My First Love Story

My First Love Story
Long trip 3


__ADS_3

Tugas hari pertama telah mereka selesaikan dengan baik. Ricko yang sudah mengenal kota resik ini, berniat mengajak teman-temannya menikmati suasana malam yang terkenal dengan segala keindahannya. Mereka menggunakan taksi online untuk pergi ke sebuah taman, yang di sebut taman pelangi. Waktu tempuh sekitar 45 menit. Mereka tiba di sana saat suasana tidak terlalu ramai.


“Yang foto di sini yukkk…” Sherly menarik tangan Ricko dengan semangat. Ricko mengiyakannya dan mengambil beberapa foto mereka berdua dengan kamera depannya. “Waahhh bagusss…Gaiss… sini kita foto…”


“Terus siapa yang fotoin?” Tanya Kania


“Tuh minta tolong bapak yang jualan eskrim aja… nanti kita beli eskrimnya…” tunjuk Ricko pada seorang penjaja es krim..


Dena menghampiri bapak penjual es krim keliling, lalu meminta mengambilkan foto. Dengan senang hati ia besedia.


“Okeeyy atur posisi yaa… “ tutur Dena sambil mengatur posisi sahabatnya.


Ricko berdiri di samping kiri sherly sambil merangkul bahunya. Sementara Kania berada di samping Sherly dan Dena berada di antara Kania dan Kezia. di tutup oleh Arland yang berada di samping Kezia.


“Satu dua tigaa… cekrek!” beberapa kali foto di ambil. Setelah puas dengan berbagai pose,mereka mengecek kameranya.


“Kenapa focus gue malah ke kalian berdua ya?” Tanya Ricko pada Arland dan Kezia.


Kezia dan Arland hanya saling pandang tidak mengerti.


“Emang kenapa yang?” Tanya sherly yang kebingungan


“Coba deh kalian liat, yang pertama kalian tangkep dari foto-foto ini apa?” Tanya Ricko sambil menscroll beberapa foto.


“Ya ampunn… ini orang dua kenapa sibuk sendiri sih? Gag bisa ya kalo foto itu focus ke kamera?” celetuk kania sambil menatap Kezia dan Arland.


“Ini namanya dialog dua hati *****! Cuma mereka berdua yang tau mereka lagi ngapain!?” seru Dena sambil menyenggol Kania.


Memang dari beberapa foto yang diambil hanya ada satu foto yang terlihat Kezia dan Arland menatap kamera. Sisanya adalah foto candid berbagai ekspresi gemas mereka.


Mereka tergelak senang melihat ekspresi kocak dari Kezia dan Arland. Bahkan sesekali mereka meledeknya dan menambahkan balon kata-kata di fotonya, seolah percakapan antara Kezia dan Arland.


“Hahahha gokil lo na!” seru Kania sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat foto yang di posting Dena.


Sementara Kezia hanya tersipu menanggapi ujaran teman-temannya. Dan Arland masih dengan sikap so cool nya, tak bergeming. Hanya sesekali terlihat ia menahan tawa saat ekspresi Kezia terlihat lucu.


“Pak, es krim nya 6 yaa…” seru Ricko sambil menyerahkan sejumlah uang.


“Tapi den, ini uangnya kebanyakan…” jawab bapak penjual es krim.


“Gag apa-apa pak, ini rejeki buat bapak dan keluarga.” Tukas Ricko sambil tersenyum.


Masing-masing menerima 1 cone es krim dan menikmatinya sambil duduk di bangku-bangku yang sudah di sediakan di taman dan beberapa duduk terpisah. Tiba-tiba handphone Kezia terjatuh. Kezia segera mengambil handphonenya dan mencondongkan tubuhnya ke bawah. Arland mengikutinya. Saat Kezia menegakkan kembali kepalanya, ternyata dia menyenggol tangan Arland dan membuat es krim yang ada di tangan Arland mengenai seluruh wajahnya.


“Hahhahahahha!” terdengar gelegar tawa Kezia yang tidak terkontrol.


Arland yang merasakan hawa dingin es krim menutupi wajahnya segera membuka mata yang terasa lengket dan rapat.


“Sooryyy aku gag sengajaa…” tutur Kezia sambil terus tertawa.


“Bersihin gag?!” seru Arland perlahan


“Gag mau, kan aku udah minta maaf!” tolak Kezia sambil menutupi wajahnya karena tak kuat menahan tawa melihat ekspresi lucu Arland.

__ADS_1


“ Kalo gitu…” Arland menarik jaket yang di pakai Kezia dan berniat mengelapkannya ke wajahnya.


“Heeyyy jangann… “ Kezia menarik jaketnya. “Ya udah sini aku bersihin!” seru kezia sambil mengeluarkan beberapa lembar tissue dari dalam tasnya.


Kezia mulai membersihkan wajah Arland sambil menahan tawanya. Ada debaran halus yang di rasakan Kezia di rongga dadanya saat tatapan mata mereka bertemu. Sementara Arland terbuai merasakan usapan lembut dari tangan Kezia. Di tatapnya wajah Kezia yang berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Sesekali Arland tersenyum.


“Nih cowok, mulus banget mukanya. Pake skincare kali ya…” lirih Kezia dalam hatinya sambil terus membersihkan wajah Arland.


“Land…” panggil Kezia perlahan


“Hemm…” Jawab Arland acuh


“Kenapa kamu jarang bicara sama orang? Bahkan sama temen-temen aku…” Tanya kezia dengan tatapan serius


“Aku terbiasa berbicara hanya dengan orang yang ingin aku ajak bicara.” Tegas Arland.


“Hem… membosankan!” lirih Kezia


“Apa?” Tanya Arland sambil memegang tangan Kezia.


“Aku gag ngomong apa-apa kok…” tangkas kezia sambil berusaha melepas pegangan tangan Arland. Tapi Arland menggeratkan genggamannya.


“Sebentar saja…” lirih Arland mengendurkan genggamannya.


Kezia hanya terdiam. Dia meraba dada kirinya sendiri yang terasa begitu bergejolak. Arland tersenyum melihat gelagat Kezia yang tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.


****


# Flashback On


“Gue duluan ya key, udah ngantuk…” pamit Dena pada Kezia yang masih menghabiskan minumannya di lobby dengan di temani Arland. Sementara teman-temannya yang lain sudah masuk ke kamar termasuk Ricko.


Kezia mengangguk mengiyakan sambil melambaikan tangan. Suasana lobby mulai sepi. Hanya tinggal beberapa orang yang ada di sana termasuk Kezia dan Arland.


“Gimana kabar tante Land?” Tanya Kezia berusaha mencairkan suasana.


“Baik… Dia juga sangat berterima kasih sama kamu..” tutur Arland sambil menatap wajah cantik di sampingnya.


“Berterima kasih untuk apa?”


“ Yaa kamu udah berusaha menolong perusahaan kami.” Tutur Arland sambil menyenderkan tubuhnya pada pinggiran sofa. “Mamih sekarang udah gag pegang perusahaan. Dia gag mau hidup di bawah bayang-bayang keluarga Irene. Mamih memilih menemani eyang di kampung halaman.” Lanjut Arland.


“Terus perusahaan kamu siapa yang pegang?”


“Aku menjual semua asset peninggalan papih. Uangnya aku belikan saham di perusahaan Ricko. Saat sudah selesai sekolah nanti, aku akan mendirikan perusahaanku sendiri dengan usahaku sendiri. Setelah itu aku akan meminta kamu sama Om martin…” terang Arland sambil mengenggam tangan Kezia.


Kezia tersipu, di tatapnya wajah Arland yang ada di hadapannya. Bibirnya tengah tersenyum. Ada perasaan bangga yang Kezia rasakan terhadap laki-laki di hadapannya.


“Berusahalah, aku akan mendukung kamu…” sambut Kezia dengan tatapan hangat. Arland tersenyum penuh arti. Betapa berarti dukungan kezia baginya.


“Udah malem,ayo aku antar ke kamar…” Arland beranjak dari duduknya.


Kezia dengan sukarela mengikuti. Mereka berjalan beriringan. Sesekali mereka saling lirik, tak ada pembicaraan di antara mereka. Keduanya dengan fikiran masing-masing.

__ADS_1


Langkah mereka terhenti saat Kezia sudah sampai di depan kamarnya.


“Masuklah…” pinta Arland. Kezia mengangguk mengiyakan. “Key…” Tak sadar Arland kembali meraih tangan Kezia.


Kezia segera berbalik. Arland mendekatkan dirinya pada Kezia. Di sentuhnya beberapa helai rambut Kezia dan menyelipkannya di telinga Kezia. Tangannya menyentuh pipi Kezia yang terasa hangat. Wajah Arland semakin mendekat. Kezia bisa merasakan hembusan nafas Arland yang menerpa wajahnya.


“Land…” tutur Kezia dengan suara bergetar. Kezia meletakkan tangan kanannya di dada Arland, berusaha menahan tubuh Arland yang semakin mendekat.


Arland tersenyum, entah mengapa hampir saja ia tak bisa menguasai dirinya sendiri. Ditempelkannya keningnya di kening kezia.


“Aku tidak akan melakukannya kalo kamu gag suka…” bisik Arland. Arland menghormati setiap pilihan Kezia, termasuk sikapnya pada Arland.


“Thanks Land…” Jawab Kezia. Meski Kezia sadar Arland tak bermaksud melecehkannya, namun ia tidak mau terlarut dalam kondisi seperti ini.


Arland tersenyum kemudian perlahan menjauh dari Kezia.


“Good night, sweet dream…” lirih Arland sambil mengecup kening Kezia. Kezia membalasnya dengan senyuman tipis. Tak bisa ia pungkiri, saat berada di dekat Arland ia selalu merasa bahagia.


Flash Back Off


Kezia mengeleng-gelengkan kepalanya mencoba melupakan kejadian yang membuatnya salah tingkah tadi. Kezia membasuh wajahnya dengan Air dingin dan mengeringkannya dengan handuk yang tergantung di sana.


“Kenapa aku selalu deg-degan kayak gini kalo deket Arland?” gumam Kezia sambil memegang dadanya yang masih berdetak tak menentu.


****


Hari kedua karyawisata hampir berakhir. Saat itu Kezia dan teman-temannya masih berkeliling di Keraton kesultanan. Suasana keraton yang tenang dan asri dengan arsitektur bangunan yang menarik membuat orang-orang takjub. Hal ini pula yang membuat Arsitektur  keraton dihargai oleh ilmuwan asal Belanda. Desain yang sangat rapi , apik dan hingga saat ini terjaga dengan baik. Tak jarang turis mancanegara pun berkunjung ke sini.


“Kita boleh foto-foto di sini gag sih?” Tanya sherly yang juga terpesona dengan keadaan di sekitar ketaron.


“Boleh tapi ada batasannya…” sahut Kezia.


“ Batasan apa Key?” Tanya Dena yang terlihat kebingungan.


“Nih Lo baca aja di sini…” Kezia menyodorkan buku catatannya pada Dena.


“Wah kereenn… Lo tau darimana larangan-larangan ini?” Tanya Kania yang ikut melihat isi buku catatan kezia.


“Gue liat di buku yang ada di perpus terus gue salin…” jawab Kezia.


“Waahh.. ini baru temen gue… udah cakep, pinter lagi. Sayangnya jomblo!” seru sherly sambil melirik Arland.


“Lo mau muji gue apa ngejatohin gue sher…” Kezia mengibaskan rangkulan Sherly.


“Lebih tepatnya mempromosikan Lo key… Hahahaha…” tukas Sherly dengan semangat.


Kedua sahabatnya ikut neminpali tawa sherly, termasuk Ricko dan Arland yang ingin ikut tertawa tapi takut dosa.


“Dasar Lo sher!” seru Kezia sambil menyilangkan tangannya di dada dengan ekspresi wajah kesal. Sementara Arland memandanginya dengan gemas.


Kezia dan teman-temannya meneruskan berkeliling di sekitar keraton. Dena yang memang jago gambar, mensketsa beberapa hal menarik yang ada di sekitar keraton seperti bentuk Paviliun atau taman bunganya. Memang begitu banyak hal menarik yang ada di keraton. Selain bangunannya, budaya yang ada di sana pun di  jaga dengan baik. Terlihat beberapa anak kecil berlatih tari di sana, dengan pelatih yang masih muda. Mereka melenggak lenggok dengan gemulai. Sangat menarik.


****

__ADS_1


__ADS_2