My First Love Story

My First Love Story
Olimpiade


__ADS_3

Hari pertama olimpiade pun di mulai. Semua siswa yang mengikuti olimpiade berkumpul di salah satu Ballrom. Dari 4 cabang olimpiade, masing-masing cabang diikuti oleh hampir 80 siswa. Suasana Ballroom mulai riuh karena peserta dan guru pendamping telah berkumpul untuk mengikuti pembukaan acara.


Seorang Mc tampak mengetuk-ngetuk Microphone yang ada di hadapannya. Seorang wanita cantik dengan pakaian formal dan rambut tersanggul rapi. Seluruh peserta yang hadir mulai duduk di kursi yang telah di sediakan. Tampak panitia penyelenggara duduk mengisi barisan kursi paling depan. Hadir pula seorang perwakilan yayasan pendidikan yang menjadi penyelenggara sekaligus sponsor utama dalam Olimpiade kali ini.


Suasana mulai tenang. MC cantik tersebut melangkahkan kakinya dua langkah ke depan lalu menganggukkan kepala kepada para tamu undangan khususnya yang duduk berjejer di depan.


"Selamat Pagi hadirin dan tamu undangan. Salam sejahtera bagi kita semua..” suara sang MC menggema di ballroom yang diisi oleh hampir 400 orang tersebut. Ucapan terima kasih mengalun dari mulut MC kepada semua yang terlibat dalam pelaksanaan Olympiade tahunan tersebut. Satu per satu pemberi sambutan  maju kedepan dan menyampaikan sambutannya tak terkecuali perwakilan dari yayasan pendidikan. Dua orang siswa di panggil ke


depan untuk dilakukan penyematan tanda peserta olimpiade secara simbolis. Gemuruh tepuk tangan menggema di dalam Ballroom.


Acara pembukaan berjalan lancar. Panitia membagi siswa berdasarkan cabang perlombaan yang dipilih. Para siswa


saling berkenalan dengan siswa dari sekolah lain. Walaupun ini sebagai perlombaan, tapi mereka tetap menjungjung tinggi sportivitas dan tidak menganggap siswa lain sebagai musuh.


"Kak, kok penulis Ryanggara gag hadir ya? Katanya mau dateng kan?” tanya Kezia pada Tyo yang duduk di sampingnya.


"Kurang tau key… tahun kemaren juga gag hadir, gag tau nih tahun sekarang..” terang Tyo yang juga merasa kecewa.


"Dia orang besar ya kak, sibuk kayaknya…”


"Kalo gag salah dia pewaris perusahaan terkenal Wibawa Group. Jadi kayaknya sibuk. Paling di wakilkan..” terang Tyo


"Ooohh… emang orang hebat yaa…”


"Kamu kagum banget kayaknya…” tutur Tyo yang merasa cemburu dengan  antusiaame Kezia membahas orang jenius matematik tersebut.


Kezia hanya terangguk polos, tidak menyadari maksud ucapan Tyo.


****


Kezia mulai duduk di kursi peserta dengan nomor kursi sesuai dengan nomor yang terpasang di dada kanannya. Di


hadapannya ada sebuah computer yang sudah menyala. Di sebelah kanannya ada beberapa lembar kertas dan pensil yang disiapkan panitia sebagai alat bantu berhitung. Panitia mulai meminta peserta untuk mengklik link yang tampil dilayar untuk mengerjakan soal di tahap pertama.


"Okey, di round pertama ini, nanti ada sekitar 100 soal berupa pilihan ganda. Kalau teman-teman mejawab benar nilainya +1, kalau salah -1 dan kalau tidak menjawab nilainya 0. Silakan masukan nomor peserta dan nama kalian mulai dari sekarang.” Panitia mulai memberikan instruksi pada peserta. Kezia memasukkan nomor peserta dan nama lengkapnya seperti halnya peserta lain.


Di tekannya tombol mulai, soal pertama mulai bergulir. Di tab bawah muncul waktu yang berjalan mundur berdampingan dengan tombol “ submit”. Rupanya waktu yang digunakan untuk tiap soal berbeda tergantung tingkat kesulitannya. Kezia mulai mengerjakan satu per satu soal yang muncul dihadapannya. Sesekali terdengar suara dengusan dari peserta lain yang mungkin salah menjawab. Sejauh ini Kezia bisa mengerjakan dengan lancar.


Kertas di sampingnya sudah terisi penuh coretan tangan kezia. Soal terakhir dikerjakannya dan selesai lah round 1.


"Okey, yang nilainya kurang dari 90, mohon maaf tidak bisa melanjutkan ke round selanjutnya… yang masih bertahan silakan untuk bersiap kembali.” Terang Panitia yang berdiri di depan.

__ADS_1


Lebih dari setengah peserta meninggalkan ruangan. Kezia menarik nafas lega saat di hadapannya tampil nilai 98.


Kezia menolehkan wajahnya ke belakang. Tampak Tyo pun masih duduk di sana dengan tenang. Kezia tersenyum dan mengacungkan kepalnya ke udara tanda memberi semangat. Tyo membalasnya dengan acungan jempol.


Round ke dua di mulai, kali ini masih soal pilihan ganda. Jumlahnya sekitar 50 soal. Saat peserta menjawab akan


muncul prediksi nilai yang akan tampil di akhir round. Apabila peserta menjawab benar lebih dari 80% soal, soal akan terus berlanjut, apabila gagal, soal akan terhenti walaupun belum terkerjakan seluruhnya. Kezia mengernyitkan dahi saat soal pertama di jawabnya.


"Semangat Key!” teriak Kezia dalam hatinya.


Fikirannya kembali focus pada soal yang ada dihadapannya. Soal-soal tersebut memiliki system pengerjaan yang sama seperti soal yang pernah dibahasnya bersama Angga. Separuh nomor sudah kezia kerjakan. Point nya masih seratus. Beberapa peserta berjalan di hadapan Kezia meninggalkan ruangan. Mungkin mereka sudah gagal. Kondisi tersebut membuat konsentrasi kezia terganggu. Kezia terus menarik nafas dalam dan membuangnya


perlahan untuk memfokuskan kembali konsentrasinya. Dan ya, nilai terakhir yang didapatnya 100/100. Kezia mengepalkan tangannya didada, sedikit berseru kegirangan. Melihat ekspresi Kezia, pengawas di belakangnya menghampiri Kezia.


“ Sudah selesai de?” tanya wanita paruh bawa mengagetkan Kezia.


"Ya bu, sudah selesai.” Tutur kezia dengan mata berbinar.


"Hebat! Kamu bisa istirahat dulu, nanti masuk lagi untuk round terakhir.” Tutur wanita tersebut yang tercengang melihat nilai sempurna yang didapatkan Kezia.


"Baik Bu!” seru Kezia sambil beranjak dari duduknya.


Kezia berjalan keluar ruangan. Hanya ada empat orang tersisa yang masih mengerjakan soal dan salah satunya adalah Tyo. Kezia mengambil beberapa snack yang sudah disediakan di depan ruangan perlombaan. Kezia duduk menyandar pada sofa yang tersusun rapi. Di teguknya jus jambu yang ada di tangan kanannya.


Kezia melihat ke sekelilingnya. Terlihat 2 orang yang berpakaian jas rapi sedang berdiri di pintu masuk sebuah


ruangan. Sesekali mereka melihat Kezia kemudian memalingkan wajahnya dan kembali berdiri sigap.


"Kenapa ada orang-orang aneh gitu sih di sini? Ada pejabat atau orang kaya yang nginep di sini kali ya?” gumam Kezia dalam hatinya. “ Ah bodo amat, ini kan memang hotel terkenal. Pasti banyak orang terkenal yang menginap atau rapat di sini” imbuh kezia yang kembali menyandarkan kepalanya.


"Key…” sapa seseorang dari belakang. Kezia menoleh. Terlihat Tyo menghampiri Kezia sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Gimana Kak?” tanya Kezia yang sontak berdiri.


"Kita berjuang lagi di babak berikutnya.” Seru Tyo.


"Yeeaayyy! " Seru Kezia yang kegirangan teman seperjuangannya juga lolos di round 2. “ Jam berapa mulainya kak?” lanjut Kezia


Kita di suruh break dulu 15 menit, nanti masuk lagi…” tutur Tyo sambil duduk di sofa yang berada di hadapan Kezia. Di sandarkannya tubuh Tyo di sandaran sofa. “ Key, nanti kalo kamu dapet beasiswanya, mau ngambil kuliah jurusan apa?” lanjut Kezia sambil menatap Kezia


"Ahhh kak Tyo, aku gag berani mimpi sejauh itu…” jawab Kezia sambil tergelak

__ADS_1


"Lohh,,, itu bukan mimpi. Tapi belajar optimis… beneran loh, kamu mau ngambil jurusan apa?”


"Hemmm… aku pengen jadi dokter spesialis onkology kak…” terang Kezia dengan tatapan penuh harap. “ Kalo ka Tyo?”


"Akuu,, dari kecil pengen jadi arsitek” Jawab Tyo dengan yakin. “ Aku yakin cita-cita kamu akan tercapai key,, jadi ayo kita sama-sama berjuang.” Lanjut Tyo dengan semangat.


"Aamiin..." sahut Kezia seraya tersenyum.


****


Kezia sudah kembali duduk di kursinya. Seperangkat komputer sudah menghilang dari hadapannya. Di sampingnya duduk berjejer 3 siswa lain termasuk Tyo. Rupanya hanya 4 orang yang lolos di round 2. Tangan kezia mulai terasa dingin. Seorang pengawas membagikan beberapa lembar kertas beserta selembar kertas soal yang harus dikerjakan.


"Okey, di round terakhir ini, teman-teman silakan untuk menjawab soal yang ada di kertas terpisah secara esay. Tuliskan cara teman-teman menghitungnya. Dan pastikan, cara menghitung teman-teman , bisa dimengerti oleh siswa biasa  sekalipun. Waktu kalian hanya setengah jam untuk mejawab 10 soal. Jadi gunakan waktu sebaik mungkin. Waktu dimulai dari sekarang!” terang ibu pengawas yang mengetukkan ballpoint di meja depan tanda waktu dimulai.


Keempat siswa mulai menundukkan kepala dan mengerjakan soal yang ada dihadapannya. Kezia terlihat begitu focus mengerjakan termasuk ketiga siswa lainnya. Suasana ruangan begitu hening. Yang terdengar hanya suara ballpoint yang bergesekan dengan kertas. Sesekali  terdengar suara nafas yang berhembus kasar, mungkin peserta sedang dilanda stress dengan soal yang ada di hadapannya.


"Okey, Selesai!” seru pengawas , mengagetkan semua peserta. Waktu 30 menit berlalu begitu saja. Benar-benar tidak terasa. “ Simpan alat tulis kalian, jawabannya akan kami ambil.” Lanjutnya dengan tegas.


"Fiuhh…” Kezia menarik nafas lega… diliriknya Tyo yang terhalang 1 siswa dari tempatnya. Wajahnya masih terlihat tegang.


"Silakan untuk keluar ruangan, dan besok pengumuman juaranya akan di sampaikan saat acara penutupan. Selamat beristirahat..” tutup ibu pengawas dengan ramahnya. Berbeda dengan kondisi tadi saat perlombaan sedang berlangsung, wajahnya dingin dan sedikit jutek


****


"Kamu tadi kejawab semua key…” tanya Tyo yang duduk disampingnya. Mereka berada di taman tempat semalam mereka berlajar bersama.


"Iya kak.. tapi nomor terakhir aku mepet-mepet ngerjainnya. Pake cara singkat, daripada gag ke jawab?!” gerutu Kezia dengan memperlihatkan ekpresi kesalnya. Tyo tersipu melihat ekspresi Kezia. "Hufftt!! Aku berasa lari keliling lapangan di kejar anjing tadi. Jantung aku udah kerasa mau copot aja.” seru Kezia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tyo tergelak mendengar ujaran Kezia.


"Kamu bisa ngelucu juga key, aku kira kamu kaku banget…” Tyo kembali tergelak.


"Kakak pikir aku kanebo kering?” seru Kezia sambil memperlihatkan wajah kesalnya pada Tyo.


Tyo kembali tergelak sambil memukul-mukul pahanya sendiri. Sementara kezia masih dengan wajah kesalnya.


"Jangan marah laahhh… aku kan becanda…” tutur Tyo sambil menarik tangan Kezia. Kezia mengibaskan tangan Tyo.


"Gag lucu!” seru Kezia sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi yang di dudukinya.


Tyopun berhenti tertawa. Mendekati kezia dan terus meminta maaf. Tapi kezia tak menanggapinya malah menutup wajah.

__ADS_1


*****


__ADS_2