My First Love Story

My First Love Story
Episode 121


__ADS_3

“Kak Angga!” teriak Kezia yang baru tersadar dari pingsannya. 1 jam berlalu begitu saja dan Kezia menghabiskannya dalam kondisi tak sadarkan diri.


“Sayang…” Eliana memeluk Kezia dengan isakan penuh.


“Kak angga mana mah?” tanya Kezia segera melepaskan pelukan Eliana.


Namun Eliana hanya menggelengkan kepalanya. Kezia tersadar saat ini ia berada di kamar Angga. Suasana kamar yang dirias sebagai kamar pengantin dengan bunga-bunga dan lampu remang-remang, membuat Kezia merasa sangat sesak.


Kezia segera bangkit dan berlari keluar kamar Angga. Dilhatnya orang-orang tengah berkumpul di ruang tamu dengan jenazah Angga di tengah-tengah mereka. Kezia yang masih mengenakan baju pengantinnya, segera berlari menghampiri, menuruni anak tangga sampai hampir terjatuh.


Indira segera menghampiri Kezia yang berlari tak tentu arah. Namun Kezia tak menanggapinya. Dia segera bersimpuh di hadapan jenazah Angga yang sudah diselimuti kait kafan.


“Tante, ini apa-apaan? Kenapa kak angga diginiin? Nanti dia sesak…” tanya Kezia seraya membuka kain penutup wajah Angga.


“Key, jangan, jangan kayak gini. Angga udah pergi, kamu harus kuat.” Indira menahan tangan Kezia. Kezia mengibaskannya.


“Kak, kak angga cuma tidur, dia kecapean. Sekarang waktunya makan siang dan minum obat. Aku belum masak, kak angga pasti laper, iya kan kak?” tutur Kezia seraya menatap wajah tampan Angga. Tentu saja Angga tidak bergeming. Wajah putihnya terlihat sangat tampan dengan segaris senyum yang selalu menghangatkan hati Kezia. “Liat, kak angga suka iseng. Dia jailin aku, pura-pura tidur gini. Ayo bangun kak, kita makan siang…” lirih Kezia yang berusaha tersenyum.


Hati kezia meringis mendapati Angga yang tidak berrespon apapun. “Kak angga gag denger aku kak, coba kakak bantuin aku bangunin dia." Kezia menatap Indira namun Indira hanya bisa terisak. "Om, tolong bantu kezia bangunin kak angga,” Kezia menarik-narik baju Mahesa dan hanya tangis yang menjadi jawabannya. “Tante anna, ayo bantu aku. Nanti kak angga telat minum obat kalo gag bangun sekarang…” rengek Kezia yang kemudian menarik-narik tangan Anna.


“Sayang….” Sahut Anna yang kembali terisak seraya mengusap pipi Kezia. Kegetiran yang dirasakan Kezia tentu ia pun merasakannya.


“Sean, sini nak, bantu mima bangunin dada. Momy, nena sama popo gag mau bantu mima…” lanjut kezia sambil menarik tangan kecil Sean. Namun tiba-tiba Indira menarik tangan Kezia dan


“PLAK!” sebuah tamparan mendarat di pipi Kezia.


Kezia menyentuh wajahnya yang terasa sakit. Indira menatap Kezia dengan tangis tertahan. Bibirnya bergetar namun tidak ada satu katapun yang bisa ia ucapkan. Semua mata tertuju pada Kezia dan Indira.


“Kamu sadar key, angga udah pergi! Dia gag mungkin kembali. Tolong jangan seperti ini. Lihat, dia sudah tertidur dengan tenang. Kamu harus menerimanya, mengikhlaskannya. Biarin di pergi dengan tenang.” Gertak Indira sambil menguncang-guncangkan tubuh Kezia.


Kezia terkulai begitu saja. Ternyata lebih menyakitkan kata-kata Indira di banding tamparan keras di pipi kirinya.

__ADS_1


“Baru tadi malam kak angga bilang dia mau segera punya anak sama aku. Kami akan memiliki 2 anak dan akan menjadi adik yang baik untuk sean. Kami akan tinggal di apartemen, dan sean ikut dengan kami. Kami akan berbulan madu tapi….”


“Cukup key, cukup….” isak Indira seraya memeluk Kezia dengan erat.


“Kak angga ninggalin aku kak… kak angga pergi ninggalin aku…” lirih Kezia seraya terisak dengan begitu pilu.


Ia membalas pelukan Indira dengan erat seraya meremas baju Indira. Eliana dan Anna pun berhamburan memeluk Kezia dan Indira. Mereka menangis berangkulan.


****


2 hari berlalu, Kezia masih mengurung dirinya di kamar Angga yang sebelumnya akan menjadi kamar pengantinnya. Ia terduduk di atas tempat tidur dengan kedua tangan merangkul lututnya, tidak pernah beranjak sedikitpun.


Berulang kali Indira , Anna dan Eliana memberinya makanan, namun tidak pernah ada satupun yang ia sentuh. Di pangkuannya ia memeluk jas pengantin Angga yang memiliki banyak noda darah. Ia mendekapnya kuat-kuat seolah tidak pernah merelakannya pergi.


Dalam pikiran Kezia, hanya bayangan Angga yang mengisi rongga kepalanya. Semua kenangan tentang Angga terus berputar berulang di kepalanya. Genggaman tangannya, pelukan hangatnya, kecupan lembutnya hingga bisikan suaranya membuat Kezia berhalusinasi membayangkan Angga masih berada di sisinya.


Hari itu, Fritz menemui Kezia di rumah keluarga Mahesa. Ia membawa sekotak barang dalam genggamnya. Indira membukakan pintu untuk Fritz. Suasana kamarnya begitu sepi. Kelopak mawar merah masih berserakan di atas kasur dan mulai layu. Lampu remang-remang yang menyala hangat membias di wajah cantik Kezia yang sendu.


Terlihat Kezia yang masih terpaku di sana. Bermain dengan pikirannya sendiri. Tak memperdulikan siapapun yang menghampirinya.


“Dia pasti sedang bersedih di sana, melihatmu seperti ini…” lirih Fritz. Namun Kezia tak menghiraukannya. Fritz menarik nafas dalam-dalam. “Dia sangat mencintaimu, teramat mencintaimu. Dia bilang, kalau suatu hari dia pergi, aku harus menjagamu dengan baik. Hemh… dia bodoh. Mana ada laki-laki yang bisa menjagamu sebaik dia. Bagaimana bisa dia meninggalkan wanita yang dicintainya dalam kondisi seperti ini. Kalau dia ada di hadapanku, aku akan memukul wajahnya dan mengatakan , liat apa yang dia perbuat pada wanita yang dia cintai. Aku akan tertawa dengan puas dan meninggalkannya dengan banyak luka di wajahnya. Sayangnya, dia pergi sebelum aku bisa melakukan apapun. Dia tak pernah memberikanku waktu untuk merebutmu dari dia. Bahkan saat dia pergi, pikiranmu hanya tentang dia. Tak ada  hal lain. bahkan tangisan sean pun tidak berarti apa-apa untukmu.” racau Fritz.


Kezia melirik Fritz yang ada di sampingnya.


“Apa sean baik-baik saja?” tanya Kezia dengan suara bergetar.


“Dia baik-baik saja. Aku sudah menginfusnya. Demamnya terlalu tinggi.” jawab Fritz.


“Kenapa dia bisa demam?” tanya kezia sambil menatap Fritz dengan tatapan cemas.


“Dia tidak pernah makan, sama sepertimu. Kalian orang-orang yang terbiasa menyiksa diri sendiri untuk menunjukkan kasih sayang. Kenapa?” tanpa mendengarkan ucapan Fritz lebih lanjut, Kezia segera bangkit dan berlari menuju kamar Sean yang ada di lantai 1.

__ADS_1


Indira dan Fritz mengikutinya dari belakang. Di ruang keluarga, ada Mahesa dan Anna yang diabaikan begitu saja oleh Kezia. Mereka terperangah melihat Kezia yang keluar kamar dengan berlari.


Kezia membuka pintu kamar Sean perlahan. Tampak lah Sean yang sedang terbaring dengan standar infus di sampingnya. Kezia duduk di samping Sean. Badannya masih teraba demam. Di tatapnya wajah Sean kecil yang begitu polos.


“Mima, tolong jangan menangis, jangan bersedih… Sean akan menjaga mima dengan baik, seperti janji sean sama dada…” gumam Sean yang mangigau.


Air mata yang telah kering kembali menetes di wajah kezia. Ia mendekap erat tubuh Sean.


“Setiap waktu makan, dia menunggumu di meja makan key. Tapi kamu gag keluar kamar juga. Dia berdiri di depan kamarmu dan tidak berani masuk karena ingat pesan angga agar tidak menganggumu saat kamu berada di kamar. Sampai akhirnya tadi siang dia pingsan.” Terang Indira yang terhenti begitu saja karena tangisnya yang pecah.


Fritz mengusap-usap bahu Indira.


Kezia terpekik. Tangisnya kembali hadir. Sepeninggal Angga, ia tidak lagi menangis, hanya mematung dan membisu. Rasanya air matanya sudah mengering. Tapi melihat Sean saat ini, hatinya benar-benar sedih dan sangat menyesal.


“Maafkan mima sean, tidak seharusnya mima seegois ini…” lirih Kezia.


Mendengar isakan Kezia, Sean membuka matanya. Ia menatap wajah wanita yang memeluknya.


“Mima, apa ini mima?” tangan Sean terangkat menyentuh pipi Kezia. Kezia mengangguk. Ia meraih tangan Sean dan mengecupnya “Mima, kepala sean sakit, maaf sean tidak bisa menjaga mima dengan baik…” imbuhnya.


Kezia tak bisa berkata apapun ia kembali memeluk Sean dengan erat.


“Maafkan mima sayang,, maafkan mima…” ujar Kezia dengan sesegukan. Sean tersenyum, dikecupnya pipi Kezia dengan hangat.


“Sean sayang mima, tolong mima jangan sakit. Nanti dada marah…” ungkap Sean.


“Iya sayang, mima nggak akan sakit. Sean juga harus cepet sembuh , hem?”


Sean menganggukinya. Indira benar-benar lega, akhirnya ia bisa kembali mendengar suara Kezia.


Kezia membuatkan bubur untuk sean. Bubur favoritnya saat makan bersama angga. Ia menyiapkan semuanya sendiri. Anna dan Eliana ingin melarang tapi Indira memintanya untuk membiarkannya.

__ADS_1


Dengan mengurus Sean, Kezia bisa mengalihkan perhatian dan kesedihannya setelah di tinggal Angga. Begitu pikir Indira.


*****


__ADS_2