
“Sayang, kamu udah pulang nak..” Anna menyambut Angga di mulut pintu rumahnya.
“Iya mah… Kenapa udah rapi aja, emang mau ada acara?”
Suasana rumah tampak rapi dan cantik dengan hiasan bunga. Makanan yang sepertinya untuk jamuan tersaji dengan lengkap.
“Iya sayang, kita akan kedatangan tamu. Rekan bisnis papahmu.” Sahut Anna seraya mengusap dada Angga.
“Tapi mah, aku ada urusan sebentar.” Angga melihat jam yang melingkar di tangannya.
“Sayang, tunda lah sebentar urusanmu. Tamu yang datang malam ini sangat penting…” rajuk Anna. Angga menatap wajah mamahnya yang seperti tidak ingin ada penolakan dari Angga.
“Hem ya sudahlah, angga mau mandi dulu…” tukas Angga sambil berlalu meninggalkan Anna.
Seraya berlalu, Angga berusaha menghubungi nomor Cellina tapi beberapa kali tersambung, Cellina tidak juga menjawab panggilannya.
"Sayang, aku akan sedikit terlambat. Bisakah menunggu sebentar?" tulis Angga pada pesan yang ia kirim pada Cellina. Cukup lama Angga menunggu jawaban Cellina tapi tidak kunjung ada balasan. Ia bergegas ke kamar mandi, rasanya ia harus segera menemui Cellina.
Sementara itu, di ruang tamu sudah mulai ramai. Tamu yang di maksud tengah berbincang hangat dengan Anna dan Mahesa. Sepasang suami istri dengan anak gadisnya yang cantik.
“Terima kasih tuan mayyer, anda sudah sudi memenuhi undangan kami.” ungkap Mahesa dengan senang hati.
“Tentu tuan mahesa. Kami pun merasa terhormat bisa bertemu secara langsung dengan keluarga anda. Tapi dimana putra anda?” tanya tuan Mayyer dengan sopan.
“Dia sedang bersiap. Mohon tunggu sebentar. Apa ini putri anda? Dia sangat cantik…” puji Mahesa dengan tulus.
Namun Nona mayyer tersebut malah memalingkan wajahnya dari Mahesa. Mahesa dan Anna saling berpandangan. Indira pun yang melihatnya ada rasa tidak suka dengan sikap nona cantik ini.
“Nak, jaga sikapmu. Itu tidak sopan.” bisik Nyonya Mayyer.
“Apa peduli kalian dengan sikapku. Kalian menyuruhku datang ke sini pun dengan paksaan.” ketus Nona Mayyer yang dengan sengaja melantangkan suaranya.
“Tuan, kami pikir putri anda sudah setuju…” tutur Mahesa sambil menatap Tuan Mayyer.
“Setuju apanya? Mana ada wanita cantik dan terkenal sepertiku mau dijodohkan dengan anak anda yang penyakitan dan menunggu waktu untuk mati!” seru Nona Mayyer dengan kasar.
“Astaga…” lirih Anna yang kemudian terhuyung. Ia tidak menyangka gadis secantik ini bisa mengeluarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.
“Dengar ya kalian, sebanyak apapun harta kalian, aku tidak mau hidup menjadi pelayan laki-laki yang penyakitan. Kenapa kalian tidak sewa saja pelayan yang banyak untuk mengurus putra kalian!” seru Nona Mayyer sambil berkacak pinggang.
Tanpa di sangka Angga melihat kejadian tersebut. Angga menyadari wanita di depannya yang sedang memaki kedua orang tuanya adalah Cellina Mayyer, kekasihnya.
“Nona Mayyer, jaga sikap anda!” gertak Indira dengan mata membulat.
“Apa? Kau berani padaku? Mana putra mahkota kalian, apa dia sedang berbaring dan merintih kesakitan? Cih, menyedihkan sekali!” lanjut Cellina dengan seringai sarkasnya.
“Cukup! Ada apa ini?” gertak Angga. Semua mata tertuju pada Angga.
“Siapa yang kalian maksud? Dan Cellina , apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Angga dengan kebingungan.
“Ryan, kamu sedang apa di sini?” Cellina balik bertanya. “Jangan bilang kalau putra mahkota kalian itu dia?” tunjuk Cellina pada Angga.
“Benar, dia putra kami.” sahut Mahesa dengan lemas. Rasanya ia sudah tidak punya tenaga untuk menimpali ucapan lancang Cellina. Mendapati Angga sakit saja sudah menjadi pukulan berat bagi Mahesa dan keluarga apalagi mendapat makian dari gadis yang akan menjadi menantunya.
“Hah, lucu sekali. Bahkan dia sendiri tidak tau kalau sedang dijodohkan dengan ku. Dan jangan-jangan dia tidak tau kalau dia penyakitan. Ryan kita putus, aku tidak mau punya pacar penyakitan! “ lanjut Cellina tanpa bisa dihentikan.
“Cellina , kamu sudah keterlaluan. Ayo kita pulang!" seru tuan Mayyer dengan wajah memerah karena malu. "Tuan Mahesa, tolong maafkan kami dan putri kami…” tutup tuan Mayyer.
Mahesa hanya mengangguk seraya menahan amarah dalam dadanya.
“Cellina tunggu!” teriak Angga tapi Cellina tak menghiraukannya. Ia melangkah pergi dengan wajah angkuhnya. “Ada apa ini? Sebenarnya aku sakit apa?” Angga menatap kedua orang tuanya dan Indira bergantian.
“Duduklah sayang, biar mamah jelaskan…” tutur Anna dengan air mata berurai.
“Jadi selama ini kalian sudah tahu pentakitku dan kalian menyembunyikannya? Hebat! Kalian benar-benar hebat!” Angga menatap Anna dengan penuh kekecewaan.
__ADS_1
“Angga, papah tidak pernah bermaksud untuk menyembunyikan apapun. Hanya saja, kami menunggu waktu yang tepat…” lirih Mahesa.
Angga tidak menanggapi. Ia mengusap wajahnya kasar dengan amarah yang berkumpul di dadanya.
“Ga, lo duduk dulu. Dengerin dulu penjelasan mamah sama papah.” Indira meraih tangan Angga tapi Angga mengibaskannya.
“Mana hasil pemeriksaannya? Mana?!” teriak Angga.
Dengan tangan gemetar Mahesa menyerahkan berkas hasil pemeriksaan Angga. Angga segera mengambilnya dan melihatnya dengan seksama. Tanpa terasa, kaki Angga menjadi begitu lemah, hingga ia jatuh terduduk. Angga menatap satu persatu orang yang disayanginya. Lalu tersenyum.
“Rahasia sebesar ini kalian sembunyikan dariku. Terima kasih.” lirih Angga dengan mata merah dan berair. Tenaganya bahkan tidak cukup kuat untuk meluapkan kemarahannya. Bukan pada orang-orang di sekitarnya tapi lebih pada kemalangan dirinya sendiri.
Angga berusaha berdiri dengan kedua kakinya, namun kakinya benar-benar lemah. Indira menghampirinya, namun segera ia kibaskan.
"Lepas!!!!" teriak Angga. Angga tetap berusaha berdiri. Dengan tangan gemetar berpegangan pada pinggiran sofa, dan
“BRUG!” Angga terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Flash Back Off
***
“Ya tuhan… Kenapa tugas kita tidak selesai-selesai…” gerutu Fritz yang sedang merapikan lembaran kertas yang berserakan.
“Ayolah Fritz, cepat sedikit. Kalau tidak dosen pembimbing kita akan segera berangkat keluar negri.” Seru Kezia yang sudah menunggu di pintu perpustakaan.
“Iya bawel. Tunggu sebentar!” timpal Fritz yang segera memasukkan tugasnya ke dalam map.
Dengan cepat mereka keluar dari perpustakaan dan menuju mobil Fritz yang terparkir di halaman kampus.
“Jam brapa dia berangkat?” Fritz menyalakan mesin mobil denagn tergesa-gesa.
“45 menit lagi. Sekarang dia sudah ada di bandara.” Sahut Kezia yang tak lepas kontak dengan dosen pembimbingnya yaitu Mr clifton.
Mereka masuk ke salah satu restoran cepat saji di bandara dan mulai membahas tugas akhir mereka. Tanpa terasa, hampir genap 10 tahun berlalu begitu saja. Sebentar lagi mereka akan menyandang dokter spesialis onkology sesuai cita-cita mereka.
Mr Clifton membuka-buka tugas akhir Kezia dan Fritz bergantian. Wajahnya terlihat tersenyum.
“Bagus, minggu depan kalian bisa ikut sidang akhir.” Seru Mr Clifton sambil menandatangani berkas bimbingan.
“Terima kasih prof…” sahut Kezia dan Fritz bersamaan.
“Buat lah nilai yang sempurna, agar kalian bisa aku rekomendasikan.” tantang Mr Clifton yang sudah sangat terbiasa men-challenge kedua mahasiswa di hadapannya.
“Baik prof…”
“Dan kezia, ajuan artikelmu bulan lalu telah disetujui. Kita akan kembali sama-sama berangkat ke Berlin 3 hari lagi untuk seminar kesehatan. Jadi bersiaplah.” lanjut Mr Clifton seraya mengacungkan jempolnya.
“Ya tuhan… terima kasih Prof.. Benar-benar terima kasih.” Kezia berseru denagn senang. Mr Clifton tersenyum bangga pada Kezia.
Selesai dengan bimbingan, Mr Clifton segera berangkat untuk mengejar urusannya.
“Ya tuhan… aku benar-benar bersyukur, tinggal selangkah lagi kita akan selesai.” ungkap Kezia seraya menyatukan kedua tangannya di dada.
“Benar, tinggal selangkah lagi. Terima kasih key, sudah menemaniku selama hampir 10 tahun ini. Kalau tidak kamu temani, mungkin aku akan pindah fakultas.” tutur Fritz dengan tulus.
“Tidak, kamu sudah berusaha sangat keras. Dan ini buah yang berhak kamu petik.” timpal Kezia sekali lalu menepuk bahu Fritz.
Fritz tersenyum senang. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan sampai pada titik ini. Titik dimana ia bisa membanggakan ayahnya terlebih dirinya sendiri. Ternyata ia mampu mewujudkan mimpinya karena memiliki partner meraih mimpi yang begitu menyemangatinya.. Masih teringat jelas saat ia dan Kezia sama-sama kelelahan di waktu praktek klinis, sama-sama menahan ngantuk demi menjaga pasien dan mengobati mereka kapanpun mereka perlu atau rela melupakan jadwal makan demi mengejar kompetensi pendidikannya. Rasanya itu baru kemarin tapi ternyata sudah satu dasawarsa.
****
“Ya kak…” sahut Kezia saat nama Angga terpampang di layar ponselnya.
__ADS_1
“Hari ini ada mamah, papah sama kak Indira, kamu nginap di rumah ya”
“ Baiklah, aku langsung ke sana.” Kezia segera menutup telponnya.
“Siapa?” tanya Fritz yang duduk di samping Kezia.
“Kak angga. Dia memintaku menginap di rumahnya.”
“Aku antar ya…”
“Iyaa, terima kasih.”
Fritz memutar balik mobilnya dan mengganti arah menuju rumah Angga. Beberapa tahun ini sikap Angga memang sudah lebih baik pada Fritz. Namun terkadang memang masih memandang Fritz sebagai musuhnya. Perjalanan yang mereka lalui tidak lah lama dan segera sampai di rumah megah milik keluarga Wibawa.
“Kamu gag masuk dulu Fritz?” tawar Kezia.
“Tidak usah, papah menungguku di rumah sakit. Aku harus segera ke sana.”
“Baiklah, terima kasih. Sampaikan salamku untuk dokter albert.” timpal Kezia seraya melambaikan tangan.
“Tentu, sampai jumpa.” Fritz membalasnya dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fritz memang tidak berubah, ia selalu tergesa-gesa dan kadang lupa dengan keselamatannya sendiri. Ia selalu mengatakan,
"Kalau aku sakit, aku punya partner dokter yang hebat. Jadi kenapa harus risau?"
Kezia segera masuk ke rumah mewah tersebut dengan di sambut Sarah. Suasana rumah masih sama, sejuk dan rindang. Semenjak kuliah memang jarang sekali Kezia main ke rumah Angga kecuali kalau ada keluarga Angga yang datang dan memintanya menginap. Dan hampir 2 tahun ini Kezia tidak main ke rumah karena kesibukannya.
“Mimaaa…..” teriak seorang anak saat melihat kedatangan Kezia.
“Hayy Sean…. Lihat kau tambah tinggi saja…” seru Kezia seraya memeluk Sean.
Sean adalah anak Indira satu-satunya. Anak laki-laki berusia 5 tahun ini tinggal bersama Indira dan suaminya di Berlin. Mereka mengurus bisnis café yang tersebar di kota Berlin. Dan sejak Sean mulai bisa bicara, ia memanggil Kezia dengan panggilan Mima dan Angga dengan panggilan dada.
“Mima, aku sangat merindukanmu.” rengek sean.
“Mima juga sangat merindukanmu. Dimana momy, dady, nena dan popo?”
“Mereka ada di dalam dan akan makan malam… Ayo mima ikut, dada juga sudah pulang…” cerocos Sean sambil menarik tangan Kezia.
“Okey-okey,, jalan pelan-pelan.” tutur Kezia sambil mengikuti langkah kecil Sean.
“Momy, mima sudah datang… Sean mau makan dengan mima…” seru Sean dengan ceria.
“Boleh sayang. Tapi biarkan Mima duduk dulu yaaa…” timpal Indira dengan hangat. Sudah biasa, saat ada Kezia, Sean akan lupa siapa ibunya. Ia lebih dekat dengan Kezia karena bisa bermanja.
Sean mengangguk dan duduk di samping Kezia.
“Kamu apa kabar key? Lama gag ketemu tambah cantik aja” goda Indira sambil melirik Angga.
Indira memang benar, Kezia tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik dan seksi. Wajahnya begitu menawan seolah menjadi perpaduan sempurna dengan tubuhnya yang tinggi semampai namun tidak terlalu kurus.
“Kabar baik kak… Kakak, tante dan om apa kabar?”
“Baik sayang… Ayo kita makan dulu, nanti ngobrol-ngobrol lagi.” tutur Anna seraya mengambilkan makanan favoit Kezia yang ia bawa dari Indonesia.
Suasana makan begitu hangat. Rengekan Sean yang ingin di suapi menjadi pelengkap suasana. Angga sesekali tersenyum melihat interaksi Kezia dan Sean yang begitu dekat.
Selesai makan mereka beralih ke ruang keluarga. Kezia memilih duduk di karpet karena Sean mengajaknya merakit robot-robotan. Selesai mandi Angga pun bergabung dengan Sean dan Kezia.
“Mima mandi dulu ya sean, sean sama dada dulu…” tutur Kezia sambil mengusap kepala Sean dengan lembut.
“Ya mima, jangan lama-lama…” sahut Sean dengan senyum lebar memperlihatkan deretan gigi ompongnya.
Sean memang sangat menggemaskan. Ia adalah teman yang menyenangkan untuk berbagi tawa dengan celotehan khas anak kecilnya.
****
__ADS_1
Hay hay hay.... Makasih buat yang masih baca... Jangan lupa untuk terus dukung dengan like komen dan sumbang koin atau vote nya yaaa... Terima kasih...