
Kezia membenamkan tubuhnya di atas tempat tidur. Air matanya berurai membasahi bantal yang membekap wajahnya. Ia berteriak dalam hatinya. Lagi-lagi hubungannya dengan Arland harus terhalang ujian.
Mulai terbersit dalam pikirannya, untuk tetap memperjuangkan cintanya bersama Arland apapun yang terjadi. Bayangan wajah Arland dan kedua orangtuanya muncul di benaknya silih berganti.
Kezia segera meraih handphone yang ada di dekatnya. Ia coba menghubungi nomor Arland namun tidak aktif. Beberapa kali ia coba, tetap suara operator telpon yang menjawabnya.
“Shit!” dengus Kezia saat ia ingat bahwa Arland ada urusan hari ini dan baru bisa dihubungi nanti malam. “Kamu ada urusan apa sih?! Kenapa juga hpnya harus gag aktif? Kamu gag tau apa kalo aku hampir gila sekarang!” cerocos Kezia sambil terus menekan tombol panggil di handphonenya. Ia benar-benar frustasi.
Kezia segera bangkit dan mengganti pakaiannya. Beberapa barang ia masukkan ke dalam tas. Ia ingin pergi sejenak, paling tidak ia harus bertemu dulu dengan Arland. Rambut panjangnya tampak berantakan karena hanya ia sisir dengan jemarinya. Ia tidak memperdulikan wajahnya yang pucat tanpa riasan.
Kezia mencari kunci mobilnya, membuka satu per satu laci meja riasnya , namun ia tidak menemukannya. Segera ia mencarinya di tempat tidur, bantal dan guling berhamburan, selimut melayang entah kemana, ia benar-benar mengacak-ngacak kamarnya hanya untuk mencari kunci mobilnya.
“Astaga! Tadi aku taroh di meja ruang tamu. Pasti sekarang ada di papah!” dengus Kezia yang menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Tak habis akal, ia segera membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Langkahnya mengendap-endap agar tidak terdengar oleh orangtuanya. Namun terlihat Eliana yang sedang duduk di ruang makan, yang pasti harus ia lewati kalau mau keluar rumah. Kezia menghentikan langkahnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan mata terpejam.
“Apa aku harus nyerah?” gumam Kezia yang dengan langkah berat kembali ke kamarnya. Ia menggusur tas ransel yang ada di tangannya.
Kezia terduduk di lantai. Ia merangkul kedua lututnya dengan punggung bersandar ke ranjang tempat tidurnya. Ia tertunduk dengan isakan halus yang terdengar dari mulutnya. Ia sudah benar-benar kehabisan akal.
Selama ini, ia tidak pernah membangkang orangtuanya, sehingga tidak ada dalam pikirannya untuk lari apalagi kabur dari kedua orangtuanya. Kezia terpekik dalam kesendiriannya.
“Land, kamu kemana sih? Kenapa gag bawa aku kawin lari aja…” gumamnya dengan air mata berurai.
****
“Mah, mamah udah ngecek zia?” tanya Martin yang sedang mematut dirinya di cermin.
Eliana menghampiri dan merapikan jas yang dikenakan oleh suaminya.
“Dia bahkan gag turun buat makan siang pah. Seharian dia ngurung diri di kamar.” Ujar Eliana dengan wajah cemas. “Apa kita gag keterlaluan pah?” lanjut Eliana seraya menatap wajah lelaki yang selalu dicintainya.
“Dia akan bahagia, mamah harus yakin itu.” tegas Martin seraya mengenggam kedua bahu Eliana. “Sekarang, bantu zia untuk bersiap. Jangan lupa dia harus terlihat luar biasa hari ini.” lanjut Martin. Eliana hanya tersenyum sebagai respon.
Eliana mengambil kotak yang berisi gaun untuk Kezia. Ia memeluknya dan mulai berjalan menuju kamar Kezia.
Eliana mengetuk pintu kamar Kezia, tapi tidak ada jawaban. Ia memutuskan untuk membuka pintu kamar putrinya. Ia mendapati kezia yang masih terbaring di tempat tidur.
“Sayang, kita siap-siap dulu yuk, mamah udah bawain gaun yang cantik, kamu pasti suka.” ujar Eliana seraya mengambil tempat di samping kezia.
“Mah, zia bener-bener gag bisa. Zia gag mau dijodohin kayak gini…” lirih Kezia dengan air mata yang sudah mengering.
“Sayang, gimana pun kamu harus membantu papah untuk menjaga nama baiknya. Kamu temuin dulu keluarga mereka, kalau kamu memang bener-bener gag mau, mamah akan coba bicara lagi sama papah. Ya sayang…” bujuk Eliana.
“Mamah janji mau bantu zia ngomong ke papah?”
Eliana menganggukinya. “Ya udah, sekarang mamah dandanin kamu dulu ya. Anak mamah ini cantik, banyak yang naksir padahal gag pernah dandan.” ujar Eliana seraya menyelipkan rambut Kezia di belakang telinganya.
Kezia berusaha tersenyum walau pikirannya masih seperti benang kusut.
Eliana mulai mendandani putri kesayangannya. Matanya berkaca-kaca saat ia sadar bahwa putri kecilnya sudah dewasa dan akan ada yang melamarnya. Sementara Kezia masih tetap sibuk dengan handphonenya yang nyaris kehabisan baterai karena terus berusaha menghubungi Arland.
****
Terdengar suara tawa dari ruang keluarga yang cukup nyaring. Kezia menatap Eliana dengan gusar. Eliana hanya tersenyum. Kezia kembali melihat wajahnya di cermin.
“Mah, kayaknya zia harus ganti baju deh.” ujar Kezia seraya memegang lehernya.
“Loh emang kenapa sayang, kamu cantik pake baju ini.”
“Iya mah, tapi ini terlalu seksi. Rambut zia juga di angkat. Arland bilang zia gag boleh ngasih liat leher zia ke laki-laki lain.” tutur Kezia dengan canggung.
“Arland ngomong gitu?” Eliana tersenyum. Kezia menganggukinya. “Gimana kalo kita pake bros disini, supaya orang-orang gag fokus ke leher kamu?”
“Tapi zia mau pake kalung yang pemberian arland, biar laki-laki itu tau kalo zia udah ada yang punya.” kukuh Kezia.
__ADS_1
Eliana kembali tersenyum melihat tingkah putrinya. Begitu membekas perhatian Arland di pikiran putrinya.
“Sayang, orang yang kamu temui nanti, pasti akan sangat menghormati kamu. Jadi kamu gag perlu takut, hem?” tutur Eliana seraya mengusap bahu putrinya. Kezia hanya terdiam. “Ya udah, sekarang kita turun, tamunya udah pada nunggu.” lanjut Eliana seraya meraih tangan Kezia yang sedari tadi mengepal kuat.
Kezia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia berjalan dengan didampingi Eliana. Langkahnya terlihat sangat ragu. Beberapa kali ia menggenggam tangan Eliana dengan erat dan Eliana mengusap bahunya perlahan.
Kezia menuruni satu per satu anak tangga. Mendengar derap langkah Kezia dan Eliana, suasana mendadak sepi. Dari kejauhan ia melihat sosok seseorang yang di kenalnya. Ya, Arland.
“Astaga, aku sampe berhalusinansi.” batin Kezia.
Bulir hangat menetes di pelupuk matanya. Kezia memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang menetes. Pandangannya masih sedikit berkabut karena air mata.
Laki-laki di hadapannya tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Kezia berusaha meraihnya, genggamannya terasa hangat.
“Hay mhiu…” lirih Arland.
“Astaga ini beneran kamu land?” seru Kezia tidak percaya. Arland mengangguk seraya tersenyum. “Land, aku mau dipaksa nikah sama papah. Ayo cepetan bawa aku kabur.” lanjut Kezia seraya menarik tangan Arland hendak meninggalkan ruang keluarga yang sudah di tata begitu indah.
“Hey tunggu, kamu mau kemana?”
“Ayo cepetan, sebelum papah liat!” seru Kezia yang menarik tangan Arland kuat-kuat.
“Zia, kamu mau kemana nak?” tanya Martin seraya berdiri hendak menghampiri putrinya.
“Pah, zia gag mau dijodohin. Zia cuma mau nikah sama arland." Kezia memberanikan diri meghadap orang-orang yang ada di hadapannya dan berniat untuk pamit. " Maaf saya…”
Kezia baru tersadar saat melihat Laki-laki yang ada dihadapan papahnya adalah Hermawan, ayah dari Ricko. Di sampingnya ada Ricko dan Sherly yang duduk berdampingan. Dan yang ia genggam benar-benar tangan Arland. “Ini….” tunjuk Kezia pada Sherly dan Ricko. Sherly tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Kezia.
“Yakin, mau mamah bantuin ngomong ke papah supaya lamarannya di batalin?” bisik Eliana yang berada di belakang Kezia.
“IIhh mamah sama papah jahat, ngerjain aku sampe kayak gini!” cetus Kezia seraya menangis dan tertawa bersamaan.
“Hahahha… Anak pak martin masih aja lugu…” ujar Hermawan dengan tawa yang tidak bisa di tahannya.
Kezia segera memeluk Eliana, menyembunyikan wajahnya yang memerah di pelukan sang ibu. Mereka tertawa melihat tingkah Kezia, bahkan Sean pun ikut tertawa.
“Nggak mau! Aku sebel sama papah, papah jahat!” seru Kezia sambil terus menangis yang malah di sambut gelak tawa oleh Martin.
“Sayang, udah dong,,, nanti bedaknya luntur. Malu ah…” ujar Eliana yang berusaha menegakkan tubuh putrinya.
Kezia mendongakkan wajahnya. Mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.
“Maafin aku yaa…” bisik Arland.
“Sana kamu, aku masih marah!” Kezia mendorong tubuh Arland menjauh.
“Beneran nih aku pulang aja?”
“Jangaaannn…” rengek Kezia yang segera menarik tangan Arland dan tanpa ragu memeluknya. Ia memeluknya dengan erat, tidak memperdulikan para orang tua yang ada di sekitarnya.
“Wah kayaknya gag usah formal nih pak martin, tinggal tentuin aja tanggalnya.” cetus Hermawan dengan semangat.
“Hahhaa iya pak, gag perlu nunggu lama-lama lagi.” Martin menyahuti.
Pembicaraan pun berlanjut. Tanggal pernikahan telah di tetapkan dan itu sekitar satu bulan lagi. Waktu yang sangat lama bagi pasangan yang sedang di mabuk cinta, namun terasa sangat singkat bagi mereka yang akan disibukan dengan menyiapkan segala detail acara. Namun keduanya, tentu dalam suasana yang bahagia menantikan hari tersebut.
****
Malam itu, selesai acara lamaran Kezia menghabiskan waktunya bersama Arland di halaman belakang rumahnya. Arland membaringkan tubuhnya dengan paha Kezia sebagai bantalnya. Sementara Kezia begitu asyik membelai-belai rambut Arland dengan lembutnya. Arland memejamkan mata, menikmati rasa bahagia yang mengisi relung jiwanya.
“Land, kamu udah tidur?” tanya Kezia dengan tatapan lekatnya.
“Belum… aku cuma ngerasa nyaman aja kayak gini..” sahut Arland seraya membuka matanya. “Kamu cantik banget sih sayang, pantesan banyak banget saingan aku.” lanjut Arland sambil mengusap pipi Kezia.
“Gombal deh..” Kezia mencubit hidung mancung Arland dengan gemasnya.
__ADS_1
“Aduh sakit yang….” Arland mengaduh manja. Hidungnya terlihat memerah.
“Beneran sakit ya?” Kezia gelagapan sendiri.
“Coba aja kamu liat, pasti hidung aku merah.”
“Iya merah, maaf ya gag sengaja. Habis kamu gombal terus sih.”
“Ya aku kan cuma gombal sama kamu, masa gag boleh…” kilah Arland.
“Iya deh iyaa,, tapi jangan keseringan, nanti aku malah gag percaya.” Ujar Kezia seraya terkekeh.
“Malah ketawa lagi,,” dengus Arland yang pura-pura kesal.
“Aku kan udah minta maaf, masa masih marah aja. Nanti cepet tua loh…”
“Gag cukup minta maafnya.” cetus Arland sambil menyilangkan tangannya di dada.
“Ya terus…”
“CUP!” tiba-tiba Arland menarik tengkuk Kezia dan mengecup bibirnya.
“Ish jail! Nanti mamah sama papah liat kita di grebek lagi!” Kezia mengusap bibirnya
“Ya gag pa-pa, mudah-mudahan aja kita tambah cepet nikahnya.” Sahut Arland seraya tersenyum
“Itu sih maunya kamuu…”
“Emang kamu gag mau? Bukannya tadi depan semua orang kamu bilang cuma mau nikah sama aku?” goda Arland.
Kezia tersipu, ia kembali teringat kekonyolannya sore tadi. “Udah deh gag usah ngingetin lagi!” Kezia memindahkan kepala Arland ke bantal. Ia segera berdiri dan meninggalkan Arland yang masih terbaring. Bibir Arland gatal kalau tidak tersenyum melihat tingkah gemas kekasihnya.
Kezia berjalan ke pinggir kolam renang dan menatap riakan air yang menyembul dari pompa. Arland segera bangkit dan berjalan menghampiri Kezia. Arland melingkarkan tangannya di pinggang ramping Kezia. Ia memeluknya dengan erat lalu mengecup leher Kezia yang terbebas dari rambut panjangnya.
Kezia menggeliat karena geli.
“Jangan gerak-gerak terus dong, nanti ada yang bangun.” bisik Arland dengan lembut.
“Mana ada, orang mamah sama papah udah tidur.” kilah Kezia dengan wajah polosnya.
Arland tersenyum gemas. Ia kembali menghujani leher Kezia dengan ciuman membuatnya bergidik geli. Kezia memalingkan wajahnya menghadap Arland, tanpa di sangka Arland membalik tubuh Kezia dan menangkup kedua belah pipinya. Bibirnya mulai mengecupi bibir Kezia dengan lembut, membuat jantung Kezia berdebar sangat cepat.
Arland tersenyum melihat Kezia yang terbelalak. Ia kembali melakukan aksinya, perlahan Kezia membalasnya walau masih terasa begitu ragu. Pagutan Arland membuat tubuh Kezia gemetar.
“Kenapa, takut ketauan papah?” bisik Arland. Kezia mengangguk. “Okeyy, maafin aku. Kadang aku gag bisa nahan kalo lagi di dekat kamu. Bibir kamu terlalu manis.” imbuh Arland seraya mengusap bibir Kezia yang belepotan dengan lipstik.
“Kamu vulgar banget sih…” Kezia memalingkan wajahnya, ia tak berani menatap Arland.
Walau ia pun menginginkannya, tapi tidak bisa seterus terang Arland. Arland menyentuh bibirnya sendiri dan menundukkan kepalanya menahan tawa.
“Land, aku ada ide deh soal pernikahan kita.” Kezia berusaha mengubah topik pembicaraannya.
“O ya, apa itu?”
“Em, soal tepat pernikahan. Gimana kalo kita ngadain acaranya di vila kamu aja. Kita bikin outdoor gitu. Disana kan banyak bunga-bunga tuh, jadi pasti bakal indah banget suasananya,,” terang Kezia dengan mata berbinar.
“Eemmm, boleh juga idenya. Tapi kita harus nyari WO yang ngerti soal nikahan dengan tema out door. Kamu konsepnya mau kayak gimana?”
“Eemm gini aja…”
Dengan semangat Kezia menceritakan konsep pernikahan yang ada di kepalanya. Sebenarnya lebih ke khayalan dia sendiri. Arland menangapinya dengan serius. Dengan semangat mereka membahas konsep, hingga tak terasa, malam semakin larut namun mereka semakin menikmatinya.
****
__ADS_1