
Jalanan yang sepi, rasanya hanya menjadi milik Arland sendiri, terang saja, ini sudah hampir jam 11 malam dan jalanan mulai lenggang. Ia masih mengenakan celana kerjanya dengan kaos polo dan jaket yang menutupi tubuhnya. Pikirannya tidak karuan, untuk saat ini ia hanya ingin menemui Kezia. Ia masih belum bisa menebak apa yang ada di pikiran Kezia yang jelas itu pasti masalah yang besar.
Di depan gerbang rumah Kezia Arland menepikan mobilnya. Ia mencoba menghubungi Kezia namun tidak kunjung di jawabnya. Ia mengirim pesan dan menunggu Kezia di kantin milik Eliana. Ia menghentak-hentakan kakinya karena sudah berlalu 10 menit tapi Kezia masih juga belum membalas pesannya.
"Key.. Jawab dong... Masa aku harus maksa masuk ke rumah kamu." lirih Arland seraya terus memandangi layar ponselnya.
"Kamu mau apalagi ke sini?" suara Kezia membuat Arland tersentak. Benar saja, dari kejauhan tampak Kezia yang sudah memakai piyama tidurnya menghampiri Arland. Matanya tampak sembab dengan hidung yang masih memerah. Sepertinya Kezia memang habis menangis.
"Key..." Arland segera mendekat dan berusaha meraih tangan Kezia namun dengan cepat Kezia mengibaskannya. Arland masih tidak paham dengan apa yang terjadi karena seingatnya tadi Kezia masih baik-baik saja. "Key, kita perlu bicara." Arland melemahkan suaranya seraya menatap wajah Kezia.
Kezia memalingkan wajahnya namun ia tetap duduk di salah satu bangku. Arland masih memandangi Kezia yang terlihat kesal. Ia memutuskan untuk duduk bersisihan dengan Kezia meski terlihat Kezia menjaga jaraknya.
"Key, aku gag tau apa yang salah saat ini tapi aku pikir ada yang harus kita bicarakan." lirih Arland perlahan.
"Aku minta kamu jangan temui aku lagi. Aku gag mau jadi perempuan jahat yang merusak hubungan orang lain." tegas Kezia tanpa menatap Arland sedikitpun.
"Key, kamu gag jahat. Kamu selalu menjadi wanita yang baik."
"Udah cukup land. Kamu gag usah nemuin aku lagi. Kamu udah punya komitmen dengan wanita lain tapi masih nemuin aku. Jangan bikin aku jadi wanita jahat." seru Kezia seraya menutup kedua telinganya. Ia tidak mau mendengar apapun dari Arland.
"Komitmen apa? Dan wanita yang mana key?" Arland semakin tidak habis fikir.
"Difa! Kamu calon suami difa kan? Kenapa kamu masih datang ke sini?! Aku gag butuh penjelasan kamu karena aku juga gag peduli." Kezia beranjak dari tempat duduknya dan menjauhi Arland.
"Difa?" tanya Arland dengan tatapan tidak percaya, Kezia masih tidak bergeming. "Key, sejak kapan aku punya komitmen sama difa? Dan siapa yang bilang aku punya komitmen sama dia?"
"Kamu jangan bohong, difa sendiri yang bilang sama aku. Kamu jangan sok polos sok gag tau apa-apa. Aku udah muak sama tipe laki-laki kayak gitu." gerutu Kezia dengan air mata yang mulai menetes.
Arland hanya bisa menarik nafas dalam dan perlahan menghembuskannya. Sekarang ia tahu alasan kemarahan Kezia.
"Key, sumpah demi apapun, aku gag ada hubungan apa-apa sama difa. Aku juga gag bikin komitmen apa-apa sama dia. Kami hanya berteman dan rekan kerja, gag lebih dari itu." terang Arland yang perlahan berjalan mendekati Kezia. Kezia tidak menimpali apapun, hanya tatapan dalam yang tertuju pada Arland seolah ia tengah menyelidik kebenaran ucapan laki-laki di hadapannya.
"Key, sejak dulu ataupun sekarang, aku gag pernah ngasih celah buat wanita manapun karena aku memang gag mau mikirin perempuan selain kamu. Begitupun dengan difa. Dia temanku dari kecil, aku gag mau menjanjikan sesuatu yang aku sendiri gag pernah bisa berikan terlebih itu soal perasaan. Kalau kamu gag percaya, kita bisa telpon difa sama-sama, hem..." Arland mengeluarkan benda persegi dari dalam saku celananya. Ia hendak menghubungi Difa, namun dalam beberapa saat Kezia menahannya.
"Kamu percaya sama aku kan key?" kali ini Arland meraih tangan Kezia dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Kezia hanya terangguk. Dalam pikirannya, jika memang Arland akan berpaling, bukankah ia tidak perlu menunggu waktu selama ini?
Dalam beberapa saat, Arland menarik tubuh Kezia dan membawanya kepelukannya. Ia bisa mendengar helaan nafas lega dari sela bibir Arland.
"Bisakah kamu kasih kesempatan untuk hubungan kita?" bisik Arland dengan lembut. Kezia kembali terangguk. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Arland, rasanya tidak ada alasan untuk ia menolak bukan?
****
“Oma, sean mau makan sama itu…” tutur Sean sambil menunjuk makanan yang tersaji di etalase.
“Boleh sayang, oma ambilkan…”
Eliana mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Sean. Sean terlihat begitu senang saat makanan itu tersaji di hadapannya. Ia pun mulai makan dengan lahap.
“Zia mau makan nak?”
“Nggak mah, nanti dulu…” sahut Kezia. Ia masih anteng dengan setumpuk kotak nasi yang sedang ia lipat di hadapannya.
Karena hari ini hari libur, mereka membantu Eliana di kedai makanannya. Pelanggan datang silih berganti membeli makanan dan Eliana dengan senang hati menyambutnya.
Mendengar ujaran Kezia, Eliana segera menghampiri dan duduk bersisihan. “Maksudnya nak, mamah buka kantin di sana gitu?”
“Iyaa mah… Kan kalo buat pasien udah di sediain sama bagian gizi, nah untuk keluarga pasien kadang mereka kebingungan dan gag memperhatikan makan mereka, padahal kesehatan mereka juga penting. Jadi kalo ada kantin khusus untuk keluarga pasien dengan menu makanan sehat, mereka juga bisa tetap sehat walau kurang istirahat karena jaga pasien.” terang Kezia.
“Emang mamah bisa gitu ya?” Eliana sedikit meragu.
“Pasti bisa lah… Masakan mamah kan enak walaupun menunya menu sehat. Tinggal di pikirin aja kira-kira menu apa yang cocok.” Kezia berusaha menyemangati Elianan.
“Iya deh sayang, mamah coba pikirin dulu. Tapi nanti kedai ini gimana?”
“Kedai ini ya tetep buka. Hitung-hitung kita tetep mempekerjakan orang yang butuh pekerjaan. Tinggal mamah bikin aja panduan jelas buat masaknya.” Eliana terdiam , sepertinya di kepalanya mulai muncul ide-ide baru. Ia tersenyum sendiri dengan imajinasi yang dikarangnya.
“Okeeyy, mulai besok mamah bikin menu makanan sehat. Kita coba jual di kedai dulu deh.” Eliana terlihat sangat semangat. “Makasih idenya ya sayang…” seru Eliana seraya mencubit gemas hidung kezia.
“Iya mah, semangat yaaa…” sahut Kezia tak kalah semangat.
__ADS_1
“Aduuhh lagi ngumpul ya bu eliana...” sapa Mira yang datang bersama ibu-ibu lainnya.
“Bu mira mau beli apa?” sambut Eliana dengan ramah.
“Kayak biasa bu eliana. Cobek lele, sop ayam sama tumis terung.” Dengan segera Eliana menyiapkan pesanan Mira. “Neng Kezia, ini anaknya ya, kok tau-tau udah gede aja ya?” sindir Mira sambil melirik ibu-ibu yang lain.
Mereka saling berbisik yang tentu saja bahan obrolannya adalah Kezia. Kezia sudah mendengar kelakuan ibu-ibu di kompleknya ini dari Ida. Bahkan perkataan mereka pernah membuat Eliana menangis.
“Ibu tau dari mana ini anak saya? Emang ibu-ibu liat saya bikinnya?” ketus Kezia yang mulai kesal.
“Zia…” lirih Eliana namun Kezia tidak menghiraukannya.
“Ya kalau bukan anaknya, kenapa di bawa-bawa? Kan itu bikin orang mikir jelek. Lagian udah gag aneh kok pergaulan di luar negri emang kayak gitu.” cetus Mira seraya mengerlingkan matanya. Tentu saja ibu-ibu yang lain ikut antusias berbisik dengan cukup keras.
“Oh saya baru tau, bu mira pernah tinggal di luar negri juga ya?" timpal Kezia dengan santai.
"Enggak kok saya gag pernah tinggal di luar negri." Mira bergidik acuh.
"Kalo gitu, ibu jangan sok tau. Ucapan ibu itu bisa menyakiti orang lain." sahut Kezia seraya mendekat membuat wajah Mira menegang seketika. "Apapun yang terjadi pada diri saya dan keluarga saya, tidak ada hubungannya dengan ibu. Jadi ada baiknya ibu mengurusi saja urusan ibu, tidak perlu berlelah-lelah mengurusi hidup kami, toh kami bukan arti atau public figure yang bisa ibu jadikan bahan gosip. Hem..." cerocos Kezia seraya merapikan jaket Mira yang tidak di resletingkan.
Tak ada satupun yang bisa menjawab. Mereka saling berpandangan dan berbisik.
“Ya udah, kami permisi aja” tukas Mira dengan wajah kesalnya. Ia mengambil lauk pauk yang dibelinya dan memberikan sejumlah uang sebelum benar-benar pergi.
"Silakan , hati-hati di jalan. Jangan lupa mampir lagi untuk belanja.” sahut Kezia seraya tersenyum.
Mira pergi tanpa menyahuti, ia bahkan tidak berani lagi berbisik tapi entah kalau di belakang sana. Kezia hanya bisa menghela nafas dalam. Untuk berbicara selantang itu saja dadanya harus terasa panas dan bergemuruh.
“Sayaaang, Anak mamah kok tau-tau bisa ngomong gitu sih, mereka orang tua loh nak…” Eliana menghampiri Kezia dan mengusap pungggungnya. Ia yakin putrinya masih sangat kesal.
“Mamah juga orang tua zia, kenapa mereka bisa seenaknya ngomong dan gag ngehormatin orang lain tapi pengen di hormatin.” gerutu Kezia.
Eliana hanya tersenyum. Eliana sadar putrinya sudah dewasa. Seperti apapun keluarganya, ia pasti akan membelanya saat orang lain menjelek-jelekkannya.
****
__ADS_1