
“ Dena! Sini liat…” seru Sherly pada Dena yang sedang berdiri di meja kasir.
"Apaaan? Bentar deh.. Lo laper kan?” tanya Dena denga wajah kesalnya.
Sherly dan Kania tidak menjawab. Mereka malah asyik berbicara berdua. Setelah memesan menu makanan , Dena segera menghampiri sherly karena penasaran.
"Apaan sih?” tanya dena menggeser kedua sahabatnya yang sedang melihat handphone Sherly.
"Hah, itu Key ya?” seru Dena. Membuat semua orang yang ada di café melihat ke arahnya.
"Pelan-pelan *****, lo habis nelen toa apa, kenceng banget ngomongnya?” teriak Kania sambil mengorek kupingnya yang pengang karena suara Dena.
"Eh sorry,,, habis gue reflex…” tutur Dena memelankan suaranya. Dari kejauhan tampak Ricko dan Arland berjalan mendekat.
"Liat apa sih, seru banget?” bisik Ricko di telinga Sherly.
Sontak sherly terperanjat dan menyembunyikan handphonenya.
"Eemm gag apa-apa yang…” Sherly mulai gelagapan.
Dipegangnya tangan Kania dengan erat. Arland dan Ricko memang duduk berjauhan dari para cewek karena mereka sedang berbicara serius. Tapi begitu mendengar nama Kezia, segera merapat, karena yang mereka
bicarakan pun adalah orang yang sama.
"Boleh liat yang kamu liat tadi apa?’ tanya Ricko masih dengan berbisik setengah menggoda.
"Eemm.. tapi yang…” Sherly melirik Arland yang memasang ekspresi datar. Sulit di tebak.
"Udah lo kasih liat ajaaa daripada Lo berantem…” bisik Dena dengan lumayan keras.
Akhirnya sherlypun menyerahkan handphonenya. Rupanya sherly sedang melihat akun media sosialnya Tyo. Disana Tyo memajang foto seorang gadis yang sedang duduk di atas kursi dengan kaki dinaikkan. Di pangkuannya ada buku tebal. Wajahnya serius membaca. Bahkan di antara hidung dan bibirnya ada pensil yang terselip. Pada foto tersebut Tyo memberi caption “ Semangat” dan emoticon tertawa.
Foto selanjutnya yang di pajang adalah foto Kezia saat sedang tertawa. Tyo memberi caption “ Her Laugh” dan emoticon love. Dan foto ketiga adalah foto saat Kezia sedang mendekap tangannya,
memandang lurus kedepan dengan ekspresi kesal. “Angry girl” tulisnya.
Tak ada komentar yang terlontar dari siapapun. Semuanya terdiam. Air muka Arland benar-benar berubah garang.
Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat. Kalau kalian punya indra ke enam, mungkin akan melihat dua tanduk dan tarik tajam yang terlihat di wajah Arland. Ricko menatap Arland, dan hanya tersenyum.
"Kezia gag tau apa kalo fotonya di pamerin orang?” Tanya Ricko memecah ketegangan
__ADS_1
"Kayaknya sih nggak… soalnya diakan gag punya akun medsos…” jawab Sherly sambil melirik Arland yang masih mematung.
"Lagian dia gag terlalu suka di foto, kecuali ada momment penting dan orang penting kayak kita. Ia kan girls?.” Jawab Dena
"Iya gag kayak Lo yang banci foto!” seru Kania sambil tergelak. Tapi tak ada temannya yang menimpali tawa Kania. Semua masih terpaku ppada ekspresi Arland yang begitu menegangkan.
"Lo bisa coba lagi lain kali yaa…” seru Sherly sambil mengusap-usap bahu Kania yang gagal membuat lelucon.
"Hahahhaha…” Mereka tertawa mendengar celetukan sherly.
Namun tidak ada yang berubah dari ekpresi Arland. Masih tetap sama, dingin dan kesal.
"Udah duduk dulu bro….” pinta Ricko yang mulai duduk di samping sherly. Arland mengikutinya.
"Gila, tancep gas banget ya Kak Tyo…” tutur Dena tanpa canggung.
"Kira-kira menurut Kalian, si Key bakal ngerespon tuh cowok gag?” Tanya Ricko pada gadis-gadis di sampingnya.
"Setau gue yaa… key tu fokusnya Cuma belajar buat saat ini. Gag mikirin masalah pacaran. Tapi ya gag tau yaa, kalo dia luluh sama usaha kak Tyo…” terang Kania yang memelankan suaranya saat melihat ekspresi Arland yang begitu dingin.
“DEG!” lagi-lagi jantung Arland berdegub kencang. Kali ini bukan hanya karena merindukan Kezia tapi karena
membayangkan Tyo yang terus mendekatinya. Ia percaya pada perasaannya, namun menjadi tak begitu yakin dengan perasaan Kezia terlebih banyak yang berubah dari Kezia yang dikenalnya.
"Cowok pujaannya, maksud lo siapa?” Tanya Arland.
Kali ini fikiran Arland beralih pada laki-laki yang ada di fikiran Kezia bukan laki-laki yang berusaha mendekatinya.
Dena hanya terpaku, tak berani menjawab pertanyaan arland. Mungkin sesuatu akan terjadi jika Dena mengatakannya.
"Ya elo *****!” teriak Dena dalam hatinya.
"Na, jawab Lo!” seru Kania yang menyikunya dari samping.Semua pandangan tertuju padanya, membuat Dena bergidik ngeri.
"Ya okeeyy , gue kasih tau…” jawab Dena yang akhirnya luluh. “ Perlu Lo tau ya Land, Kezia sikapnya berubah gara-gara ini!” seru dena sambil melempar handphonenya ke hadapan para sabahatnya.
Arland mengambil handphone Dena dan mulai memutar sebuah video.
Saat itu, Kezia tiba-tiba pergi meninggalkan Kania yang sedang menangis tersedu-sedu. Tak biasanya dia tega
meninggalkan sahabatnya dalam kondisi seperti itu. Wajahnya terlihat marah dan itu terlihat jelas oleh dena. Dena mengikuti Kezia yang berjalan dengan langkah panjangnya. Kezia tampak menghubungi seseorang dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Dena tak melepaskan pandangannya dari Kezia. Ia segera mengikuti kemana kezia pergi. Ternyata Kezia menemui Irene. Di café itulah Kezia memohon pada Irene agar tidak membuat sahabatnya sedih, yaitu Kania dan sherly. Tidak menghancurkan keluarganya apalagi membuat Kania menjadi anak yatim piatu.Dan terlebih, tidak membuat Arland dan keluarganya jatuh dan terpuruk.
Kezia menerima semua cacian, makian, hinaan bahkan permintaan Irene untuk menjauhi Arland tanpa penolakan.
Tak terasa, air mata meleleh di wajah Kania dan sherly. Lagi-lagi Kezia melakukan hal yang tak pernah terpikirkan
oleh ketiga sahabatnya.
" Keyy… Lo *****! Lo *****! Bangun *****!” teriak Kania sambil memaki Kezia yang bersimpuh memohon di hadapan Irene. Kania menangis sejadinya. “ Jadi ini alasan kenapa Lo selalu nanya perkembangan perusahaan bokap gue hah? Lo ***** key lo *****!...” Kania terus memaki. “ Dan gue lebih ***** lagi…” lirih Kania sambil
menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Ka, udah Ka…. Jangan kayak gini…” lirih sherly yang ikut terisak. Di peluknya Kania dengan erat. Dena ikut terhanyut dalam kondisi tersebut.
"Sory Ka, gue gag bermaksud bikin lo ngerasa bersalah… Ini juga alasan gue gag ngasih tau kalian dari awal. Gue tau, Kezia ngelakuin ini semua semata-mata buat kita.” tutur dena ikut mendekap Kania. Kania tidak menjawab. Dia masih meluapkan perasaannya dengan menangis tiada henti.
Betapa ia bisa merasakan kasih sayang dan pengorbanan yang begitu besar dari sahabatnya. Harga diri yang selalu menjadi prinsip Kezia dalam hidupnya, jatuh begitu saja demi orang-orang yang ia sayangi.
Sementara itu Arland hanya mematung. Wajah kesal sekaligus sedihnya terus tergambar jelas. Arland memandangi pesan yang setiap saat dia kirim. Ada 37 pesan yang dia kirim, tapi tak ada satupun yang kezia baca. Bahkan history panggilannya lebih banyak, tapi tidak pernah ada satupun yang di angkat.
Arland menggenggam erat-erat handphone di tangannya. Ia merasa benar-benar frustasi. Bahkan sempat terlintas dalam fikiran Arland, bahwa Kezia begitu menikmati waktunya bersama Tyo. Namun ternyata semuanya salah.
"Ternyata kita memang belum sama-sama saling mengenal key…” batin Arland.
****
Malam itu, setelah makan malam, kezia dan rombongan peserta dari sekolahnya pergi ke salah satu taman bermain. Taman bermain tersebut buka sampai tengah malam. Lampu-lampu yang berwarna warni, keceriaan para pengunjung, suara music, semuanya membuat suasana malam yang dingin terasa begitu hangat. Malam itu memang pihak sekolah sengaja mengajak Kezia dan teman-temannya untuk refreshing setelah mengadu otak dengan siswa dari sekolah lain. masalah hasilnya besok, mereka hanya bisa berserah, yang jelas mereka sudah berusaha.
" Key , kamu mau naik wahana apa?” Tanya Rana yang terus berjalan sambil menikmati cotton candy di tangannya.
"Eemm.. aku belum tau kak… Aku gag terlalu berani naik wahan-wahana yang ekstrim…” terang kezia sambil terus mengikuti langkah Rana.
"Naik Fair Horses yuk!” seru Rana dengan semangat. “ Lo ikut kan Yo..” Tanya rana pada kezia dan Tyo yang terus mengukiti langkahnya.
"Boleh!” sahut Tyo
Mereka berjalan mendekati wahan Fair horses. Rana menunggangi kuda di depan Kezia sementara Tyo berada di samping Kezia. Wahana berputar beberapa kali. Mereka tertawa renyah menikmati kebahagiaan yang dirasakan.
Sesekali Rana merentangkan tangannya menikmati angin yang menyapu wajahnya dengan lembut.
"Keyy.. liat sini keeyy…” seru rana sambil mengarahkan handphonenya pada Kezia dan menekan mode perekaman di media sosialnya. kezia hanya tersenyum saat wajahnya memantul dari kamera depan handphone rana. “ Hay Tyo…” seru Rana, Tyo hanya membalasnya dengan lambaian dan senyuman. Tangan rana menari di atas permukaan handphonenya, mungkin dia memposting video yang dibuatnya.
__ADS_1
****