
“Selamat siang bu eliana, saya mau beli lauk pauk…” sapa Mira pada Eliana.
“Siang bu mira, mau beli apa?”
“ini aja sup ayam sama tempe goreng. Terus telor asinnya juga ya…” tunjuk Mira.
Eliana segera mengambil makanan pesanan Mira.
“Aduh ini siapa, kok ganteng banget? Bule ya bu?” tanya Mira saat melihat Sean yang sedang duduk sambil bermain dengan mobil-mobilannya.
“Oo iya bu, ini sean. Dia dari Jerman.” sahut Eliana seraya tersenyum.
“Oohh ini anak kezia? Ya ampun, bukannya nikahnya baru setahun lalu, kok udah punya anak aja? Anak kandung apa anak sambung bu?” cerocos Mira sambil terus melihat Sean.
“Emm sean ini…” tutur Eliana yang kebingungan harus seperti apa menjelaskannya.
“Emm.. bu eliana gag usah gag enak gitu. Anak jaman sekarang emang begitu, biasanya hamil dulu baru nikah. Apalagi tinggal di luar negri kayak Kezia, banyak godaannya. Cuma ya sebenernya gag akan terjerumus kalau orangtuanya perhatian…” sindir Mira.
“Ini bu, semuanya 42 ribu.” ujar Eliana sambil menyerahkan pesanan Mira seraya mengabaikan ucapan Mira tadi.
“Oh iya bu, makasih.” tukas Mira. Eliana hanya tersenyum. “O iya bu, bapaknya bule ya?” sambung Mira.
Eliana tidak menjawab. Ia segera menghindar dan menghampiri Sean yang sedang bermain. Mira pun segera pergi ketika melihat Eliana tidak menanggapinya.
Di perjalanan pulang, Mira berbicara dengan beberapa tetangga komplek mengenai Sean. Sesekali mereka melihat ke arah rumah Kezia dan kembali bergunjing hingga tanpa terasa Eliana menangis.
“Oma, warum weinst du? (Nenek kenapa nangis?)” Sean memandangi wajah sendu Eliana.
Eliana hanya tersenyum. Ia memeluk Sean dengan erat. Dikecupnya pucuk kepala Sean.
“I’m fine…” sahut Eliana.
“Oma, weine nicht, Sean wird auch traurig sein. (Nenek jangan menangis. Sean jadi ikut sedih.)” bujuk Sean seraya mengusap air mata yang melelah di wajah Eliana.
Eliana kembali tersenyum. Eliana tau, Sean sedang berusaha menghiburnya. Ia hanya mengusap kepala Sean berulang kali. Melihat Sean, rasa sesaknya sedikit berkurang.
“Betapa manisnya anak ini…” gumam Eliana.
***
Sepulang dari kantor, Kezia membawa mobil yang telah disiapkan Hendra menuju salah satu sekolah dan hendak mendaftarkan Sean untuk belajar.
Sekolah bertaraf internasional ini tidak terlalu jauh dari kantor group wibawa, sehingga Kezia bisa tetap menjaga Sean walau harus bekerja.
Suasana sekolah sudah sepi. Di ruang gurunya hanya ada seorang wanita yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Kezia mengetuk pintu tanpa sungkan. Seorang wanita berparas manis menghampiri Kezia.
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sambut wanita tersebut.
__ADS_1
“Selamat siang. Saya mau mendaftarkan keponakan saya untuk sekolah di sini, apa bisa?”
“Oh boleh, silakan masuk. “ tutur wanita tersebut dengan ramah. Kezia mengikuti langkah kaki wanita tersebut kemudian duduk di sofa tamu. “Perkenalkan saya mega.” lanjut wanita tersebut seraya mengulurkan tangan.
“Oh saya kezia.” sahut Kezia.
“Baik, siapa yang akan mba daftarkan di sini?”
“Keponakan saya. Ini datanya…” Kezia menyerahkan sebuah map yang berisi data Sean. Mega memeriksa berkas tersebut dengan seksama.
“Ooo dari jerman ya?”
“Betul. Dia belum bisa sama sekali bahasa Indonesia, jadi mungkin akan sedikit menghambat pelajarannya. Tapi dia anak yang belajar dengan cepat. Saya mohon bantuan ibu untuk membimbingnya.”
“Baiklah, tidak masalah. Kami akan berusaha sebaik mungkin membimbing sean.” tandas mega.
Setelah menyelesaikan pendaftaran Sean, Kezia berencana segera kembali ke rumah, karena hari sudah semakin sore.
Kezia memacu kendaraan dengan santai karena ia masih harus menyesuaikan posisi setir yang di pegangnya. Jika saat di Jerman ia menggunakan setir kiri, kali ini ia memakai mobil dengan setir kanan.
Kezia melihat pemandangan sekitarnya. Banyak yang sudah berubah dari kota Jakarta. Jalanan lebih rapi dan ramai. Toko-toko berderet sepanjang jalan. Selintas Kezia melihat seseorang yang dikenalnya. Ia berdiri di pinggir jalan dan hendak menyebrang.
Kezia segera menghentikan laju kendaraannya di depan wanita tersebut. Kezia menurunkan kaca kiri depannya. Wanita tersebut melihat Kezia dengan mata memincing karena silau.
“Kak rana?!” seru Kezia tanpa ragu.
Kezia baru sadar ia berhenti di depan sebuah rumah sakit besar. Kezia segera menepikan mobilnya kemudian berhenti. Ia turun dari mobil dan segera menghampiri Rana.
“Ya ampun keeyyy, kamu apa kabaarr?” teriak Rana sambil memeluk Kezia. “Liat, kamu tambah cantiikkk… Aku jadi minder.” tutur Rana.
“Kak rana bisa aja. Kabar baik, kakak gimana kabarnya?”
“Aku juga baik.” Rana menggenggam tangan Kezia, ia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kakak buru-buru gak, kita ngobrol bentar…”
“Nggak, aku gag buru-buru kok. Ayo kita mau kemana?” tanya Rana dengan semangat.
Kezia mengajak Rana untuk masuk ke mobilnya dan kembali menepi saat melihat sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
Mereka memesan beberapa cemilan dan minuman untuk menemani mereka mengobrol.
“Kamu ini memang pulang apa lagi liburan aja?” tanya Rana melampiaskan rasa penasarannya.
“Aku sekarang tinggal di sini kak.”
“Sama kak angga juga?” lanjut Rana. Kezia menggelengkan kepalanya. “Loh kenapa, apa kalian putus atau gimana?” selidik rana.
__ADS_1
“Kak angga meninggal setahun lalu kak…” wajah Kezia berubah sendu. Walau ia berusaha tersenyum, gurat kesedihan itu tidak bisa disembunyikan.
“Ya ampun, maaf key, aku gag tau. Aku gag bermaksud…”
“Gag pa-pa kak,….” Sahut Kezia. Rana memandangi Kezia dan kezia membalasnya dengan senyuman.
Obrolan demi obrolan terus berlanjut hingga waktu pun tak terasa berlalu begitu saja.
***
“Land, lo ada agenda apa minggu ini?” tanya Ricko yang baru pulang dari kantor.
Ia mengambil air putih yang ada di meja makan dan meneguknya dengan segera.
“Gag ada.” sahut Arland yang masih asyik memandangi layar laptopnya.
“Hari minggu, gue pindah ke rumah baru.” tutur Ricko sambil terus memandangi Arland dari kursi meja makan.
“Hem…”
Selama ini, Ricko memang tinggal bersama Arland. Ia sengaja menemani Arland. Ya begitulah Arland yang sekarang, begitu pendiam dan dingin.
“Gue … ketemu seseorang hari ini.” Ricko menjeda ucapannya. Ia ingin melihat respon Arland. Tapi Arland tidak berespon sedikitpun. “Kezia…” sambung Ricko.
Arland menghentikan kegiatannya. Lalu duduk termenung.
“Kapan?” sahut Arland seraya menatap Ricko dengan tajam
“Land, cuma tentang dia yang bisa bikin lo tertarik.” Batin Ricko.
“Tadi pagi, di supermarket.” ujar Ricko. Arland segera melipat laptopnya. Kemudian membawanya masuk ke kamar. “Dia udah punya anak, laki-laki.” lanjut Ricko. Langkah Arland terhenti. “Land, dia…” namun tidak sempat melanjutkan kata-katanya, Arland sudah masuk kekamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Arland melempar laptopnya ke kasur lalu berdiri di samping jendela kamarnya. Menatap lurus ke arah taman yang sudah ia tata dengan baik. Pikirannya berputar, mengingat kembali kenangannya bersama Kezia.
“Dia udah punya anak, laki-laki.” kata-kata itu terus berulang berputar di kepalanya. Arland mengeratkan genggaman tangannya. Rahangnya mengeras dan
“BUK!” ia menonjok tembokan di salah sudut kamarnya. Ricko mendengarnya dari luar.
Tangannya terluka dan berdarah namun ia tidak meringis sedikitpun. Kabar yang di bawa Ricko jauh lebih menyakitkan.
Ia merebahkan tubuhnya dan menatap wajah kezia yang tergambar di langit-langit kamarnya.
“Terima kasih untuk kejutannya mhiu…” lirih Arland dengan air mata menggenang. Malam kembali berlalu begitu panjang bagi Arland.
“Land, sory.. harusnya gue gag ngasih tau lo…” teriak Ricko dari luar, tapi tak digubris Arland sedikitpun.
Sepertinya, ia memang sudah harus mengetahuinya.
__ADS_1
****