
Waktu berjalan begitu cepat. Kezia tenggelam dalam pekerjaannya dan Arland tenggelam dalam kesendiriannya memandangi Kezia. Tidak sekalipun ia beranjak dari tempatnya. Beragam ekspresi Kezia di lihatnya dari pagi hingga langit Heidelberg berubah menuju senja.
Sepertinya pekerjaan Kezia sudah selesai, ia segera membereskan barang-barangnya. Ia berjalan menuju tempatnya memarkirkan sepeda, perutnya terasa mulai lapar.
Kezia kembali menggowes pedal sepedanya, melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah café. Di belakangnya Arland mengikuti dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sesekali Kezia merentangkan tangannya dan Arland mengikutinya. Ia merasa ini seperti kencan diam-diam bersama Kezia. Hambusan angin sore itu menerbangkan rambut Kezia yang tergerai indah, Arland tersenyum sendiri betapa rasa rindunya bisa terpuaskan hanya dengan memandangi Kezia.
Kezia memarkir sepedanya di halaman sebuah café. Ia melangkah masuk dan memesan beberapa makanan, lalu duduk menunggu pesanannya datang.
Di luar café, Arland memperhatikan Kezia dengan seksama. Ia terlihat serius memainkan handphonenya.
Terlihat beberapa laki-laki yang duduk tidak jauh dari Kezia sedang memperhatikannya. Mereka menyapa dan tersenyum pada Kezia, namun Kezia bersikap dingin.
“Key, dimanapun kamu berada, kenapa banyak sekali laki-laki yang mendekati kamu?” batin Arland dengan perasan tidak rela.
Terlihat seorang laki-laki mendekati meja Kezia dan memberikan selembar kertas. Ia mengajak Kezia berkenalan, namun Kezia hanya bersikap acuh dan bergegas pergi meninggalkan laki-laki itu. Ia mengambil langsung makanan yang dipesannya. Ia terpaksa take away karena para laki-laki itu terlalu mengganggunya.
Kezia berjalan keluar café, dengan segera Arland bersembunyi di balik tembok. Kezia menaruh paperbag yang di bawanya di keranjang sepedanya, lalu melajukan sepedanya dengan santai.
Sebuah klakson dari mobil mewah berbunyi nyaring, seolah menyapa Kezia. Kezia menepi bersamaan dengan mobil tersebut. Seorang laki-laki paru baya dengan pakaian turun dari mobil tersebut.
“Selamat sore non kezia…”sapa Hendra dengan ramah.
“Sore pak… “sahut Kezia.
“Non kezia tadi saya ke flat tapi non kezia tidak ada, dan kebetulan kita bertemu di sini.”
“Oh iya pak, tadi saya jalan-jalan sebentar. Ada apa pak?” tanya kezia yang penasaran.
“Oh begitu… ini nona, tuan muda meminta saya menjemput nona untuk datang ke rumah.” terang Hendra
__ADS_1
“Aduh maaf pak, kayaknya hari ini gag bisa, soalnya besok saya ada kuliah pagi. Tapi lain kali saya sempatkan mampir.” tutur Kezia yang merasa tak enak harus menolak Hendra.
“Oh begitu, baik nanti saya sampaikan pada tuan muda.” tukas Hendra.
Tak lama, Hendra segera pamit dan meninggalkan Kezia yang mulai kembali menaiki sepedanya. Kezia kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang. Arland terus mengikuti Kezia hingga ke flatnya. Ia melihat dari atas sepedanya saat lampu flat Kezia menyala. Arland tersenyum sendiri, ingin rasanya ia menghampiri Kezia dan menumpahkan rasa rindunya.
Di tempat parkir itu Arland terdiam. Ia menimbang keputusan apa yang harus di ambilnya. Menemui Kezia atau langkahnya harus terhenti sampai di sini.
“Ddrrtt,,, ddrrtt..” handphone Arland bergetar. Sebuah pesan di terimanya dari Ricko.
Rupanya, Ricko meminta Arland untuk segera kembali ke tanah air karena ada sesuatu yang penting. Arland mengusap wajahnya kasar dengan mata berkaca-kaca. Belum puas ia memandangi Kezia, belum puas ia menumpahkan semua kerinduannya tapi kali ini seseorang tengah menunggunya. Ia harus pulang.
“Key, padahal aku belum nyapa kamu…” ujar Arland yang melihat Kezia di balkon kamarnya. "Tunggulah, kelak aku sendiri yang akan membawa kamu pulang."
Kali ini tak ada pilihan lain, selain ia harus kembali pulang,meninggalkan lagi Kezia di negri orang. Tapi paling tidak, Arland sudah bisa melihat Kezia walau dari kejauhan seraya berharap mereka bisa kembali bersama di kemudian hari.
****
"Gue di parkiran, lo dimana? tanya Ricko dengan tergesa-gesa.
"Di tempat lo drop gue kemaren." sahut Arland malas.
Dalam beberapa saat mobil Ricko sudah berada di hadapan Arland. Ia meminta Arland segera masuk.
"Ada apa sih ko, lo nyuruh gue cepet pulang? Ada SP dari kampus?" tanya Arland seraya melepas topinya.
"Kita ke bogor." sahut Ricko singkat.
Arland mengernyitkan dahinya. Entah untuk urusan apa ia harus menemani Ricko ke Bogor. Ah, mengingat Bogor, ia jadi teringat mamihnya yang saat ini pun tinggal di sana. Mungkin ia bisa sekalian menemui Linda untuk bertanya kabarnya.
__ADS_1
3 jam perjalanan di tempuh Ricko di sela kemacetan jalanan yang tidak bisa ia hindari. Walau perasaannya tidak menentu ia tetap berusaha tenang. Ricko menoleh Arland yang terlelap di sampingnya. Wajah lelah dan lebam itu masih jelas terlihat.
"Lo harus kuat land..." lirih Ricko seraya mengeratkan genggamannya pada stir yang dikemudikannya.
Mobil Ricko menepi di depan sebuah rumah yang terlihat ramai oleh orang-orang. Ia ragu antara harus membangunkan Arland atau membiarkannya. Cukup lama Ricko berfikir, kalimat apa yang harus ia sampaikan pada sahabatnya nanti.
Terlihat Arland mengerjapkan matanya saat cahaya silau dari mobil lain menyapanya.
"Kita dimana ini?" Arland mengucek matanya, berusaha menyadari keberadaannya.
Pohon pinus dan ayunan kayu masih tergantung di depan sebuah rumah panggung. Arland mengenali tempat ini, ini adalah vila yang di tinggali Linda, ibunya.
"Ko, kenapa,,,," Kalimat Arland terhenti saat ia melihat sebuah bendera kuning di depan rumah tersebut. Ia menoleh Ricko menunggu jawaban tapi Ricko hanya tertunduk.
Seketika banyangan terburuk muncul di pikiran Arland. Ia lupa rasa lelahnya menempuh perjalanan jauh Jerman Jakarta lalu ke Bogor. Ia segera turun dari mobil dan berlari menuju vila dengan perasaan tidak menentu.
"Arlaaanndd....." teriak seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba memeluk Arland dan menciuminya. Ia menangis di hadapan Arland yang kemudian di peluknya.
Arland hanya bisa ternganga saat melihat sesosok tubuh yang sudah di tutupi kain berwarna putih. Tubuh Arland terasa lemas tanpa tulang.
"Jangan bilang itu...." suara Arland parau, bahkan ia tidak sanggup meneruskan pikiran buruk dari kalimat yang akan diucapkannya.
"Dia sudah tenang nak, dia tidak lagi kesakitan...." lirih Mila seraya mengusap punggung Arland.
Arland tahu benar siapa yang dimaksud Mila. Seketika tubuhnya ambruk. Air mata menetes begitu saja di pipinya. Dengan langkah gontai ia menghampiri jasad Linda yang sudah selesai di mandikan dan di kafani. Arland bahkan tidak sempat melihat wajah Linda untuk terakhir kalinya.
Arland terpekur di hadapan jenazah Linda. Ribuan sesal tidak bisa mengembalikan Linda ke sisinya. Tinggallah air mata yang diusap kasar oleh Arland sebelum mengecup kening ibunda tercintanya.
"Maafin arland mih, maaf...." lirih Arland dengan dengan tangis tertahan. Rasanya untuk sekedar terisakpun tenaganya sudah habis.
__ADS_1
*****