
Malam telah menjelang. Kezia yang baru sampai di rumah segera memarkir mobil di halaman rumahnya dan bergegas masuk. Hujan rintik-rintik menambah suasana dingin malam itu.
Di ruang keluarga tampak Sean yang sudah terlelap di pangkuan Eliana.
“Malem mah, pah…” sapa Kezia.
“Malem sayang…” sahut Eliana dan Martin bersamaan.
Kezia menghampiri mereka lalu duduk bersimpuh melihat sean yang sudah tertidur pulas.
“Udah lama mah?”
“Belum…. Paling sekitar 10 menitan.”
“Nanti papah yang pindahin dia ke kamarnya. Kamu istirahatlah.” ujar Martin. Kezia mengangguk mengiyakan.
Kezia beranjak menuju kamarnya. Tubuhnya terasa begitu lengket. Kezia kembali memperhatikan detail kamarnya yang tidak berubah sedikitpun. Masih sama seperti saat 11 tahun lalu.
Ia menarik handuk dan segera masuk ke kamar mandi. Guyuran air menyegarkan tubuhnya. Setelah merasa bersih, Kezia segera memakai baju yang sudah ia siapkan.
Diambilnya handphone yang ia gunakan. Lalu ia mengganti sim card yang sebelumnya adalah nomornya saat di Jerman. Handphonenya kembali menyala. Ia mulai menguatik atik kembali handphonenya. Di simpannya nomor Rana yang tadi ia catat di bukunya.
Kezia pun menyalakan laptopnya. Terlihat ada email masuk dari Hendra. Ia mengabarkan sudah ada 6 perusahaan yang menawarkan kerja sama untuk pembangunan rumah sakit. Kezia melihat desain yang di tawarkan oleh masing-masing calon rekanannya. Hendra pun memberikan catatan pada masing-masing perusahaan yang akan bekerja sama.
Kezia lebih tertarik pada desain yang di tawarkan oleh masing-masing perusahaan daripada membahas track record perusahaan tersebut. Karena Kezia yakin, Hendra sudah melakukan penyaringan terhadap perusahaan yang akan bekerja sama.
Kezia mengirim kembali desain rumah sakit yang di tawarkan. Desain tersebut milik perusahaan PT. Adhi putra.
“Baik non Kezia, saya akan segera mengkonfirmasikan hal ini dengan perusahaan tersebut.” balas Hendra.
Kezia hanya tersenyum mendapat balasan pesan dari Hendra. Ia melempar ponselnya sembarang lalu menelungkupkan badannya yang terasa lelah, hingga akhirnya ia terlelap.
***
Hari ini adalah hari pertama Sean masuk sekolah. Ia terlihat sangat antusias. Ia membawa bekal yang disiapkan oleh Eliana. Setelah sarapan bersama, Kezia mengantar Sean ke sekolahnya. Di sana siswa lain pun sudah mulai berdatangan.
__ADS_1
“Hello sean…” sapa Ms Mega dengan ramah. Sean tersenyum mendapatkan sapaan dari Mega.
“Sean, heute ist dein erster tag. Finde so viele freunde wie moglich okey!” seru Kezia.
“Okey mima!” sahut Sean.
“Baik bu mega, saya titip sean, nanti siang sore saya akan menjemputnya.” terang Kezia.
“Baik mba…”
Kezia mengecup pucuk kepala Sean kemudian berlalu meninggalkan Sean seraya melambaikan tangan. Sean tersenyum dengan ceria sepertinya ia menyukai lingkungan sekolah barunya.
Kezia masuk kembali ke dalam mobil. Sejenak ia memandangi anak-anak yang sedang berlarian. Pikirannya tertuju pada satu tempat. Dan ia segera mengarahkannya ke sana.
30 menit melajukan mobilnya, ia sampai di halaman panti. Di sana terlihat anak-anak yang sedang bermain. Ada yang menangis karena di jahili ada juga yang bertengkar karena berebut mainan. Semuanya sangat menggemaskan bagi Kezia. Ia membuka pintu mobilnya dan dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh baya keluar dengan membawa makanan di atas nampan. Dengan segera anak-anak berkerumun.
Kezia berjalan mendekati mereka. Seorang anak berdiri menghadang Kezia.
“Kakak siapa?” tanya anak tersebut dengan kue di tangannya.
“Hay jagoan, bunda ada?” Kezia mengusap kepala anak tersebut seraya tersenyum.
Ia menatap Kezia dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bergerar menahan tangis dengan tanpa sepatah kata pun ia ucapkan hanya sebuah pelukan hangat yang menyambut Kezia.
“Kezia,,, bidadari bunda…” lirih wanita tersebut dengan tangis di dadanya. Kezia tersenyum senang. Pelukan hangat yang selalu Kezia rindukan salah satunya adalah milik Nia. Nia mengecupi pipi dan dahi kezia hingga puas. Setelah puas, Nia melepaskan pelukannya dan beralih memandangi Kezia. “Gimana kabar kamu nak? Lama bunda gag liat kamu…”
“Aku baik bun… Bunda gimana kabarnya?"
"Kabar bunda baik sayang. Cuma pasti ada seseorang yang sangat merindukan kamu di dalam sana."
Kezia sudah tahu benar siapa yang dimaksud Nia.
"Boleh zia temui dia sekarang?" Kezia terlihat begitu antusias.
"Tentu, pergilah."
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Kezia segera masuk ke panti dan menuju salah satu kamar. Kezia mengetuk pintu yang tertutup rapat, tempat sahabatnya berada.
“Kakak sibuk, kalian jangan ganggu!” teriak Dena dari dalam kamar. Kezia hanya tersenyum, ia begitu merindukan suara cempreng itu.
Kezia memutar handle pintu kamar Dena. Tampaklah Dena yang sedang duduk di meja belajarnya dengan laptop di menyala terang. Rambutnya terkucir dengan baju tidur yang masih melekat di tubuhnya.
“Kalian ngapain sih masuk segala, kakak bilang kan kakak lagi sibuk!” seru dena yang menyangka adik-adik pantinya kembali mengusiknya.
Kezia tak menjawab. Ia berjalan mendekati Dena. Rupanya Dena sedang menulis cerita anak-anak dan tulisannya terlihat jelas oleh kezia.
“Jangan bully aku, kalian gag boleh gitu sama temen sendiri!” cetus Kezia memperagakan ujaran di cerpen Dena dengan penuh penghayatan.
Dena segera berbalik. Ia mengenal suara yang barusan di dengarnya.
“KEZIA!!!!!!” teriak Dena yang melotot tidak percaya. Kezia hanya terangguk seraya tersenyum. “Ini bener lo kan? Hah? Hah?” Dena menyentuh wajah dan rambut Kezia bergantian bahkan memutar tubuh Kezia untuk memastikan yang dilihatnya tidak salah.
“Terus lo pikir gue siapa?” cetus Kezia seraya tersenyum.
“Rambut panjang ini, alis tebal ini, lesung pipi ini, dagu lancip ini, hidung mancung ini, astagaaaaa lo beneran keziaaa!!!!” Dena kembali berteriak membuat anak-anak panti tercengang melihat tingkah Dena namun Dena tidak menghiraukannya. Ia kembali memeluk Kezia. “Key, gue kangen sama lo. Kenapa lo pergi lama banget???? Apa lo gag kangen sama gue?” seru Dena yang perlahan berubah jadi isakan.
“Gue juga kangen sama lo, makanya gue pulang.” lirih Kezia seraya mengusap punggung Dena.
Dena mengusap air matanya. Ia memandangi wajah cantik Kezia yang selalu ia rindukan.
“Untung gue cewek, kalo gue cowok,, uuhhh…” seru Kena sambil mencubit pipi Kezia.
“Ah dasar lo!” seru Kezia sembari tergelak.
“Bentar, gue telpon dulu sherly sama kania. Kita ngumpul di tempat biasa.” Seru Dena sambil menekan-nekan tombol handphonenya.
Melihat Dena yang begitu sibuk bertelepon, mata kezia berkeliling melihat isi kamar Dena yang masih tetap sama. Ia melihat tempat tidur yang dulu sering dia gunakan saat menginap. Diusapnya kasur tersebut, wanginya masih sama. Bu nia benar-benar merawatnya dengan baik.
“Kenapa, lo kangen nginep di sini?” cetus Dena yang mengagetkan Kezia.
“Iya na, gue kangen…” sahut Kezia seraya tersenyum.
__ADS_1
“Okey, lo kangen-kangenan dulu. Gue mandi dulu. Kita kasih kejutan buat kania sama sherly.” tutur Dena sambil menepuk pundak Kezia. Keziapun mengiyakan untuk beberapa saat Kezia kembali tenggelam dalam kenangannya.
****