My First Love Story

My First Love Story
Episode 132


__ADS_3

Hari itu, seusai memeriksa pasien-pasienya kezia duduk termenung di kursi ruangannya. Ia memainkan botol air mineral yang ada di tangannya. Pikirannya entah melayang kemana. Sesekali ia tersenyum saat teringat kelakuan Sean dan Arland namun sesekali wajahnya tampak tegang saat mengingat kenyataan yang dihadapinya hingga tanpa ia sadari seseorang tengah berdiri memperhatikannya.


“Siapa yang kamu lamunin?” adalah Rana yang tiba-tiba sudah berada di hadapan Kezia.


“Astaga kak! Ngagetin aja…” seru Kezia.


“Kamu yang ngagetin aku. Dari tadi senyam senyum gag jelas. Aku kira kamu mulai….” Cetus Rana seraya menempatkan telunjuknya di samping kanan kepalanya.


“Ih kak rana , masa ngira aku gila.” timpal Kezia. Rana hanya terkekeh. Ia mengambil tempat di hadapan Kezia yang tengah menatapnya. “Kak, gimana kehidupan kakak setelah menikah?” pertanyaan tak biasa itu tiba-tiba saja meluncur dari mulut Kezia.


“Hemm.. sejak kapan kamu mulai mikirin buat nikah?” goda Rana.


“Ish kak rana, aku perempuan normal kali. Usiaku udah hampir 29. Tetangga kompleks ngegunjingin aku terus. Di bilang aku hamil di luar nikah lah, aku perempuan gag baik-baik lah malah aku di kira terjerumus pergaulan bebas barat.” keluh Kezia.


Rana sepertinya paham benar kegalauan gadis cantik di hadapannya. Ia menyentuh tangan Kezia dan menepuknya perlahan. “Keeyy, nikah itu harus atas dasar kebutuhan kita bukan karena takut di gunjing atau ngitung umur. Memang perlu mempertimbangkan umur kita tapi yang terpenting adalah kesiapan kamu, karena menikah itu hal yang sakral.” Rana mencoba mengingatkan.


“Eemm.. iya sih kak.. Aku sih sebenernya udah pengen punya pasangan tapi aku selalu ngerasa gag yakin. Takut salah pilih.”


“Baguslah, kamu jadi lebih waspada. Lagi pula saingan calon suami kamu berat, seorang almarhum ryanggara. Walaupun udah gag ada, aku yakin secara gag sadar dia akan jadi tolak ukur laki-laki yang deketin kamu”


“Hemmm iya kak. Kak angga laki-laki yang sangat baik. Dia akan selalu ada di hati aku, tidak ada yang bisa ngegantiin dia.” kenang Kezia.


“Tuuhh kaannn, move on dong sayang…” Rana mencolek dagu Kezia.


“Kak ranaa, jahil sih. Tapi iya sih, apa itu ya alesan aku takut nyari pasangan? Apa aku harus konsul psikolog kali ya?”


“Key dengan kamu sadar dengan apa yang kamu pikir kan, kamu masih bisa merefleksikan diri kamu sendiri dulu sebelum konsul psikolog. Aku yakin, kamu akan nemu titik terang…” hibur Rana. Kezia mencoba mencerna ucapan Rana. “Udah , jangan kebanyakan mikir, ini malem minggu. Nyari cowok sana!” lagi-lagi rana menggodanya.


“Iihh kak rana berisikkk…” protes Kezia, namun Rana malah tertawa geli melihat tingkah Kezia.


Hanya dengan Rana dan Angga, Kezia bisa bermanja. Di luar itu, ia akan terlihat sekeras batu karang.


****


Sepulang kerja Kezia menyempatkan untuk mengunjungi proyek pembangunan rumah sakit yang tidak jauh dari panti asuhan Nia. Pembangunannya baru berjalan sekitar 20% dan rencananya harus selesai dalam waktu 3 bulan. Seorang kepala proyek menghampiri Kezia dan menjelaskan pembangunan yang sedang dilakukan. Kezia kembali melihat desain pilihannya. Ia berharap agar proyek ini segera selesai.


Tak berlama di lokasi proyek, Kezia segera menjemput Sean ke sekolahnya. Tapi suasana sekolah sudah sangat sepi. Hanya seorang petugas kebersihan yang sedang membersihkan area sekolah.


“Mau nyari siapa non?” sapa laki-laki paruh baya yang terbungkuk-bungkuk.


“Saya mau jemput keponakan saya pak. Kok gag ada ya?” Kezia terlihat celingukan.


“Ooo udah pulang semua non. Coba non telpon bu gurunya…” saran petugas kebersihan tersebut.

__ADS_1


Wajah Kezia sudah mulai panik. Ia mengambil handphone yang ada di saku bajunya. 8 panggilan tak terjawab dan 2 pesan benar-benar tidak disadarinya karena handphonenya dalam mode silent. Semuanya nomor baru yang masuk. Kezia mengecek satu per satu pesan yang di terimanya.


“Sean pulang sama aku ke apartemen. Aku telpon kamu gag jawab. Jemput Sean ke sini ya. _Arland”


“Isshh dasar, seenaknya! Kenapa gag anterin sean ke rumah aja!” gerutu Kezia sambil memasukkan benda pipih tersebut ke dalam tasnya.


Kezia segera melajukan mobilnya menuju apartemen Arland. Arland tidak mengiriminya alamat apartemen, berarti masih dengan alamat lama. Di tempat parkir telihat mobil Arland yang juga ada di sana. Kezia segera menuju lantai dimana apartemen Arland berada.


Kezia datang bersamaan dengan seorang pengantar makanan. Ia memijit bell satu kali dan tampaklah wajah Arland dari balik pintu.


“Ini pak makanannya…” ujar pengantar makanan dengan sigap.


“Okey terima kasih.” Sahut Arland.


Pengantar makananpun pergi.


“Sean di mana?” berganti Kezia yang menatapnya dengan geram.


“Masuklah dulu, dia ada di dalam.” Arland membukakan pintu lebih lebar untuk Kezia. Dengan ogah Kezia melangkahkan kakinya memasuki apartemen Arland. “Lama ya kamu gag ke sini..”


Kezia hanya mengerlingkan matanya. Kekesalannya masih belum hilang dengan sikap semen-mena Arland.


“Sean dimana?” lagi-lagi Kezia mengulang pertanyaannya.


“Tapi dia gag bawa baju ganti land,,”


“Pake baju ku bisa. “ seru Arland seraya terkekeh. Kezia tak menggubris kalimat Arland yang membuatnya semakin kesal.


Tak lama handphone Kezia berdering. Terlihat sebuah panggilan video masuk.


“Sean, momy nelpon. Cepet mandinya…” teriak Kezia dari luar kamar.


“Momy? Momy siapa?” kali ini Arland yang dibuat penasaran.


“Momy-nya sean laahh…” sahut Kezia dengan santai. Ia duduk di salah satu sudut sofa tidak peduli dengan Arland  yang masih kebingungan.


Sean terlihat keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Rambutnya masih basah.


“Momy mu..” Kezia menyodorkan handphonenya.


“Hay Momy !!” sapa Sean dengan girang.


“Hay sean, Hast du geduscht? (hay Sean, kamu habis mandi?)” tanya Indira.

__ADS_1


“Iya momy, aku baru selesai mandi.” Sahut sean


“Astaga, kamu sudah bisa bahasa Indonesia? Gemesnya…” Indira kegirangan.


“Iya momy, di sekolah bu guru mengajariku bahasa Indonesia. Selain itu onkle arland sama mima juga bantu aku belajar.” terang Sean dengan antusias.


“Onkle arland? Siapa itu?”


“Dia laki-laki yang menyukai mima. Ini orangnya…” polos Sean sambil mengarahkan kamera ke Arland. Arland hanya tersenyum.


“Sean, cukup bilang dia teman mima, jangan aneh-aneh…” protes Kezia dengan wajah yang merona seketika.


“Hahhaaha siapa dia key….” goda Indira yang melihat Kezia salah tingkah. Sudah sangat lama Indira tidak melihat ekspresi seperti itu di wajah Kezia. Oh tidak, lebih tepatnya ia memang belum pernah melihat.


“Penganggu kak!” cetus Kezia sambil melotot ke arah Arland.


Sementara itu Arland terus memikirkan hubungan Kezia, Sean dan perempuan yang sedang melakukan panggilan video tersebut. Ibarat puzzle yang harus ia susun rapi, sangat memusingkan.


“Hahhaha jangan gituu,, nanti malah suka.. “


Namun Kezia malah mengerucutkan bibirnya. Rasanya ia ingin membenamkan wajahnya di mana saja agar tidak terlihat oleh Arland yang sejak tadi menatapnya penuh tanya.


“Momy, mana dady?”


“Dady masih di kantor nak, di sini kan masih pagi.”


“Dady? Siapa lagi itu?” batin Arland yang tanpa sadar mengacak-acak rambutnya karena  frustasi.


“Okey, kalian baik-baik di sana yaa… salam buat oma, opa dan onkle Arland.” tandas Indira.


“Okeeyy bye…” sahut Sean dan Kezia bersamaan.


Panggilanpun segera terputus.


“Key, siapa?” tanya Arland yang masih kebingungan.


“KEPO!” tegas Kezia.


Arland benar-benar terlihat frustasi.


Tak menghiraukan kebingungan Arland, Kezia segera mengurus Sean. Ia memakaikan baju yang ternyata sudah disiapkan Arland sekali lalu mengajak Sean dan Arland makan. Dengan terpaksa Arland pun mengikutinya. Hanya Sean yang tampak lahap menikmati makanannya hingga akhirnya Sean kekenyangan dan tertidur.


Arland memindahkan tubuh Sean ke kamar yang sebelumnya di tempati Ricko. Sean terbaring dengan nyaman. .

__ADS_1


****


__ADS_2