My First Love Story

My First Love Story
Episode 74


__ADS_3

Otak Kezia sepertinya sudah di peras hingga kering saat keluar dari ruang guru usai mengerjakan ujian susulannya. Siapa sangka para sahabat Kezia sudah menunggunya di depan ruang guru.


“Lo udah selesai?” sambut Sherly.


“Udah, baru aja…”


“Sekarang mau langsung pulang apa gimana?” Dena ikut mendekat


“Gue telpon papah dulu, soalnya mau langsung ke tempat terapi…”


“Lo tau tempat terapinya key?” Kania ikut ambil suara.


“Yaaa… gag jauh dari rumah sakit.”


“Kita anter aja gimana?” tawar Sherly


“Gag usah, kalian kan harus belajar, gue gag mau ngerepotin.” Kezia merasa kalau dirinya mulai merepotkan teman-temannya.


“Siapa yang ngerasa di repotin sih, gag ada key, iya kan temen-temen?” sahut kania


“Iyaa,,, nggak ngerepotin kali…. Yuk gue anter aja, kalian ikut gag?” Tanya sherly pada Ricko dan Arland.


“Iyaa kita ikut… iya kan land?” Tanya Riko


“Iya dong, pasti kita temenin…” sahut Arland.


“Makasih temen-temen…..” Kezia merasa begitu terharu dengan perlakuan sahabatnya, mata terlihat berkaca-kaca.


“Keeyyyyy….” Dena memeluk Kezia yang diikuti oleh Kania dan sherly.


“Boleh ikutan gag nih?” Tanya Ricko dengan senyum jenakanya.


“Tuh peluk tiang bendera!” sahut Sherly dengan melotot.


“Busyet yang,galak banget kamu….” Keluh Ricko sambil tertawa lebar.


Namun Sherly hanya mendelikkan matanya.


“Makan tuh tiang bendera, “ gumam Arland sambil terkekeh.


“Sialan lu!” sahut Ricko sembari menyenggol lengan Arland sengaja.

__ADS_1


****


Seperti inilah suasana tempat terapi, tenang, hening dan tidak banya orang berlalu lalang. Terlihat beberapa pasien yang sama-sama menggunakan kursi roda dan beberapa sudah menggunakan tongkat. Kebanyakan di antara mereka sudah berusia di atas 50 tahun. Kezia menghela nafas dalam-dalam melihat pemandangan di depannya.


“Key?” Dena bisa melihat kegelisahan di wajah Kezia.


“Gue baik-baik aja na…” ujar Kezia tiba-tiba.


Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Namun tentu saja Dena sadar, sahabatnya tidak sedang baik-baik saja.


Tak lama Arland membukakan pintu dan menyiapkan kursi roda di samping pintu yang sudah terbuka. Eliana yang melihat kedatangan Kezia segera menghampirinya. Arland menggendong Kezia dengan tangan kekarnya dan mendudukannya di kursi roda.


“Makasih…” ujar Kezia seraya tersenyum. Arland terangguk dengan lengkungan manis dibibirnya.


“Ayo nak, kita segera masuk. Dokternya udah nunggu…” tutur Eliana.


Dengan perasaan berdebar Kezia mengiyakan ajakan Eliana.


“Key, kita nunggu di kantin situ yaa…” Kania menunjuk kantin klinik yang tidak terlalu jauh.


Kezia mengacungkan ibu jarinya sebagai respon.


Eliana mulai mendorong kursi roda Kezia masuk ke dalam klinik. Di sana sudah menunggu seorang dokter yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter Amel. Di sampingnya ada seorang perawat. Mereka berada di dalam ruangan dengan sebuah tempat tidur dan beberapa alat terapi.


“Coba untuk rileks ya de…” pinta dokter Amel dengan lembut. Kezia hanya terangguk.


Beberapa kali perawat memijat kaki Kezia dan menekuk-nekuknya. Sementara dokter Amel menyiapkan alat yang disimpan di samping Kezia. Setelah cukup lama di massage, perawat membantu Kezia untuk berbalik dan melakukan terapi inframerah di bagian punggung dan pinggang Kezia. Sinarnya terasa hangat namun terkadang ada sedikit rasa sakit.


“Dokter apa terapi seperti ini juga bisa dilakukan di rumah?” Tanya Kezia di sela terapi.


“Di rumah kamu bisa mencobanya dengan mengompres tulang belakang dengar air hangat, namun jangan melakukan pemijatan, karena takutnya ada cedera tulang belakang dan tambah parah. Jadi tujuannya hanya untuk melancarkan sirkulasi darah saja…” terang dokter Amel.


Kezia mengangguk paham.


Setelah cukup lama diberi sinar infra merah, Kezia kembali di posisikan duduk. Paha dan tungkainya di pasangi beberapa elektroda lalu mulai dinyalakannlah alat terapi. Pahanya terasa hangat dan otot-ototnya terasa bergetar. Sementara tungkainya belum merasakan apapun.


“Dokter, tungkai kaki saya tidak merasakan apapun. Apa itu berarti saya akan terus duduk di kursi roda?” Tanya Kezia yang mulai muncul fikiran aneh-aneh di kepalanya. Dokter Amel tersenyum mendengar pertanyaan Kezia.


“Terapi itu sebuah proses. Lama atau tidaknya, tidak hanya bergantung pada kondisi fisik saja, tapi juga mental yang di terapi. Belum merasakan apa-apa, bukan berarti gag akan sembuh. Ini sebuah proses, sabarlah, kelak kamu bisa kembali berlari…” terang dokter Amel sambil mengusap bahu Kezia.


Ada perasaan hangat yang mengisi rongga dada Kezia mendengar ucapan dokter Amel. Semangatnya kembali bangkit. Ya, hanya kesabaran yang harus ia pupuk dalam dirinya.

__ADS_1


Di balik jendela, ada seseorang yang sedari tadi terus memperhatikan Kezia yang sedang terapi. Perasaannya ikut gelisah namun tidak ingin beranjak. Ia ingin menemani kezia melewati semuanya seraya berdo'a dalam hatinya untuk kesembuhan Kezia. Ya, dialah Arland.


Sesi terakhir adalah belajar menapakkan kaki. Kezia di bantu berdiri oleh perawat , berpegangan pada pagaran besi yang berada di samping kiri dan kanan tubuhnya. Dengan kuat-kuat ia menggenggam pagaran besi tersebut.


“Apa hawa dingin dari lantai terasa atau tidak di telapak kaki ?” Tanya dokter Amel. Kezia menggelengkan kepalanya.


“Saya hanya merasa kaki saya sangat berat” jawab Kezia. Dan,


“BRUG!!!” Kezia terjatuh di lantai.


“Sayang!” teriak Eliana yang melihat Kezia terjatuh.


Eliana segera mendekati Kezia dan berniat membantu Kezia berdiri.


“Jangan mendekat mah, di sini ada dokter dan perawat. Biarin zia berusaha…” tutur kezia dengan air mata mengalir tanpa isak.


“Kezia kamu lemah sekali… ayo berdiri!!!” batin Kezia menggema di rongga dadanya.


Dokter Amel mengangguk pada Eliana, mengiyakan ujaran Kezia. perawat kembali membantu Kezia berdiri. Kezia berdiri perpegangan lebih kuat lagi agar tidak terjatuh. Walau lututnya sudah memakai pelindung, tetap terasa sakit seperti tersengat listrik saat menghantam tembok. Keringat bercucuran di wajah dan dahi Kezia. Arland yang sedari tadi melihat Kezia, hanya bisa mengeratkan genggamannya. Ingin sekali berlari menghampiri Kezia dan berada di sampingnya.


Kezia menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba mengosongkan pikirannya. Matanya terpejam, mencoba merasakan ujung kakinya. Namun masih tetap tidak terasa apa-apa. Hanya pangkal pahanya yang terasa sakit dan pegal.


“Kalo cape, kamu bisa duduk dulu…” tawar dokter Amel.


“Sebentar dok, sebentar lagi…” sahut Kezia dengan suara bergetar.


Kezia mengeratkan kembali genggamannya. Dilihatnya kedua kakinya yang belum menapak dengan benar.   Perawat di sampingnya membenarkan posisi kaki Kezia.


“Satu aja sus, satu lagi saya mau coba sendiri…” pinta kezia. perawat sempat menatap dokter Amel, namun dokter Amel hanya mengangguk.


Kezia kembali berkonsentrasi, berusaha memposisikan telapak kaki kanannya dengan benar. Perlahan Kezia menggerakan pangkal pahanya dan ya, Kezia berhasil memposisikan telapak kaki kanannya dengan benar. Kezia tersenyum dengan puas. Ada rona kebanggaan yang memancar di wajahnya. Tapi tangannya sudah hampir menyerah dan lagi-lagi,


“BRUG!!!” Kezia terjatuh.


Kali ini dokter Amel mendekati Kezia dan menatap wajah Kezia yang mulai terlihat kesal dan marah. Nafasnya memburu, keringat bercucuran.


“Jangan menyerah, kamu pasti bisa.” Lirih dokter Amel. Kezia menoleh dokter Amel yang berada di samping kanannya. “Kezia baru terapi hari ini, jangan memaksakan tubuh sendiri. Masih ada esok dan esok lagi…” imbuhnya dengan tenang.


Mata kezia memerah dan berkaca-kaca. Ada rasa kesal pada dirinya sendiri. Namun Kezia kembali berfikir, memang ia tidak bisa memaksakan tubuhnya sebesar apapun kemauan yang dia miliki.


“Yuk, kita istirahat dulu…”lanjut dokter Amel sambil mengulurkan tangannya. Kezia hanya bisa pasrah mengikuti semuanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2