My First Love Story

My First Love Story
Tak sadarkan diri


__ADS_3

Setelah menuruni 2 lantai, mereka sampai di sebuah Café. Disana sedang ada Live music. Beberapa pasang


muda-mudi duduk disana sambil bermesraan. Angga melirik Hendra yang berada sekitar 2 langkah di belakangnya. Seketika Hendra menghentikan langkahnya dan menunggu di depan cafe. Dia duduk dan memperhatikan Tuan mudanya dari kejauhan.


“Duduk lah schnucki” pinta Angga pada Kezia yang masih mematung.


Kezia menuruti permintaan Angga dan duduk dihadapannya. Angga menjentikkan jarinya dan seorang pelayan


menghampiri mereka.


“Selamat malam… mau pesan apa?” Tanya pelayan tersebut dengan ramah. Disodorkannya buku menu yang ada di genggamannya.


“Kakak mau makan apa?” Tanya Kezia sambil menatap angga.


“Kamu yang pilihkan, apapun aku makan..” tutur Angga sambil tersenyum.


Kezia mulai membuka-buka buku menu. Telunjuknya menyusur daftar menu yang berderet. Tanpa Kezia sadari, pelayan yang berdiri di sampingnya terus memperhatikannya sambil tersenyum. Angga yang melihat kelakuan pelayan tersebut merasa sangat terganggu.


“Kenapa mas, menarik banget ya?” Tanya Angga dengan ketus.


“Oh , maaf… saya tidak bermaksud apa-apa…” jawab pelayan tersebut yang kemudian tertunduk. Namun sudut matanya masih mengarah pada Kezia.


“Duh, milih menu aja lama banget dasar cewek!” dengus angga dengan kesal.


“Okey-okey… saya pesan Coklat hangat dan roti bakar Keju untuk kakak saya. Terus kentang goreng, spageti dan smoothies strawberry buat saya.” Terang Kezia sambil menutup buku menu dan mengembalikannya pada pelayan.


“ Ooo.. mas kakaknya mba yaa…” Tanya pelayan tersebut sambil tersenyum.


“Ada urusan apa Lo nanya-nanya segala!” seru angga dengan kesal.


“ Oh maaf mas, saya permisi…” tutur pelayan tersebut dan bergegas pergi meninggalkan Kezia dan angga.


“Idih emosi banget sih kak… dia kan nanya doang…” tutur Kezia dengan polos.


Angga tidak menjawabnya, ada rasa kesal dalam dadanya saat orang lain menatap Kezia dengan perasaan kagum.


“Dia terlalu kepo!” cetus angga sambil menatap wajah Kezia yang terkena cahaya lampu café. Kembali ia tertegun dengan mata bulat yang menatapnya polos.


Dengan penerangan lampu café yang membias di wajah Kezia, ,embuatnya terlihat lebih cantik. Sorot mata yang


hangat, senyum yang manis, membuat perasaan angga tak menentu.


Angga mecoba kembali memfokuskan fikirannya. “Gimana sekolahmu Schnucki, apa mau di lanjut di sini atau masih di sekolah lama?”


“Aku mau nerusin sekolah di sekolaku aja… aku gag bisa ninggalin sahabat-sahabatku. Sekarang aja udah kangen sama gilanya mereka…” tutur kezia sambil tersenyum gemas saat mengingat ketiga sahabatnya. Angga mengangguk-angguk mendengarkan cerita Kezia.


“Okey, lagu selanjutnya special buat gadis cantik bertopi yang duduk disebelah sana. The way you look at me…” seru seorang penyanyi laki-laki dari atas panggung.


Semua pandangan tertuju pada Kezia, namun Kezia tak menyadarinya. Kezia masih terus asyik menceritakan para


sahabatnya dengan ceria. Sementara Angga di buat geram oleh penyanyi tersebut. Angga membenamkan topi kezia, membuat matanya hampir tertutupi.


“Kak, gag keliatan tau…” protes Kezia sambil membuka topi yang dipakainya.

__ADS_1


“UUhhh….” Seru pengunjung café yang lain saat melihat wajah cantik Kezia dengan jelas.


Kezia melihat ke sekelilingnya, dan pandangan pengunjung café masih terarah padanya.


“Ni apaan sih orang-orang?” Tanya Kezia pada Angga yang masih terlihat kesal.


“ Ayo pergi!” Ajak Angga sambil menarik tangan Kezia.


“Kak kita belum makan loh, belum bayar juga. Kasian kalo menunya udah di bikin.” Seru Kezia sambil terus melangkah.


“Biarin pak Hendra yang urus. Aku gag suka kamu jadi tontonan orang!” seru angga.


“Tontonan? Emng aku layar tancep apa, di bilang tontonan banyak orang!” gerutu Kezia yang masih belum menyadari kondisi sebenarnya.


Angga terus berjalan tanpa henti setelah berjalan lumayan jauh, tiba-tiba langkah Angga terhenti. Dia menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.


“Kenapa kak?” Tanya Kezia sambil meraih tangan Angga. Ada darah segar yang keluar dari lubang hidung kanan Angga. Dan tiba-tiba


“Brug!” Angga terjatuh tak sadarkan diri.


“Kak!!!” teriak Kezia yang tercengang melihat tubuh angga tiba-tiba ambruk. Hendra segera berlari menghampiri Angga.


“Tuan muda, tuan muda.” Teriak hendra sambil mengguncang-guncangkan tubuh Angga. Namun angga tidak merespon. “ Nona tunggu sebentar, saya minta bantuan orang dulu untuk mengangkat tuan muda!” seru hendra yang panik.


Kezia masih shock melihat kondisi Angga. Diangkatnya sedikit bahu angga dan memposisikan kepalanya di


atas kedua pahanya.


“Kak, kak angga bangun kak…” seru Kezia sambil menggerak-gerakan tubuh angga tapi tetap tidak ada respon.


Tak lama Hendra kembali dan segera mengangkat tubuh Angga bersama dua orang security mall. Dengan cepat Kezia mengikuti langkah hendra menuju tempat parkir. Langkahnya beberapa kali tersandung karena penglihatannya yang kurang jelas tertutup air mata yang terus mengalir.


****


Perjalanan 15 menit terasa begitu lama. Suara sirine dari Ambulance menambah kepanikan yang dirasakan oleh


Kezia. Di hadapannya Angga sudah tergolek tak sadarkan diri. Di samping kezia duduk seorang perawat yang terus mengobservasi kondisi Angga.


Kezia menggenggam tangan dingin angga dengan erat. Jari-jarinya terasa begitu lemas. Telapak tangan pucat seperti tidak ada darah yang mengalir ke sana.


“ Kak, bertahanlah kak… kakak harus kuat…” lirih Kezia sambil menggenggam tangan Angga dengan erat.


Air mata mengalir melewati pipi putihnya. Dadanya terasa begitu sesak karena tidak pernah menyangka akan


melihat angga seperti saat ini.


Mobil berhenti di halaman UGD rumah sakit. Beberapa orang membuka pintu ambulance dan membawa tubuh angga dengan  segera. Mereka sudah sampai di sebuah rumah sakit besar. Beberapa orang melihat kedatangan Angga yang segera di dorong dengan blankar menuju ruang triage. Beberapa dokter dengan sigap menangani Angga. Mengecek respon mata angga dan memasangkan beberapa alat di tubuh angga.


Kezia ingin mendekat, namun perawat yang tadi mendampingi angga meminta Kezia untuk menunggu di luar. Kezia


terduduk di kursi tunggu. Perasaan yang sama yang pernah dia rasakan kembali hadir. Perasaan saat kakaknya berada dalam kondisi yang sama.


Kezia terduduk dengan lemas. Fikirannya berputar mengingat kembali kenangan lama saat dia kehilangan

__ADS_1


Dika. Kedua tangannya gemetar walau masih kuat menyangga kepalanya yang terasa pusing.


“ Tuhan, tolong jangan ambil lagi kakakku….” Lirih Kezia dengan suara tersengal. Matanya memejam merasakan kelopaknya yang membengkak.


Dihadapannya ada Hendra yang sejak tadi menghubungi Mahesa dan dokter yang biasa merawat Angga. Selesai


bertelepon Hendra duduk di samping Kezia.


“Pak, apa kak angga selalu seperti ini?’ tanya Kezia lirih


“ Tidak non, baru sekarang Tuan muda mengalami kondisi seperti ini lagi. Harusnya pagi ini adalah jadwal Chemo, tapi tuan muda meminta dialihkan besok, demi bisa hadir di acara hari ini…” terang Hendra dengan gamblang.


“Ya tuhan kak angga, kenapa kamu senekad ini sih… dengus Kezia, sedih bercampur kesal. Karena Angga menganggap acara ini lebih penting dari kondisi kesehatannya.


“Tuan muda melakukan ini demi ketemu nona Kezia…” batin Hendra sambil menatap Kezia yang tengah gusar.


Tak lama, Mahesa datang  bersama beberapa orang laki-laki yang kemungkinan adalah dokter yang merawat


Angga. Di belakangnya berjalan seorang wanita yang di papah oleh wanita Muda.


“ Key, gimana kondisi Angga?” tanya mahesa yang segera menghampiri kezia.


“ Dokter belum keluar Om, dan aku gag diperbolehkan masuk…” Jawab Kezia sambil tertunduk. “Maafin Kezia om, harusnya…”


“ SSttt… sudah ini bukan salahmu… kita berdo’a dan percayakan semuanya pada tim dokter…” sahut Mahesa seraya mengusap punggung Kezia.


Mahesa tau, kezia pasti merasa ketakutan dan sekaligus merasa bersalah.


“ Apa ini Nak kezia…” sapa seorang wanita cantik yang menghampiri Kezia dan Mahesa.


 “ Betul ibu, saya Kezia.” Jawab Kezia sambil mencium tangan wanita yang ada di hadapannya.


“Perkenalkan key, ini tante Anna, istri Om.. dan Ini kak Indira, kakak Angga.” Terang mahesa dengan tenang.


Tanpa diduga, tiba-tiba Tante Anna memeluk Kezia.


“Terima kasih nak Kezia, selama ini sudah mengembalikan semangat hidup anak tante… tante mohon, terus dukung dia untuk bertahan dan ingin sembuh…” bisik Tante Anna sambil terisak.


Kezia masih mematung. Ia tidak mengerti apa yang dilakukannya sehingga Anna harus berterima kasih. Kezia malah merasa kalau gara-gara dialah hari ini Angga dalam kondisi tidak berdaya.


“Tante, justru saya minta maaf, Kak angga jadi begini gara-gara saya….” Tutur Kezia sambil menunduk.


"Tidak Nak, ini bukan salahmu…”tukas tante Anna dengan lembut. “ Kamu membuat Angga tertawa, itu sudah lebih dari cukup buat kami. Sekarang kita duduk, kita do’akan untuk kesembuhan Angga.” Imbuh Anna sambil menarik tangan Kezia untuk duduk. Disebelahnya, Indira duduk dan tersenyum pada kezia.


"Tuan Mahesa” seru seorang dokter yang menangani Angga.


"Ya dok…” jawab Mahesa yang bergegas mendekat ke arah dokter. Kezia dan yang  lainnya mengikuti. “Bagaimana kondisi anak saya dok?” lanjutnya


“ Putra bapak sudah siuman. Saat ini kami akan memindahkannya ke ruangan perawatan.” Jawab Dokter tersebut


dengan senyum hangat. Terdengar desah nafas lega dari mahesa dan keluarga termasuk Kezia.


****

__ADS_1


Di tunggu Like dan komennya yaa... Hihihi, makasih sebelumnya...


__ADS_2