
Perlahan seorang pria datang dengan sebuah kursi roda yang membawanya. Disana duduk seseorang yang Kezia kenal. Ya, Kak angga, begitulah Kezia biasa memanggilnya. Kezia terkejut bukan kepalang. Kezia reflek berjalan hendak menghampiri Angga. Angga mengangkat tangan kanannya, tanda meminta Kezia untuk diam d tempat. Perlahan Angga berdiri. Satu persatu kakinya melangkah bersambutan.
" Tuan muda, perlu saya bantu.” Bisik laki-laki paruh baya yang berdiri disampingnya.
"Biarkan saya berjalan sendiri.” Jawab angga.
Dia berjalan dengan langkah tertatih-tatih , hendak menghampiri gadis yang berdiri di hadapannya.
"Kak, kamu bisa kak. Kamu bisa.” Lirih kezia dalam hati menyemangati Angga yang sedang berjalan ke arahnya. Mata kezia berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak menahan haru.
Laki-laki itu kini berdiri di hadapannya dengan senyum menawan dan tatapan hangat yag biasa ia tujukan pada Kezia.
"Hay Schnucki, selamat… you made it!” sapa Angga sambil mengulurkan tangannya.
Kezia menerima uluran tangan Angga dengan segera. Digenggamnya tangan Angga dengan erat. Terasa begitu hangat, berbeda dengan kezia, tangannya dingin karena gugup.
"Tuhan, dia ada dihadapanku,mengenggam tanganku…. Harapan hidupku… Schnucki-ku..” lirih Angga.
Entah berapa lama mereka berjabat tangan. Suara tepukan yang bergemuruh tidak masuk sama sekali ke rongga telinga mereka. Yang ada, hanya mereka berdua, hembusan nafas mereka dan detak jantung mereka.
Beberapa wartawan yang menghadiri acara dengan cepat mengabadikan moment tersebut. Untuk pertama kalinya Penerus dari CEO Wibawa group hadir dihadapan mereka dan menggenggam tangan seorang gadis. Tyo yang berdiri disamping Kezia, tercengang tak percaya. Dan seseorang yang berdiri di belakang sana, hanya mematung dan mengeraskan rahangnya dengan tinju mengepal menahan amarah.
*****
Selesai acara penutupan, kezia di arahkan untuk masuk ke sebuah ruangan. Disana telah duduk seorang laki-laki tampan dengan pakaian jas lengkap tengah menunggunya. Mendengar kedatangan Kezia, Angga berbalik dan tersenyum ke arah kezia.
Kemarilah..” seru angga sambil mengulurkan tanganya. Kezia berjalan ke arah Angga dan berdiri dihadapannya. “ duduklah…” pinta Angga sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Kakak, kemana aja? Gimana kabarnya? Kenapa beberapa hari ini gag bisa aku hubungi?” Tanya Kezia dengan wajah cemas.
"Aku kira, ketika aku datang, kamu akan meminta tanda tanganku dan berfoto denganku.” Cetus Angga dengan senyum menawannya.
"Hemmm iya ya.. kenapa aku bisa lupa!” seru Kezia sambil menatap Angga yang terus memandangnya dengan lekat.
“Tuk!”
Angga menjentikan jarinya dikening Kezia, membuat kezia sedikit mengaduh.
"Sakit tau kak…” tutur Kezia sambil mengusap-usap dahinya. Angga tersenyum gemas melihat tingkah kezia.
"Apa sesakit itu?” Tanya angga sambil mengusap pucuk kepala Kezia.
“Ini yang aku inginkan sejak pertama kali melihat kamu..” lirih angga dalam hati.
"Tentu saja! Ingatanku nyari hilang separuh karena sakit!” sahut kezia dengan wajah kesalnya.
Angga tergelak mendengar ucapan Kezia. laki-laki yang sejak tadi berdiri di samping Angga ikut tersenyum.
"Emm , bapak ini?” Tanya Kezia yang baru menyadari keberadaan laki-laki paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Dia pak Hendra, asistenku..” Jawab angga.
"Hah, jadi pak hendra itu beneran ada kak?” Tanya Kezia yang tercengang. Angga tergelak mendengar pertanyaan Kezia. “Terus bukannya beberapa kali kita pernah ketemu ya pak?” lanjut kezia.
"Benar Nona…” jawab Hendra singkat.
“Terima kasih Nona, anda sudah membuat tuan muda kembali memiliki semangat hidup, bahkan membuatnya tertawa.” Gumam hendra dalam hatinya.
Angga menatap Hendra sejenak, lalu Hendra mengangguk seakan mengerti isyarat mata angga..
“Saya permisi sebentar, saya akan mengambilkan makanan untuk Nona dan Tuan muda.” Terang Hendra sambil berlalu.
Angga dan Kezia hanya mengangguk.
“Kak, apa papahku bisa bekerja di tempat Wibawa Group karena kakak?” Tanya Kezia dengan wajah serius.
"Tentu saja Bukan, dia bisa bekerja Karena dia memang mampu..” jawab Angga segera.
“Apa kakak gag bohong sama aku?” Kezia menatap Angga dengan tajam
“Ayolaah key… kamu menakutiku…” jawab Angga sambil tergelak.
“IIhhh kak angga, ngeselin…” seru kezia sambil mencubit lengan angga.
"Aww aww aww… kamu menyakitiku.” Tutur Angga setengah berteriak.
Tubuh angga terlentang di sofa karena dorongan Kezia, sementara setengah tubuh kezia berada di atas tubuh angga dengan tangan masih membekap mulut Angga. Pandangan mereka bertemu. Jantung Angga berdetak sangat kencang.
“Kak, jangan teriak, nanti dikira aku beneran nyakitin Tuan Muda lagii…” bisik Kezia. angga hanya mengangguk.
Kezia segera membenarkan posisi tubuhnya.
"Kak sory, harusnya aku gag kasar kayak tadi…” lirih Kezia sambil tertunduk. Tangannya saling memilin satu sama lain.
Angga hanya tergelak mendengar ucapan Kezia. Kezia menyerucutkan bibirnya. Reaksi reflek ketika dia kesal atau merasa bersalah.
"Ayolah jangan bertingkah seperti itu. Aku bisa menggigitmu sekarang.” Lirih Angga sambil menatap Kezia dari tempatnya berbaring.
“Iisshhh , apa sih!” cetus Kezia sambil mengerlingkan matanya.
Angga kembali tergelak melihat reaksi Kezia.
*****
Arland berada di taman gantung, tepatnya lantai 6 hotel tersebut. Cuacanya tidak terlalu panas. Dia duduk di kursi yang digunakan kezia sebelumnya. Segelas jus berada dalam genggamannya. Memory nya masih memutar kejadian beberapa saat lalu, ketika seorang laki-laki menatap Kezia dengan tatapan berbeda. Yang lebih menyakitkan, saat Kezia dengan suka rela memberikan genggaman tangannya pada laki-laki tersebut. Genggaman
tangan yang selalu Arland mimpikan. Karena saat menggenggam tangan Arland, Kezia selalu terlihat ragu.
"Menyerahlah, kita sama-sama kalah” tutur Tyo yang berdiri di belakang Arland.
__ADS_1
"Apa dia nolak Lo?” Tanya Arland tanpa memalingkan pandangannya ke arah Tyo.
"Lebih tepatnya gag pernah ngasih kesempatan,walau hanya sekedar untuk menunggunya.” Terang Tyo dengan senyum menyedihkan.
Tyo berjalan menghampiri Arland dan duduk disampingnya. Tepatnya di kursi tempat dia memandangi Kezia dengan penuh pengharapan.
"Lo yang kalah, gue enggak.” Sahut Arland sambil meneguk minumannya.
“Cih! Lo harus sadar, siapa saingan Lo.” Cetus Tyo merendahkan.
“Gue yakin, gue masih ada harapan.” Sahut Arland.
Arland kembali meneguk minumannya hingga tandas. Diletakkannya gelas kosong di atas meja samping Tyo. Lalu pergi meninggalkan Tyo yang masih terdiam.
“Cih!” Tyo mendengus kesal mendengar kepercayaan diri Arland.
Arland berjalan menyusuri koridor hotel. Ditekannya salah satu tombol lift, dan menunggunya terbuka. Arland
mengecek handphonenya. Pesan yang sedari di kirim pada Kezia masih belum di bacanya. Sebenarnya isi pesannya hanya pertanyaan apa dia mau pulang bareng atau tidak. Tapi karena tidak ada jawaban, membuat Arland sedikit frustasi, karena berarti kezia masih bersama laki-laki itu.
“Ding!” Pintu Lift terbuka. Seorang paruh baya yang tadi di samping Angga, tampak menganggukkan kepala dengan sopan ke arah Arland. Arland membalasnya dengan ekspresi datar. Arland masuk ke dalam lift dan
menekan angka 3.
"Anda tuan Arland?” Tanya Hendra dengan ekpresi datar.
“Tuan? Gila gue tua banget kedengerannya” gerutu Arland dalam hatinya.
“Iyaa, ada perlu apa?” Tanya Arland tanpa menoleh
"Ini ada pesan dari Tuan Muda kami untuk anda.” Hendra menyerahkan selembar kertas pada Arland.
“Gila udah berasa hidup di drama korea aja. Ada tuan muda orang kaya, pengawal berwajah datar, terus gue seolah anak ingusan yang harus ngalah sama opa-opa. Apa dinegara ini juga ada cerita model begini?” batin Arland. Arland tersenyum geli sendiri. Diambilnya kertas yang disodorkan Hendra tanpa protes.
“Ding.”
Pintu lift kembali terbuka. Rupanya sudah sampai di lantai 3. Arland keluar lift tanpa pamit pada laki-laki di sampingnya. Ia bergegas menuju kamarnya. Begitu pintu kamarnya terbuka, Arland menyalakan lampu kamarnya lalu memilih duduk di pinggiran tempat tidurnya.
Dibukanya kertas yang tadi diserahkan oleh Hendra.
“ Kalau kamu menginginkannya, jadilah orang yang layak untuk mengejarnya. Jika kau berhasil, kelak aku akan datang mengantarkannya sendiri padamu. Jadi berusahalah!”
Itulah yang tertulis dalam kertas tersebut. Arland membuka dompetnya lalu memasukkan kertas tersebut di salah
satu deret dompetnya. Dia menganggap ini sebagai tantangan sekaligus kata-kata motivasi.
Arland mendengus kasar membayangkan apa yang tengah Kezia lakukan dengan laki-laki itu. Arland membaringkan tubuhnya, lalu berguling ke kanan dan kiri. Ia benar-benar gusar, hatinya tak rela.
****
__ADS_1