Kezia dari pikirannya.


Di raihnya handuk yang berada di dekatnya lalu segera masuk kekamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap fikirannya sedikit netral. Beberapa kali Angga menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan mata di bawah shower. Tapi bukannya hilang, bayangan Kezia semakin nyata.


“Ah Sial!” dengus Angga sambil menonjokan kepalnya ke dinding kamar mandi.


Malam itu ia tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya begitu lelah, tapi fikiranyya terus berputar. Memutar semua kenangannya bersama Kezia. Gadis satu-satunya yang kini ada dalam hatinya.


****


5 hari berlalu, 5 hari ini pula kezia belum bertemu dengan Angga. Saat Kezia bangun, Angga sudah berangkat kerja dan saat Kezia pulang, Angga belum pulang. Hari-harinya terasa sepi, padahal menurut Rose, Angga pulang ke flatnya.


Pagi itu, ia mengetuk pintu flat Angga dengan membawa sepiring nasi goreng di tangannya. Beberapa kali mengetuk, tidak ada sahutan sedikitpun.


“Dia sudah berangkat tadi pagii..” ujar Rose yang datang menghampiri Kezia.


Kezia hanya membalasnya dengan senyuman. Ia kembali masuk ke flatnya dan memandangi nasi goreng yang ada di hadapannya. Tidak biasanya Angga seperti ini. Bahkan menelpon atau mengirim pesanpun tidak. Akhirnya Kezia menikmati sendiri nasi goreng buatannya.


Setelah agak siang, Kezia bersiap untuk pergi ke kampus. Dengan sepedanya ia meluncur memecah jalanan yang sudah mulai ramai. Barisan sepeda sudah tertata rapi di dekat fakultasnya. Dengan langkah cepat Kezia memasuki kelasnya karena kuliah akan segera di mulai.


Dari kejauhan terlihat Fritz yang duduk di baris paling belakang. Di tangannya memutar-mutar ballpoint. Wajahnya terlihat di tekuk. Bahkan saat bersipandang dengan Kezia ia malah memalingkan wajahnya. Sama halnya dengan Angga, 5 hari ini Fritz tidak menyapa Kezia sama sekali. Saat bertemu pun Fritz malah menghindar. Kezia tak mengambil pusing, ia segera memilih duduk di bangku depan karena mata kuliah prof Clifton akan segera di mulai.


Materi perkuliahan berjalan dengan lancar. Kezia mendapat banyak ilmu baru tentang dunia kedokteran. Kezia merasa, menjadi dokter bukan hanya cita-citanya, melainkan passionnya. Setelah 2 jam pelajaran berakhir, prof Clifton pun bergegas pergi.


“Awwhh…” tiba-tiba Kezia merasakan perutnya melilit.


Kezia melihat handphonenya dan benar saja ini jadwal tamu bulanannya datang. Ia segera mengambil pembalut yang selalu ia bawa di dalam tasnya dan bergegas menuju toilet.


Toilet wanita sedikit penuh, sehingga Kezia harus menunggu giliran. Mungkin karena bertepatan dengan jam istirahat. Kezia menunggu sambil bersandar di dinding.


“Apa kau dengar, beberapa hari lalu fritz bertengkar dengan mrs carolin…” tutur seorang gadis yang sedang menapukan bedak di pipinya. Kezia berusaha mengabaikannya namun pembicaraannya terdengar serius. Beruntung seorang gadis keluar dari toilet dan Kezia segera menggantikannya. Dari dalam bilik toiletnya ia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan para gadis tersebut.


“Bagaimana bisa dia begitu berani? Aku tau Fritz sangat membenci mrs carolin, tapi aku tidak menyangka mereka akan berkelahi di tempat umum.” sahut gadis satunya.


“Sepertinya fritz sudah tidak sabar menghadapi kelakuan wanita itu!”


Tanpa Kezia harapkan, nyatanya pembicaraan tentang Fritz terus bergulir. Selesai memakai pembalutnya, Kezia duduk sejenak di dudukan toilet dan menunggu waktu yang tepat untuk keluar.


“Ya anak mana yang mau menerima ibu yang mencampakkannya!” timpal gadis satunya.


Mata Kezia terbelalak mendengar perbincangan kedua gadis di luar. Pikirannya kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu saat ia melihat mata Fritz yang menatap Carolin dengan penuh kebencian. Kezia segera keluar dari toilet dan kembali ke kelas. Sepertinya tidak seharusnya ia mendengar semuanya.


Saat berada di depan kelas, Kezia sudah tidak melihat bayangan Fritz. Kemudian Kezia mengejarnya ke kantin, tapi tidak ada juga Fritz di sana.

__ADS_1


“Kenapa aku harus peduli pada anak nakal itu?” gumam Kezia yang keluar dari kantin dengan perasaan kecewa.


Akhirnya perpustakaan kembali menjadi pilihannya untuk menenangkan diri dan mengerjakan tugasnya.


****


Akhir pekan selalu menjadi hari yang menyenangkan untuk Kezia, ia bisa bangun siang, malas-malasan di tempat tidur atau membaca novel yang baru ia beli.


Pandangan Kezia tertuju pada tumpukan kertas yang berada di atas laptopnya. Ia teringat beberapa hari lagi artikel yang dibuatnya harus segera ia kumpulkan. Langit Heidelberg terlihat cerah siang ini, rasanya ini akan menjadi tambahan inspirasi untuk tulisannya.


Setelah berpakaian rapi, Kezia membawa serta ransel dan laptopnya untuk pergi berkeliling mencari tempat yang bisa ia gunakan untuk mencari ide.


Roda sepeda Kezia terus berputar, membawa Kezia melihat tempat-tempat menyenangkan di sekitar tempat tinggalnya.


Kezia menekan rem nya, saat ia melihat sebuah taman kecil dengan rumput hijau yang tertata dengan indah. Matanya terasa segar melihat pemandangan di depan matanya. Dengan segera ia turun dan berjalan ke bawah pohon yang cukup rindang.


Kezia duduk di sana, dengan laptop yang ada di atas pangkuannya. Bibirnya bergumam mengucapkan kata-kata yang ia baca dari draft artikelnya.


Dalam kesendiriannya, ia merasa seseorang tengah mengawasinya. Kezia melihat ke sekeliling taman, namun tidak ada seorangpun di sana. Hanya ada burung-burung kecil yang beterbangan dan kupu-kupu yang menari indah di antara bunga-bunga.


Kezia menghela nafasnya, ia merasa mencium wangi yang familiar di hidungnya.


“Astaga, aku sampai berhalusinasi karena merindukannya.” ungkap Kezia saat tiba-tiba saja bayangan Arland muncul di benaknya.


Ia merasa bahwa baru saja ia mencium wangi parfum Arland. Namun ia sadar, walaupun ia sangat merindukan Arland, tidak mungkin Arland ada di sekitarnya. Kezia hanya bisa menggenggam kalung yang melingkar di lehernya dan sejenak memejamkan kedua matanya berharap rasa rindunya sampai pada Arland.


Dari kejauhan, ada seorang laki-laki yang tengah memperhatikan Kezia. Ia duduk di salah satu bangku dengan memakai topi dan kacamata hitam. Tanpa kezia tahu, ya, dialah Arland.


Flash back On


Beberapa hari ini, Arland merasa dirinya hampir gila. Di kampusnya beberapa kali ia berkelahi dengan senior yang menurutnya sangat menganggu. Ricko sudah kehabisan akal melihat tingkah brutal Arland. Hampir setiap hari luka lebam tidak pernah hilang dari wajahnya dan Ricko hanya bisa meringis membayangkan rasa sakit yang di rasakan Arland.


“Bro, lo kenapa sih nyari ribut mulu sama senior? Apa susahnya sih ngikutin aja perintah mereka!” ujar Ricko yang mulai kesal.


Arland tak menjawab sama sekali. Ia sibuk mengompres pipinya yang kebiruan. Darah kering masih terlihat di sudut bibirnya. Tidak ada ekspresi meringis dari wajah Arland, ia begitu terbiasa dengan pukulan yang kerap diterimanya.


Kejadian terakhir yang membuat wajah tampannya lebam adalah ketika ia di dekati seorang gadis yang mengajaknya berkenalan. Namun Arland menepis tangan gadis tersebut dengan kasar. Tak terima dengan perlakuan Arland, gadis tersebut melapor pada kakaknya yang juga kuliah di tempat yang sama. Hasilnya, kakak gadis tersebut menghajar Arland tanpa ampun.


“Land, lo mau sampe kapan kayak gini? Kalo lo terus-terusan nyari ribut, lo bisa di keluarin dari kampus.” ancam Ricko sambil berkacak pinggang.


Arland masih terdiam tak menyahutinya. Selesai mengompres wajahnya, Arland mengambil ransel dan mengisinya dengan 2 potong pakaian. Charger, dompet dan beberapa barang pribadinya ia masukan ke sana.


“Lo mau kemana?” tanya Ricko seraya menahan tangan Arland.


“Bukan urusan lo!” Arland mengibaskan tangan Ricko dan segera pergi setelah mengambil sesuatu dari laci kamarnya.


“Land, apanya yang bukan urusan gue? Lo sodara gue, gue gag akan biarin lo ngelakuin hal-hal aneh.” gertak Ricko yang menahan bahu Arland yang hendak pergi.

__ADS_1


Arland menghembuskan nafasnya dengan kasar.


“Gue mau nemuin Kezia.” ujarnya dengan penuh keyakinan. Ia memperlihatkan tiket dan passport yang ada di tangannya.


“Land, lo gila ya?! Lo mau apa nyari kezia? Hidup kezia udah bukan urusan lo lagi.”


“Jelas itu urusan gue!” teriak Arland. “Dia pergi karena gue dan hidup gue hancur setelah kezia ninggalin gue! Gue mau lihat dengan mata kepala gue sendiri seperti apa dia hidup di sana?! Setelah itu gue akan memutuskan untuk menunggu atau melupakan dia sama sekali.” lanjut Arland.


Ricko terhenyak. Ia tak menyangka Arland akan memilih jalan ini.


“Tapi…”


“Lo urus hidup lo sendiri, gue urus hidup gue sendiri.” sela Arland tanpa memperdulikan ujaran Ricko.


Flash back off


Handphone Kezia berdering, sebuah panggilan masuk dari Eliana.


“Hallo mah…” sapa kezia dengan senyum terkembang di bibirnya.


“Sayang, kamu lagi ngapain hari libur gini?” tanya Eliana dari sebrang sana.


“Zia lagi ditaman mah. Lagi nerusin artikel buat lomba.”


“Wah anak mamah bener-bener berusaha keras.” puji Eliana.


“Iya mah, zia mau bikin mamah sama papah bangga.” tutur Kezia seraya tertunduk.


“Sayang, mamah selalu bangga sama kamu nak. Jaga diri baik-baik, sekali-kali bersenang-senang lah…”


“Iya mah,…” sahut Kezia.


Saat ini Kezia sangat merindukan kedua orangtuanya dan Arland. Ia ingin bertanya kabar Arland, namun kemudian mengurungkan niatnya karena ia tak mau membuat Eliana cemas.


Hanya kalung kesayangannyalah yang menemaninya saat ia merasa sangat merindukan Arland. Keberadaan kalung itu, membuat Kezia selalu merasa Arland ada di sisinya.


“Mah, zia nerusin kerjaan zia dulu ya, nanti malem zia telpon mamah.” Kezia segera tersadar dari lamunannya.


“Ya sayang, love you nak..”sahut Eliana.


Kezia hanya tersenyum. Dalam beberapa detik, panggilanpun terputus.


“Semangkaaaaaaaaaa!!!” teriak Kezia tiba-tiba seraya mengepalkan tangannya ke udara. Ia merasa telah mendapat tambahan energy setelah mendengar suara Eliana.


Dari kejauhan, Arland ikut tersenyum. Betapa gadisnya tidak pernah berubah.


Arland menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku, ia memandangi gadis yang sangat di rindukannya dari kejauhan.

__ADS_1


****


__ADS_2