
Artikel Kezia sudah hampir selesai. Sebelum mengirimnya untuk mengikuti perlombaan, terlebih dahulu ia mengkonsultasikannya dengan Carolin melalui email dan tidak perlu menunggu lama, Carolin sudah memberikan revisi walau hanya sedikit. Kezia tersenyum lebar saat Artikelnya ternyata di sukai oleh Carolin. Dengan segera ia menyelesaikan revisinya. Ini kali pertama bagi Kezia mengikuti lomba seperti ini. Sebenarnya ia tidak terlalu muluk mengharapkan jadi juara, ia hanya ingin meningkatkan kosakatanya dan pemahamannya di bidang medis dasar.
“Krett!”
Seseorang menarik kursi ke samping Kezia lalu duduk di sana. Bahkan ia menyenderkan kepalanya di bahu Kezia.
“Hey, apa-apaan ini?” Kezia refleks menarik tubuhnya saat ternyata Fritz tiba-tiba bersandar di bahunya tanpa permisi.
“Sebentar saja, aku mohon…” lirih Fritz seraya menyandarkan kepalanya. Kezia menoleh, terlihat jelas kalau Fritz tidak sedang baik-baik saja.
“Apa kamu sakit?” Kezia merasa iba setelah mendengar perbincangan kedua gadis tadi tentang Fritz.
“Tidak, aku hanya merindukanmu.” tutur Fritz sambil tersenyum. Kezia mendorong kepala Fritz menjauh. Namun Fritz malah menarik tangan kezia dan memeganginya. “Kau sudah mendengarnya?” tanya Fritz seraya menatap tajam Kezia.
“Mendengar apa?” Kezia mengibaskan tangannya. Rasanya lebih baik ia tidak mengetahui apapun.
“Aku bertengkar dengan wanita itu di hadapan dekan, karena melaporkanku minum minuman beralkohol.” ujar Fritz sambil mengacak rambutnya kasar.
“Maksudmu?” Kezia mengernyitkan dahinya.
Fritz tersenyum kecil, ia menatap Kezia laman. “Aarrggghh rupanya kau memang tidak tertarik sedikitpun tentangku, bahkan kau tidak mencari taunya…” sahut Fritz dengan senyum kecewa. Kezia hanya terdiam, ia masih dengan buku-buku di hadapannya yang belum selesai ia baca.
Fritz menghela nafas panjang, ada gurat kesedihan di wajahnya. “Kau tau, 12 tahu lalu wanita itu mencampakkanku dan papahku. Dia meninggalkankan papah yang hidup mengabdikan dirinya sebagai dokter di pedalaman dan memilih pergi dengan laki-laki lain. Dia tidak pernah bertanya kabarku atau bertanya apa aku hidup dengan baik. Apa aku makan atau tidak. Apa aku sehat atau sakit. Dia pergi begitu saja seperti kami bukan apa-apa baginya. Jika saat ini aku membencinya, apa aku salah?”
Kali ini Kezia menoleh, bagaimana pun ia merasa hal yang di dapatkan Fritz tidaklah adil. Tapi hal tersebut tidak bisa di jadikan alasan oleh Fritz untuk melakukan hal yang tidak-tidak.
“Cerita lah kalau kamu masih ingin cerita, aku akan mendengarkan…” lirih Kezia.
Fritz hanya tersenyum tipis seraya mendekatkan wajahnya pada Kezia. “Lihatlah, kamu mulai peduli. Hati-hati, kau akan jatuh cinta padaku.” tutur Fritz sambil tersenyum jenaka. Untuk pertama kalinya Fritz bercerita langsung masalah pribadinya pada seorang gadis. Untuk alasan apa, ia sendiripun tidak pernah tahu. Yang jelas, ia bisa melihat kedamaian saat menatap mata Kezia.
Kezia tahu, mengakui kesedihan dan air mata sesuatu hal yang mahal untuk laki-laki seperti Fritz yang selalu ingin memperlihatkan gaya keren, arogan dan semena-semannya apalagi terhadap perempuan. Tapi mungkin di belakang sana, ia sudah begitu kenyang menangis dan bersedih.
“Haiissh kamu begitu menyebalkan!” keluh Kezia yang kesal dengan tingkah Fritz. Namun hatinya sedikit tenang karena Fritz sudah kembali usil.
“Kalau suatu hari aku memintamu untuk menikah denganku, apa kamu mau?” tanya Fritz lagi-lagi dengan terus terang.
Di lubuk hati terdalam Fritz, berharap kelak hanya Kezia yang melihat ia bersedih, bukan wanita lain yang tak pernah masuk ke dalam hatinya.
“Tentu saja tidak!” sahut Kezia dengan yakin.
“Ya tuhan, kamu begitu terus terang! Bisakah kamu sedikit berbohong mengatakan iya untuk menghiburku?”
__ADS_1
“Pernikahan itu bukan sebuah permainan dan lagi kamu hobi sekali bermain wanita, lalu mencampakkan mereka begitu saja. Apa kamu tidak berfikir kalau mungkin saja di antara mereka ada yang tulus sayang sama kamu tapi kamu malah menyakitinya!” cerocos Kezia.
“Apa ada wanita tulus yang datang dengan cara menggoda dan menawarkan s*ks sebagai penenang?” cetus Fritz. Kezia terperangah mendengar ucapan Fritz.
“Ya tapi, kalau kamu tidak suka kenapa tidak kamu tolak saja, jangan malah mengiyakan dan kamu sendiri menikmati di sentuh wanita-wanita itu!” tukas Kezia sambil bergidik. “Fritz, walaupun kamu dendam terhadap wanita, tapi jangan balik melakukan hal seperti itu pada wanita lain. Mereka tidak bersalah.” lanjut Kezia.
“Astaga, kamu belajar khotbah di mana? Bisa begitu lancar menasihatiku…” sahut Fritz sambil tergelak.
Kezia berdecik sebal. “Aku tidak sedang menasihatimu ya, aku hanya memberi tahumu karena aku seorang wanita. Dan aku tidak akan terima mendapat perlakuan seperti itu. Terserah kamu mau terus seperti itu atau tidak, tapi ingat, jodohmu cerminan dirimu.” sunggut Kezia seraya menatap Fritz denagn tajam.
“Ya sudah, ayo terus ceramah. Aku suka mendengar kamu mengomeliku..” timpal Fritz.
“Nggak! Aku sibuk!” cetus Kezia yang kembali serius menatap layar laptopnya. Fritz hanya tersenyum. Ia memandangi Kezia yang kembali serius. Tangan kanannya menyangga dagunya dengan santai.
“Kenapa aku malah suka melihatmu yang banyak bicara?” batin Fritz.
Selama ini, saat ia memiliki pasangan, yang mereka bicarakan adalah masalah senang-senang, hura-hura, s*ks atau hal menyenangkan lainnya. Namun tidak begitu dengan hatinya, di tengah banyaknya wanita yang menemaninya, Fritz selalu merasa sepi. Tidak ada yang pernah benar-benar peduli dengan perasaannya atau hidupnya. Kezia mengingatkannya pada ibunya yang dulu ia rindukan. Wanita yang selalu menyayanginya, sebelum ia benar-benar pergi dan mencampakkan Fritz dan papahnya.
“Kezia, wajarkan kalau aku membencinya?” lirih Fritz dengan tatapan serius. Kezia menoleh lalu tersenyum.
“Setiap orang bisa melakukan kesalahan dan setiap orang juga punya kesempatan untuk memperbaikinya. Semua yang terjadi tidak bisa diulang, pilihan mu hanya memaafkannya lalu hidup dengan tenang, atau seumur hidup membencinya dan seumur hidup juga kamu merasa tidak tenang.” Begitu saja kata-kata itu mengalir dari mulut Kezia, membuat Fritz terpaku di tempatnya.
Kezia menatap Fritz dengan hangat lalu segera memalingkan wajahnya dan kembali menatap layar laptopnya. Terdengar hembusan nafas yang cukup kasar dari Fritz. Sepertinya ada banyak hal berat yang sedang dia pikirkan.
“Aku tau kamu sangat menyayanginya fritz… karena itu kamu sangat kecewa.” batin Kezia.
****
“Mau sampai kapan kamu di sini?” tanya Fritz yang kembali duduk di samping Kezia yang masih menatap laptopnya.
“Sebentar lagi selesai dan akan langsung ku kirim.” terang Kezia tanpa melirik sedikitpun.
“Makan lah dulu, sudah waktunya makan malam..” Fritz menyodorkan roti dalam paperbag dan coklat hangat di gelas kertas yang tertutup rapat.
“Terima kasih…” sahut Kezia dengan senyum tipis yang tertuju pada Fritz.
"Astaga!!" Fritz meringis menyentuh dadanya sendiri.
"Kenapa?" perhatian Kezia segera beralih pada Fritz.
"Senyummu menusuk jantungku." lirih Fritz seraya terkekeh
__ADS_1
"Haiisshhh!! Kamu menyebalkan!" Kezia refleks memukul bahu Fritz, namun Fritz hanya tertawa. Usahanya berhasil untuk menggangu Kezia yang selalu terlihat serius.
“Kamu punya kontak mrs carolin? Aku mau mengabarinya sudah mengirim artikelku…” tutur Kezia tanpa ragu.
Fritz mengeluarkan handphonenya, lalu menyerahkannya pada Kezia.
“Kalau nomornya masih sama.” cetus Fritz seraya menggigit roti di tangannya.
Ternyata Fritz masih menyimpan nomor Carolin dan benar saja, nomornya masih aktif.
“Dia masih setia menggunakan nomor yang sama selama 12 tahun. Mungkin dia menunggumu menghubunginya…” lirih Kezia
Fritz hanya terdiam. Nomor handphone Mrs carolin adalah gabungan tanggal lahir mereka bertiga, Fritz, Carolin dan dokter Albert.
“Cepat selesaikan urusanmu. Kita keluar sebentar.” Fritz menanggapinya dengan dingin.
Tanpa berkomentar Kezia segera mengirim pesan pemberitahuan pada Carolin tentang artikelnya yang sudah selesai dan Carolin berjanji akan mengeceknya.
*****
“Kita mau kemana?” tanya Kezia saat Fritz menarik tangannya dan membukakan pintu mobilnya.
“Ikut saja, aku tidak akan menculikmu.”
“Sepedaku?”
“Aku jemput kamu besok!”
Fritz tidak mau mendengar protes lebih lanjut dari Kezia. Ia segera menutup pintu mobil Kezia dan duduk di belakang kemudi. Tidak lupa ia memasangkan seat belt yang melingkari tubuh Kezia. Mobil antik produksi Jerman itupun melaju membelah jalanan yang lenggang dan di terangi lampu jalanan yang berwarna kekuningan. Selama perjalanan tidak ada pembicaraan apapun di antara keduanya.
Fritz menghentikan laju kendaraannya di sebuah dataran tinggi. Di hadapan mereka terlihat Heidelberg castil dan jembatan tua yang terlihat begitu indah. Kezia berdiri sambil mendekap tubuhnya karena udara terasa begitu dingin. Sementara Fritz berdiri menyandarkan tubuhnya pada mobilnya. Hembusan angin menggoyangkan pepohonan di sekitar mereka, membuat rambut Kezia yang terurai ikut meliuk seirama hembusan sang angin.
“Cantik…” lirih Kezia melihat keindahan di depan matanya yang di terangi kerlap-kerlip lampu dari rumah-rumah yang terlihat seperti bintang.
“Ya sangat cantik, sampai-sampai aku tidak bisa mengedipkan mata.” Fritz menimpali Kezia sambil menatapnya. Entah apa yang menurut Fritz begitu cantik.
“Apa kamu sering ke sini?”
“Ini kali kedua. Kemarilah, aku punya minuman hangat.” Tutur Fritz.
Kezia berjalan mendekati Fritz dan menerima minuman yang disodorkan Fritz, ialah segelas Capucino yang masih mengepulkan asapnya. Kezia ikut bersandar ke mobil. Mereka menikmati waktu yang berjalan begitu saja. Tidak ada suara, masing-masing menikmati waktunya dengan pikiran yang berputar, sambil berbincang pada dirinya sendiri.
__ADS_1
*****