My First Love Story

My First Love Story
Episode 110


__ADS_3

Sampai di kampus, Kezia dan Fritz segera menuju ke bagian akademik untuk menyerahkan tugas akhirnya yang telah selesai. Mereka telah mendaftar untuk mengikuti sidang 4 hari ke depan.


“Ya tuhaann… Aku harus melewati 4 hari lagi untuk bisa tidur nyenyak…” ungkap Fritz sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.


“Ayolah, kita sudah melewati 8 tahun tanpa tidur nyenyak, apa artinya menuggu 4 hari lagi?” cetus Kezia dengan wajah santainya.


“Ahhh… Kamu memang my mood bosster!” seru Fritz sambil mencubit kedua pipi Kezia dengan gemas. Benar, selama kuliah, hanya 2 tahun pertama mereka kuliah tanpa begitu banyak beban. masing bisa jalan-jalan, ngongkrong di cafe atau menonton bioskop. Sisanya hanya ritme cepat pelajaran dan prakatek klinis yang seperti tidak pernah ada akhirnya.


“Kamu sangat menyebalkan!” seru Kezia hendak membalas cubitan Fritz. Namun secepat kilat Fritz menghindar dan berlari meninggalkan Kezia.


Kezia mengejarnya hingga tanpa mereka sadari mereka sudah sampai di depan Fakultas Psikologi. Di hadapan mereka ada taman bunga sakura yang sedang bermekaran. Fritz membaringkan tubuhnya dengan nyaman di taman dan Kezia duduk di sampingnya. Tubuhnya sangat lelah karena mengejar Fritz.


“Aku tidak pernah berfikir aku akan menjauh dari diriku yang baj*ngan. Ku pikir hidupku akan berakhir menjadi sampah yang membebani papahku. Terima kasih sudah menjadi support sistemku , key…” tutur Fritz seraya menoleh Kezia di sampingnya.


“Ayolaahh, tidak cocok seorang don juan melow begitu…” tutur Kezia.


“Hahahaha…” tawa lepas terdengar dari keduanya.


Mereka menatap langit yang biru dengan bunga sakura yang menghujani tubuh mereka. Semilir angin menerbangkan dedaunan dan membelai lembut pipi Kezia. Kezia menutup matanya, mencoba menikmati suasana yang kelak akan dia rindukan.


****


 


Malam itu Kezia sibuk mengemasi barang keperluanya untuk ia bawa ke Berlin. Prof Clifton sudah mengirimkan tiket onlinenya dan mereka akan terbang jam 9 pagi hari. Beberapa berkas di bawanya dalam sebuah tas ransel. Walau hanya sehari, tapi Kezia harus memastikan tidak ada barang yang tertinggal.


Malam semakin larut, mata kezia sudah terasa sangat ngantuk. Kezia membaringkan tubuhnya setelah mengirim pesan pada Angga, matanya terasa sangat perih, hingga dengan cepat ia terlelap.


Hampir tengah malam Angga tiba di flat miliknya. Ia membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket. Guyuran air menyegarkan kembali tubuhnya dan mengusir rasa kantuknya.


Selesai dengan rutinitas mandinya Angga segera keluar kamar mandi dan memakai kaos oblong serta celana olahraga panjang. Ia merasa udara malam begitu dingin. Angga duduk di sofanya sambil menonton televisi dengan segelas susu coklat hangat di tangannya.


Tak ada satupun tayangan yang menurutnya seru. Angga merebahkan tubuhnya, namun rasa kantuk sudah benar-benar hilang. Ia menelpon nomor Kezia dan tidak ada jawaban dari sang empunya, sepertinya ia sudah benar-benar terlelap. Angga keluar dari flatnya dan membawa serta kunci flat Kezia.

__ADS_1


“Ceklek” Angga memutar handle pintu flat dengan ruangan yang hanya di terangi pijar kecil di sudut kamar Kezia.


Angga menutup kembali pintu dan berjalan mendekat tempat tidur Kezia. Kezia sudah terlelap dengan damai. Hangatnya cahaya lampu berwarna kekuningan membias di wajah cantik Kezia. perlahan Angga membelainya membuat Kezia menggeliat kecil merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipinya. Angga tersenyum. Dipandanginya wajah Kezia yang setiap detik selalu ia rindukan.


Perlahan angga membaringkan tubuhnya di samping Kezia dan mulai memejamkan mata. Namun mata Angga  kembali terbuka bahkan lebih lebar saat ternyata Kezia memeluk tubuh Angga dengan erat.


“Astaga Schnucki, kamu benar-benar bisa bikin aku dan adikku tak bisa tidur.” gumam Angga dalam hatinya.


Angga tak berani bergerak sedikitpun. Diliriknya Kezia yang ternyata menempatkan kepalanya di bawah ketiak Angga. Angga menarik nafas dalam-dalam karena jantungnya berdegub sangat kencang. Semakin dalam tarikan nafas Angga dan dihembukan perlahan agar Kezia tidak mengaganggunya. Sumpah demi apapun ia sangat tersiksa. Hanya saja ia selalu ingat, bahwa ia sangat menghormati Kezia sebagai wanita yang dicintainya dan tidak ingin sedikitpun menyakiti Kezia. Kali ini ia terlelap dalam perasaan yang tidak menentu.


****


Pagi-pagi Kezia terbangun saat merasakan perutnya yang keroncongan karena semalam ia melewatkan makan malamnya. Ia membuka kulkas dan berusaha mencari sesuatu tapi tidak ada yang bisa dia makan selain sebuah apel.


Kezia beranjak menuju sofa dan duduk di sana dengan apel di tangan kanannya. Gerakan mulutnya terhenti saat mendapati sebuah paperbag tergeletak begitu saja diatas meja. Kezia membukanya, ada dua buah roti dengan selai blueberry di tengahnya. Kezia bisa mencium itu dari wanginya. Rotinya masih agak hangat, mungkin belum lama seseorang menaruhnya di sana.


Kezia tau, yang mungkin membelikan ini hanya tetangganya, yaitu Angga. Karena hanya Angga yang tau kalau Kezia menyukai roti dengan isian selai Blueberry. Untuk memastikannya, Kezia mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Angga.


“Selamat pagi schnucki…” sapa Angga dengan hangat. Nafasnya terdengar sedikit memburu.


“Aku lagi jogging.”


“Apa kakak yang menaruh roti di mejaku?”


“Binggo! Dari mana kamu tau?”


“Hemmm sudah ku duga! Cuma kakak yang tau aku suka selai blue berry.”


“Hahahahha baiklah, selamat menikmati. Aku teruskan jogging dulu…”


Angga mengakhiri panggilannya. Kezia masih tersenyum memandangi roti yang ada di tangannya.


“Kakakku the best!” seru Kezia seraya tersenyum. Ia segera melahap rotinya hingga tak bersisa.

__ADS_1


Jam 7 pagi Kezia sudah selesai bersiap. Ia membawa tas ransel di punggungnya. Kezia berjalan keluar apartemen dan menyetop sebuah taksi untuk mengantarnya ke bandara.


Dengan perasaan bahagia Kezia menikmati perjalanannya. Satu jam kemudian Kezia sudah tiba di bandara. Prof Clifton sudah menunggunya dan melambaikan tangan saat melihat Kezia.


“Kamu sudah sarapan?” tanya prof Clifton yang masih menikmati roti di tangannya.


“Sudah prof…”


Dengan setia mereka menunggu jadwal penerbangan. Sebuah panggilan mengarahkan mereka untuk segera naik ke pesawat.


Berbeda dengan Kezia, Prof Clifton mengambil majalah untuk mengisi waktunya sementara Kezia mengambil headset untuk mendengarkan lagu.


Perjalanan yang cukup panjang berlalu begitu saja. Sesekali Kezia dan prof Clifton berbincang membahas seminar. Hingga tanpa terasa pesawat sudah  mendarat dengan mulus di salah satu Bandar udara di Berlin. Kezia turun dengan segera karena ternyata seminar di adakan di sore hari menjelang malam. Mereka bergegas menuju tempat seminar sambil mempersiapkan beberapa hal yang akan mereka bahas di sana.


“Kamu nanti akan menyampaikan isi artikelmu. Sampaikanlah dengan lugas dan tidak berbelit-belit.” Prof Clifton mengingatkan


“Baik Prof.” Kezia menyahuti.


Sesampainya di tempat seminar, suasana sudah sangat ramai. Kezia dan Prof Clifton di persilakan untuk menikmati coffe break sambil menunggu acara di mulai dan waktu mereka hanya sepuluh menit. Waktu 10 menit tersebut Kezia gunakan untuk menyiapkan materi yang akan ia tampilkan.


Semua tamu undangan di persilakan untuk masuk. Seorang MC mulai membuka acara dan menyebutkan nama-nama orang-orang penting yang saat itu hadir. Nama Kezia di sebut dan dipersilakan untuk menyampaikan artikel yang di tulisnya.


Dengan langkah yakin Kezia menuju ke podium. Semua pandangan tertuju pada Kezia yang tengah berdiri di depan. Kezia menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan groginya. Beberapa Slide ia tampilkan untuk menunjang pemaparannya.


Prof Clifton berdecak kagum atas pemaparan yang disampaikan Kezia. Suara tepuk membahana di ruangan yang cukup luas tersebut. Prof Clifton dengan bangga mengakui Kezia sebagai mahasiswi didikannya. Sebelum turun, Kezia mendapatkan hadiah dan ucapan selamat dari penyelenggara kegiatan.


“Kezia, terima kasih. Kamu sudah membanggakan saya…” puji prof Clifton sambil menepuk bahu Kezia.


“Terima kasih prof, atas pujiannya.” Sahut kezia seraya tersenyum.


“Tapi malam ini kita tidak menginap. Karena besok saya harus menguji sidang mahasiswa.” tutur Prof Clifton.


“Tidak masalah Prof. Saya akan bersiap dan mengikuti petunjuk prof.”

__ADS_1


Malam itu juga, setelah seminar berakhir, Kezia dan prof Clifton bergegas pulang karena banyak pekerjaan yang menunggu mereka.


****


__ADS_2