My First Love Story

My First Love Story
Episode 155


__ADS_3

Kezia merasa badannya begitu pegal. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk ke sayangannya. Kondisi Arland kini sudah membaik sehingga Kezia memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Hanya sesekali ia ke apartemen Arland untuk mengantarkan makanan yang di masak oleh Eliana.


Kezia mengeluarkan handphonenya. Entah mengapa, beberapa hari ini ada yang mengusik fikirannya. Ia mencari salah satu nomor. Lalu mencoba menelponnya.


Di tepi ranjang ia terduduk saat panggilan suaranya terhubung pada seseorang.


“Halooo sayang…” sapa suara hangat Anna.


“Mah….” Kezia tersenyum mendengar hangatnya sapaan wanita yang dirindukannya. “Mamah apa kabar?” lanjut Kezia seraya memainkan pinggiran rok selututnya.


“Kabar baik nak. Kamu, sean dan keluarga apa kabar?”


“Aku dan keluarga juga sean kabar baik.” Kezia tertunduk. Sejenak kalimatnya terhenti.


“Key, kita video call aja ya, mamah udah lama gag liat kamu.” cetus Anna dengan semangat.


“Iya mah.” Kezia mematikan sambungannya. Lalu dengan segera melakukan panggilan video. Tampak lah wajah Anna yang tengah duduk bersama Mahesa.


“Hay key…” sapa Mahesa yang melambaikan tangan seraya tersenyum.


“Hay pah…” sahutnya ikut tersenyum. “Gimana kabar papah?”


“Baik dong. Liat aja, papah masih segar gini.” Sahut mahesa seraya menegakkan tubuhnya. Kezia tersenyum geli. 2 orang ini lah yang kerap mengusik pikiran dan selalu ia rindukan.


“Pah, mah… Key mau ngasih tau sesuatu…” Kezia terlihat ragu saat menatap kedua wajah di hadapannya.


“Ada apa sayang? Apa kamu akan menikah?” tebak Anna. Mata Kezia terbelalak, bagaimana bisa Anna menebaknya dengan tepat.


“Sepertinya tebakan mamah benar.” sambung Mahesa dengan senyum lebarnya.


Kezia tersenyum tipis mendengar ucapan Anna dan Mahesa. “Apa mamah sama papah gag marah?”


“Loh, kenapa marah, itu kabar yang membahagiakan nak. Sayang, mamah sama papah memang sangat ingin kamu menikah dengan mendiang putra kami tapi apa boleh di kata, takdir berkata lain. Tapi apapun itu, selanjutnya kamu punya hak untuk melanjutkan hidup. Mamah yakin, angga juga pasti seneng mendengarnya di atas sana.” tutur Anna dengan mata berkaca-kaca.


Kezia terangguk kemudian tertunduk. Dalam hatinya ia sangat bersyukur memiliki orang-orang yang begitu mencintainya.


“Kapan acaranya key? Papah sama mamah pasti akan hadir.” Mahesa mencoba mengakhiri keterpakuan Kezia.


“Bulan depan pah…” sahut Kezia. Ditatapnya wajah damai Anna dan Mahesa bergantian. “Terima kasih mah, pah. Aku gag tau harus bilang apa, aku sangat bersyukur punya mamah dan papah yang begitu menyayangi aku.” ungkap Kezia penuh haru hingga matanya tampak berkaca-kaca.


Anna tersenyum dalam rasa haru yang sama. Mahesa mengusap-usap lengan Anna yang di rangkulnya.


“Kami juga sangat bersyukur nak, bisa mengenal gadis sebaik kamu.” tandas Anna. Baginya, Kezia telah memberinya kesempatan untuk bersama Angga dalam waktu yang lebih lama. Tentu itu sesuatu yang sangat berarti untuk mereka.


Terbit rasa syukur di hati Kezia. Kegundahan yang ia rasakan beberapa hari ini akhirnya terjawab sudah. Anna dan Mahesa adalah bagian penting dalam hidup Kezia. Restu mereka, Kezia yakini akan membuat hidupnya lebih bahagia.


****


 


Hari pernikahan semakin dekat dengan segala persiapan yang sudah hampir rampung. Hari ini Arland mengajak Kezia untuk melihat tempat resepsi pernikahan mereka. Walaupun semuanya di serahkan pada WO yang bagus, tapi Arland ingin memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.


Pagi-pagi mobil Arland sudah terparkir di depan rumah Kezia. Sebelum pergi, mereka sarapan bersama. Seperti biasa, makanan yang dihidangkan Eliana selalu menjadi favorit seluruh anggota keluarga termasuk Arland.


“Kalian harus hati-hati di jalan. Hari pernikahan kalian cuma beberapa hari lagi. Mamah gag mau terjadi sesuatu yang buruk sama kalian.” tutur Eliana dengan wajah cemasnya.


“Mah, jangan ngomong gitu dong. Kita do’akan saja supaya anak-anak kita baik-baik saja.” sela Martin seraya menggenggam erat tangan sang istri.


“Iya tante, percaya sama kami, kami akan baik-baik saja dan jangan lupa do’akan kami juga agar kami selalu baik-baik saja.” timpal Arland dengan senyuman hangatnya.

__ADS_1


Eliana mengangguk. Ia menatap Arland dan Kezia bergantian. Diusapnya pula kepala Kezia dengan lembut.


Setelah menghabiskan sarapannya, Arland dan Kezia bergegas berangkat. Perjalanan mereka cukup panjang. Eliana membawakan beberapa cemilan yang sudah ia siapkan.


Mobil Arland melaju dengan kecepatan rata-rata. Selama perjalanan Arland tak melepaskan genggamannya dari Kezia. Berkali-kali ia mengecupi tangan Kezia, suatu kebiasaan baru bagi Arland yang sangat menyenangkan.


Tiba di vila, tampak orang-orang tengah mengatur tata letak tempat akad dan resepsi. Akad di laksanakan di dalam vila, sementara resepsi dilaksanakan di tepi danau belakang vila. Benar-benar di luar dugaan, semuanya tertata dengan rapi dan cantik.


Untuk taman bunga, dibiarkan seperti biasanya, hanya saja di tata lebih rapi lagi agar tidak menghalangi langkah tetamu yang hadir. Kezia benar-benar di buat takjub.


“Kamu suka sayang?” bisik Arland yang tengah berdiri di belakang Kezia dan mengalungkan tangan kekarnya di leher Kezia.


“Sangat suka.” sahut Kezia seraya menoleh Arland.


“Aku gag pernah nyangka, satu-satunya tempat yang aku pertahankan saat kondisi ekonomi keluargaku hancur, akan menjadi saksi kita mengikat janji sehidup semati.” lirih Arland yang membenamkan kepalanya di tengkuk Kezia. Kezia bisa merasakan hembusan hangat nafas Arland yang menerpa lehernya dan perlahan namun pasti Arland mulai mengecupinya dengan lembut.


“Land, nanti ada yang liat…” Kezia menggelinjang karena geli.


“Emangnya kenapa kalau mereka liat?” Arland tak menghentikan aksinya.


Ia semakin semangat menciumi leher Kezia dan menikmati aroma tubuh Kezia yang bagaikan candu baru baginya.


“Malu laaahhh….” kilah Kezia yang bergidik.


Tak lama, tangan Arland beralih pada leher jenjang Kezia. Ia merasakan hawa dingin dari sesuatu yang kini melingkar di lehernya. "Mamih bilang, ini buat kamu terlepas kamu benar-benar hidup sama aku atau nggak. Tapi aku yakin, ada mantra di dalamnya yang mengikat kita." lirih Arland yang berbisik di telinga Kezia.


Kezia menyentuh kalung berliontin berlian kecil tersebut. Ia sedikit menunduk dengan rasa haru saat melihat cantiknya kalung yang ia kenakan.


"Aku akan menjaganya dengan baik." tegas Kezia dengan penuh keyakinan. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum seraya memainkan liontin itu.


“5 hari terasa begitu lama key, semuanya sangat menyiksaku…” bisik Arland seraya mengeratkan pelukannya. Matanya terpejam dengan dagu tertopang bahu Kezia.


"Enggak akan..." timpal Arland dengan yakin seraya menatap mata Kezia lekat-lekat.


****


Langit mulai berubah warnanya menjadi keemasan. Semilir angin semakin dingin menusuk kulit. Arland mulai kembali melajukan kendaraannya menuju suatu tempat yang akan ia jadikan kejutan bagi Kezia.


“Loh land, kita gag pulang sekarang?” tanya Kezia yang kebingungan dengan arah yang diambil Arland.


“Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat dulu. Aku janji kita akan sampai di rumah gag terlalu malem.”


Kezia mengangguk sebagai respon.


Mobil Arland berbelok ke sebuah perumahan elite dengan rumah-rumah mewah berderet rapi. Entah siapa yang akan di kunjunginya hari ini. Ia menepikan mobilnya di sebuah rumah yang memiliki halaman luas. Dari dalam mobil terlihat, beberapa orang tengah berada di sana.


“Yuk kita turun.” ajak Arland yang membukakan pintu untuk Kezia.


“Ini rumah siapa?” mata Kezia terbuka lebar, melihat rumah megah yang ada di hadapannya.


Arland tersenyum simpul. “Ini akan menjadi rumah kita.” bisik Arland.


“Apa? Sebesar ini?” Kezia mengernyit tak percaya.


Arland mengangguk. Diraihnya tangan Kezia dan mengajaknya masuk untuk melihat-lihat. Halamannya benar-benar luas. Beberapa orang sedang menatanya dengan bunga-bunga dan kerikil kecil untuk memberi batas tegas pada jalan setapak menuju teras rumah.


“Selamat sore pak arland…” sapa salah satu pekerja.


“Sore pak….” sahut Arland yang kemudian berlalu masih dengan genggamannya di tangan Kezia.

__ADS_1


“Kelak, kita akan tinggal di rumah ini. Tapi masih 90%, kemungkinan 1 bulan lagi baru bisa kita tinggalin.” terang Arland seraya menatap bangunan megah di depannya. “Kamu gag masalah kan, kalo selama satu bulan kita tinggal dulu di apartemen?”


Kezia tersenyum ia bahkan masih belum percaya kalau Arland sudah menyiapkan semuanya. Betapa ia bangga dengan laki-laki yang ada di hadapannya. Arland memulai semuanya dari nol dan kini, ia berusaha mewujudkan semua mimpi-mimpinya dengan tangannya sendiri.


“Dimana pun kita tinggal, asalkan sama kamu, itu tidak jadi masalah buat aku.” tutur Kezia dengan rasa haru yang menyeruak di dadanya


Arland berbalik menghadap Kezia. Di tatapnya lekat-lekat wajah cantik itu.


“Ya dan kamu adalah rumahku. Tempat aku akan menghabiskan waktuku seumur hidup. Bersama anak-anak kita, bahkan mungkin cucu dan cicit kita. Terima kasih sudah menjadi sumber kekuatanku key….” ungkap Arland seraya menggenggam erat tangan Kezia. Dikecupnya tangan kezia dengan lembut. “I love you…”


Arland memeluk kezia dengan erat. Ikatan hati mereka terasa semakin kuat. Dalam hatinya Kezia berjanji, apapun kondisinya, asalkan bersama Arland, ia akan melewatinya. Dan bagi Arland, Kezia adalah semangatnya untuk melangkah menjadi seorang laki-laki yang lebih baik lagi. Ia tidak akan membiarkan ada celah sedikitpun dalam hubungan mereka.


“Love you more…”  Kezia menyahuti.


****


Beberapa hari ini Kezia benar-benar diam di rumah. Ia sudah mengajukan cuti di tempat kerjanya, sementara Arland sudah 2 hari tak menemuinya karena mereka sedang masa pingitan. Hanya Ricko yang jadi teman setianya.


Suasana rumah sangat ramai dengan banyaknya tetangga dan kerabat berkunjung untuk mengucapkan selamat.


“Iyaaa, besok aku berangkat sore kok sama mamah, papah juga Sean. Kalo temen-temen kayaknya berangkat subuh.” terang Kezia yang sedang berbicara di telpon. “Iyaaa,,, sama aku juga kangen. Udah, kamu tidur giihh, biar besok seger. Hemm.. love you too…” lanjut Kezia yang kemudian mengakhiri panggilannya.


“Siapa? Arland lagi?” tanya Sherly dengan tatapan gemasnya.


Kezia mengangguk seraya tersenyum.


“Gila ya, sehari ini berapa kali dia nelpon lo key?” tanya Kania yang sedari tadi terus memperhatikan Kezia yang sibuk menjawab pesan atau telpon dari Arland.


“Ada kali ya 16 kali…” hitung Kezia


“Ahahahha… Gila! Gue aja pingitan 3 hari, ricko cuma nelpon 2 kali sehari. Ini Arland, nelponin mulu. Gag bisa banget dia jauh-jauh dari lo.” cetus Sherly yang geli sendiri.


Hari ini, ketiga sahabat Kezia memutuskan akan menginap di rumah Kezia hitung-hitung pesta lajang lah. Karena lusa, Kezia sudah akan melangsungkan pernikahannya dan pastinya Arland yang posesif akan selalu ingin berdekatan dengan istrinya.


“Ricko udah gag aneh kalo gag ada kabar dari lo. Selama 12 tahun sama-sama, apa coba yang bikin dia harus nahan gag ketemu 3 hari doang.” Ledek Dena dengan seringai jenakanya.


“Ah sialan lo!” Sherly melemparkan bantalnya pada Dena membuat mereka tergelak bersama.


Sejenak Kezia terdiam, benar yang di katakan Arland waktu 3 hari ini terasa begitu lama mereka. Dan di waktu-waktu ini, ia selalu merasakan perasaan tak nyaman. Entah perasaan seperti apa, ia pun tak bisa menjabarkannya.


“Kenapa lo key, pengantin kok bengong?” tanya Kania yang melihat ekspresi tak biasa Kezia.


“Eemmm enggak tau ka. Di waktu kayak gini, gue selalu ngerasa takut. Tapi gue juga gag tau hal apa sebenernya yang gue takutin.” tutur Kezia dengan wajah sendunya.


“Lo takut kalo lo atau arland gag ketemu hari besok?” terka Sherly. Ia bisa mengatakannya karena ia pun mengalaminya.


“Iya , perasaan semacam itu. Dulu, waktu gue sama kak angga hampir menikah, dia meninggal di sebelah gue. Di hadapan penghulu. Gue takut kalau…”


“Heeyyy, lo ngomong apaan sihh? Jangan mikir macem-macem ah…” usik Kania yang segera memeluk Kezia.


“Gue takut ka, gue takut kalo gue sama arland juga gag bisa bersama…” lirih Kezia yang mulai terisak.


“Key, lo udah berjalan sejauh ini. Lo yang gag pernah gue sangka bakal balik lagi sama Arland, nyatanya sebentar lagi bakal hidup bersama. Memang kuasa tuhan gag ada yang tau, tapi itu bukan alasan buat lo memikirkan hal-hal yang enggak-enggak….” tutur Dena seraya mengusap punggung Kezia.


“Pikirin yang indah-indah key. Lo cuma harus sabar sebentar lagi….” sambung Sherly yang ikut memeluk sahabatnya.


Kezia mengangguk. “Makasih, makasih kalian selalu ada buat gue…” lirih Kezia. Kezia merasa bahwa tempat ternyamannya saat ini adalah pelukan ketiga sahabatnya.


****

__ADS_1


__ADS_2