
Suasana ruang perawatan berbeda dengan ruang UGD. Suasananya lebih hening. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar sana.
Saat itu, kezia sedang duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Angga. Setelah di pindahkan ke ruang perawatan, Angga meminta Kezia yang menemaninya. Sementara keluarganya menunggu di ruangan sebelah yang hanya tersekat oleh pintu. Ruangan yang ditempati Angga memang berbeda dengan ruangan lainnya. Ruangan ini khusus di design sesuai permintaan Mahesa. Ruangannya lebih luas, dan keluarga bisa menemani di dalam. Sehingga pasien tidak merasa sendirian.
"Apa yang kakak rasakan sekarang, apa kakak mau makan atau minum?” tanya Kezia sambil menatap hangat Angga.
Angga tersenyum melihat Kezia dengan mata sembabnya.
"Schnucki ku matanya kayak mata panda…” jawab Angga sambil terkekeh.
"IIhhh kakak, malah ngeledek. Rasa panik ku masih belum hilang tapi kakak udah bisa ketawa-ketawa…” dengus Kezia sambil mengerucutkan bibirnya. Angga kembali tergelak melihat ekspresi Kezia. “IIhhh berenti gag ketawanya?!” imbuh Kezia sambil mencubit lembut tangan Angga.
“Aduuduuh.. aku lagi sakit Loh, kok malah kamu siksa…” cetus Angga yang mulai mengakhiri tawanya.
"Mana ada orang sakit ketawa-ketawa…” cetus Kezia sambil memalingkan wajah.
"Ya udaahh, kalo gitu aku pingsan aja, gag akan ngomong gag akan bangun… supaya kamu percaya aku sakit…” sahut Angga sambil memalingkan wajah lalu memejamkan matanya.
"IIhhh jangaannn…. Ayo bangun… ngomong sebanyak yang kakak mau. Ketawa sebanyak yang kakak bisa…” tangan Kezia reflex memalingkan wajah angga ke hadapannya. Angga tersenyum melihat reaksi Kezia.
"Key, besok aku kemo, aku minta apapun yang terjadi sama aku, kamu jangan mendekat…” pinta angga dengan mata berkaca-kaca.
"Loh kenapa? Aku kan pengen nemenin kakak…” timpal Kezia
"Aku gag suka kamu ngeliat aku dalam kondisi menyedihkan.” Jawab Angga dengan segera.
Kezia hanya terdiam. Dia tak tau apa yang harus dilakukannya. Dia tak sabar menunggu besok. Seperti apa kondisi
Angga saat kemo sampai dirinya harus menjauh.
Kezia membelai rambut Angga yang mulai menipis.
"Kakak, pasti lelah. Tidurlah. Aku akan nemenin kakak di sini.”
Angga mengangguk.
"Thanks schnucki… good night…” lirih angga yang kemudian menutup matanya. Kezia membalasnya dengan senyuman.
Kezia berjalan menuju sofa yang berada tidak jauh dari ranjang Angga. Kezia membaringkan tubuhnya. Sejenak Kezia mengecek handphonenya. Bias cahaya handphone mengenai wajahnya. Ada beberapa panggilan dan pesan masuk dari orangtua dan sahabatnya.
” Key , lo gag pulang hari ini? Ada apa?” _Dena
“ Gue pulang besok ato lusa yaa… gag usah kangen gitu…”_Kezia
"Nak, kabari papah kalo kamu perjalanan pulang yaaa… baik-baik di sana..”_Papah
“ Ya Pah, nanti zia kabari yaa… miss u.. titip peluk buat mamah…” _Kezia
Kezia mematikan layar handphonenya. Diliriknya Angga yang sudah mulai terlelap. Kezia terbangun lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berada di ruang tunggu keluarga. Tampak Anna dan Indira yang tertidur di sana. Kezia menjinjitkan kakinya dan mengendap-endap khawatir menganggu yang sedang terlelap.
Pintu kamar mandi berderit pelan. Kezia masuk kemudian menutupnya kembali. Dia berdiri di hadapan sebuah cermin besar. Matanya masih terlihat sedikit sembab. Kezia membasuh wajahnya dengan air dingin, terasa begitu segar. Tak lama kezia kembali ke sofa. Sejenak kezia memandangi wajah Angga dari kejauhan. Wajahnya sudah terlihat lebih tenang. Kali ini dia benar-benar menutup matanya karena tidur.
“Kak, aku gag tau kemo itu seperti apa tidak nyamannya. Tapi aku tau, kakak orang yang sangat kuat.” Lirih Kezia.
Rasa kantuk mulai menerpanya. Kezia membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Tak lama, matanya terpejam dan terlelap begitu dalam.
****
“Schnucki…. Hey schnucki…” Angga menusuk-nusuk pipi kezia dengan jari telunjuknya. Kezia mengerjapkan matanya berulang hingga matanya bisa terbuka lebar. Terlihat Angga duduk di samping Kezia yang masih membaringkan tubuhnya di sofa. Di sebelah kanannya berdiri tiang infus dengan cairan infus yang masih menetes.
"Loh kakak, bisa bangun?” kezia segera bangkit dari tidurnya. Angga hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kezia.
Hari itu, angga sudah terlihat lebih segar. Beberapa lama sebelum Kezia bangun, Angga duduk di sebelah Kezia sambil terus memandangi Kezia yang masih terlelap. Wajah yang cantik dan polos. Begitu menggemaskan, pikir Angga. Hingga Angga membangunkannya karena ingin segera melihat senyum Kezia di pagi hari.
"Bangun lah, kita sarapan dulu… kak Indira dan mamah udah nunggu dari tadi.” Tutur Angga sambil bangkit dan berjalan menuju meja yang ada di ruang tunggu pasien.
__ADS_1
Kezia ikut bangkit, dan berjalan menuju kamar mandi.
"Pagi Tante, kak Indira…” sapa Kezia
"Pagi Key… ayo kita sarapan…” jawab Anna dan indira nyaris bersamaan.
"Aku ke toilet dulu yaa…” Pamit Kezia. Anna dan inidira mengangguk mengiyakan. Bayangan kezia menghilang di balik pintu.
"Kamu mau makan apa nak?” tanya Anna pada Angga yang duduk di hadapannya.
"Ini aja mah” tunjuk Angga pada beberapa menu di hadapannya.
Angga mulai menyendok makanannya dan melahapnya dengan cepat. Anna melirik ke arah Indira yang masih tercengang dengan yang dilakukan Angga. Tidak biasanya Angga terlihat begitu segar dan bersemangat. Biasanya ia akan termenung memandangi makanan yang kemudian menjadi dingin. Selera makannya hilang begitu saja, hingga tubuhnya semakin kurus dan sejak divonis leukemia, baru kali ini Angga makan dengan lahap.
Tanpa terasa air mata meleleh di pipi anna. Serasa ada harapan baru untuk melihat putranya esok hari dan seterusnya.
****
Jam 9 pagi, dokter yang merawat Angga sudah berada di ruang perawatan. Dokter sutomo, begitu mereka memanggilnya. Disampingnya perawat cantik berdiri untuk membantu perawatan Angga.
"Apa Tuan muda sudah siap untuk memulai terapi?” tanya dokter Sutomo dengan senyum hangatnya.
"Sudah dok, silakan dimulai…” sahut Angga dengan yakin.
"Baik, keluarga silakan menunggu di luar, kami akan memulai prosedur terapi…” tutur Dokter Sutomo dengan sopan.
Anna meraih tangan Kezia dan mengajaknya keluar. Mereka menunggu di ruang tunggu keluarga. Sesekali Kezia
masih menoleh ke arah Angga yang mulai membaringkan tubuhnya.
"Ceklek!” Indira menutup pintu dan duduk di salah satu sudut sofa.
"Key… sini duduk..” ajak Indira sambil menarik lembut tangan Kezia yang masih mematung di depan pintu.
"Eemm.. iya kak…” Kezia ikut terduduk, namun fikirannya masih tertuju pada Angga. “ Kak, apa kak Angga akan kesakitan?” tanya Kezia sambil menatap sayu Indira.
Sudah beberapa kali kemo, Angga selalu meminta keluarganya untuk menunggu di luar. Dia tidak ingin melihat wajah panik orang-orang yang disayanginya dan membuat dirinya merasa semakin menyedihkan.
Kezia mengambil handphone yang ada di saku celananya. Dibukannya browser yang dia gunakan untuk mencari info apapun. Kezia membaca beberapa artikel tentang Kemoterapi. Beragam kondisi muncul saat seseorang menjalani kemoterapi. Dari beberapa artikel yang dibacanya, kezia menemukan point penting yang harus dilakukan.
“Hoeekk… Hoeekk…” terdengar suara dari kamar Angga. Kezia segera berdiri dan melihat Angga dari celah kaca yang ada di pintu.
Terlihat Angga sedang muntah-muntah. Sesekali wajahnya meringis seperti menahan sakit. Kezia melirik ke arah Anna dan Indira. Keduanya hanya termenung. Air mata meleleh di wajah kedua wanita cantik tersebut. Indira bahkan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya karena tidak sanggup mendengar suara Angga yang sesekali mengerang seperti kesakitan.
Kezia kembali memalingkan wajahnya mengintip angga dari celah kaca. Angga terkulai lemah. Dia kembali muntah dan menjatuhkan tubuhnya yang sudah tidak bertenaga. Sepertinya tenaganya terkuras habis. Kezia tak kuasa melihat Angga berjuang sendirian. Diambilnya segelas jus dan semangkuk bubur di tangannya. Sebelum membuka pintu, kezia menarik nafas dalam-dalam, ia harus kuat saat menghadapi Angga.
"Jangan berikan tatapan menyedihkan untuk Kak angga key,,, “ gumam Kezia dalam hatinya.
"Key kamu mau kemana?” tanya Indira yang tiba-tiba meraih tangan Kezia.
"Aku mau nemenin Kak Angga kak… aku gag tega ngeliatnya..” Jawab Kezia dengan yakin
"Angga akan mengusirmu key… tunggulah di sini…” terang Indira
"Aku belum mencobanya kak, aku akan mencobanya dulu…” Kezia tak bergeming sedikitpun dengan ucapan Indira.
Indira menoleh ke arah Anna, namun Anna mengangguk mengiyakan.
“Ceklek..”
pintu terbuka. Dengan langkah yakin Kezia menghampiri Angga yang sedang terbaring sambil memegangi ulu hatinya yang terasa sakit karena muntah terus menerus. Titik-titik keringat terlihat jelas di dahi dan wajahnya.
"Ngapain kamu kesini?” tanya Angga sambil memalingkan wajahnya dari Kezia.
"Aku mau nemenin kakak…” Kezia menaruh mangkuk bubur dan jus di meja samping tempat tidur Angga.
__ADS_1
"Kamu keluar, aku mau sendiri.” Jawab Angga tanpa menoleh.
"Tapi kak....”
"Keluar!! Aku bilang kamu keluar!!!” teriak Angga dengan mata melotot. Wajahnya terlihat pucat dan keringat membasahi wajahnya.
"Aku gag akan keluar, aku mau tetep di sini.” Tegas Kezia sambil duduk di samping Angga. Ia tak peduli dengan amarah yang nyaris menguasai angga. “ Ayolah kak, tolong jangan berjuang sendirian… jangan lewatin rasa sakit sendirian. Aku kesini bukan untuk menertawakan kemalangan kakak aku ke sini untuk….”
"Hoeeekkk… Hoekk…” tiba-tiba Angga kembali muntah. Kezia segera membantu Angga duduk agar tidak tersedak. Namun tiba-tiba muntahan Angga mengenai baju Kezia.
"Aku bilang kamu keluar key!” seru Angga sambil mendorong Kezia, namun Karena tenaganya yang hampir habis, tubuh Kezia tidak bergeming.
"Kakak, mau muntah, muntahlah. Mau marah, marahlah. Tapi aku gag akan pergi.” Tegas Kezia. Dengan mata berkaca-kaca Kezia kembali menghampiri Angga. “ Tolong jangan hadapi semuanya sendirian, kami disini ingin bersama kakak…” lirih kezia yang menahan tangis d dadanya.
Ia harus kuat di hadapan angga. Dipeluknya angga dengan erat. Tak ada jarak d antara mereka. Kezia ingin
menguatkan angga, agar tak merasa berjuang sendirian.
Angga tercengang melihat Kezia yang tiba-tiba memeluknya. Ada perasaan hangat yang mengisi dadanya. Untuk pertama kalinya, Angga bersedia menerima rasa sakit asalkan ada seseorang yang bersedia berada di sampingnya. Ada ketulusan dari setiap usapan yang kezia berikan di punggung Angga.
"Schnucki ku keras kepala” bisik Angga yang merasanya tenaganya sudah habis terkuras. Kezia melepas
pelukannya. Kezia melap mulut Angga dengan tanganya. Angga mengambil tangan Kezia lalu mengenggamnya dan menyimpannya di dadanya. “ aku menyedihkan ya key,….” Lirih angga dengan tatapan tajam.
"No, kakak bukan orang yang menyedihkan. Kakak adalah orang kuat, yang Allah kasih sakit karena Allah yakin kakak bisa melewati semuanya dengan baik. Dan aku bangga kakak bisa bertahan walau selama ini berjuang sendiri. Tapi , kedepannya jangan lupa, dibelakang sana ada orang-orang yang menyayangi kakak, yang setiap kakak merasa sakit, merekapun merasakan perihnya. Jadi, biarkan mereka mendampingi kakak. Karena kalian saling menyayangi, maka berbagilah agar sama-sama lebih kuat…” Cerocos Kezia yang mengalir begitu saja, membuat Angga terpaku.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut angga. Matanya terus menatap Kezia dengan hangat.
"Betapa besar kuasa Allah, menghadirkan bidadari ini di kehidupanku…” batin angga.
"Okeeyy, aku mau panggil perawat buat bantu kakak ganti baju yaa…” tutur Kezia sambil melepaskan genggaman tangan Angga.
"Biar Mamah yang bantu nak…” lirih Anna yang ternyata memperhatikan dari balik pintu.
Anna berjalan menghampiri Angga dengan membawa handuk dan baju. Matanya masih meneteskan butiran mutiara yang tak bisa ditahannya. Ditatapnya Kezia lalu diusapnya kepala Kezia dengan lembut. “Terima kasih nak…” lirih Anna pada Kezia. Kezia tersenyum sambil mengangguk.
Tak lama seorang perawat masuk membantu mengganti baju Angga karena infusan masih terpasang di tangannya.
Kezia masuk kekamar mandi dan mengganti bajunya yang terkena muntahan Angga. Tak lama dia berada di dalam toilet dan segera menghampiri Angga yang sudah berganti baju.
"Kakak mau makan bubur?” tanya Kezia yang terduduk di samping Angga.
"Aku mual key…” Angga menggelengkan kepalanya.
"Yaaa.. mual itu karena efek obat, tapi kakak bisa melawannya. Coba Tarik nafas dalam terus buang pelan-pelan… kakak lupain rasa mualnya terus bayangin bubur ini adalah makanan paling enak yang kakak suka.” Tutur Kezia sambil tersenyum dengan memperlihatkan lensung pipinya.
Angga melakukan yang disarankan Kezia. Perlahan angga menutup matanya, merasakan tubuhnya yang lemah mulai rileks. Saat membuka mata, wajah cantik Kezia tepat di hadapannya.
"Kamu berhasil mengsugesti aku schnucki…” tutur angga sambil menyentil dahi Kezia. “ Ayo suapi aku..” pinta Angga sambil membuka mulutnya.
"Sakit tau kak…” cetus Kezia sambil mengusap dahinya yang terasa berkedut.
"Kamu iseng sih nak…” tutur Anna sambil mengusap pucuk kepala Kezia sambil mengecupnya perlahan. Kezia mendongakkan kepalanya dengan wajah masih cemberut.
"Kalo dia udah sembuh, nanti kamu bisa balas dendam key…” tutur Indira sambil tersenyum geli ke arah Angga.
"Okeeyy, sekarang kalian tim nya anak keras kepala ini” sahut Angga sambil tergelak.
Kezia tersenyum puas sambil mengangkat-angkat alisnya yang tersusun rapi ke arah Angga. Angga mencubit
gemas pipi mulus Kezia.
"Kak anggaaaa…. Sakit taauuu….” Kezia kembali mengerucutkan bibirnya, membuat Angga tertawa lebih lebar.
Suasana ruangan yang biasanya sepi, terasa begitu hangat. Perlahan angga sedikit melupakan rasa perih yang biasanya menyusuri aliran darahnya. Rasa mual yang dirasakannya berkurang saat suapan-suapan kecil mengisi rongga perut Angga.
__ADS_1
****
Berasa bawel minta terus like dan komen... Makasih yang pembaca setia... Semoga bisa mengambil sedikit hikmah dari tulusan ini.