My First Love Story

My First Love Story
Perjanjian


__ADS_3

Setibanya Arland di kantin, tampak anak basket sedang berkumpul di sana sementara Ricko sedang melakukan video call dengan seseorang.


"Ada apa bro?” Tanya Arland yang langsung duduk di hadapan Ricko.


" Kita ke rumah sakit.” Seru Ricko sambil memperlihatkan Layar Handphonenya. Tampak wajah Sherly dengan air mata berurai menangisi seseorang.


"Gue ajak kezia dulu.” Arland mengambil ponselnya dan memilih nama Kezia di daftar kontaknya. Panggilan pun tersambung.


” Iya land?” jawab Kezia sesaat setelah ia menjawab telponnya.


” Siap-siap, kita ke RS sebentar..” ujar Arland tiba-tiba.


” Siapa yang sakit?”


"Nanti kamu akan tau..” tutup Arland.


Arland segera menuju perpus dan menjemput Kezia. Kezia sudah bersiap-siap dan semua buku sudah dimasukkan ke dalam tas. Mereka bergegas menuju rumah sakit di pusat kota.


****


Kezia sampai di pintu masuk rumah sakit. Mereka berjalan ke menuju ruang UGD. Di tempat tunggu pasien tampak Sherly dan Kania duduk sambil berangkulan. Di sana Dena masih mencoba menenangkan kedua sahabatnya. Kezia berlari ke arah ketiga sahabatnya. Dipeluknya mereka dengan erat. Kania terisak di bahu Kezia. Tangisannya terdengar sangat pilu.


“Keeyyy, gue gag mau kehilangan papih….” tutur Kania sambil memeluk Kezia dengan erat.


"Ka, lo gag boleh mikir yang aneh-aneh. Dokter pasti berusaha keras untuk nyelamatin papih Lo.” Lirih kezia di telinga Kania.


Dalam perjalanan ke rumah sakit, Arland menceritakan kondisi perusahaan milik keluarga Kania yang nyaris bangkrut. Harga sahamnya anjlok dan Papih Kania di larikan ke rumah sakit karena serangan jantung.


Suasana di ruang tunggu cukup ramai. Sebuah televisi menyala dan menampilkan berita tentang perusahaan keluarga Kania dan Sherly yang hampir collaps. Beragam spekulasi muncul, mulai dari korupsi, perebutan kekuasaan hingga kegagalan dalam pemenuhan kontrak kerjasama. Miris hati Kezia melihat berita yang terus diulang.


Di depan rumah sakit, banyak pemburu berita yang ingin mengetahui kabar terbaru kondisi pengusaha yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati.


Sejenak Kezia melepaskan pelukannya. Di hampirinya perawat yang ada di “ Nurse station”.


"Suster, boleh saya tau kondisi pak irwan saat ini?” Tanya Kezia yang tak tenang.

__ADS_1


"Mba siapanya?” Tanya perawat tersebut.


"Saya sahabat putrinya.” Tutur Kezia.


Perawat itupun membuka rekam medis milik Irwan.


"Pasien sedang dilakukan pertolongan dan beberapa pemeriksaan. Dokter akan menginformasikan rencana tindakan selanjutnya setelah hasil pemeriksaan lengkap.” Terang perawat tersebut dengan jelas. Kezia mengangguk paham.


" Suster, boleh saya minta tolong untuk mengganti saluran tv nya? Kasian teman saya kalau berita tentang keluarganya terus di putar.” Pinta Kezia.


"Oohh baik mba. Saya segera ganti salurannya.” Tutur perawat sambil beranjak mengambil remote tv.


Kezia segera kembali menghampiri Kania dan menenangkannya. Kania yang biasanya kuat, benar-benar rapuh saat ini. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa hati Kezia tidak sakit melihat kesedihan yang dialami sahabatnya saat ini.


"Key, apa mungkin ini perbuatan Irene?” bisik Dena di telinga Kezia.


Kezia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak mau asal menebak. Kalaupun itu benar, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Irwan dan dukungan untuk keluarganya.


Melihat orang tua Arland dan Kania bergantian masuk rumah sakit, membuat hati Kezia merasa ketir. Sama dengan isi pikiran Dena, mungkin ini dilakukan oleh keluarga Irene.


" Ka, lo harus kuat. Yang papih lo butuhin sekarang do’a dan semangat dari kita semua.” Lirih Kezia sambil mengusap air mata di pipi Kania yang terus menetes.


Kezia mengambil langkah menjauh sedikit dari teman-temannya. Lalu ia mencoba mengubungi seseorang. Selesai menelpon, Kezia pergi tanpa sepengetahuan sahabat-sahabatnya.


****


Suasana di café tersebut lumayan sepi. Saat Kezia tiba di sana, seorang gadis sudah menunggunya sambil menyeruput cappucino yang ada di hadapannya. Kezia menghampiri gadis tersebut lalu duduk di hadapannya.


"Ada apa lo minta ketemu gue.” Tanya Irene tanpa memandang wajah Kezia sedikitpun. Bibirnya terlihat tersenyum, mungkin ia sedang menertawakan kondisi yang dihadapi Kezia saat ini.


"Ren, gue minta lo hentikan semuanya. Urusan lo sama gue. Kenapa lo ganggu temen-teman gue?” tutur Kezia dengan tegas.


"Hahahaha, apa lo lagi memohon sama gue? Mana muka sok berani yang kemaren lo kasih liat sama gue? Mana temen-temen belagu lo, yang mereka bilang sayang sama lo? Lo dateng sendirian, memohon sama gue sendirian. Kenapa gag lo biarin aja mereka hancur sekalian?!” Ungkap Irene sambil tertawa Puas.


"Ren, ada orang yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan ada anak yang mungkin akan menjadi anak yatim , apa hati lo setega itu?” tutur Kezia menurunkan nada suaranya.

__ADS_1


" Lalu gimana perasaan lo ketika gue bikin hancur semua orang yang deket sama lo? Lo sakit kan?!" tanya Irene seraya menatap Kezia dengan tajam. Kezia hanya terpaku di tempatnya. "Lo tau, itu yang gue rasain waktu lo ngambil arland dari gue!” Gertak Irene sambil memukul meja dengan tangan telanjang. “ Lo mau gue berhenti kan? Gampang. Gue jentik jari, semuanya kembali ke semula termasuk bokap nyokap lo yang gue bikin jadi pengangguran!” teriak Irene sambil tertawa puas.


"Lo gila ren, lo gila!” seru Kezia setengah berteriak.


"Ya gue gila, gue gila karena lo udah ngambil satu-satunya yang paling berharga buat gue. Lo ngerubah perasaan Arland. Lo bikin dia jadi benci sama gue, lo puas sekarang hah?!!” Jawab Irene sambil terisak. Ia mengguyar rambutnya kasar, terlihat tatapan penuh kebencian yang ia tunjukkan pada kezia.


“ Lo mau semuanya kembali normalkan? Berlutut di kaki gue dan tinggalin arland! Bikin dia benci sama lo!” terang Irene sambil beranjak.


Tak menunggu lama, seperti permintaan Irene, Kezia segera bersimpuh di hadapan Irene. Tidak ada pilihan lain baginya selain melakukan yang Irene inginkan demi sahabat dan orang yang dicintainya.


"Gue mohon ren, gue mohon hentikan semuanya.." Ujar Kezia dengan air mata menetes tanpa di minta.


Irene memandangi Kezia dengan tatapan kesalnya. Terlihat seringai tipis di bibir merahnya.


Irene mencengkram  dagu Kezia kuat-kuat  lalu mendongakkannya tepat di depan matanya. "Lain kali, lo mesti liat siapa lawan lo sebelum lo mutusin buat ngelawan!" Ujar Irene yang kemudian mengibaskan tangannya.


"Ren tunggu, kita belum selesai bicara.” Ujar Kezia sambil memegangi tangan Irene.


" Lepasin tangan gue! Lo bisa lakuin yang gue minta, temen-temen lo bakal aman. Apa itu cukup setimpal nona kezia!” teriak Irene sambil mengibaskan tangan Kezia.


Sejenak Kezia terdiam. Dia tidak tahu keputusan seperti apa yang harus ia ambil. Air mata meleleh di kedua belah pipinya. Ia menarik nafas begitu dalam lalu menghembuskannya perlahan.Hatinya teriris perih tapi keputusan ahrus ia ambil.


" Okey, gue bakal lakuin semua yang lo minta, tapi lo harus penuhin semua janji lo sama gue.” Pinta Kezia sambil menatap Irene dengan tajam .


"Good girl. Gue pegang janji lo!” cetus Irene sambil mencengkram kembali dagu Kezia lalu melepaskannya dengan kasar. Irene pun pergi meninggalkan Kezia.


Kezia terhuyung, tubuhnya terasa begitu lemas. Air mata menetes di pipinya tanpa henti. Perasannya bercampur aduk menjadi sebuah gada besar yang menghantam dadanya dengan keras hinga membuat jantungnya hampir remuk tak bersisa.


Diambilnya handphone yang ada di sakunya. Tanpa Fikir panjang Kezia menghubungi Tyo dan memintanya untuk


menjemputnya. Tyo dengan senang hati menerima permintaan Kezia.


****


Boleh dong di bagi Like, komen dan votenya, supaya nulisnya makin semangat!! :D

__ADS_1


Jangan lupa jadikan Favorit yaaa, hehe...


Terima kasih semuaaa, love you


__ADS_2