
“Angga, hubunganmu sama dia masih belum ada perkembangan ya?” tanya Indira yang duduk bersama Angga di taman belakang. Mereka menikmati secangkir teh di tangannya masing-masing.
“Maksud kakak perkembangan seperti apa?” Angga balik bertanya.
“Pelayan bilang, kezia pulang di antar laki-laki. Apa dia pacarnya?” Indira menatap Angga dengan serius. Indira gemas sendiri karena adiknya selalu terdiam dan tidak berani mendekat pada Kezia.
“Bukan, dia teman kuliahnya.” sahut Angga. Ia tahu persis yang di bahas Indira adalah Fritz.
“Kamu harus lebih cepat, pasti banyak laki-laki yang mengincarnya. Lagi pula, umurmu udah berapa?” Indira mencoba mengingatkan.
“Akan ada saatnya. Kakak tunggu saja…” ucap Angga sambil menyandarkan punggungnya.
Banyak hal yang mengisi benak Angga saat ini. Semakin ia ingin mendekat pada Kezia, semakin ia takut jika Kezia malah menjauh. Semuanya bukan tanpa alasan. Kezia seperti tidak pernah memberi ruang lebih untuknya selain sebagai seorang kakak. Bayangkan saja, dari sekian lamanya waktu yang mereka lewati, Kezia masih setia memakai kalung yang melingkar di lehernya. Sesekali Angga melihat sendiri saat Kezia memandangi foto laki-laki yang menjadi cinta pertamanya dan tersenyum manis seolah laki-laki itu tengah berada di hadapannya. Sepertinya, hati Kezia hanya terisi untuk satu orang dan itu bukan dirinya.
“Hay kak, aku ganggu gag nih…” suara Kezia mengagetkan Angga dan Indira.
“Hay key, gabung sini. Ini angga lagi bahas calon istrinya.” sahut Indira sambil mengangkat alisnya pada Angga. Angga melotot geram. Dalam hatinya, jika Angga tidak berani mendekat, maka Indira akan menjadi jalan untuk mendekatkan keduanya.
“Oh yaah… Kakak kenal wanitanya? Cerita dong…” seru Kezia dengan semangat.
“Kenapa kamu yang semangat mendengar aku membicarakan wanita?” cetus Angga dengan kesal.
“Ya sudah kalian bahas berdua, aku nemenin sean tidur dulu.” sahut Indira sambil berlalu pergi. Terlihat senyum jahil di garis bibirnya.
“Kakak ko gag cerita udah punya calon? Belum di kenalin lagi sama aku…” protes Kezia dengan gaya manjanya.
“Aku bilang cinta aja sama dia belum, itu sih kak indira aja yang sok tau!” cetus Angga dengan kesal.
“Ya udah, ayo cepetan bilang sama dia. Apa kakak takut di tolak?” Kezia sangat antusias membuat Angga semakin kesal.
“Aku gag tau harus bilang gimana…” Angga memalingkan wajahnya dari Kezia. Ia tidak sanggup jika harus bertatapan lama dengan gadis berlesung pipi di hadapannya. Sepasang telaga bening yang menatapnya, selalu membuat ia merasa tidak ingin menyelaminya hingga dasar terdalam. Sayangnya kezia tidak pernah memberinya kesempatan, membuat Angga harus mengubur Angannya dalam-dalam.
“Lah, kak angga kan pernah punya pacar, masa gag bisa nembak cewek.” Kezia menatap tak percaya.
“Biasanya juga cewek-cewek yang duluan bilang suka sama aku.” kilah angga sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
“Astaga!!! Tuan muda, tuan muda” ujar Kezia sambil tertawa geli. “Kak angga walau pun sekarang zamannya emansipasi wanita, tapi hampir setiap wanita akan menunggu laki-laki duluan yang nyatain cinta.” hasut Kezia yang masih terkekeh di ujung kalimatnya.
“Aku mana tau cara nyatain duluan.” Sahut Angga masih dengan wajah polosnya.
“Heemm dengar, aku udah baca buku syair-syair pujangga di ruang baca kakak. Kakak bisa latihan dari sana. Kata-katanya bagus!”
“Kalau kamu sudah baca, kenapa gag ajarin aku aja?” goda Angga.
“Hemm okey, kakak ikutin aku yaa… ini salah satu contohnya” tutur Kezia. Kezia menegakkan posisi duduknya lalu berdehem sebelum memulai bicaranya.
“Kau hadir di kala mentari terbit, menghangatkanku dengan senyum mu…” ujar Kezia dengan senyum cantiknya, membuat Angga sangat antusias.
“Kau hadir di kala mentari terbit, menghangatkanku dengan senyum mu…” Angga mengulanginya seraya menatap lekat Kezia berharap kalimatnya bisa menyentuh hati terdalam Kezia.
Kezia mengacungkan kedua ibu jarinya pada Angga sebagai bentuk apresiasi. Sepertinya usaha Angga gagal. Kezia bahkan tidak menanggapi tatapan penuh harap dari Angga yang hanya tertuju padanya.
“Tataplah mataku sejenak…”
“Tataplah mataku sejenak…”
__ADS_1
“Dan dengarlah…”
“Dan dengarlah…”
“I love you…”
“I love you…”
“Nah, gampang kan?” Kezia menjentikkan jarinya.
“Ya, I love you…” ulang Angga sambil tersenyum pada Kezia.
“Good job! Coba kakak langsung temui dia dan cepet-cepet bilang…” Kezia mendorong tubuh Angga agar segera beranjak.
“Itu untukmu schnucki…” batin Angga dengan lemah. Entah harus dengan cara apa ia mendekati Kezia. Berkali ia menunjukkan perasaannya dengan beragam cara romantis, nyatanya Kezia hanya menganggapnya sebagai kebaikan seorang kakak.
"Kakak sangat manis. Aku gag tau di kehidupan sebelumnya aku melakukan kebaikan apa hingga tuhan memberiku kakak yang baik seperti kak angga." ungkapnya kala itu. Padahal jelas, Angga sedang menunjukkan perasaannya sebagai seorang laki-laki bukan sebagai seorang kakak.
“Ya aku akan menyampaikannya nanti.” tutur Angga sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
“Goodluck kak, aku tidur dulu yaa,…” tutup Kezia sambil menepuk bahu angga. Angga terangguk pelan.
“Schnucki, …” Angga kembali memanggil Kezia yang akan pergi ke kamarnya.
“Ya?” Kezia berbalik.
“I love you…” lirih Angga.
“Ya betul begitu! Good night kak…” tukas Kezia sambil melambaikan tangannya.
“Schnucki ku yang bodoh…” gumam Angga seraya berlalu pergi menuju kamarnya.
****
“Pagi om, tante , kak Indira, kak angga…” sapa Kezia dengan hangat.
“Pagi sayang… wah lihat apa yang kamu buat ini?” seru Anna yang terpesona dengan makanan di depannya.
“Ini lontong kari tante… Aku dapet resepnya dari mamah. Mudah-mudahan semuanya suka. Kalo enggak pun, ada menu lain, hehehe…” terang Kezia sambil menghidangkan sereal dan pancake.
“Kamu bangun jam berapa ini nyiapin semuanya?” mata Indira terlihat berbinar melihat kuah santan yang begitu mengundang seleranya.
“Enggak lama kok kak… Gag pagi banget juga…” sahut Kezia sambil menarik kursi untuknya. “Ada yang mau aku ambilin?” tawar Kezia.
“Tolong ambilkan untuk om yaa…” pinta Mahesa dengan semangat.
“Siap om…” dengan telaten Kezia mengambilkan lontong kari untuk Mahesa. Mahesa sudah tidak tahan lagi menahan air liurnya yang nyaris menetes.
“Wah, calon suami kamu pasti beruntung banget nih… Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar key, kok om gag pernah ngeliat kamu pamerin pacar?” celetuk Mahesa
“Hem.. Gimana aku mau punya pacar om, yang sebelah om galak banget. Semua cowok gag lulus seleksi.” dengus Kezia sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kenapa nggak angga aja yang nyariin?” tawar Anna.
“Kak angga aja gag berani nembak cewek, masa iya mau nyariin buat aku tan…” tukas Kezia sambil menjulurkan lidahnya ke arah Angga.
__ADS_1
“Uhuk! Uhuk!” Angga terbatuk mendengar ucapan Kezia.
“Eh ya ampun, minum kak… Agak pedes ya…” dengan sigap Kezia yang segera mengambilkan minum untuk Angga.
Mahesa menatap Indira yang ada di hadapannya. Namun Indira hanya tersenyum sambil mengangkat bahunya.
“Emang beneran angga gag berani nembak cewek key?” goda Indira.
“Udah deh , jangan diterusin…” kilah Angga yang mulai kesal karena merasa di bully.
“Dada menikah saja dengan mima, nanti sean ikut tinggal dada dan mima. Soalnya momy galak!” celetuk Sean.
“Anak yang pinter. Lo yang ngajarin kak?” seru Angga dengan wajah memerah.
“Ssttt… Ini bukan obrolan anak kecil okeyy…” sahut Kezia sambil menutup kedua telinga Sean dengan kedua tangannya.
Sean hanya mengangguk. Mereka tertawa mendengar ujaran Kezia. Suasana sarapan kali ini begitu membuat jantung Angga semakin sehat karena berloncatan tidak menentu. Sejujurnya ia merasa tersiksa saat melihat Kezia yang tersenyum riang karena berhasil menggodanya. Dan jantungnya,, hah sudahlah. Semoga tidak lepas dari tempatnya
****
Siang itu, mobil Fritz sudah terparkir di depan rumah mewah Angga dan berniat menjemput Kezia. mereka berjanji akan pergi ke kampus bersama untuk menyerahkan tugas akhir pada bagian akademik.
“Kamu mau pergi key?” tanya Indira yang melihat kezia keluar kamar dengan pakaian rapi.
“Iya kak, ke kampus bentar, ngasih tugas akhir untuk sidang. O iya, malem ini aku gag nginep di sini, soalnya besok aku ikut seminar kesehatan di Berlin.” terang Kezia.
“Iyaa gag pa-pa… Kalo kamu perlu apa-apa di sana, jangan sungkan temui suamiku ya…” seru Indira.
“Iya kak… Salam untuk semuanya yaa… Maaf aku gag sempet pamit.”
“Tapi angga udah tau kan?”
“Nanti aku kabarin kak angga langsung…” sahut Kezia.
Kezia memeluk Indira dengan erat sebagai tanda perpisahan dan bergegas menemui Fritz yang menunggunya di depan.
Kezia berlari kecil menghampiri Fritz. Fritz tampak sedang memainkan benda pipih di tangannya saat Kezia masuk dan duduk di sampingnya.
“Maaf menunggu lama…” tutur Kezia.
“Tak masalah…” sahut Fritz seraya tersenyum. “Key, sepertinya aku tidak bisa ikut ke berlin untuk seminar.” lanjut Fritz yang mulai mengendalikan laju kendaraannya.
“Ada apa, tumben!” seru Kezia.
Memang sejak mereka kuliah bersama, Fritz selalu mengikuti setiap seminar yang diikuti Kezia. Kalau kezia mengikutinya dengan jalur gratis melalui artikel yang di tulisnya, Fritz mengikutinya dengan jalur berbayar. Karena ia sangat malas kalau harus tulis menulis artikel.
Selama kuliah, entah berapa banyak seminar yang mereka ikuti bersama. Menulis artikel memang hoby Kezia. Selain bisa mengikuti seminar gratis saat artikelnya terpilih, ia pun bisa mendapatkan uang yang cukup besar sebagai hadiah tulisannya. Sehingga biaya hidupnya selama ini tercukupi dengan baik.
“Papah kerepotan di rumah sakit. Jadi dia memintaku untuk membantunya.” terang Fritz.
“Hemm baiklah… Ingat, baik-baik sama pasien yaaa… Selain mereka mengharapkan kesembuhan, mereka juga mengharapkan dukungan dari keluarga dan semuanya merawatnya.” tutur Kezia.
“Baik dok… Pesan dokter akan saya perhatikan.” goda Fritz yang di sambut tawa renyah dari Kezia.
****
__ADS_1
Kezia kapan pekanya ya? Kalian gemes gag sih? hehehe