
Arland kembali mencoba menghubungi Kezia, namun kali ini malah tidak aktif membuat perasaannya semakin tidak menentu. Ia menggenggam handphonenya kuat-kuat. Di raihnya jaket dan kunci mobil yang tergeletak di sofa.
“Mau kemana land?” tanya Ricko yang tampak asyik dengan handphonenya.
“Ke rumah kezia.” sahut Arland dengan segera.
“Mau ngapain? Kenapa gag besok aja sih?” Ricko melirik jam dinding dan sudah pukul 10 malam.
“Perasaan gue gag enak. Takut kezia kenapa-napa. Soalnya gag biasanya dia kayak gini.” terang Arland yang segera memakai jaket hitamnya.
“Ya udah, hati-hati lo bro.” tukas Ricko.
Arland bergegas turun ke basemen apartemennya. Ia menyalakan mobil yang terparkir dengan rapi. Hanya hitungan detik saja Arland sudah menginjak pedal gas dan mengarahkan mobilnya melewati jalanan menuju rumah Kezia. Pikirannya benar-benar tidak tenang.
Jarak apartemen dan rumah Kezia tidak terlalu jauh, namun terasa begitu jauh Arland rasakan saat ini.
Sampai di halaman rumah Kezia, pintu gerbang masih sedikit terbuka. Arland segera masuk dan mengetuk pintu rumah.
“Malem tante…” sapa Arland saat melihat Eliana muncul dari balik pintu.
“Malem land…” sapa Eliana yang masih kaget melihat kedatangan Arland malam-malam.
“Kezia nya ada tan?”
“Emm.. ada. Masuk dulu, biar tante panggilin…” sahut Eliana sambil membuka pintu lebar-lebar.
Arland segera masuk. Ia berjalan melewati ruang tamu yang masih terang benderang. Di ruang keluarga terlihat Martin yang sedang menyaksikan pertandingan bola.
“Maleem om..” sapa Arland dengan hangat.
“Eh land, sini gabung sama om, nonton bola…” ajak Martin yang terlihat bersemangat karena ada yang akan menemaninya menonton sepak bola.
“Iya om..” Arland duduk di samping Martin yang sesekali berkomentar tentang permainan club favoritnya. Arland menanggapinya dengan santai.
“Tok tok tok” Eliana mengetuk pintu kamar Kezia perlahan.
“Zia, ada arland di bawah sayang. Kamu masih bangun kan?” panggil Eliana yang melihat lampu kamar Kezia yang masih menyala. Kezia tak memberikan jawaban. “Sayang….” Eliana mengulang panggilannya.
Kezia yang baru keluar kamar mandi, melangkah mendekati meja rias dan melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya masih sembab dengan mata yang sedikit bengkak. Ia segera memakai kaos santainya.
“Zia, mamah masuk boleh…” suara Eliana kembali menggelitik gendang telinga Kezia.
Kezia segera membuka pintu. Eliana tersenyum saat melihat Kezia yang berdiri di depannya. “Ada nak Arland di bawah nyari kamu.” ulang Eliana.
“Males ah mah!” cetus Kezia seraya meninggalkan mamahnya yang mematung di pintu kamarnya. Eliana mengikuti Kezia yang duduk di pinggiran tempat tidur.
“Loh kenapa, kalian berantem?” selidik Eliana. Kezia hanya terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca. “Sayang, kalo ada masalah, jangan di hindarin… Kalian bicarain baik-baik. Selesein masalahnya, jangan bikin perasaan kamu gag tenang…” tutur Eliana seraya mengusap lembut punggung Kezia.
Kezia menatap Eliana dengan raut sendu. Eliana tau, putrinya sedang tidak baik-baik saja.
“Mamah bener, aku harus nyelesin masalahnya secepatnya.” cetus Kezia.
Eliana mengangguki tanpa tau masalah yang sedang di hadapi putrinya. Kezia mengambil handphone dan sebuah amplop coklat di tangannya. Ia menuruni satu per satu anak tangga dengan cepat.
Melihat kedatangan Kezia, Arland segera berdiri seraya tersenyum. Namun Kezia tak menggubrisnya. Sikapnya begitu dingin, tidak seperti biasanya. Ia berjalan melewati ruang keluarga, seolah tidak ingin berbicara di hadapan papahnya.
__ADS_1
“Om, sebentar ya…” pamit Arland
“Oh iyaa…” Martin mencoba mengerti maksud Arland.
Dari kejauhan Martin memperhatikan sikap Kezia yang benar-benar tidak seperti biasanya. Di tatapnya wajah Eliana yang kini ada di hadapannya. Namun Eliana pun hanya mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu.
Kezia berjalan keluar rumah dan duduk di kursi yang berada di teras rumahnya. Arland duduk di sampingnya dan hanya terhalang sebuah meja kecil.
“Key, kok aku telpon kamu…”
“Kita putus!” tiba-tiba kalimat Kezia memotong ujaran Arland.
“Loh kenapa sayang, aku salah apa?” tanya Arland yang segera menghampiri Kezia dan bersimpuh di hadapannya.
“Gag usah belaga gag tau! Aku muak liat kamu!” sergap Kezia dengan suara meninggi seraya berdiri.
Arland pun ikut berdiri dan mencoba meraih tangan Kezia.
“Key, kalo aku ada salah, kamu kasih tau dong. Jangan kayak gini…” lirih Arland.
Kezia mengibaskan tangannya.
“Kamu masih gag tau apa salah kamu? Nih!!!” gertak Kezia seraya melemparkan amplop coklat ke atas meja. Hasil USG pun berhamburan dari dalam amplop.
“Key , apa ini?” Arland mengambil salah satu hasil usg dan melihatnya. Terlihat nama pemilik hasil USG tersebut adalah Difa.
“Kamu gag bisa baca apa gimana? Itu hasil USG anak kamu!” gertak Kezia dengan air mata yang mulai menetes di pelupuk matanya.
“Keyy, aku gag ngerti maksud kamu. Aku gag pernah ngelakuin apapun sama Difa. Sumpah, aku gag ngelakuin apa-apa.”
“Oh, perlu aku bantu ingetin waktu kamu tidur sama Difa?” tanya Kezia seraya memperlihatkan foto Arland yang tengah terbaring dengan kepala Difa di atas dadanya. Arland tercengang. Bagaimana mungkin Kezia memiliki fotonya yang seperti ini bersama Difa. “Kenapa, kamu baru ingat?” lanjut Kezia dengan seringai sebal.
“PLAK!” sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arland. Kezia merasa kalau Arland telah benar-benar mengakui perbuatannya dengan Difa dan malah berpura-pura tidak terjadi apapun.
Arland menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan Kezia.
“Pergi dari hidup aku dan jangan pernah kembali. Aku benci sama kamu!” tunjuk Kezia pada Arland yang lalu di dorongnya dengan cukup keras.
“Key tunggu…” Arland menahan tangan kezia. “Key ini gag seperti yang kamu bayangkan. Aku emang ketiduran di rumah difa, tapi difa sendiri yang bilang gag terjadi apa-apa. Aku sendiri gag ngerasa ngelakuin semuanya karena aku gag inget apa-apa. Lagi pula aku gag cinta…” dengan cepat Arland menjelaskan
“CUKUP!! Aku gag mau denger kebohongan apa-apa lagi dari kamu. Kamu kira aku bodoh, hah?! Lalu dengan kamu bilang gag inget apa-apa, kamu pikir itu gag terjadi dan kamu bisa lepas dari tanggung jawab? Kamu gila land! Ada nyawa di perut Difa dan itu anak kamu. Tapi kamu malah menganggapnya tidak terjadi apa-apa. Kamu emang laki-laki brengs*k!” Kezia mengibaskan tangannya dengan kasar. “Mulai sekarang, jangan muncul di hadapan aku lagi. Semua selesai. Urusan kamu, kamu urus sendiri. Kita gag ada hubungan apa-apa lagi!” sambung Kezia dengan suara bergetar.
Kezia segera pergi meninggalkan Arland yang mematung dengan tangis di sudut matanya. Ditutupnya pintu rumah dengan kencang. Kezia menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di pintu. Tubuhnya bergetar karena tangisnya yang semakin pecah.
“Keyy, aku mohon kasih aku kesempatan jelasin semuanya…”
Arland mengetuk-ngetuk pintu yang tertutup rapat namun Kezia mengabaikannya. Ia menutup kedua daun telinganya rapat-rapat. Tubuhnya terkulai lemas hingga terduduk di lantai. Tangisnya semakin menjadi. Tangisan tanpa suara, yang terasa begitu perih bagi Kezia.
“Kamu bilang cinta sama aku, tapi kamu nyakitin aku kayak gini. Lalu kamu bilang kamu gag ada perasaan apa-apa sama difa, tapi kamu ngelakuin hal gila itu sama difa. Kenapa kamu sejahat ini sama aku land, kenapa?!” gumam Kezia seraya berurai air mata.
Eliana yang mendengar pertengkaran Arland dan Kezia, segera menghampiri putrinya yang terduduk di lantai.
“Sayang…” lirih Eliana seraya memeluk tubuh Kezia.
“Mah, arland jahat sama aku mah, arland jahat….” tutur Kezia dengan tangis yang semakin keras. Hatinya benar-benar hancur. Tidak ada lagi yang tersisa, selain serpihan hati yang terasa begitu perih mengoyak batinnya.
__ADS_1
Eliana tak mampu berkata-kata. Ia hanya bisa mengusap kepala Kezia dan memeluknya dengan erat. Ia pernah merasakan rasa sakit yang dirasakan putrinya, walau saat itu hanya sebatas tuduhan yang berkebalikan dengan kenyataannya namun rasa sakit yang pernah ia rasakan, tidak pernah bisa hilang begitu saja.
Sementara itu, Arland yang merasa kesempatannya telah habis, memunguti satu per satu hasil USG yang berserakan di lantai. Ia memeganginya dengan tangan gemetar. Nalarnya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi pada dirinya dan Kezia. Dengan langkah gontai Arland meninggalkan rumah kezia. Dari mobilnya, ia memandangi daun pintu yang menjadi batas ia dengan Kezia.
Arland menangis tersedu. Karena kebodohannya ia harus kehilangan cintanya begitu saja. Cinta yang selama ini ia perjuangkan dan ia tunggu. Sakit, ya sangat sakit. Arland meremas rambutnya sendiri hingga terasa perih. Dadanya terasa begitu sakit, seperti ada ribuan jarum yang menusuknya bersamaan.
“Keyy, maafin aku…” lirih Arland parau.
****
Terdengar suara passcode apartemen Arland yang berbunyi cukup nyaring. Ricko yang masih terjaga, melihat kedatangan Arland dengan penampilan yang begitu berantakan. Arland menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia memegangi kepalanya yang terasa begitu pening. Amplop yang ada di genggamannya terjatuh begitu saja dan berserakan.
“Bro, lo kenapa?” Ricko mengampiri Arland yang tengah memejamkan matanya.
Hidungnya terlihat merah dengan wajah basah karena air mata. Tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Arland selain dengusan nafas kasarnya.
“Bro, lo baik-baik aja kan?” Ricko menyentuh pundak Arland.
Persaannya mulai gusar. Ia serasa melihat Arland 11 tahun lalu yang menangis seperti saat ini, tepatnya saat Kezia pergi meninggalkannya.
Di lihatnya beberapa hasil USG yang terserak di lantai. Ricko memungutnya, wajahnya tampak tegang saat melihat nama yang tercantum di hasil USG tersebut.
“Gue sama kezia, udah bener-bener berakhir…” lirih Arland dengan mata yang masih terpejam. Ricko tercengang.
“Bro, lo beneran ngelakuin hal gila ini sama difa? Bukannya lo bilang waktu itu lo gag inget apa-apa?” tanya Ricko yang merasa aneh dengan kejadian saat ini.
“Iya, gue gag inget apa-apa. Tapi kezia bilang, gag mungkin gag terjadi apa-apa kalo hasilnya kayak gini. Gue emang brengs*k ko.” tukas Arland dengan suara berat.
“Tapi lo yakin gag kalo lo ngelakuinnya sama difa?” cerca Ricko yang ikut kesal.
Arland menggelengkan kepalanya. “Sebrengsek- brengseknya gue, gue selalu berfikir kalo gue cuma akan ngelakuin ini sama wanita yang gue cinta. Gue gag ngerti kenapa gue bego banget dan malah ngelakuin itu sama difa.” Arland menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. “Sekarang Kezia udah gag mau ngeliat gue lagi, hidup gue bener-bener hancur ko…” ratap Arland.
“Eh beg*k, kalo lo gag ngerasa ngelakuin semuanya, ya lo harus cari tau lah kebenarannya. Jangan sampe lo maen nerima-nerima aja tuduhan si difa. Dari dulu gue udah bilang, si difa tuh toxic, siapa tau ini salah satu akal bulusnya selain ngakuin lo sebagai tunangannya!” dengus Ricko.
Sejenak Arland terdiam. Ia berusaha mencerna maksud ucapan Ricko. Beberapa gambaran kebersamaannya bersama Difa tergambar di benaknya.
“Iya, besok gue harus temuin difa. Gue harus cari tau kebenarannya.” timpal Arland dengan yakin.
“Iyaaa, inget, cara terbaik ngenalin musuh lo adalah dari jarak dekat. Besok lo jangan marah-marah dulu, baik-baikin aja dulu. Cari kesempatan dia lengah baru lo serang.” Hasut Ricko dengan semangat.
Arland mengangguk mengiyakan. Arland sangat yakin, ia tidak melakukan hal itu dengan Difa. Di kepalanya ia mulai merancang rencana untuk mencari tahu kebenaran semuanya.
“Thanks bro!” seru Arland.
“Iya sama-sama. Kalo lo cinta sama kezia, lo tunjukinlah kalo lo layak buat dapetin dia. Jangan dikit-dikit mau nyerah aja. Dia mau percaya gimana sama lo. Lagian ya, lusa kawinan gue, gue gag mau ada kilatan petir di acara gue!” sindir Ricko dengan terang-terangan.
“Sialan lo!” tukas Arland sambil melempar bantal sofa ke arah Ricko.
Arland bisa menarik nafas lega. Ia bersumpah akan membuktikan pada Kezia bahwa ia tidak melakukan hal gila itu dan akan kembali memenangkan hati Kezia.
*****
Author: Goodluck arland.... Lo gag minta tolong sama gue land?
__ADS_1
Arland: Thor lo bikin berantakan!!! Kapan gue seneng?
Author: Mungkin hari iniiii, hari esok atau nantiiiii.... ;P