My First Love Story

My First Love Story
Episode 83


__ADS_3

Arland dan kezia berjalan beriringan. Di tangannya ada es krim yang sedang dinikmatinya. Tangan keduanya saling mengenggam dengan erat, berayun seirama langkah keduanya. Sesekali mereka tertawa bersama saat sebuah lelucon kecil terlontar dari mulut keduanya. Kezia menyuapi Arland dengan eskrim yang ada di tangannya, sangat manis seperti perasaan keduanya saat ini.


Tanpa terasa hari mulai menemui ujungnya. Senja menghibar di langit berwarna jingga. Waktu begitu cepat berlalu, ya sangat cepat benar-benar tidak disadari oleh Arland dan Kezia.


Perut keduanya sudah keroncongan. Mereka memilih makan bakso di sebuah warung kecil. Senyuman penuh kebahagiaan tak pernah menghilang sedikitpun dari bibir keduanya.


Sebelum pulang, Kezia mampir ke apartemen Arland untuk mengambil ranselnya. Mereka sampai di sana menjelang malam.


“Land aku numpang ke toilet yaa..” ujar Kezia yang celingukan mencari kamar mandi.


“Pake kamar mandi di dalem aja.” Sahut  Arland seraya menunjuk ke arah kamarnya.


Kezia hanya terangguk dan segera menuju kamar Arland.


Hanya beberapa menit Kezia berada di dalam kamar mandi. Saat keluar dari sana, ia melihat suasana kamar Arland yang sangat rapi. Di dekat tempat tidurnya  ada foto Arland kecil bersama kedua orangtuanya yang tersenyum memperlihatkan  gigi ompongnya. Kezia mengambilnya lalu memandanginya. Arland terlihat sangat menggemaskan, membuat Kezia menyunggingkan senyum tipisnya.


“Liat apa?” tanya Arland dari arah pintu.


“Hah, nggak kok.” Sahut Kezia yang segera menyembunyikan foto Arland di balik badannya.


Arland berjalan mendekati kezia, dengan segera kezia mundur agar menjauh dari Arland. Ia masih menyembunyikan foto Arland di tangannya.


“Key, kamu ngumpetin apa sih?” Arland semakin penasaran dengan yang disembunyikan Kezia.


“Bukan apa-apa, sumpah deh!” Kezia mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya menghadap Arland.


Namun Arland tak lantas percaya. Ia terus mendekatiKkezia dan kezia terus mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Arland mengunci pergerakan Kezia dengan kedua tangan kekarnya di samping wajah Kezia.


“Mau ngasih liat sekarang apa aku paksa?” bisik Arland dengan jarak yang sangat dekat.


Jantung kezia berdebar sangat kencang, pun Arland merasakan hal yang sama. Mata keduanya saling berpandangan, semakin lama semakin dekat, mengikis jarak keduanya hingga tipis. Kezia memejamkan matanya. Tangan kanannya mencengkram pinggiran roknya dengan kuat hingga telapak tangannya basah karena gugup.


Perlahan Arland mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir Kezia. Keduanya terhanyut dalam rasa yang tak bisa di jelaskan. Kezia benar-benar gugup, ia bisa merasakan lonjakan kuat dari rongga dadanya. Sementara Arland, ia tak merasakan hembusan nafas Kezia. Rupanya sejak tadi kezia menahan nafasnya. Sebuah gigitan lembut menjadi akhir dari kecupan mereka.


“Uhuk! Uhuk!” Kezia terbatuk saat ia berhasil menghembuskan nafasnya yang ia tahan sedari tadi.


Arland menepuk-nepuk punggung kezia dengan lembut. Ia tersenyum geli melihat tingkah kezia. “Harusnya kamu jangan nahan nafas key.” Bisik Arland yang merasa lucu dengan tingkah Kezia.


“Gimana bisa gag nahan nafas?” Sahut kezia yang terengah. Ia masih belum bisa mengatur nafasnya.


Arland hanya tersenyum gemas. Betapa polos gadis yang ada di hadapannya. Kezia menyentuh bibirnya lalu memalingkan wajahnya dari Arland. Di taruhnya foto Arland di meja sebelah tempat tidur Arland lalu bergegas meninggalkan Arland yang masih memperhatikannya.


“Anterin aku pulang…” pinta Kezia seraya mengambil tas ransel yang ada di sofa.


Arland segera keluar kamar dan menghampiri Kezia.


“Kamu marah?”


“Nggak.” Sahut Kezia sedikit ketus. Ia sedang berusaha menyembunyikan rasa gugupnya yang tak kunjung hilang.


Tiba-tiba Arland memeluk kezia dari belakang, mendekapnya dengan erat.


“I love you key…” bisiknya.


Kezia merasa tubuhnya akan tumbang seketika. Satu kalimat dari Arland berhasil membalas setiap baitan puisi yang kerap muncul di kepalanya saat mengingat Arland. Kezia tersipu dalam diam.

__ADS_1


Saat itu juga, Kezia tak dapat menahan laju air matanya. Kenyataan ia harus meninggalkan Arland terpampang jelas di hadapannya. Kezia membalik tubuhnya, lalu memeluk Arland dengan erat.


“Love you …” bisik kezia.


Keduanya terdiam dalam keheningan. Arland tersenyum merasakan perasaan tulus yang Kezia berikan padanya. Sementara Kezia, memekik dalam hatinya, nyatanya mungkin ini adalah kali terakhir ia memeluk Arland.


“Tuhan, biarkan waktu berhenti, sebentaaarrr saja…. Aku ingin memeluknya, berada di sampingnya, sedikit lebih lama.” Batin Kezia.


*****


“Key, ayo kita ke aula… semua siswa kelas 3 di suruh kumpul di sana…” Ajak Difa sambil menarik tangan Kezia.


“Okey, bentar fa. Aku mau nitipin buku-buku ini dulu di mang ujang supaya gag balik lagi ke sini…” tutur Kezia sambil membawa beberapa buku yang berada di kolong mejanya.


“Aku bantu?” tawar Difa.


“Thanks fa…” Kezia memberikan 2 buku paket pada Difa untuk membawanya.


Mereka berjalan beriringin menuju tempat mang ujang dan menitipkan buku pelajaran di sana. Setelah itu segera menuju aula karena guru sudah memberikan pengumuman untuk semua siswa kelas 3 berkumpul di aula. Sejumlah hampir 400 siswa berkumpul di sana. Ruangan aula yang sangat besar, bisa menampung mereka dengan baik. Para guru berdiri di depan.


“Silakan untuk duduk di kursi sesuai nomor induk kalian…” pinta panitia.


Para siswa segera mencari kursi masing-masing. Di atas kursi tersebut sudah ada sebuah amplop putih. Panitia meminta siswa untuk memegangnya. Di layar infokus muncul hitungan mundur.


“Baik, pada hitungan satu, kalian buka amplopnya bersama-sama. 3… 2…. 1…..!!!!”


Para siswa segera membuka amplop mereka. Dan suara riuh bergema di ruangan Aula.


“Keyyy, aku lulus!!” seru Difa.


“Aku juga fa, lulus…” sahut Kezia seraya memeluk Difa. Suara para siswa benar-benar bergemuruh di seisi ruangan aula. Mereka saling berangkulan satu sama lain dengan hingar kebahagiaan yang jelas terpancar dari wajahnya. Satu tahap pembelajaran dan pendewasaan telah mereka lalui, suasana haru dan bahagia mengisi ruangan tersebut.


“Puji dan syukur patut kita panjatkan, karena semua siswa kelas 3 dinyatakan lulus 100% dan dengan nilai memuaskan.” Seru pak kepala sekolah yang disambut tepukan tangan dan sorakan dari siswa.


“Namun, sejenak mari kita flash back sebentar,” suasana kembali hening. Kepala sekolahpun melanjutkan kalimatnya. “Ingatkah kalian, saat pertama kalian menginjakan kaki di sekolah ini? Coba pejamkan mata sejenak, Rasakan udara dan kegugupan yang kalian rasakan dalam hati kalian. Saat kalian mengikuti MOS lalu mendapat hukuman. Saat kalian belajar di kelas, saat kalian mendapatkan nilai baik bahkan saat kalian mendapatkan nilai jelek. Ingat juga saat kalian mengukir prestasi di sekolah ini, saat kalian bertemu dengan teman baru, saat kalian bertengkar dengan teman dan kembali berbaikan, serta saat kalian merasakan jatuh cinta di usia puber kalian. Coba kalian ingat-ingat kembali, kenangan yang tidak mungkin bisa terulang. Kenangan yang hanya terjadi sekali dalam hidup kalian. Kelak, saat kalian sudah menjadi orang dewasa dan sukses, tengoklah sekolah ini, tengoklah kami para guru yang sering memberi kalian tugas, yang sering memarahi kalian, namun kalian harus ingat, itu tanda cinta kami pada kalian. Selamat menjemput masa depan anak-anakku. Jadilah generasi penerus yang bisa membanggakan orang tua dan sekolah ini. Dari kami, para guru yang menyayangi kalian.” Tutup pak kepala sekolah sambil menyeka air mata di pipinya.


Para siswa masih terdiam. Banyak yang terisak mendengar kata-kata terakhir kepala sekolah. Mereka saling berangkulan, tak terkecuali para guru. 3 tahun bersama , bukanlah waktu yang singkat. Memang banyak sekali kenangan yang mereka ukir yang kelak akan mereka simpan sebagai salah satu kenangan terindah perjalanan mereka menuju gerbang kedewasaan


****


Setelah acara pelulusan, Kezia dan sahabat-sahabatnya pergi ke café favoritnya. Di sana sudah cukup ramai, namun selalu ada meja yang disediakan untuk mereka.


“Girls, kita ke butik tante gue yuk… Kita cari kebaya buat besok..”  ajak Kania dengan semangat.


Saat itu, para gadis sudah lebih dulu sampai di café di banding Ricko dan Arland.


“Ayookk, gue juga belum sempet milih kebaya… Yuk kita ke sana sehabis makan!” seru Sherly.


Dena mengangguk mengiyakan. Namun tidak dengan Kezia, ia terlihat melamun sambil memutar-mutar sedotan di gelas minumannya. Kania menatap Sherly dan Dena penuh tanya, tapi keduanya hanya bergidik.


“Key, lo kenapa sih? Dari tadi diem terus.” Dena menyenggol tangan Kezia dengan sengaja.


“Hem… gag pa-pa kok..” sahutnya yang berusaha tersenyum.


“Ayolah… ini waktunya kita senang-sennag, kenapa lo malah murung?” Kania menggenggam tangan Kezia dan menatapnya sendu. Kezia menghel nafas dalam.

__ADS_1


“Gue ada yang mau di omongin sama kalian…”


“Kenapa, kayaknya serius banget…” Sherly mencondongkan tubuhnya ke arah Kezia.


Lagi-lagi Kezia menarik nafas dalam-dalam, membuat ketiga sahabatnya merasa sangat gusar.


“Lusa, gue berangkat ke jerman…” tutur kezia dengan lemah.


“Hah? Jerman?” Tanya ketiga sahabatnya bersamaan.


“Lo gag becanda kan key?” Kania masih merasa tidak percaya.


Kezia menggelengkan kepalanya. “Gue akan kuliah di sana, dengan menggunakan beasiswa yang gue dapet…” sahut Kezia.


“Kenapa harus keluar negri? Di sini juga banyak universitas yang bagus-bagus kok…” cetus Sherly


“Itu pilihan gue dan orangtua gue…” tutup kezia.


“Terus, Arland udah tau?” Dena ikut bertanya.


Kezia hanya menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya terlihat semakin sedih, namun ia coba sembunyikan di balik sebuah senyuman tipis.


“Key, bagaimanapun lo harus ngasih tau dia. Beberapa hari ini, lo sama arland keliatan happy banget, lo harus baik-baik ngomong sama dia, jangan sampe ada salah paham…” Kania memperingatkan.


Beberapa hari ini, Kezia dan Arland memang terlihat sangat dekat. Kezia sudah tidak ragu-ragu lagi menunjukkan perhatiannya pada Arland. Begitupun sebaliknya. Mereka tertawa bersama, saling bercerita dan saling menyemangati satu sama lain. Tanpa sepengetahuan ketiga sahabatnya, hal ini memang sengaja Kezia lakukan, menghabiskan waktu bersama Arland adalah cara dia melupakan kesedihannya harus berpisah dari Arland. Setelah menyetujui permintaan papahnya, setiap malam Kezia hanya bisa menangis membayangkan harus berpisah dengan ketiga sahabatnya terutama Arland.


“Iya, gue pasti bakal ngasih tau dia… Dan yang pasti, gue bakal kangen banget sama kalian…” tutur Kezia sambil memeluk ketiga sahabatnya.


“Kita juga key, pasti bakal kangen sama lo…” sahut Kania mengeratkan pelukannya.


“Apa lo bakal lama di sana??” Dena menatap kezia


“Gue masih belum tau.. Tapi suatu hari, gue pasti pulang. Orang tua gue kan di sini…” Kezia tidak bisa menjanjikan kapan ia akan pulang. Hanya atas izin papahnya lah baru ia bisa pulang.


“Hey ladies… kalian lagi apa? Kok peluk-pelukan gitu?” Tanya Ricko yang baru datang bersama Arland.


Dengan segera mereka menyeka air matanya.


“Gag pa-pa yang, ini karena kita seneng aja akhirnya bisa lulus sama-sama…” sahut Sherly sambil meraih tangan Ricko.


Arland berjalan menghampiri Kezia dengan senyuman tampan di wajahnya. Baru sebentar saja mereka terpisah, tapi Arland sudah sangat merindukan gadisnya. Arland mengusap kepala Kezia kemudian duduk di samping Kezia. Di tatapnya wajah Kezia dengan hangat, matanya masih berkaca-kaca. Arland mengusap pipi Kezia perlahan dengan jarinya.


“Kamu nangis?” tanya Arland.


“Hem…” Kezia menoleh pada Arland, lalu segera memalingkan wajahnya dan mengusap sisa air mata yang ada di pipinya.


“Pamer lagiii…. Lo gag tau jiwa jomblo gue berontak?” sahut Dena seraya berdiri. Kezia tersenyum geli melihat tingkah Dena.


“Lo jangan pergi, di sini aja. Gue pergi sebentar sama arland.” Kezia menahan tangan Dena. Dena menatap Kezia, lalu mengangguk paham.


“Mau kemana?” tanya Arland saat tangannya di tarik Kezia.


“Ikut aja sih…” sahut Kezia.


“Wiiihhh, menang banyak lo land!” sahut Ricko saat melihat wajah Arland yang begitu senang.

__ADS_1


Arland tersenyum penuh kemenangan, dengan ibu jari teracung pada Ricko. Sementara Ketiga sahabat Kezia hanya saling pandang, menebak jika mungkin Kezia akan mengatakan rencananya pada Arland.


****


__ADS_2