My First Love Story

My First Love Story
Bersamamu


__ADS_3

“Tok.. Tok.. Tok…” Terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan tempat Angga dan Kezia menghabiskan waktu.


" Papah…” seru Angga saat Tampak Mahesa di bibir pintu.


“Apa papah menganggu?” Tanya Mahesa sambil berjalan menuju Kezia dan Angga.


“Nggak lah pah… key, kenalin, ini papahku.” Tutur angga masih terduduk.


"Selamat siang Pak, saya Kezia.” tutur Kezia sambil mengulurkan tangannya.


“Selamat siang. Panggil saja saya Om, biar terkesan lebih muda.” Tutur Mahesa sambil meraih uluran tangan Kezia


“Oh iya pak, eh Om..” Kezia masih tergagap.


“Duduklah…” Pinta Pak Mahesa sambil duduk berhadapan dengan Angga. “Om ucapkan selamat atas prestasi gemilangmu. Kamu berusaha dengan sangat keras….” Tutur Mahesa dengan senyum merekah.


“Terima kasih Om.. ini juga berkat Kak Angga yang bantuin saya belajar…” Diliriknya Angga yang duduk disampingnya.


"Kak Angga? Eemm.. baiklah…” cetus Papah sambil terangguk. Tersungging senyum di bibirnya. Angga hanya mendelik melihat isyarat mata Papahnya. “Rencana kamu mau ngelanjutin sekolah kemana nanti nak Kezia?” Lanjut Mahesa


“Saya masih belum tau. Tapi saya berharap bisa menjadi seorang dokter spesialis Onkology…” tutur Kezia


“Apa itu permintaan Angga?”


“Eemm.. bukan Om… itu memang keinginan saya sendiri…” jawab kezia dengan segera


“Kamu sebenarnya bisa melanjutkan sekolah SMA mu di yayasan milik Angga. Itu bisa memperlancar semuanya. Kalau kamu berminat, Gunakan kartu ini dan datanglah ke Yayasan milik Angga. Iya kan nak?” Mahesa menyodorkan sebuah Kartu berwarna Gold, pengenal khusus untuk siswa yang belajar di Yayasannya.


"Angga gag akan maksa. Tapi kalau kamu mau, sekolah akan menerima kamu dengan senang hati.” Sahut angga.


Berapa usiamu sekarang nak?” Tanya Pak Mahesa pada Kezia.


"Bulan lagi saya tujuh belas tahun Om..”


“Ooo selisih 9 tahun yaa kalian… cukup ideal…” tutur Mahesa.


“Maksudnya Om?” Tanya Kezia. Terlihat Angga memelototi Mahesa


"O enggak, maksud om pantas kamu manggil anak Om ini kakak, usia kalian cukup jauh terpaut…” terang Mahesa sambil tersenyum ke arah Angga. Angga menyentuh tengkuknya walau tidak gatal. Perasaannya tiba-tiba menjadi canggung . “Kalo gitu, Om kembali ke kantor dulu. Kalian ngobrol-ngobrolah dulu.” Pamit  Mahesa sambil berdiri.


"Iya Om,, terima kasih..” jawab kezia sambil berdiri mengimbangi Mahesa.


Tak lama bayangan Mahesa menghilang di balik pintu.


“Key, kamu keberatan gag kalau nginep semalem lagi di sini? Aku mau ngajak kamu jalan-jalan…” Suara Angga membuyarkan lamunan Kezia.


“Aku harus izin dulu sama guru dan orangtuaku…” Jawab Kezia dengan segera.


“Nanti pak Hendra yang urus itu…” tutur Angga sambil memintal rambut Kezia bagian bawah. kezia terangguk pasrah. “Kamu kalo keramas bagian atas doang ya?” Tanya Angga sambil terus memainkan rambut Kezia dan sesekali mencium nya.


“Sembarangan!  Gimana bisa coba keramas atasnya doang!” cetus Kezia sambil mengibaskan


rambutnya.


“Ya habis, bagian atas sampe sini lurus, bawahnya bergelombang, pasti karena nyucinya gag rata!” tutur Angga sambil tergelak.


"IIhhh ngeselin… mana ada keramas begitu.” Kezia mengumpulkan rambutnya dan mengarahkannya ke bahu kiri.


"Hahahaha" Angga makin tergelak melihat ekspresi kesal Kezia.


“Udah deh ketawanya…..” sunggut Kezia


“Hahahahha… okey, okey… aku berhenti ketawa. Sebagai permintaan maaf, nanti malem aku ajak kamu jalan-jalan yaa….” Seru Angga dengan semangat.


“Hemm…” jawab Kezia tanpa menoleh. Tersungging senyum di bibir Angga melihat ekspresi kezia yang menggemaskan.


****

__ADS_1


Siang itu , Kezia terdiam sendirian di kamar hotelnya. Rana dan teman-teman yang lain sudah lebih dulu pulang. Kezia mengotak-atik handphonenya dan memposting beberapa foto di akun media sosialnya. Fotonya bersama Rana dan Tyo, fotonya bersama seluruh peserta Olimpiade serta fotonya saat berjabat tangan dengan Angga.


“Drrtt.. ddrttt…”


Sebuah panggilan masuk di handphone kezia. nama Arland muncul di layarnya. Kezia bergegas menjawabnya.


“Haloo…”


“Hay Key… kamu lagi dimana?”


“Aku masih di hotel. Kamu udah pulang?”


“Aku di bandara. Key apa kamu nunda kepulangan karena permintaan Ryanggara?” Suara Arland terdengar berat. Sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa cemburunya.


“Iya… tapi besok aku pulang pake penerbangan pagi…” jawab Kezia yang tiba-tiba merasa bersalah pada Arland. Ia tau, Arland datang hanya untuk menemuinya.


“Apa Dia sangat penting buat kamu key?” suara Arland terdengar melemah.


"Ya, dia penting buat aku. Aku akan menceritakannya begitu aku pulang.” Tukas Kezia dengan yakin.


"Apa aku bisa menganggapnya sebagai penjelasan tentang hubungan kalian?”


Kezia hanya tersenyum mendengar pertanyaan.


“Pulang lah, hati-hati di jalan. Aku akan baik-baik saja di sini..” jawab Kezia sambil menutup telponnya.


"Tuhan apa Dia sedang cemburu?” lirih kezia dengan senyum tersungging di bibirnya saat bayangan wajah Arland muncul di pelupuk matanya.


Sementara itu di tempat lain, Arland mendengus kesal mendengar jawaban Kezia. Arland mengecek akun media social Kezia. ada perasaan sesak saat melihat postingan Kezia berjabat tangan dengan Angga.


"Kenapa begitu sulit untuk menjadi satu-satunya di samping kamu key?"


****


“Selamat sore Nona.. Tuan Muda sudah menunggu anda di Lobby..” tutur Hendra yang datang menjemput kezia.


“Apa kak angga nginep di sini pak?” selidik Kezia.


Kezia hanya terangguk mendengar jawaban Hendra. pantas saja sejak dia datang, selalu ada laki-laki ini di Resto tapi tidak pernah sekalipun melihat Angga.


“Apa hotel ini juga milik Kak angga?”


“Betul nona…” Kezia kembali di buat terkejut. Sebesar apa kerajaan yang dimiliki angga, hingga semua titik adalah miliknya. “Mari Nona, tuan muda sudah menunggu…” lanjut hendra membuyarkan lamunan Kezia.


Kezia berjalanan beriringan dengan Hendra. Sesekali kezia melirik Hendra. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Saat berada di dalam lift pun suasana begitu hening. Tak ada orang lain yang ikut menggunakan lift.


“Hay Schnucki…” sapa sangga saat melihat kedatangan Kezia bersama hendra.


Tampilan Angga terlihat lebih kasual dengan celana jeans dan kaos polos serta topi yang menutupi kepalanya.


“Kakak  udah lama nunggu?”


“Belum lama… ayo kita jalan..” ajak Angga sambil mengulurkan tangannya. Kezia melirik Hendra yang berdiri di sampingnya.


“Apa tidak apa-apa kalau aku menolak uluran tangan Kak angga?” lirih Kezia dalam hati. Namun ekpresi hendra tetap datar melihat sikap angga.


“Ayo kak…” sahut Kezia tanpa menghiraukan uluran tangan Angga.


Angga tersenyum melihat Kezia yang tiba-tiba melangkah berjalan di depannya tanpa menghiraukan uluran tangannya.


Mereka berjalan keluar hotel. Di luar hotel sudah menunggu sebuah mobil sedan mewah produksi jerman berwarna hitam. Hendra membuka pintu, mempersilakan Kezia dan Tuannya untuk masuk.


“Apa kakak gag bawa kursi roda? Gimana kalo nanti cape?” Tanya Kezia dengan tatapa  cemasnya.


“Hari ini aku tiba-tiba bisa berjalan saat bertemu kamu. Biarkan aku menikmati setiap langkah di samping kamu. Kalopun nanti aku jatuh, aku akan baik-baik saja…” jawab Angga dengan serius.


“Berhati-hatilah, kalo nanti capek, kakak bilang aja yaa…” sambut Kezia. Angga hanya mengangguk.

__ADS_1


Perlahan Angga menggerakan jarinya mendekati tangan Kezia yang berada di samping tubuhnya. Tapi rupanya Kezia menyadarinya. Kezia memindahkan tangannya di atas pangkuannya. Angga hanya tersenyum melihat respon Kezia, lalu menyilangkan tangannya di depan dada. Angga menyandarkan tubuhnya. Sekilas menoleh ke arah Kezia yang sedang melihat ke luar jendela.


“Kamu istirahatlah dulu, pejalanan kita masih sekitar 15 menitan lagi…” tutur Angga yang melihat kegelisahan Kezia.


“Kita mau kemana kak?” Tanya Kezia yang mulai penasaran.


“Ke suatu tempat yang pasti kamu suka.”


“Heemmm Baiklaahhh…” sahut Kezia menimpali.


Suasana kembali sepi. Sampai di sebuah Mall, Hendra masuk Ke area parkir dan memarkirkan mobil dengan rapi. Tak lama dia segera turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk tuan mudanya dan Kezia. mereka berjalan beriringan keluar dari area Parkir dan masuk ke dalam area Mall yang ramai.


Angga berjalan di samping Kezia sementara Hendra di belakangnya. Beberapa pasang mata yang berpapasan melirik ke arah mereka. Kezia memang jago dalam hal mengabaikan sementara Angga merasa tatapan orang-orang tersebut berarah kepada kezia dan itu menganggunya. Terlebih saat tatapan tersebut dari laki-laki yang sedang memandangi Kezia dengan takjub.


“Kemarilah, jangan jauh-jauh.” Seru Angga sambil meraih tangan Kezia.


Sontak tubuh kezia tertarik mendekat ke arah angga.


“Ada apa kak?” Tanya kezia yang kebingungan.


“Kamu, pakailah topiku. Pandangan mereka ke arahmu terlalu mengangguku.” Seru angga sambil membuka topinya.


“Hey, gag perlu. Justru mereka melihat ke arah kakak. Pakailah, aku baik-baik saja. Lagi pula udara di sini cukup dingin…” sahut Kezia sedikit menolak perlakuan Angga. Namun Angga tetap memakaikan topi pada kezia dan melanjutkan langkahnya.


Tak lama langkah angga berbelok masuk ke sebuah Bioskop.


“Kita mau nonton kak?” Tanya kezia yang masih terus memandangi Angga.


“Iyaa… bukannya kamu seneng kalo nonton film horror…” jawab Angga sambil melirik Kezia.


“Ihh kakak masih inget aja…” jawab Kezia sambil tersenyum. Angga ikut tersenyum melihat reaksi Kezia.


Tak lama Hendra membawa beberapa cemilan dan minuman. Sementara Kezia dan Angga menunggu di kursi yang tidak jauh dari sana.


“Mari Tuan, film nya akan segera mulai..” tutur Hendra sambil menganggukan kepala. Kezia dan Angga berjalan mengikuti langkah kaki Hendra.


Tibalah mereka di studio  yang terisi tempat duduk tidak terlalu banyak. Beberapa pasang sofa berjejer rapi di sana.


"Kita duduk sebelah mana?” Tanya Kezia.


“Pilihlah sesukamu. Ruangan ini milik Kita.” Jawab Angga.


"Maksudnya kakak booking satu ruangan ini?” kezia tampak keheranan.


“Bukan aku, tapi pak hendra…” Jawab Angga sambil menunjuk ke arah Hendra. Hendra hanya mengangguk mengiyakan.


“Saya hanya mengikuti permintaan Tuan Muda” lirih hendra dalam hati.


“Ya ampun kak, mana seru nonton berdua giini. Seru itu kalo nonton rame-rame. Jadi ada temen teriak-teriak.


“Terus kamu mau kita kemana?” Tanya Angga.


“Kakak gag pernah ngajak cewek jalan apa?” kezia balik bertanya.


Angga malah melirik ke arah Hendra yang tertunduk menahan tawanya. Angga menggelengkan kepala.


“Hahahaha… masa sih cowok kaya dan keren kayak kakak belum pernah jalan sama cewek?” ledek


Kezia sambil tergelak.


“Tuk!” Angga menyentil dahi Kezia.


"Ih! Sakit tau kak…” gerutu Kezia sambil mengusap dahinya.


“Makanya jangan suka ngeledek!” cetus Angga sambil menarik tangan Kezia.


“Ihhh kak, ini kita mau kemana sih?” protes Kezia sambil ikut mempercepat langkahnya mengikuti langkah lebar Angga.

__ADS_1


Angga tidak memberikan jawaban. Beberapa pasang mata memperhatikan Angga dan kezia. angga semakin membenamkan  topi yang di pakai kezia, hingga matanya benar-benar terhalangi. Ia sangat tidak rela gadisnya dilirik orang lain, lalu kembali berjalan sambil menarik tangan Kezia. “Dasar orang aneh!” gerutu Kezia dalam hati.


****


__ADS_2