
Pesawat akan bersiap mengudara. Seorang pilot memperkenalkan dirinya beserta awak pesawat yang bertugas saat itu. Kezia duduk di deret kiri dan bisa melihat keluar dari Jendela yang ada di sampingnya. Seorang pramugari menghampirinya dan memastikan Kezia telah memakai sabuk pengaman dan mengingatkan untuk menonaktifkan handphonenya. Keziapun kembali mengecek handphonenya yang telah non aktif. Pramugaripun berlalu. Kezia
menyalakan monitor yang ada di hadapannya dan memilih mendengarkan lagu-lagu barat klasik. Dipakainya headset yang terpasang di sana. Terdengar alunan lagu dari suara merdu milik Bryan Adam. Kezia menyandarkan tubuhnya dan menolehkan wajahnya ke arah jendela. Sayap pesawat terlihat jelas dari tempat duduknya.
"Sampe Jumpa Kak,, Jaga diri baik-baik..” lirih kezia sambil tersenyum.
Perlahan Kezia menutup kedua matanya. Menikmati kelembutan suara yang mengisi rongga telinganya. Tak lama berselang Kezia mulai terlelap.
*****
“ddrrttt…”
Pesawat terasa bergetar. Kezia mengerjapkan matanya. Dilepasnya headset yang sejak tadi menutupi telinganya.
Rupanya pesawat sedang mendarat. Kezia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Beberapa orang sudah berdiri karena pesawat sudah berhenti dan pintu telah terbuka. Kezia mengambil tas ransel yang di taruh di atas hambalan di atas kepalanya. Digendongnya tas tersebut dengan segera dan berjalan bersama arus orang-orang yang keluar dari pesawat.
Kezia berjalan keluar mengikuti petunjuk yang tertulis dengan jelas. Beberapa orang yang menjemput keluarganya
sudah berdiri di kejauhan. Kezia berdiri sejenak dan mengaktifkan handphonenya. Saat perjalanan menuju bandara tadi Kezia sudah menghubungi papahnya dan memintanya untuk menjemput. “Okey sayang, Safe Flight” hanya itu balasan dari papahnya.
Kezia melanjutkan langkahnya.
"Keyyy!!!” teriak seseorang dari kejauhan. Tangannya melambai ke arah Kezia.
Kezia mempercepat langkahnya. Bayangan lambaian tangan tersebut mulai jelas.
"Dena!” seru kezia yang langsung berlari.
"Keeyy!!!” teriak Sherly, kania dan dena bersamaan. Mereka segera berpelukan saat Kezia sudah ada di hadapannya.
"Girrlssss… gue kangen kalian….” Seru Kezia sambil memeluk erat sahabatnya. “ Ka, gimana kabar om Irwan, Elo juga gimana kabarnya Na, sher, ka?” tanya Kezia berurutan.
"Berisik Lo key… sini peluk guee….” Seru kania dengan mata berkaca-kaca.
Kania memeluk Kezia dengan erat kemudian terisak perlahan.
"Heyy, kenapa lo nangis… lo gag seneng gue pulang?” tanya Kezia sambil melepaskan pelukannya dari kania.
"Gimana Bisa gue gag seneng lo pulang key, kesel gue gag bisa ngomelin Lo kemaren-kemaren…” tutur Kania sambil mengusap air matanya.
"Hahahaha… liat tuh hidung tomat loh udah hampir mateng!” seru Kezia sambil mencubit gemas hidung kania.
"Ah sialan Lo!” cetus Kania sambil menangkis tangan Kezia.
Mereka tergelak bersama.
"Key selamat yaaa… lo hebat bangeett… nama Lo jadi trending di sekolah tau…” seru Sherly dengan semangat.
"O iya?” kezia tercengang
"Iya lah, besok Lo sekolah pasti banyak cowok yang nyari lo.” Seru dena
"Ngapain pada nyari Gue?” kezia mengernyitkan dahinya.
"Mereka bikin fansbase buat Lo, dan foto Lo ada di semua group sekolah…” terang Dena dengan semangat.
"Ah gila Lo, lebay jangan kelewatan dong…” seru Kezia.
Mereka kembali tertawa bersama melihat ekspresi bingung Kezia.
"Hay key!” seru seseorang dari Arah belakang. Kezia berbalik ke arah datangnya suara.
"Hay Ko… apa kabar?” sahut Kezia sambil tersenyum.
"Kabar baik… selamat yaa buat prestasi lo… lo emang cewek keren!” salut Ricko.
"Thanks Ko…” jawab Kezia sambil melirik ke arah Sherly. “ kalian dateng barengan?” tanya Kezia.
__ADS_1
"Nggak, gue bareng sohib gue, tuh!” jawab Kezia sambil menunjuk ke Arland yang berdiri tidak jauh dari Ricko.
Sedari tadi Arland memperhatikan Kezia, tapi Kezia tidak menyadarinya.
"Cieee….” Seru ketiga sahabat Kezia bersamaan.
Kezia hanya tersipu. Arland berjalan mendekat ke arah Kezia. Jantung Kezia berdetak sangat cepat.
“Selamat key…” tutur Arland sambil mengulurkan tangannya. Terlihat senyum manis di wajah Arland.
"Thanks Land… “ jawab Kezia sambil menyambut uluran tangan Arland.
"Ciiieee…. Yang kangen berat pengen meluk tuh…” seru dena sambil mendorong tubuh Kezia.
"Brug!!” tubuh Kezia menabrak tubuh Arland tepat di dada bidangnya. Sejenak Arland memandang Kezia dengan hangat. Namun kezia segera menjauhkan tubuhnya.
"Ihhh na,, lo apaan sih! Soryy ya Land,…” seru kezia dengan pipi memerah.
Jantungnya hampir saja copot saat wajah Arland hanya berjarak 10 cm dari wajahnya. Arland terangguk sambil
tersenyum.
"Tau nih si Dena! Udah ah, yuk kita pulang sekarang. Papah sama mamah lo udah nungguin di rumah. Dan lo punya banyak utang penjelasan buat kita!” seru kania sambil menarik tangan Kezia.
Kezia segera memalingkan wajahnya dari Arland dan ikut berjalan mengikuti langkah Kania.
"Girls, kita boleh gabung kan?” seru Ricko.
"Tentu sayang, ketemu di rumah kezia yaa…” jawab Sherly sambil melambaikan tangannya.
Ricko mengacukan jempolnya tanda setuju.
****
“Mah! Pah!” seru kezia saat keluar dari mobil.
“Kabar baik mah… mamah sama papah gimana kabarnya?” sahut Kezia yang bergantian memeluk papahnya.
“Kabar Kami baik sayang…” sahut Martin yang membalas pelukan Kezia. “Selamat ya sayang, kamu memang kebanggan papah dan mamah!” lanjut Martin sambil mengeratkan pelukannya.
“Makasih Mah, pah…. O iya, aku sama temen-temen…”
“Selamat malam om, tante…” sapa sahabat Kezia bersamaan.
“Selamat malam… ayo kita masuk…” ajak Eliana sambil membuka pintu lebih lebar.
Kezia dan teman-temannya masuk ke dalam rumah. Kezia membuka topinya dan meletakkannya di atas meja yang ada di ruang keluarga. Tas ranselnyapun di taruh disana. Mereka berjalan beriringan ke taman belakang rumah yang berada di luar ruang keluarga.
Disana ada sebuah meja dengan enam kursi. Mereka duduk disana termasuk Arland dan Ricko.
“Ayoo key,, ceritain dong kemaren lo gimana di sana…” pinta dena sambil menarik-narik tangan Kezia.
“Eemmm kemaren…” Kezia melirik ke arah Arland sebelum menceritakan kondisinya kemaren. Ia berusaha memilah kata yang tepat untuk diceritakan pada sahabatnya. Ia khawatir pengalaman yang seharunya ia simpan malah ia ceritakan. “Gue ketemu banyak orang di sana…” kezia melanjutkan kalimatnya yang terputus.
“Terus gimana ceritanya Lo bisa jadi bahan gossip gini?” Tanya Kania
“Bahan gossip, maksud lo ka?” Kezia mengernyitkan dahinya.
“ Nih foto Lo dimana-mana… “ Sherly menunjukkan handphonenya pada Kezia.
Kezia mengambil handphone sherly dan matanya terbelalak.
Disana tampak banyak sekali foto Kezia baik saat mengikuti Lomba, saat pengumuman bahkan saat dia pergi bersama Angga.
“Lo dapet hadiah ngedate juga sama Pemilik yayasan?” selidik Sherly mulai memancing.
“Hah, nggak ko enggak kayak gitu ceritanya…” tutur Kezia yang gelagapan.
"Ya terusss???” Tanya Kania, Dena dan sherly bersamaan.
__ADS_1
Kezia menggigit bibirnya sendiri, merasa kebingungan harus menjawab seperti apa.
“Apa ini obrolan antar cewek?” Tanya Ricko yang melihat wajah bingung Kezia.
Sherly dan ketiga sahabatnya baru sadar bahwa ada Arland di sana yang sejak tadi terdiam.
“Kayaknya ada yang lebih butuh penjelasan deh di banding kita…” cetus Dena sambil melirik Arland.
Arland masih terdiam dengan wajah tanpa ekspresi. Kezia menyadari hal tersebut.
"Okey, intinya Gue gag ada apa-apa sama Kak angga. Dia kakak gue, okey!” terang Kezia tanpa panjang lebar. Kezia menatap mata ketiga sahabatnya dengan tajam. Tapi yang terlihat adalah ekspresi tidak percaya di wajah mereka. “Ayolah girls… gue…”
“DDrrttt.. ddrttt…” kezia mengatupkan mulutnya saat tiba-tiba handphonenya bergetar.
“Gue Angkat telpon sebentar…” pamit Kezia sambil berlalu meninggalkan teman-temannya yang masih menunggu penjelasan termasuk Arland.
“Bro, Lo mau pulang sekarang? Kayaknya si key juga capek…” Ricko berusaha mencairkan suasana. Ia mengerti benar, bukan saatnya mereka berbicara saat ini.
Arland masih terdiam. Dia menoleh ke arah kezia yang masih menerima telpon. Sesekali kezia mengangguk dan tersenyum. Terdengar Arland menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.
“Yuk cabut!” seru Arland sambil berdiri.
“Hey tunggu, kalian gag pamit sama key?” Tanya Sherly sambil menahan tangan Ricko yang juga ikut beranjak.
"Tolong pamitin ya sayang…” jawab Ricko sambil melirik ke arah Arland yang memasang wajah kesal.
"Emm.. okey… kalian hati-hati dijalan. Jangan lupa pamit sama orangtua kezia.” tutur sherly dengan bijak.
Sherly sedikit mengerti perasaan Arland saat ini. Berada di sinipun, malah akan memperburuk suasana hatinya.
"Pasti yang… ketemu besok di sekolah yaa…” lanjut Ricko sambil meremas tangan Sherly.
Sherly mengangguk sambil tersenyum. Arland dan Ricko berjalan beriringan meninggalkan kerumunan para gadis, lalu pamit pada orang tua Kezia yang sedang berada di ruang keluarga.
Sementara itu…
“Ya kak…”
"Schnucki, kamu udah sampe?”
"Udah kak… aku udah di rumah bareng temen-temen.” Kezia melirik ke arah sahabatnya. Namun terlihat Arland dan Ricko beranjak dari duduknya. Seketika ekspresi wajah Kezia berubah.
"Apa termasuk laki-laki itu?” sinis angga
“Maksud kakak?” kezia mengernyitkan dahinya
“Iya laki-laki yang nyusul kamu tempo hari…”
“Arland maksud kakak? Kok tau dia nyusul aku?” Kezia tercengang. Ia tak mengerti dari mana angga tau Arland menyusulnya.
“Ya temanmu yang begitu merindukanmu sampai menyusulmu ke sini” lirih Angga dalam hati.
Suara angga tak lagi terdengar.
“Halo kak… kakak masih d situ?”
“Ya Aku di sini. Baiklah, kamu istirahatlah dulu. Besok-besok aku hubungi lagi…” jawab Angga dengan tidak bersemangat.
“Ya kak…”tutup Kezia.
Selesai bertelepon Kezia segera menghampiri sahabatnya.
“Arland kemana?” Tanya kezia sambil menarik kursi di samping Dena.
“Pulang lah…” jawab Ketiga sahabatnya bersamaan.
“Kenapa kalian ngasih gue ekpresi kayak gitu?” Tanya Kezia yang kebingungan melihat ekspresi kesal ketiga sahabatnya. Namun mereka hanya terdiam tidak menjawab.
****
__ADS_1