My First Love Story

My First Love Story
Episode 144


__ADS_3

Hiruk pikuk sangat terasa di sebuah hotel mewah yang di dekorasi dengan begitu indah. Nuansa putih dan gold menghiasi ballroom yang di sulap bak istana.


Pagi itu, semua terlihat berbahagia karena akad nikah antara Ricko dan Sherly akan segera di gelar. Untuk resepsinya akan dilaksanakan di malam hari. Di acara akad ini hanya keluarga dan kerabat terdekat yang hadir.


Sherly terlihat sangat cantik dengan kebaya tradisional modernnya. Seorang make up artist masih merapihkan dandanannya. Sementara itu Kezia , Dena dan Kania memakai bridemaid berwarna navy dengan variasi model yang cantik. Mereka pun masih sibuk mematut diri di depan cermin. Satu sama lain saling memandang dirinya di cermin.


“Cantik ,,,” decak Kania saat memandangi Kezia yang sedang merapikan rambutnya.


“Makanya key, lo di belakang aja nanti, jangan ke depan sebelum gue yak…” sahut Sherly yang juga ikut memandangi Kezia.


“Kenapa sih, lo jahat banget sher.” gerutu Kezia.


“Ya kalo lo keluar duluan, si Ricko bakal minta lo jadi mempelainya key, mewek deh sherly…” sahut Kania seraya tertawa renyah.


“Euuhh dasar lo ka.” cetus Kezia. Kezia berjalan menghampiri Sherly dan duduk di sampingnya. “Sher, lo jangan mikir sedangkal itu sama ricko. 12 tahun dia bertahan sama lo, ini udah bukan masalah fisik lagi tapi, hati dia emang cuma buat lo. Jangan mikir aneh-aneh deh…” tutur Kezia seraya menggenggam tangan Sherly.


“Ah lo bikin eyeliner gue meleleh nih…” cetus Sherly yang merasa terharu dengan ucapan Kezia. Ia mengipas-ngipaskan tangannya di depan mata.


“Tau nih, lo tuh cantik kali sher… Lo harus banyak bersyukur ricko setia di samping lo padahal lo ngeselin banget.” imbuh Dena.


Mereka memeluk Sherly dengan erat.


“Gue gag nyangka, lo bakalan di sini saat gue akad key…” lirih Sherly seraya mengusap lengan Kezia.


“Iyaa, gue juga bersyukur bisa kembali kumpul bareng kalian…” Kezia menyahuti.


“Uuuhhh sayang kalian…..” ujar Kania yang mengeratkan pelukannya. Mereka terhanyut dalam rasa kebersamaan yang begitu hangat.


Sherly mengambil handphone yang ada di hadapannya. Beberapa foto ia ambil bersama ketiga sahabatnya. Keempatnya tertawa riang. Moment yang sangat langka mereka lalui bersama.


“Hari ini gue mau spam foto lo key di medsos gue.” cetus Sherly dengan jemari yang lincah mengusap-usap layar handphonenya.


“Lah kenapa foto gue sher, kan lo yang married.” protes Kezia.


“Ya karena susah banget nyari foto lo yang beneran liat ke kamera. Banyaknya foto lo candid. Sebel banget semua cakep lagi.” gerutu Sherly.


“Ahahaha, sirik nih manten…” goda Dena.


Kania hanya terkekeh melihat tingkah sepupu kesayaangannya.


*****


Suara MC terdengar menggema di seluruh ruangan. Sherly dan ketiga sahabatnya segera bersiap. Mereka baru akan keluar setelah Ricko menyelesaikan ijab qobulnya.


Sebuah LCD besar menjadi focus pandangan Sherly bersama ketiga sahabatnya. Di sana terlihat Ricko mulai menjabat tangan Irwan yang menjadi wali pernikahan bagi Sherly. Lantunan kalimat ijab qobul dengan lantang diucapkan oleh Ricko, hingga semua berseru “SAH!!!”


Sherly meneteskan air mata karena haru. Ia mengucap syukur dalam-dalam. Hari ini ia telah resmi menjadi Nyonya Andricko Wisnu. Seluruh jiwa dan raganya hanya milik Ricko seorang.


Sherly berjalan menuju tempat akad. Di sampingnya berdiri Dena dan Kezia yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun bridemaid-nya. Sementara Kania, berjalan perlahan di belakang ketiga sahabatnya karena perutnya terasa semakin berat. Semua mata tertuju pada mempelai wanita dengan ketiga sahabatnya.


Dari kejauhan Ricko memandangi Sherly dengan wajah bahagianya.


“Liat, laki gue ganteng bangeettt….” gumam Sherly seraya tersenyum gemas.


“Jaim dikit beg*k!” protes Dena yang merasa geli dengan tingkah konyol sahabatnya.


Sementara Kezia hanya terkekeh pelan mendengar perbincangan kedua sahabatnya. Di samping Ricko, berdiri Arland yang terlihat gagah dengan setelan jasnya, memandang Kezia dengan senyum di bibirnya. Kezia memalingkan wajahnya dan melihat sudut lain di depannya. Gelagat Arland benar-benar mengganggunya.


Rangkaian acara tradisional terus berlangsung. Mereka mengikuti prosesinya dengan khidmat. Acara terakhir yang juga di tunggu oleh kedua sahabat Sherly adalah lempar bunga. Para lajang tampak antusias menunggu Sherly melempar bunga dan bersiap untuk menangkapnya.

__ADS_1


“3.. 2.. 1… lempar!” seru Mc dengan semangat.


“Hap!” Kezia berhasil menangkap bucket bunga yang di lempar Sherly.


“Okeeyy… ini dia calon pengantin berikutnyaa…. Siapa ya kira-kira calon mempelai yang beruntung bisa bersanding dengan gadis secantik ini…” ujar sang MC menggoda Kezia.


Suasana riuh seketika dengan suara tawa dan suitan. Kezia terlihat salah tingkah. Ia segera pergi menghampiri bumil yang sedang menikmati pudding di tangannya.


“Aheeyy… ciee….” goda Kania saat melihat Kezia datang menghampirinya.


“Apaan sih ka…” kilah Kezia yang tersipu malu.


“Yah, gue bontot dong yaa…” protes Dena dengan raut kesalnya.


“Dapet bunga gag jaminan married duluan kali na…” ujar kezia berusaha menenangkan hati sahabatnya.


“Hahahha.. lo duluan juga gue gag masalah kali key…” ujar dena dengan segera. Kezia hanya tersenyum.


Lagi-lagi, Kezia melihat Arland yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Arland bersandar pada dinding dengan segelas minuman di tangannya. Tangan kirinya ia masukan ke dalam saku celana. Terlihat sangat tampan. Kezia segera memalingkan pandangannya. Ia tak ingin kembali terlarut.


*****


 


Selesai akad, Kezia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Dari depan pintu terdengar tawa martin dan Fritz yang bersahutan. Si kecil sean tampak asyik dengan mainnanya.


“Kamu udah pulang sayang?” tanya Eliana yang sedang berada di meja makan.


“Iya mah… nanti sore Zia ke sana lagi buat ngehadirin pestanya.” sahut Kezia.


Eliana mengangguk paham.


Martin bisa melihat arti tatapan Fritz kearah putrinya.


“Kalau kamu akan mengejarnya, kejar lah,,, saya tidak ada masalah…” ucap martin seraya menepuk bahu Fritz.


Setelah perbincangan Martin dengan Eliana semalam, mereka sampai pada keputusan bahwa kemungkinan hubungan kezia dan Arland sudah berakhir. Mereka tidak ingin kezia terus-terusan terlarut, dan melupakan  hitungan usianya yang semakin bertambah.


Kali ini, asalkan putrinya sudah menemukan calon pendamping yang cocok, ia akan menyetujuinya. Memang terdengar sedikit putus asa, namun iapun tidak ingin membiarkan putrinya hidup seorang diri dengan usia yang cukup matang. 29 tahun sudah bukan usia yang cocok sendirian, ia harus sudah memiliki suami atau anak, begitu pikir martin dan Eliana.


Fritz tertegun mendengar ucapan martin. Selama ini bukan ia tidak pernah mengejar Kezia, hanya kezia yang terus memberi batas tegas hubungan keduanya. Hubungan mereka terhenti dengan status sebagai sahabat. Hal yang menyenangkan sekaligus menyedihkan bagi fritz yang selalu berharap bisa berada di posisi lain di hati Kezia. Namun sayangnya, entah kapan hal itu akan terjadi, Fritz pun tak bisa membayangkannya.


****


Fritz sudah menunggu Kezia di ruang keluarga dengan pakaian yang rapi. Penampilan yang jarang diperlihatkan oleh Fritz selain saat wisuda. Polo shirt dan celana jeans adalah setelannya sehari-hari bahkan saat ia bekerja. Ia tidak terbiasa memakai pakaian formal apalagi jas lengkap seperti saat ini.


Kali ini ia bersedia memakai setelan jas karena akan menemani Kezia ke resepsi pernikahan Sherly. Awalnya Kezia akan berangkat sendiri, namun Martin merasa khawatir karena kemungkinan Kezia akan pulang larut sehingga ia meminta Fritz untuk menemani putri semata wayangnya. Dan bagi Fritz, ini adalah sebuah kesempatan untuk lebih dekat dengan Kezia.


Fritz mengetuk-ngetukan jarinya di atas sofa. Ia terlihat tidak sabaran menunggu gadisnya keluar dari kamar. Perlahan terdengar derap kaki yang menuruni satu persatu anak tangga. Fritz segera berdiri dan menunggu Kezia di anak tangga terakhir.


Terlihat Kezia berjalan perlahan. Ia terlihat begitu anggun dengan gaun elegan berwarna abu keunguan membalut  kulitnya yang putih dengan paduan svarosky indah di dadanya. Rambut hitamnya di biarkan terurai indah. Mata Fritz enggan untuk berkedip melihat gadis jelita di hadapannya.


Jika ada kata lain yang lebih dari cantik, maka kata itu Fritz tujukan pada gadis yang kini menggenggam tangannya. Eliana dan Martin terlihat begitu terharu melihat Kezia yang berjalan bersama Fritz. Polesan make up sederhana malah membuatnya terlihat begitu cantik alami.


“Apa aku pernah bilang kalau kamu sangat cantik?” goda Fritz yang tersenyum penuh arti.


“Nope!” seru Kezia seraya menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.


“Hah, mungkin kamu terlalu menakjubkan sampai aku tidak ada kesempatan meski hanya untuk berdecak kagum.” tutur Fritz dengan sepenuh hati.

__ADS_1


“Kamu berlebihan, ayo kita berangkat.” tukas Kezia. Fritz mengangguk dengan segera.


Perjalanan menuju hotel tempat resepsi tidak lah terlalu jauh. Hanya kemacetan yang membuat waktu terbuang percuma. Selintas Kezia melihat bangunan apartemen tempat tinggal Arland yang tidak jauh dari hotel. Lampunya masih menyala dengan cahaya redup.


“Aku mikirin apa sih!” dengus Kezia dalam hatinya saat wajah Arland melintas begitu saja dipikirannya.


Kezia segera mengarahkan setirnya ke sebelah kiri dan memasuki hotel tempat resepsi. Suasana sudah begitu ramai dengan tetamu undangan yang hadir. Ricko dan Sherly sama-sama dari keluarga kaya raya dengan bisnis keluarga yang tengah berada di puncaknya. Tamu yang hadir pun bukan orang sembarangan. Beberapa selebritis pun ikut hadir memeriahkan acara.


Alunan musik mengalun indah. Kezia dan Fritz melangkahkan kakinya memasuki tempat berlangsungnya resepsi. Beberapa pasang mata tampak terpukau melihat kedatangan pasangan Kezia dan Fritz. Kezia berjalan dengan anggun di temani Fritz yang terlihat sangat gagah di sampingnya.


“Kezia bawa siapa yang?” bisik Ricko pada Sherly.


“Gebetannya lah… Emang dia gag boleh move on? Inget ya, kezia itu banyak yang ngejar, cuma laki-laki yang beneran beruntung yang bisa dapetin dia.” cetus Sherly dengan sinis.


Sherly sedikit banyak sudah mengetahui permasalahan Kezia dan Arland dari Ricko. Ricko terpaksa menceritakannya pada Sherly dengan harapan Sherly bisa membantunya untuk meyakinkan Kezia agar menunggu Arland menyelesaikan masalahnya.


Namun, wanita mana yang akan terima ketika label “Diselingkuhi” melekat pada sesamanya, apalagi teman dekatnya. Tentu mereka akan lebih mendahulukan perasaannya di banding logika.


“Key…” sebuah suara bergema di ruang telinga Kezia. Gadis manis berbadan mungil berdiri dihadapannya. “Fritz ikut?” tanya Dena dengan raut wajah yang tidak bisa di jelaskan, karena ia melihat Fritz datang mendampingi Kezia.


“Iya, kasian dia sendirian di hotel.” sahut Kezia.


Fritz yang tidak terlalu paham dengan  pembicaraan kedua gadis di hadapannya. Ia hanya tersenyum melihat Dena yang sebelumnya terlihat kucel namun kali ini menyilaukan matanya.


“Oohh…” sahut Dena dengan malas.


Kezia merasakan ada gelagat yang berbeda dari Dena, mungkin ia merasa kecewa.


“Gue ke toilet bentar, lo mau kan temenin fritz?” tanpa di duga Kezia meminta Dena untuk menemani Fritz.


“Key, lo jangan mainin gue deh…” bisik Dena yang merasa kesal karena tiba-tiba Kezia datang bersama Fritz dan berhasil mencuri perhatian banyak orang, namun tiba-tiba saja meninggalkan Fritz di hadapannya.


“Siapa yang mainin lo na, ini kesempatan lo beg*k!” cetus Kezia seraya tersenyum.


Dena tersipu. Ya beginilah Kezia, selalu penuh dengan kejutan.


Kezia berlalu meninggalkan Fritz dan Dena. Ia berjalan sendirian menuju toilet. Beberapa laki-laki yang berpapasan dengan Kezia, terlihat mengajaknya berbincang. Walau merasa sangat malas, ia tetap berusaha bersikap sopan pada laki-laki yang berusaha menjabat tangannya.


“Permisi, saya sudah di tunggu.” Hanya itu jawaban Kezia saat setiap laki-laki yang mencoba mengajaknya berkenalan.


“Aku yang jadi ratunya kenapa si key yang jadi pusat perhatian sih yang?” keluh Sherly yang merasa sedikit iri. Ricko terkekeh mendengar pertanyaan istrinya.


“Ya justru karena kamu ratunya, makanya gag ada yang berani ganggu kamu, apalagi ada raja setampan aku di samping kamu.” sahut Ricko menenangkan istrinya.


“Cakepp… Makasih pujiannya yang…” sahut Sherly seraya mengecup pipi Ricko.


“Hemm… mulai ngegodain yaa… Nanti malem, siap-siap aku makan yaa…” bisik Ricko dengan gemasnya.


“Mohon maaf bapak, malam ini bapak puasa dulu yaa,, karena ibu sedang periode merah nih pak…” cetus Sherly dengan santai.


“Beneran yang?” Ricko terlihat tak bisa terima.


Sherly hanya mengangguk seraya tersenyum meledek  suaminya.


“Astagaa… Kenapa kita gag ngitung ke waktu mens kamu sih yang?” protes Ricko.


“Aku udah ngitung yang, tapi aku kayaknya sedikit stress, jadi mens nya dateng lebih dulu…” kilah Sherly.


Ricko hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Sepertinya kesempatannya bukan malam ini. Sabar ya Rickoo...

__ADS_1


*****


__ADS_2