My First Love Story

My First Love Story
Episode 114


__ADS_3

Hendra kembali memacu kendaraan dengan sangat cepat membelah jalanan yang mulai tertutup salju. Rumah Cellina berada di kawasan elit kota Heidelberg dengan bentuk bangunan yang mayoritas mempertahankan gaya lama.


Tiba di kediaman keluarga Mayyer, Kezia segera turun dan memasuki pekarangan rumah Cellina yang sepi. Beberapa kali Kezia mengetuk pintu dan seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


“Maaf mau bertemu siapa?”


"Apa nona cellina ada?”


“Oh, silakan masuk. Nona ada di rumah.” sahut pelayan tersebut sembari membuka pintu lebih lebar.


Tanpa ragu Kezia melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu yang cukup luas. Hendra setia mengikuti di belakang. Tak berselang lama Cellina turun dengan memakai hot pants dan tangtop. Rambutnya diikat sembarang dengan sebatang rokok yang masih menyala di sela jari kananya.


“Wah, rupanya kita kedatangan tamu terhormat!” sambut Cellina dengan seringai sarkasnya.


“Selamat malam nona cellina, mohon maaf menganggu waktunya…” sapa Kezia dengan suara rendah.


“Ada angin apa yang membuat kalian datang ke rumah kami yang hampir di sita ini?” sinis Cellina yang kemudian menghisap rokok di tangannya.


“Nona, saya perlu bicara dengan anda sebentar, boleh anda matikan dulu rokoknya…” pinta Kezia. Walaupun Cellina memiliki kecocokan tulang sumsum dengan Angga tapi Kezia merasa miris melihat gaya hidupnya.


“Kau mau bicara, bicaralah, tidak perlu mengaturku!” serunya seraya menghembuskan asap rokoknya kehadapan Kezia. Kezia tidak menimpali perlakuan kasar wanita cantik dihadapannya.


“Nona, saat ini kak ryan sedang membutuhkan bantuan anda. Ia memerlukan pendonor untuk transplantasi sumsum belakang. Saya memohon kebaikan hati nona untuk menjadi pendonornya.” pinta Kezia dengan penuh kesungguhan.


“Hahahhaah! Rupanya kau sedang memohon padaku. kalau begitu bersujudlah di kakiku!” seru Cellina sambil menunjuk ujung kakinya dengan angkuh.


Hendra menatap Kezia sejenak dan mengisyaratkan agar Kezia tidak melakukannya. Tapi bagi Kezia, apalah arti harga dirinya dibanding berharganya nyawa Angga. Ia lebih tidak bisa melihat Angga terbaring tidak berdaya di banding mendapat perlakuan kasar dari Cellina.


Cellina tertawa puas melihat kezia duduk bersimpuh di hadapannya. Ia membungkuk seraya mencengkram dagu Kezia dengan kuat. Matanya menatap Kezia tajam dengan penuh kebencian. Tentu saja, baginya Kezia adalah perebut tempatnya di hati Angga.


“Aku akan bersedia membantu ryan tapi dengan syarat, kamu harus memastikan dia akan menjadikanku istrinya dan membantu perusahaan ayahku yang hampir bangkrut! Bagaimana, apa kamu bersedia?” ujar Cellina seraya mengeratkan cengramannya di dagu Kezia.


“Saya akan mencoba membujuknya…” suara Kezia terdengar parau. Permintaan Cellina terdengar berat, tapi bukankah tidak ada pilihan selain mengiyakan permintaannya?


Cellina tersenyum tipis seraya melepaskan cengkramannya dengan kasar. Terlihat jelas kepuasan yang terpancar dari kedua matanya.


“Baguslah, sekarang kalian pergi dan beri aku kabar baik!” sinis Cellina dengan senyum sarkasnya.


Dengan tenaga sisanya Kezia bangkit. Banyak pikiran berkecambuk di rongga kepalanya namun saat ini ia hanya bisa mengalah.


“Terima kasih nona cellina, Saya permisi dulu…” pamit Kezia yang di balas dorongan kuat dari tangan Cellina .


“Cepat pergi!” teriak Cellina .


Hendra memegangi Kezia yang hampir terjatuh. Dengan segera ia membawa nona mudanya keluar. Ia membukakan pintu mobil untuk Kezia yang tampak shock dengan perlakuan Cellina. Benarkah cara yang ia ambil? Menyerahkan hidup Angga pada gadis seperti Cellina, bisakah ia membiarkannya? Tapi bukankah Cellina dan Angga pernah saling mencintai, lalu apa yang harus ia takutkan?


Nyatanya, perasaan Angga tidak sesederhana itu saat ini.


“Pak hendra, antar saya ke rumah terlebih dahulu. Ada yang harus aku bicarakan dengan keluarga om mahesa.” pinta Kezia. Hendra hanya mengangguk sebagai respon.


“Nona, apa nona sangat menyayangi tuan muda? Mohon maaf jika pertanyaan saya lancang.” tutur Hendra seraya melirik Kezia dari spion tengahnya.


Kezia menarik nafas dalam-dalam. Ada sesak yang coba di tahannya. “Aku tidak mau kak angga pergi meninggalkanku…” lirih Kezia dengan mata berkaca-kaca.


Hendra hanya terdiam mendengar jawaban Kezia. Ternyata sangat sulit menebak isi perasaan gadis lugu yang ada di belakangnya.


Kezia memejamkan kedua matanya. Bayangan Angga menari di ruang imajinya. Sangat menyakitkan saat membayangkan wajah Angga yang kini terlihat pucat seperti tidak ada darah yang mengaliri pembuluh darahnya. Tangis yang sedari tadi di tahannya, kini meluap begitu saja. Kezia menangis tanpa suara, hanya kedua matanya yang basah mewakili kesedihannya.

__ADS_1


Semua teori tentang cancer telah ia pahami tapi saat ia berhadapan dengan Angga yang menjadi pasiennya, entah mengapa muncul ketakutan tersendiri yang tak bisa ia kendalikan. Ia takut semua yang ia lakukan akan menyakiti Angga dan tentu kelemahan terbesarnya adalah melihat Angga yang kesakitan.


*****


Di ruang keluarga Kezia dan keluara Mahesa berkumpul. Mereka membicarakan syarat yang diajukan oleh Cellina. Mahesa menyanggupi untuk membantu perusahaan keluarga Mayyer tapi untuk memaksa Angga menikahi Cellina, sepertinya sesuatu yang sulit. Mahesa paham benar pemikiran serakah yang ada di kepala Cellina. Ia pun tidak bisa membayangkan jikalau anaknya menikah tapi tidak merasakan kebahagiaan.


“Bagaimanapun, kita harus menunggu angga siuman. Kita tidak bisa memutuskan semuanya secara sepihak.” tutur Mahesa seraya menatap keluarganya.


Kezia mengangguk mengiyakan. Bagaimana pun pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan akan mereka jalani seumur hidup.


“Key, apa menurutmu angga akan menerima syarat cellina ini?” tanya Indira dengan serius.


“Aku tidak tau kak. Aku hanya memikirkan bagaimana agar kak angga bisa selalu berada di tengah-tengah kita. Bisa melihatnya hidup dengan baik, sehat dan bahagia.” lirih Kezia dengan tatapan kosong.


Indira menatap Anna dan Mahesa bergantian.


“Ya tuhan, sebenarnya kayak gimana perasaan kamu key?” batin Indira dengan tatapan penuh tanya pada Kezia.


Suara ponsel Mahesa berbunyi nyaring. Dengan segera Mahesa menjawabnya.


“Apa, angga sudah siuman?” ujar Mahesa yang reflex berdiri. “Baik , kami segera ke rumah sakit!” lanjutnya dengan segera.


“Gimana pah?” tanya Anna.


“Angga siuman. Papah ke rumah sakit dulu. Key kamu ikut?” seru Mahesa.


"Ya om." sahut Kezia segera.


Jam 10 malam Kezia dan Mahesa sudah sampai di rumah sakit. Mereka masuk bergantian untuk melihat kondisi Angga.


“Ini pasti schnucki ku…” terka Angga pada Kezia yang saat itu menggunakan masker dan baju penjenguk pasien.


“Aku baik-baik saja.” bibir kering Angga bergumam pelan seraya tersenyum. “Schnucki, aku ingin pulang. Apa boleh?”


“Kakak harus di periksa dokter dulu… Kalau udah ada izin dokter, baru boleh pulang.”


“Aku ingin kamu aja yang jadi dokterku…”


Kezia tersenyum kecil, “Okey,, aku mau. Tapi kakak harus mengikuti semua saranku yaa…” Angga mengangguk dengan semangat. “Baiklah, saran yang pertama, kakak tunggu di sini dulu. Aku mau nanya dulu sama dokter albert. Apa kakak bisa pindah ke ruangan biasa atau enggak. Saran yang kedua, kakak baru boleh pulang kalau dokter albert mengizinkan kakak pulang. Kakak bersedia?”


“Hem, itu sih sama aja dengan dokter albert tetap menjadi dokterku dan kamu asistennya.” cetus Angga seraya memalingkan wajahnya.


“Kak, dokter albert itu dokter terbaik di sini. Aku yakin dia akan memberikan pengobatan yang terbaik untuk kakak. Kakak tau kan kalau kami sangat mengharapkan kesembuhan kakak?”


Kalimat Kezia membuat Angga menoleh. Ia bisa merasakan kepedulian yang besar dari Kezia. “Ya sudah, tapi aku mau di rawat di ruangan biasa. Gag pa-pa dipasang alat ini itu juga. Asal kamu temenin aku…” rengek Angga.


Kezia mengangguk mengiyakan. Tak berselang lama dokter Albert datang bersama asistennya.


“Selamat malam… Sepertinya tuan ryan sudah baik-baik saja…” tutur dokter Albert saat melihat Angga yang sudah bisa tersenyum.


“Selamat malam dok.” sahut Kezia dan Angga bersamaan.


“Saya periksa sebentar ya…” izin dokter Albert. Angga mengangguk mempersilakan. Dokter Albert mulai  memeriksa Angga dengan seksama. “Beberapa alat boleh di lepas. Tapi tuan ryan harus tetap berada di tempat tidur sampai infusan habis.” terang dokter Albert.


“Apa saya bisa pindah ke ruang perawatan biasa dok? Saya tidak mau sendirian di sini…”


“Boleh… “ sahut dokter Albert. Kezia mengernyitkan dahinya. Mata dokter Albert menatap Kezia seolah tau isi fikiran Kezia. “Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat beristirahat.” tukas dokter Albert.

__ADS_1


Angga hanya terangguk sebagai respon. Begitu jelas terlihat wajahnya yang berseri saat dokter Albert memenuhi permintaannya.


“Aku antar dokter albert sebentar ya kak…” pamit Kezia. Angga hanya tersenyum seraya memandangi punggung Kezia yang semakin menjauh.


“Dok…” panggil Kezia setelah berada di luar ruangan.


Langkah dokter Albert terhenti. Ia mengajak keruangannya untuk berdiskusi.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya dokter Albert seraya tersenyum.


Kezia hanya terpaku. Ia tertunduk dengan buliran air mata yang berkumpul di sudut matanya dan bisa pecah kapan saja. "Berapa lama ia bisa bertahan?" tanya  Kezia dengan berat.


Dokter Albert hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyerahkan rekam medis Angga pada Kezia. Dengan tangan gemetar Kezia meraihnya. Ia melihat semua catatan kesehatan Angga dan hanya buliran air mata yang menjadi jawabannya.


Kezia menengadahkan wajahnya seraya mengusap air mata yang terus menetes tanpa di minta.


"Saya sadar, seorang dokter pun hanya manusia. Dan kamu sudah tau sendiri kondisinya. Saya masih meresepkan obat yang sama dan tentu saja tidak ada yang bisa membantu kesembuhannya. Ujian berat buat kamu di mulai sekarang. Antara profesionalisme kerja dan kepedulian. Lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan seperti yang kamu tulis dalam artikel. Saya yakin, hanya itu yang bisa kita lakukan." ungkap dokter Albert.


Terdiam, hanya itu yang bisa Kezia lakukan. Ya, pada akhirnya ia hanya manusia yang harus menerima apa yang di gariskan tanpa bisa menolak.


****


Suasana rumah sakit sangat sepi, hanya suara hembusan angin yang menerbangkan salju lebat di penghujung desember. Ia memikirkan kembali tulisan di artikelnya. Ternyata, membuat pasien dan keluarga menerima kondisi pasien itu bukan sesuatu yang mudah dan ia mengalaminya. Kezia terpekik di tempatnya, semua ingatan tentang Angga berputar di kepalanya.


Saat ini hampir tengah malam dan  Kezia berjalan sendirian menuju apotek. Ia memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan walau sudah menggunakan coats yang tebal. Di tempatnya berada kini hanya ada 2 orang yang sedang sama-sama menunggu obat disediakan.


Kezia duduk di salah satu kursi tunggu setelah menyerahkan lembaran resep pada petugas apotek. Ia memainkan handphonenya dan tak lama petugas apotek kembali memanggil nama Angga. Kezia menghampirinya dan mengambil obat yang telah disiapkan.


Ia berjalan kembali menuju ruang perawatan Angga yang sudah dipindahhkan. Ia menggenggam kuat-kuat obat yang ada di tangannya dengan sekelumit pikiran yang sulit dijabarkan.  Sesampainya di ruang perawatan Angga, Kezia melihat Angga masih belum tertidur. Di sampingnya ada Mahesa yang menelungkupkan kepalanya di pinggiran ranjang Angga, mungkin ia sudah tertidur karena kelelahan.


“Kamu udah dateng?” sapa Angga melihat kedatangan Kezia.


Wajahnya masih pucat pasi dengan segaris senyum yang terlukis di wajahnya. Sungguh senyuman itu sangat menyiksa Kezia. Ingin rasanya ia mengatakan, "Mengaduhlah kalau kakak kesakitan dan menangislah kalau kakak memang tidak bisa menahan sakitnya. Jangan selalu terlihat baik-baik saja karena itu sangat menyiksa." tapi sayangnya semua kata-kata itu hanya bergejolak di pikiran dan perasaan Kezia.


“Papah ketiduran, kayaknya dia capek banget..” lanjut Angga seraya memandangi Mahesa.


 


Kezia berjalan menghampiri Angga dan duduk di tepian ranjang samping tubuh Angga. “Apa kakak udah enakan?”


“Hem….” Angga mengangguk seraya tersenyum. Ia mengusap bahu Mahesa berulang. Mahesa pun segera terbangun. “Pah, pulang lah. Di sini angga di temeni kezia aja. Papah istirahat di rumah.” tutur angga dengan perlahan. Mahesa menatap Kezia yang ada di sampingnya.


“Iya om, om istirahatlah. Aku temenin kak angga di sini…”


“Baiklah, om pulang dulu. Besok pagi om ke sini lagi…” tukas Mahesa.


Mahesa segera menelpon Hendra dan memintanya untuk mengantarnya pulang. Tinggallah Kezia dan Angga di ruang perawatan yang cukup luas.


Kezia pergi ke kamar mandi ruang perawatan Angga. Ia berencana membersihkan diri sebentar. Kezia menatap wajahnya yang sendu rasanya ia ingin membasuhnya berulang kali agar terlihat lebih segar. Ia tidak ingin Angga melihat mata sembab dan sisa air matanya.


“Kuatlah key, kak angga membutuhkanmu yang tegar.” gumam Kezia menyemangati dirinya sendiri.


Kezia mengeringkan wajahnya perlahan lalu berusaha tersenyum pada dirinya sendiri. Dihembuskannya nafas dengan kasar, membuang semua perasaan negatif yang menghinggapi hatinya seraya berharap semua akan baik-baik saja.


Saat kezia keluar kamar mandi, Angga sudah terlelap. Wajahnya benar-benar pucat pasi. Kezia menyentuh dahi Angga dengan punggung tangannya. Suhunya masih normal. Ia pun mengecek infusan yang masih setengahnya, memastikan menetes dengan lancar. Nafasnya terdengar beraturan dengan diselingi dengkuran halus. Ia pun mengusap sisa keringat dingin di dahi Angga.


"Tidurlah, besok semuanya akan baik-baik saja." lirih Kezia.

__ADS_1


****


__ADS_2