My First Love Story

My First Love Story
Episode 98


__ADS_3

“Schnucki, kamu belum mengisi kulkasmu. Kenapa hanya ada dua butir telur dan air dingin? Apa kamu tidak akan kelaparan nanti malam?” tanya Angga yang sedang melihat-lihat isi kulkas Kezia.


“Aku kan tadi udah makan kak. Kalo laper aku bisa keluar. Aku baru akan belanja besok sepulang dari kampus.” Sahut Kezia yang sedang menata bajunya ke dalam lemari kecil yang berada di dekat tempat tidurnya.


“Kamu gag usah keluar, telpon aja pak hendra, dia akan membelikannya buat kamu.”Angga menimpali.


“Apa bedanya dengan aku tinggal di rumah kakak kalau segala sesuatu masih disiapkan orang lain…” protes Kezia seraya menatap Angga.


“Aku hanya tidak mau schnucki-ku kekurangan sesuatu…” lirih Angga dengan perasaan bersalahnya.


Kezia tersenyum kecil. Di hampirinya Angga dan mengajaknya duduk di sofa.


“Kakak sangat baik sama aku. Kakak selalu memenuhi kebutuhanku. Tapi kali ini, aku akan belajar memenuhi kebutuhanku sendiri. Jadi, jangan terlalu cemas. Aku bisa melakukannya…” lirih Kezia sambil menatap Angga dengan penuh keyakinan.


Angga menghembuskan nafasnya berat. “Baiklah…” ia hanya bisa menurut kalau Kezia sudah menatapnya seperti ini. “Aku memberikanmu hadiah sepeda, pakailah untuk berangkat ke kampus, dan berhati-hatilah jangan sampai terjatuh.” lanjut Angga.


“Iya kak, terima kasih…” sahut Kezia. “Ya udah, aku lanjutin beres-beres dulu yaaa.. kakak tunggu di sini.”


“Enggak, aku akan membantumu..” sahut Angga sambil melepas coatsnya. Kezia hanya membalasnya dengan senyuman.


Mereka mulai sibuk dengan menata flat Kezia. Merapihkan tempat tidur, membersihkan kamar mandi dan mencuci beberapa piring yang baru di beli Kezia. Keringat Angga bercucuran di wajah dan tubuhnya. Dia tampak begitu semangat bolak-balik membuang sampah ke tong sampah yang berada di dekat tangga. Hingga tubuhnya terasa begitu lengket. Setelah semuanya rapi, mereka menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Mereka tersenyum satu sama lain melihat wajah masing-masing yang kotor karena debu.


*****


Setelah seharian membereskan flat, Kezia tumbang dan tertidur lebih awal. Laptop dan lampu kamarnya masih menyala. Wajahnya tertutup buku dengan tubuh terlentang tidak berdaya.


Berbeda dengan Angga, walau tubuhnya terasa lelah, ia tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih melayang memikirkan Kezia yang sendirian di flatnya. Ia meraih benda persegi di sisi tempat tidurnya dan melakukan panggilan video, tapi Kezia tidak menjawabnya, membuat hati Angga semakin tak menentu. Angga bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan keluar kamar dan menuju kamar Kezia.


“Ceklek” Angga memutar gagang pintu kamar Kezia. Kamarnya terlihat begitu rapi dan sepi. Wangi parfum Kezia masih menyeruak mengisi ruang kamar yang cukup luas. Angga menuju tempat tidur Kezia dan membaringkan tubuhnya di sana. Dengan menjadikan lengan kirinya sebagai bantal, ia terbaring dengan nyaman. Tangan kanannya membuka-buka galeri handphone dan memandangi wajah Kezia yang mengisi sebagian besar memory ponselnya.


“Baru beberapa jam, aku sudah sangat merindukanmu schnucki… Apa kamu juga merindukanku?” lirih angga seraya tersenyum.


Bayangan Kezia mengisi lamunannya. Angga semakin tenggelam dalam kenangannya bersama Kezia, hingga tanpa terasa ia terlelap dan menemui Kezia di alam mimpinya.


****

__ADS_1


Pagi ini, setelah menyiapkan sarapan, Kezia segera mandi dan berias. Kezia memakai kaos bermodel Turtle neck dan memadukannya dengan coat selutut. Celana jeans yang tidak terlalu ketat membungkus kaki jenjangnya.


Kezia sengaja membawa baju yang memiliki kerah atau berupa turle neck untuk menutupi lehernya.  Walaupun ada baju tanpa leher, dia akan memadukannya dengan scraf. Dia ingat, Arland sangat tidak suka kalau ia memperlihatkan lehernya pada orang lain.


Kezia memandangi dirinya yang tengah berdiri di depan cermin. Rambut hitamnya di biarkan terurai. Kezia menggenggam kalung inisial AK yang melingkar di lehernya.


“Land, aku akan memulainya hari ini… Do'akan aku, miss you…” lirih Kezia yang seolah tengah berbicara dengan Arland di hadapannya. Kezia memasukkan kalungnya ke balik kerah bajunya.


Setelah semuanya rapi, ia segera melahap sarapannya. Omlete dan susu coklat jadi pengisi perutnya pagi ini. Tidak ada nasi goreng karena bahan pangan dan peralatan dapurnya belum lengkap. Selesai mengisi perutnya, Kezia mengambil tas punggung yang berisi persyaratan administrasi perkuliahannya. Ia melangkahkan kakinya dengan ringan menuju kampus.


Di tempat parkir flat, sepeda Kezia terparkir bersama kendaraan lainnya. Ia segera menaikinya dan menggowes pedalnya menuju kampus. Semilir agin menerpa wajah dan rambutnya. Nyanyian lirih terdengar mengalun dari bibir tipisnya. Wajahnya cerah, mengalahkan mentari pagi di musim panas.


Perjalanan menuju Universitas Heidelberg di tempuh dengan waktu 10 menit menggunakan sepeda. Kezia memarkir sepedanya dengan rapi. Ia mencari Carolinum, gedung sekretariat tempat Kezia mengurus masalah administrasi kemahasiswaannya.


(Bahasa Jerman Mode:On)


“Apa kamu mahasiswi baru?” sapa seorang wanita yang melihat Kezia sedikit celingukan.


“Betul Bu…” sahut Kezia.


“Terima kasih.” Sahut Kezia seraya mendudukan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Carolin.


“Kamu mengambil fakultas apa? Coba ku lihat hasil testmu…”


Kezia mengambil berkas yang berada di dalam tas punggungnya. Semuanya telah rapi di dalam map, lalu menyerahkannya pada Carolin.


“Heemmm kezia artiandinia fashia. Nama yang cantik. Bagaimana saya harus memanggil namamu?”


“Mrs carolin bisa memanggil saya kezia.” sahut Kezia dengan sopan.


“Oo.. kamu memilih Fakultas kedokteran dan nilaimu juga bagus.” Carolin membuka-buka berkas yang di bawa Kezia . “Anak saya juga mengambil fakultas yang sama denganmu. Mungkin nanti kalian akan bertemu di kelas.” Kezia mengangguk seraya tersenyum. “Baiklah, ini kartu mahasiswamu. Segera bergabung dengan teman sekelasmu, dan carilah teman sebanyak-banyaknya.” lanjut Carolin seraya memberikan kartu mahasiswa pada Kezia.


“Terima kasih banyak. Saya permisi dulu…” ujar Kezia seraya berdiri. Carolin hanya mengangguk seraya tersenyum.


Kezia segera menuju tempat parkir. Kalau dilihat dari map, fakultas kedokteran cukup jauh dari tempatnya saat ini. Sehingga ia akan menggunakan sepeda untuk menuju ke sana. Sepertinya berkeliling kampus akan cukup untuk mengisi agenda olahraganya.

__ADS_1


****


Kezia sudah tiba di fakultas kedokteran. Suasananya cukup ramai. Ia mencari papan pengumuman untuk melihat di kelas mana ia di tempatkan.


“Waw, gadis asia yang cantik…” seru seorang laki-laki saat melihat Kezia melintas. Kezia mengacuhkannya saja.


“Apa kamu bisa mendapatkannya dude?” sahut temannya.


“Tidak ada perempuan yang tidak bertekuk lutut di hadapanku.” Sahut laki-laki tersebut yang di sambut gelakan tawa teman-temannya.


Semakin jauh Kezia melangkah, semakin tak terdengar suara laki-laki tersebut.


Terlihat beberapa mahasiswa sedang mengerumuni papan pengumuman. Kezia kesulitan untuk melihat isi pengumuman yang tercantum. Walau tubuh Kezia cukup tinggi tapi di bandingkan anak-anak bangsa eropa, Kezia terlihat lebih pendek. Tubuh-tubuh kekar menghalangi pandangannya. Kezia terpaksa mengalah dan menunggu yang lain selesai. Kezia menyandarkan tubuhnya ke tembokan dengan tas ransel yang di pindahkan ke depan badanya. Matanya masih tertuju ke arah papan pengumuman.


“Kamu sekelas denganku, nona kezia…” tutur seseorang yang tiba-tiba berbisik di telinga Kezia.


Kezia memalingkan wajahnya. Mata biru itu….


“Apa kamu masih belum mengingatku?” Tanya lelaki tersebut dengan senyum tersungging di bibirnya. Kezia hanya terdiam. “Baiklah aku akan membuatmu mengingatnya,…” Ia menyentuh rambut hitam Kezia dan menyelipkannya di telinga Kezia. wajahnya mendekati wajah Kezia tangannya mengenggam dagu kezia dengan lembut.


“Liat, apa gadis itu tidak tau kalau si anak nakal itu sedang menggodanya?” cetus seorang gadis.


“Dengarkan baik-baik, namaku Fritz Antonio.” bisik Fritz di telinga Kezia.


Kezia tersenyum sinis. Tangannya mengepal begitu saja mendapat perlakuan tidak sopan dari laki-laki yang baru di temuinya. Fritz menatap wajah kezia dengan tatapan mengintimidasi. Kezia menyentuh dada Fritz.


“Dengar tuan fritz, aku datang kesini untuk belajar. Kalau kau mencari orang untuk bermain-main, silakan pilih partner yang lain.” tegas Kezia seraya tersenyum. Tanggannya reflex mendorong tubuh Fritz menjauh.


Tubuh Fritz terdorong sekitar tiga langkah. Fritz tersenyum lebar melihat ekpresi kezia yang tersenyum seraya menahan geram. Kezia memalingkan wajahnya dan menjauh dari Fritz. Fritz masih mematung sambil memandangi arah berlalunya Kezia. Senyuman tipis masih terkembang di bibir Fritz. Baru kali ini ada seorang gadis yang menolak pesonanya.


“Gadis yang menarik!” gumam fritz.


****


 

__ADS_1


 


__ADS_2