
“Land , makan dulu Land…” Ricko memanggil Arland dari balik pintu kamarnya. Namun sejak tadi Arland tidak memberikan jawaban apapun.
Ricko memutar gagang pintu kamar Arland yang ternyata tidak di kunci. Suasana kamar Arland gelap, hanya lampu tidur yang menyala menerangi bahu Arland yang masih tegak berdiri di depan jendela kamarnya. Ini sudah dini hari, namun Ricko terus kepikiran Arland yang sejak kemarin belum makan apapun. Beberapa hari ini Ricko memang sengaja menginap di aparteman Arland untuk menemani sahabatnya.
Lama sudah Arland mematung di depan kaca jendelanya. Tatapannya tertuju ke arah taman favorit ia dan Kezia. Tangannya menggenggam handphone dengan erat. Ia berharap Kezia akan menghubunginya walau hanya sebuah pesan sapaan. Tapi itu tak pernah terjadi. Segala hal tentang Kezia berputar di kepalanya. Membuatnya makin terlarut dalam pusaran kenangan.
Ricko berjalan menghampiri Arland lalu duduk di pinggiran tempat tidur Arland.
“Land, jangan siksa diri lo sendiri kayak gini…” lirih Ricko seraya menatap punggung Arland yang tak bergerak sedikitpun. “Lo punya masa depan yang harus lo raih…” lanjut Ricko.
“Masa depan?” tukas Arland sambil menyunggingkan senyum pedih di sudut bibirnya. “Masa depan gue udah pergi ko…” lanjutnya.
Arland meraih sebotol minuman keras yang bertenger di nakas tempat tidurnya. Ini adalah botol ketiga yang di tengak Arland dan ini adalah untuk pertama kalinya Arland minum minuman keras. Ricko segera berdiri dan meraih botol yang tengah di tengak Arland. Arland menahannya tapi tiba-tiba ia jatuh terduduk karena kakinya yang terasa kebas karena berdiri terlalu lama dan kepalanya yang terasa begitu pusing.
Arland membanting handphonenya ke tembok kamar dan membuatnya menjadi serpihan yang tidak lagi berbentuk. Ia menelungkupkan kepalanya di atas kedua lututnya dengan tangan menarik-narik rambutnya sendiri. Ricko sudah mulai habis kesabaran. Dia tidak bisa melihat sahabatnya yang terus seperti ini.
“Land, lo jangan terus kayak gini. Ini bukan arland yang gue kenal!” gertak Ricko sambil menarik tangan Arland dan mengajaknya berdiri.
“Ya, ini bukan Arland yang lo kenal. Karena Arland yang lo kenal udah mati. Puas lo!” teriak Arland sambil mengbisakan tangan Ricko.
“PLAK!!!” tanpa sadar Ricko menampar pipi kiri Arland.
Arland menyeringai dan mengusap darah segar yang keluar di sudut bibirnya. Ricko menarik tubuh Arland dan menyeretnya kekamar mandi. Tak ada perlawanan sedikitpun karena tubuh Arland sudah benar-benar lemah. Ricko mendudukan Arland di bawah shower dan mengguyur Arland dengan air dingin.
“Sadar ******! Lo gag bisa mati sekarang! Lo belum melakukan apapun dan lo udah nyerah. Mana Arland yang gue kenal hah, mana!” Ricko membanting gayung yang dia gunakan untuk mengguyur tubuh Arland. Namun Arland tak bergeming. Matanya memerah dan meneteskan butiran air mata yang pergi bersama aliran air yang membasahi tubuhnya.
“Land lo harus berjuang. Hadapi semuanya, jangan jadi pengecut. Kuatkan diri lo, dan bawa kembali kezia ke samping lo!” lirih Ricko sambil memeluk sahabatnya yang mulai menggigil kedinginan.
Arland menangis sejadi-jadinya. Ricko dengan setia menemani, mendengarkan setiap makian yang keluar dari mulut Arland tanpa ia sadari.
“Menangislah land, tapi mulai besok lo harus bangkit.” Tegas Ricko sambil meremas bahu Arland. Arland menatap Ricko dengan tatapan dingin yang menyakitkan.
****
Pagi itu, semua sudah berkumpul untuk sarapan. Kezia menatap menu makanan yang ada di hadapannya. Roti, salad dan sosis, menu wajib sarapan di Jerman. Kezia mengernyitkan dahinya.
“Kak, aku boleh tau dapurnya dimana?” Tanya kezia pada Angga yang sedang menikmati susu coklat hangat di tangannya.
“Di belakang, ada apa?”
__ADS_1
“Aku pinjem dapurnya sebentar yaa…” sahut Kezia seraya berdiri.
Tanpa mendengarkan jawaban Angga, Kezia segera pergi ke dapur dengan di temani Sarah.
Kezia menggunakan celemek yang ada di depannya. Sarah terperangah.
“Nona mau bikin apa?”
“Nasi goreng!” jawab Kezia sambil tersenyum lebar.
“Biar saya buatkan…” tawar Sarah sambil mengambil alat masak yang sudah dipegang Kezia.
“Nggak sarah, aku mau bikin sendiri. Ini nasi goreng resep dari mamah. Kamu cukup tunjukkan dimana bahan-bahan dan bumbunya.” Pinta Kezia. Sarah mengangguk tidak bisa menolak.
“Nona merindukan orang tua nona?” Tanya Sarah seraya memberikan beberapa bumbu.
Kezia mengangguk. Dia tetap fokus meramu bumbu untuk nasi gorengnya. Tak lama berselang, nasi goreng sudah selesai di buat. Kezia membawa sendiri nasi goreng dalam mangkuk nasi besar untuk di hidangkan di meja makan.
“Wah… apa ini?” Tanya Angga dengan mata terbelalak.
Kezia mengambil piring dan menyendok nasi lalu memberikannya pada Angga dan Martin.
“Aku gag bisa kalo sarapan gag makan nasi…” cetus Kezia sambil tersenyum. Angga ikut tersenyum mendengar jawaban Kezia. “Kak rana mau, aku ambilkan yaa…” tawar Kezia. Rana mengangguk mengiyakan. Rana kembali melirik angga yang terlihat terpesona oleh Kezia. Rana mendengus pelan. “Ayo di coba…” lanjut Kezia sambil tersenyum.
Angga menyendok nasi goreng yang ada di hadapannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Matanya membelalak.
“Ini enak…” reflex Angga.
Hendra yang sedari tadi berdiri di samping Angga ikut menelan ludah melihat tuannya begitu lahap menikmati nasi gorengnya.
“Pak hendra ayo ikut makan…” tawar Kezia.
“Tidak, terima kasih nona..” tolak Hendra dengan sopan. Tidak mungkin ia semeja makan dengan tuannya.
“Kak, pak hendra boleh sarapan bareng kita kan?” Kezia menatap Angga. Angga melirik Hendra. yang masih mematung.
“Duduklah pak hendra, ini perintah.” Tutur Angga sambil tersenyum ke arah Kezia.
Kezia tersenyum senang. Dengan ragu Hendra duduk di samping rana dan mulai menikmati nasi goreng yang terhidang di hadapannya.
__ADS_1
“Enak…” gumamnya.
“O iya, di belakang masih banyak. Nanti sarah dan yang lain juga sarapan yaaa…” lanjut Kezia.
“Terima kasih atas kebaikan nona…” sahut Sarah dengan senang hati. Kezia hanya mengangguk mengiyakan.
“Udah cantiik, baik lagi.. memang calon istri yang pas untuk tuan muda.” Gumam Sarah sambil menatap kagum Kezia yang sedang menikmati sarapannya.
****
Martin sudah selesai mengepak barang bawaannya dan bersiap berangkat ke bandara. Walau berat, lambat laun ia memang harus meninggalkan Kezia untuk mulai menjalani semuanya sendirian.
“Sayang, baik-baik di sini yaa… Papah pasti akan merindukan kamu.” tutur Martin sambil memeluk Kezia.
“Iya pah, papah juga hati-hati di jalan. Salam buat mamah, bilangin zia kangen…” lirih Kezia.
“Iya sayang…” sahut Martin sambil melepas pelukannya.
“Pah, boleh zia minta tolong?” bisik Kezia perlahan. Martin mengangguk. “Tolong liat arland ya pah, kabari zia kondisinya…” lanjut Kezia.
Martin menatap manik hitam di mata Kezia, hatinya berdesir merasa bersalah.
“Iya sayang…” Martin menyanggupi.
“Terima kasih pah…” sambut Kezia yang kembali memeluk papahnya. Martin mengusap kepala Kezia perlahan lalu mengecupnya dengan lembut.
“Semangat untuk ujian masuknya yaa, kabari papah hasilnya.” Lirih Martin. Kezia mengangguk sebagai respon.
“Nak angga, mohon maaf mm mungkin kembali merepotkan nak angga dengan menitipkan Kezia di sini.” Pandangan Martin beralih pada Angga yang berdiri tidak jauh darinya.
“Tidak perlu sungkan om…” sahut Angga sambil memeluk Martin.
“Nak rana, baik-baik di sini yaa.. selamat berjuang, semoga sukses.” lanjut Martin pada Rana.
“Terima kasih om, hati-hati di jalan.” sahut Rana.
Martin mengambil koper yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hendra membantu Martin dan mengajaknya masuk ke mobil untuk di antar ke bandara. Martin melambaikan tangannya pada Kezia dan Kezia membalasnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Langkah kakinya terasa berat, namun ia mencoba menguatkan dirinya sendiri karena ia yakin, ini adalah yang terbaik untuk putri kesayangannya.
****