My First Love Story

My First Love Story
Episode 84


__ADS_3

Kezia berjalan sambil menggenggam tangan Arland yang berada di sampingnya. Arland tersenyum tipis  melihat Kezia yang seolah tidak mau melepaskan genggamannya. Sudah beberapa hari ini Kezia memang selalu menunjukkan perasaannya tanpa ragu, membuat Arland setiap malam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya selalu dipenuhi dengan semua tentang Kezia, hingga rasanya hampir gila karena sering berhalusinasi.


Mereka sampai di bangku taman favorit mereka. Kezia menarik tangan Arland dan mengajaknya duduk. Arland menatap Kezia dengan seksama, namun Kezia terus memandang kedepan sana, entah apa yang dilihatnya. Arland menyibak anak rambut yang menutupi wajah cantik Kezia dan menyelipkannya di telinga Kezia.


“Apa kamu sangat senang dengan kelulusan ini sampai harus menangis segala?” Tanya Arland tanpa melepaskan pandangannya dari Kezia.


Kezia menoleh, lalu menatapnya seraya tersenyum.


“Gimana aku gag gila, ngeliat dia senyum kayak gini..” lirih Arland dalam hati.


“Key, aku seneng banget, akhirnya kita lulus. Kita bisa memulai merealisasikan mimpi-mimpi kita, menikmati setiap hari bersama, berbagi cerita, saling bantu tugas dan saling menyemangati.” Tutur Arland seraya mengecup lembut punggung tangan Kezia.


Kezia memalingkan wajahnya. Dadanya terasa sesak. Betapa ingin ia melakukan semua yang Arland ucapkan. Bibir kezia bergetar, menahan tangis yang begitu sulit baginya.


“Jadii… setelah ini kamu mau melanjutkan sekolah kemana?” Tanya Arland yang masih mengagumi ciptaan tuhan yang berada di sampingnya.


“Jerman!” sahut Kezia tanpa ragu.


“Mhiu, jangan becanda dong… Sekolah jauh amat… Gag sekalian sekolah ke negri china aja, biar pulangnya bawain aku bebek pecking?” canda Arland sambil mencubit gemas Kezia.


Arland tertawa hingga terpingkal –pingkal.


“Aku gag lagi bencanda land…” sahut Kezia sambil menatap Arland dengan mata berkaca-kaca. Seketika raut wajah Arland berubah.


“Ayolah… becandaan kamu gag lucu…” Arland mulai terlihat panik.


“Land, udah aku bilang, aku gag lagi becanda…” Kezia mulai kesal dan melepaskan genggaman tangannya.


Wajah Arland semakin tegang. Tatapan hangatnya berubah menjadi tatapan yang begitu dingin.


“Apa ini pilihan kamu?” lirih Arland. Kezia mengaalihkan pandangannya ke depan, kemudian terangguk. Ia tak sanggup melihat tatapan Arland yang akan sangat dirindukannya.


Pada akhirnya pertahanannya roboh. Butiran bening dengan hangat meleleh di pipi Kezia. “Kamu bakal ninggalin aku key, sendirian?” lanjut Arland dengan dada yang terasa sesak. Kezia tak menjawab. Bahunya berguncang tanda tangisnya pecah, namun tak ada suara sedikit pun, benar-benar sangat memilukan.


Ini kali kedua Arland merasakan kehilangan , yaitu setelah kepergian papahnya. Sakitnya terasa sama. Tiba-tiba dan tidak diduga.


“Aku, melepaskan kamu land, kamu gag perlu nunggu aku…” lirih Kezia seraya menutup wajah dengan kedua tangannya.


Ada sambaran petir yang menghantam dada Arland. Ia tak pernah menyangka, bahwa ketakutannya benar-benar terjadi. Hari dimana ia harus berpisah dengan Kezia secara tiba-tiba.  Ia benar-benar tidak mempersiapkan dirinya untuk kondisi seperti ini.

__ADS_1


“Apa kamu mau kita putus mhiu?” Arland menggenggam tangan Kezia. Namun Kezia malah mengibaskan tangan Arland, dan menutup kedua telinganya kuat-kuat.


“Jangan panggil aku seperti itu land, aku mohon…” lirih Kezia seraya terisak. Arland menjatuhkan punggungnya kesandaran bangku. Bahunya melorot dan rasanya tubuhnya begitu lemah. Air mata meleleh di ujung matanya. Sebuah pantangan yang sudah menjadi prinsip Arland, ternyata begitu saja di langgar. “Hiduplah dengan baik, jangan pikirkan aku…” lanjut Kezia tanpa memandang Arland sedikit pun.


Arland tersenyum ketir. Perasaannya bergejolak tak menentu.


“Hah, jadi ini alasan kenapa beberapa hari kamu sangat dekat sama aku key. Kamu bikin aku melayang, terus sekarang kamu bikin aku jatuh. Kamu hebat key, kamu benar-benar hebat.” tutur Arland seraya bertepuk tangan dengan irama lambat.


“Land, aku bener-bener minta maaf … Aku gag pernah berniat sedikitpun menyakiti kamu , aku cuma…” kalimat Kezia terhenti.


Tidak mungkin Ia mengatakan yang sebenarnya. Dia teringat ancaman Irene, jika Irene tidak bisa mendapatkan Arland, maka tidak hanya Kezia yang akan hancur tapi juga Arland.


“Cuma apa?! Cuma sebuah hiburan buat kamu yang bisa bikin aku tergila-gila dan sekarang aku benar-benar bisa gila! Kamu puas key, kamu puas?!” gertak Arland. Kezia tak menjawab bahkan menatap Arland saja ia tidak sanggup.


“Kamu bikin aku jatuh cinta sama kamu, tapi hari ini kamu bikin hati aku mati key. Permainan kamu berhasil dengan baik.” Lanjut Arland dengan penekanan yang kuat di kata-katanya.


Arland segera berdiri dan berniat meninggalkan kezia.


“Land, tunggu… Dengerin dulu penjelasan aku…” Kezia memegang tangan Arland kuat-kuat tapi dengan segera Arland mengibaskannya. Dengan cepat Arland berjalan meninggalkan Kezia dan Kezia hanya bisa menangis dengan terjongkok memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. “Land,.,, maafin aku… Tapi ini yang terbaik buat kita semua…” lirih Kezia. Ia menangis sendirian, sementara Arland pergi entah kemana.


Kezia mengambil handphonenya dan mencari nomor Martin.


Kezia memeluk handphonenya erat-erat. Hari ini, ia telah kehilangan semuanya. Hidupnya dan kebahagiaannya. Satu-satunya laki-laki yang dia sayangi, hari ini benar-benar telah membencinya. Sungguh tidak ada harapan lagi.


****


 


“Bro, lo mau kemana?!” teriak Ricko saat melihat Arland dengan segera menyambar tas ranselnya dan menuju motornya.


Arland menyalakan mesin motor dengan segera dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.


“Yang, cepet kejar Arland!” seru Sherly menyadarkan Ricko.


Ricko segera berlari menuju motornya, dan bergegas mengejar Arland. Tak lama, terlihat Kezia yang berjalan dengan langkah gontai. Kania segera menghampiri Kezia dan memeluknya.


“Gue pulang dulu…” tutur Kezia dengan terbata-bata.


“Key, gue anter yaa…” Sherly menahan tangan Kezia.

__ADS_1


Namun Kezia tak menjawab apapun. Sherly segera mengambil kunci mpbil yang tergeletak di meja, lalu berjalan mengajak Kezia dan kedua sahabatnya menuju mobil.


Selama dalam perjalanan tidak ada sedikitpun suara di antara mereka. Kezia menatap keluar jendela dengan air mata berderai. Pandangannya tertuju pada kendaraan  yang hilir mudik, menyalib satu sama lain. sementara ketiga sahabatnya, hanya saling tatap, tidak tahu harus seperti apa menghibur Kezia.


Hingga sampai di depan rumah Kezia, Sherly menghentikan laju kendaraannya. Kezia turun dari mobil.


“Key…” panggil Dena dengan tatapan cemas. Kezia menghentikan langkahnya.


“Gue berangkat jam 8 malam ini…” tutur Kezia tanpa memandang wajah ketiga sahabatnya, kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Kania, Sherly dan Dena saling berpandangan. Raut khawatir tergambar jelas di wajah mereka. Namun, mereka pun tidak bisa mengejar Kezia, karena saat ini Kezia pasti butuh waktu untuk sendiri.


****


Motor Arland berbelok memasuki kawasan apartemen. Sedari tadi Ricko terus membuntutinya. Arland memarkir motor dengan sembarang, lalu turun dan berjalan masuk menuju unit apartemennya. Ricko berlari mengejarnya. Dengan sekuat tenaga, Ricko berhasil mengejar Arland saat masuk ke dalam lift. Ricko menoleh  Arland yang berdiri disampingnya. Wajahnya terlihat dingin dan kacau. Matanya merah dengan rahang yang mengeras. Tangannya mengepal dengan kuat.


“TING!” lift berhenti di lantai 16. Arland segera menekan kode akses kamarnya dan membuka pintu dengan segera.


“ARRGGHHH!!!!” teriak Arland sambil membanting tas ranselnya kemudian mengacak rambutnya dengan frustasi.


Arland terduduk di sofa ruang tamunya, dengan tangan yang menopang kepalanya.


Ricko duduk disamping Arland dan terus memandangi sahabatnya. Baru kali ini Arland terlihat begitu kacau. Ricko tak berani mengatakan apapun. Dia hanya ingin menemani Arland, dan memastikan sahabatnya tidak melakukan hal-hal yang berbahaya.


Setelah nafas Arland terdengar lebih tenang, Ricko mengambil air minum dari kulkas dan memberikannya pada Arland. Tapi Arland malah mengibaskannya dan membuatnya jatuh dan pecah hingga berserakan. Ricko tak protes sedikitpun.


Arland bangkit dari duduknya. Dengan langkah gontai berjalan menuju kamar mandi. Tak lama berselang, terdengar suara air yang berjatuhan membasahi tubuh kekar Arland. Arland menangis tersedu-sedu. Di tonjoknya tembokan kamar mandi yang tertutup oleh keramik. Tangannya berdarah dan terbawa air yang mengalir. Tak terasa sakit sedikitpun bagi Arland.


15 menit kemudian Arland keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di pinggangnya. Diambilnya kaos polo dengan celana boxer selutut. Dia berjalan keluar kamar menuju dapur. Di meja makannya, tampak Ricko yang sedang memainkan handphonenya. Beberapa makanan terhidang di meja. Namun Arland mengabaikannya dan hanya mengambil air putih dari atas meja makan.


“Land…” Ricko menatap Arland yang berdiri di hadapannya. Arland tidak menyahut, menoleh pun tidak. “Kezia berangkat malam ini jam 8.” Lanjut Ricko.


Namun Arland tak merespon apapun. Arland menaruh gelas bekas minumnya di tempat semula, lalu kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan keras.


Arland berdiri di depan jendela yang menghadap ke taman kenangannya bersama Kezia. bayangan Kezia yang terisak dihadapannya kembali muncul di ruang imaji Arland. Perasaannya bercampur aduk. Rasa marahnya masih tak kunjung reda.


“Land, lo masih ada kesempatan temuin dia dulu… jangan sampe lo nyesel!” seru Ricko dari balik pintu kamar Arland. Namun Arland masih tetap mematung seolah tak mendengar seruan Ricko.


*****

__ADS_1


__ADS_2