My First Love Story

My First Love Story
Episode 133


__ADS_3

“Key ikut aku bentar.” Arland  menarik tangan Kezia dengan tergesa-gesa.


“Land, aku lagi cuci piring, ada apa sih?”


“Udah ikut dulu…”


Arland membawa Kezia ke kamarnya lalu menutup pintu rapat-rapat.


"Kamu kenapa sih land? Ngobrol ya ngobrol aja, gag usah di kamar…” protes Kezia seraya memegangi kancing bajunya, entah mengapa pikiran menakutkan itu tiba-tiba muncul di kepala Kezia.


Arland mendudukan Kezia di kasurnya. “Kamu harus jelasin yang tadi aku liat. Siapa itu momy, dady dan dada.” Arland menatap Kezia dengan penuh tanya. Rasanya ia harus mendengar sendiri penjelasan dari Kezia.


Manik coklat itu menatap Kezia dengan lekat, membuat bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri agar tidak bisa di selami Arland. Sungguh rasanya darah Kezia kembali berdesir mendapat tatapan laman seperti itu.. “Gag mau!” tolak Kezia seraya menyilangkan tangannya di dada dengan wajah yang berpaling.


“Key, aku gag lagi becanda…” Arland menghadapkan tubuh Kezia ke hadapannya. Ia menatap Kezia penuh harap. Melihat sepasang mata yang menatapnya lekat, akhirnya Kezia menyerah.


“Okey, momy itu, ya momy-nya sean. Dady itu, ya dady-nya sean, udah?” kali ini Kezia yang bertanya.


“Terus, kamu? Angga?”


“Aku?” Kezia menunjuk hidungnya sendiri. Arland mengangguk. “Ya ku, mima-nya sean, kak angga dada-nya sean. Udah, gitu.”


“Jadi sean itu anak?” Arland menggantung pertanyaannya.


“Anak momy sama dady-nya lahh…” sahut Kezia.


Sampai di sini rasanya misteri sudah mulai terpecahkan. Ketenangan yang Arland rasakan sudah melebihi ketenangan mendapatkan tender triliunan. Dalam beberapa saat tiba-tiba Arland memeluk Kezia dengan erat.


“Kenapa kamu gag jelasin dari awal?” lirih Arland sambil bernafas lega. Kali ini debaran di dadanya bukan karena ia mendekati wanita beristri tapi karena merasa ia telah menemukan kembali gadisnya. Debaran yang tidak pernah hilang bahkan setelah lamanya waktu yang memisahkan mereka.


Kezia segera melepaskan pelukan Arland, ia tidak ingin terlarut. “Ooo pikiran kamu itu kayak ibu-ibu kompleks yaaa…” terka kezia.


“Maksud kamu?” Arland kembali kebingungan.


“Kamu pasti ngira , sean itu anak aku di luar nikah, terus aku nikah sama kak angga, terus kak angga meninggal dan aku jadi janda. Iya kan?” terka Kezia. Arland hanya terkekeh karena terkaan Kezia tepat.


“Kamu terlalu jahat kalo mikir kayak gitu." kalimat Kezia membuat Arland menghentikan tawanya dan kini menatap Kezia laman. "Kak angga itu laki-laki yang baik. Dia pergi disaat kami akan ijab qobul.” kenang Kezia yang merasa  bayangan Angga kembali hadir di benak Kezia. Ia berjalan ke arah jendela kamar Arland dan memejamkan matanya. Rasanya ia tidak rela kalau orang-orang memikirkan hal buruk tentang Angga.


Arland menghampiri Kezia dan berdiri tepat di belakangnya. Pandangannya terarah pada taman tempat terakhir mereka bertemu.


“Aku merasa kamu begitu menyayanginya.” kalimat Arland terdengar dalam dan lirih. Seolah ada kekecewaan yang menyertainya.


Kezia membuka matanya, memandangi taman yang sepertinya sudah jauh berubah. Terdengar tarikan nafas dalam sesaat sebelum ia menimpali pernyataan Arland. "Sangat, aku sangat menyayanginya. Dan aku menyesal karena tidak bisa membalas cintanya." Ya, Kezia sangat menyesal karena hingga di akhir usia Angga, ia tidak pernah mengatakan kalau ia sangat mencintainya karena perasaan itu memang tidak pernah ada.


Entah Arland harus bahagia atau menangis mendengar pengakuan Kezia namun rasanya ia yakin kalau perasaan Kezia masih untuknya.

__ADS_1


"Apa karena aku masih ada di hati kamu key?" Arland memberanikan diri untuk bertanya.


Kezia hanya terpaku di tempatnya. Ingin rasanya hatinya berteriak mengatakan Ya! Tidak ada yang bisa menggantikan Arland di hatinya. Tapi rasanya, sebaiknya ia simpan sendiri perasaannya. Ia tidak ingin siapapun terluka karena sisa perasaan yang tidak seharusnya ia simpan.


Kezia berbalik menatap Arland yang terpaku di belakangnya. Benar, kali ini ia memberanikan diri menatap Arland. Ia coba tahan gejolak perasaannya untuk beberapa saat. Ia ingin melepaskan sesuatu yang tidak seharusnya ia ikat.


"Land, hubungan kita udah berakhir sejak 11 tahun lalu. Gag ada gunanya kita masih menyimpan perasaan satu sama lain. Aku bahagia dengan pilihan ku dan kamu pun harus bahagia dengan pilihanmu. Hem...." Kezia tersenyum di akhir kalimatnya. Senyum yang susah payah ia perlihatkan agar semuanya terlihat baik-baik saja.


"Key, gag pernah ada yang berakhir di antara kita." Arland meraih tangan Kezia dan menggenggamnya dengan erat. Matanya terlihat merah dan berair. "Baik 11 tahun lalu atau pun saat ini, perasaan aku masih tetap sama bahkan mungkin jauh bertambah. Kamu selalu jadi satu-satunya yang ada di sini. Dan aku yakin kamu pun merasakan yang sama kan key?" Arland menempatkan tangan Kezia di dada kirinya. Ia bisa merasakan debaran jantung Arland yang berubah cepat seperti saat dulu ketika mereka bersama.


Kezia menatap Arland laman. Rasanya darahnya mendidih dan bergejolak seperti deburan ombak. Benar, perasaannyapun memang tidak pernah berubah untuk Arland, namun kondisilah yang berbeda saat ini. Ada Difa yang sudah Arland ikat dengan sebuah komitmen. Dari cara Difa menatap dan memperlakukan Arland, Kezia sadar itu semua adalah ungkapan perasaannya yang mendalam. Ia tidak bisa mengakhiri perasaan Difa begitu saja.


"Jangan menyakiti wanita yang sudah kamu ajak berkomitmen land. Dia sudah memberikan seluruh hati dan hidupnya untuk kamu, jangan buat aku jadi wanita jahat karena merebut perasaan yang seharusnya kamu berikan untuk dia." kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Kezia. Ia mengusap dada bidang Arland seraya tersenyum kelu. Rasanya kali ini ia tidak sanggup menatap telaga bening itu.


Dahi Arland tampak berkerut rasanya ia masih belum bisa memahami kalimat Kezia sepenuhnya. Komitmen? Dengan siapa komitmen itu ia buat, rasanya ia tidak pernah mengeluarkan pernyataan untuk membuat komitmen dengan siapapun. Tapi hal tersebut tidak terlalu ia pikirkan, ia hanya fokus pada perasaan Kezia yang sepertinya masih sama.


“Key, kita mulai lagi semuanya dari awal. Kita kasih kesempatan untuk hubungan kita. Anggap saat ini adalah saat pertama kita bertemu, hem....” Arland meraih tangan Kezia kemudian mengecupnya dengan lembut. Di tatapnya wajah Kezia lekat-lekat dan perlahan tangan kanannya meraih tengkuk Kezia lalu ia menempelkan dahinya di dahi Kezia.


Kezia hanya terdiam. Ia bisa merasakan hembusan nafas Arland yang hangat menerpa wajahnya. Terasa begitu mendebarkan sekaligus menakutkan. Ia takut kembali terlarut dan tidak bisa mengendalikan perasaannya.


“Aku cinta kamu mhiu, akan selalu cinta…” tegas Arland


Perlahan, dikecupnya bibir tipis Kezia namun Kezia hanya terdiam seraya memejamkan matanya. Dikecupnya kali kedua dan Kezia membalasnya. Entah mengapa Kezia tak bisa menolaknya. Ada dorongan yang begitu kuat saat ia sadar hati Arland masih miliknya. Sekali saja ia egois dan sekali saja ia mengkhianati komitmen Arland. Setelah ini ia akan benar-benar melepaskan laki-laki di hadapannya.


Mereka berpagutan cukup lama, saling menyesap dan bertukar saliva. Berkali Kezia menarik nafasnya dan Arland memberikan keleluasaan di sela gairahnya yang tidak bisa ia hentikan. Semakin lama, Arland melum*at bibir Kezia semakin dalam hingga yang terdengar hanya bunyi decapan dan nafas keduanya yang memburu.


Kezia membenamkan wajahnya di dada Arland yang mewangi seperti biasanya. Wangi yang selalu ia ingat dan tersimpan bahkan di alam bawah sadarnya. Ia merindukan Arland, ya sangat merindukan Arland.


****


Selama perjalanan pulang mereka terlihat canggung. Sean terus berceloteh dan hanya Arland yang menanggapinya. Awalnya Sean meminta untuk menginap di apartemen Arland, namun Kezia melarangnya. Entah mengapa Sean begitu mudah menerima orang baru dan itu Arland. Mereka tertawa dengan kompak dan membahas obrolan yang sebenarnya tidak seberapa tapi sangat membuat keduanya bersemangat.


Mobil Arland berhenti di depan gerbang rumah Kezia saat suasana rumah sudah sangat sepi. Kezia turun sambil memegangi tangan Sean yang di susul Arland.


“Kamu mau kemana?” tanya Kezia saat melihat Arland mengikutinya.


“Nganterin kamu ke dalem lah…” jawab santai Arland.


“Gag usah, palingan mamah sama papah udah tidur. Kamu pulang ajaa..” Kezia membalik tubuh Arland dan mendorongnya menjauh.


“Heemm okey, tapi sampein salam aku sama om dan tante ya….” Kezia hanya mengangguk. "Besok aku anterin mobil kamu." lanjut Arland yang masih ingin berbincang dengan Kezia.


"Iya, iyaa... Udah sih sana." kali ini Kezia lebih ketus.


Arland mengulum bibirnya menahan senyum. Dari raut wajahnya yang memerah, ia yakin Kezia masih belum bisa melupakan kejadian tadi sore, seperti halnya dirinya yang masih merasakan manisnya melu**t bibir Kezia dengan penuh gairah.

__ADS_1


“Okey, selamat tidur jagoan!” seru Arland sambil mengusap pucuk kepala Sean.


“Hati-hati di jalan onkle..” balas Sean. Arland menimpalinya dengn acungan kedua jempolnya.


“Nite mhiu…” bisik Arland sambil mengecup kening Kezia.


Kezia tersentak, ia tidak menyangka Arland akan melakukannya. Hingga saat Arland melambaikan tangannya dan berlalu dengan mobilnya, Kezia masih belum sepenuhnya memulihkan kesadarannya.


"Ayo mimaaaa." Sean menarik tangan Kezia yang sedari tadi hanya mematung.


"Oh iya sayang..." Kezia mengikuti arah langkah Sean.


Bayangan mobil Arland sudah tidak terlihat, Kezia dan Sean segera masuk. Eliana dan Martin sepertinya benar-benar telah tertidur karena jam hampir menuju jam 10 malam. Kezia menemani Sean beberapa saat untuk berganti baju dan membacakan cerita, hingga akhirnya Sean terlelap.


****


Bimbang, satu-satunya perasaan yang di rasakan Kezia saat ini. Bukan tanpa alasan perasaan itu hadir. Ia masuk kembali ke kehidupan Arland dan mungkin perlahan perasaannya pada Arland kembali tumbuh. Di satu sisi ia merasakan kebahagiaan tapi di sisi lain ia merasa menjadi wanita paling jahat karena mengharapkan sesuatu yang tidak seharusnya ia harapkan.


Pelakor, PHO dan istilah ngetrend lainnya yang hubungannya dengan menjadi perusak bagi hubungan orang lain tiba-tiba muncul di pikiran Kezia saat mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama Arland. Ia memejamkan matanya seraya berusaha mengatur nafasnya saat perasaannya berubah semakin tak karuan.


"Kenapa aku harus sejahat ini?" lirih Kezia pada dirinya sendiri.


Ia memandangi wajahnya dari pantulan kaca, rasanya ada 2 tanduk yang muncul di kepalanya. Bayangan Arland dan Difa datang ssilih berganti membuat perasaannya semakin terpojok.


"Difa maaf, harusnya aku memang gag pernah muncul lagi di hidup arland." pekik Kezia dengan seribu sesal di dadanya. Ia tidak bisa membayangkan apa yang harus ia lakukan jika suatu saat Difa mengetahui apa yang ia lakukan bersama Arland. Marah? Sudah Pasti. Membencinya? Sangat mungkin.


Kezia mengacak rambutnya sendiri yang masih basah karena belum sempat ia keringkan. Ia merutuki perbuatannya yang nyata-nyata salah. Rasanya ia sudah tidak punya muka kalau suatu hari Difa datang menemuinya. Ia membenamkan wajahnya di atas bantal seraya mengepalkan tangannya dengan kesal. Sumpah, ia membenci dirinya yang jahat seperti ini.


Tak lama, terdengar deringan telpon dari benda persegi yang menyala di sampingnya. Sebuah nomor tanpa nama mengusik Kezia dari lamunannya. Kezia berusaha untuk duduk tegak sebelum menjawab panggilannya. Mungkin ini dari salah satu koleganya atau mungkin perawat di rumah sakit.


"Selamat malam, dengan saya dokter kezia." sapa Kezia yang berusaha tersenyum di akhir kalimatnya.


"Key...." suara berat dan dalam itu tentu saja Kezia mengenalnya.


"Mau apa lagi kamu?!" seru Kezia seraya mengacak rambutnya dengan kasar.


"Key, ada apa? Apa aku bikin salah?" tanya Arland yang terperanjat di tempatnya.


"Ya! Kamu salah!" sahut Kezia. "Bukan, aku yang salah!" Dalam waktu cepat ia merubah kalimatnya. "Aku salah karena aku pulang. Aku juga salah karena aku terbawa perasaan dan aku juga salah karena seharusnya kita tidak bertemu. Ya! aku yang salah." cerocos Kezia tak menentu. Ia terisak di akhir kalimatnya. Sumpah demi apapun ia membenci dirinya saat ini.


"Key, apa yang salah? Kamu gag salah dan gag seharusnya kamu nyalahin diri kamu sendiri." Arland berusaha menenangkan Kezia walau sebenarnya ia belum mengerti apa yang membuat Kezia begitu kesal.


"Apanya yang gag salah?! Aku salah karena aku meladeni calon suami orang! Aku juga salah karena aku masih merasa bahagia saat bertemu kamu. Aku salah land, sangat salah!" gertak Kezia yang benar-benar terisak.


Mendengar ucapan Kezia, rasanya Arland tidak bisa meneruskan pembicaraannya lewat telpon. "Kita selesaikan masalahnya sekarang, kamu tunggu aku." ujar Arland sesaat sebelum mengakhiri telponnya.

__ADS_1


Kezia tidak menjawab, handphonenya jatuh begitu saja. Rasanya memang tidak ada lagi yang perlu ia bicarakan dengan Arland.


*****


__ADS_2