
Di kamar berukuran 3x4 meter ini kini Arland berada. Ia terduduk di atas tempat tidur seraya memandangi kalung yang ada di genggamannya. Ia tertunduk lesu dengan beragam pikiran berkecambuk di benaknya. Benarkah Linda telah pergi meninggalkannya? Rasanya Arland masih belum bisa mempercayai semuanya.
Bayangan wajah Linda, senyumnya, suaranya, pelukannya begitu jelas tergambar di pelupuk mata Arland. Di ranjang ini lah tempat terakhir Linda terbaring menahan kesakitan sebelum akhirnya kembali kepada sang pencipta dan menyatu kembali dengan tanah. Tidak ada dirinya mendampingi Linda melewati masa tersulitnya. Ia sendirian dalam nafasnya yang tersengau dan ketakutan ketika harus berpisah dengan orang-orang yang di cintainya.
Arland hanya bisa terisak. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan. Linda pergi di saat ia belum bisa membahagiakannya. Linda pergi di saat Arland terpuruk dengan egonya di usia muda. Linda pergi di saat Arland membutuhkan bahu untuknya bersandar. Menyesal? Sangat! Tapi rasanya untuk meratappun ia tidak berhak.
Di tangan kirinya ada selembar surat yang di titipkan Linda pada adiknya, Mila. Surat terakhir yang di tulis Linda untuk Arland. Sebagian tulisan telah basah oleh mata Arland namun setiap katanya terrekam jelas di benak Arland tanpa bisa ia lupakan satu kata pun. Ia membayangkan Linda tengah duduk di hadapannya, memandangi Arland seraya mengatakan pesan-pesan terakhirnya.
"Untuk Arland kesayangan mamih....
Apa kabar nak? Tidakkah kamu merindukan mamih?
Mamih tahu, saat ini kita tengah sama-sama menghadapi kesulitan.
Maafkan mamih karena belum bisa menjadi ibu yang baik buat kamu nak.
Kamu menghadapi semuanya sendiri dan mamih hanya bisa mengirim doá untuk mengiringi langkahmu.
Mamih tau, arland anak yang kuat. Ingat juga pesan papih kalau kami memberimu nama arland, agar kamu selalu memegang janji, janji untuk selalu baik-baik saja dan melewati semuanya dengan kuat.
Mamih masih ingat, saat kamu berjanji tidak membutuhkan apapun dan akan melakukan semuanya sendiri.
Sebagai seorang ibu, hati mamih hancur karena mamih harus mempertaruhkan masa depan kamu demi nilai rupiah.
__ADS_1
Tapi di waktu yang bersamaan, mamih merasa bangga. Mamih melihat bayi mamih sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
Terima kasih untuk tidak pernah menyesali atas apa yang terjadi di keluarga kita. Terima kasih untuk selalu bertahan walau mamih tau, semuanya terasa sulit.
Arland anak yang kuat dan mamih percaya itu.
Nak, mamih titipkan juga kalung kesayangan mamih di tangan kamu. Kelak, pakaikan kalung itu di leher Kezia. Jika suatu hari kamu merasa lelah mengejar dan bertahan atau kamu merasa perasaan kamu mulai hilang, genggamlah kalung ini dan ingatlah saat kamu memilih untuk kehilangan semuanya demi gadis cantik itu terlepas kalian tetap bersama atau menjalani hidup masing-masing.
Mamih sayang kamu nak. Jika ada kehidupan lain setelah ini, tetaplah jadi anak mamih. Mamih akan lebih berusaha untuk menjadi ibu yang baik buat kamu.
With love, mamih."
Arland kembali terisak dengan bahu yang bergerak naik turun. Rasanya dunianya benar-benar runtuh dan ia begitu putus asa dengan semua yang dihadapinya. Linda telah pergi dan Kezia, entahlah apa dia bisa menggapainya atau tidak. Semuanya terasa begitu berat. Bisakah ia bertahan?
*****
Ia teringat pada sosok wanita yang meninggalkannya saat ia baru berusia 9 tahun. Ia pergi karena tidak bisa bertahan dalam kondisi keluarganya yang serba kekurangan. Masih teringat jelas saat Ricko di tinggalkan ibunya di jalanan dan memilih pergi dengan seorang laki-laki dalam mobil mewah. Arland tanpa segan mengulurkan tangannya padahal dia adalah orang yang paling menjadi musuhnya di sekolah. Arland masih punya belas kasihan dan memberinya pertolongan. Kedua orang tua Arland menyayangi Ricko layaknya putra sendiri. Sejak saat itu, keluarga mereka mulai dekat dan saling membantu.
"Lo gag usah sedih dia pergi ninggalin lo, paling nggak suatu hari lo masih bisa nyari dia dan ngajak dia pulang. Akan berbeda masalahnya jika dia pergi karena tuhan sudah memintanya pulang. Mau lo benci setengah mati pun, gag ada gunanya. Mending sekarang lo belajar bener-bener dan suatu hari bawa nyokap lo pulang."
Kalimat Arland saat itu bergema jelas di rongga kepala Ricko. Nyatanya, saat ini Arland yang mengalami semuanya. Ia bahkan tidak bisa meminta waktu sedikit aja untuk mengatakan kalau ia sangat menyayangi Linda.
Ricko menghela nafasnya kasar. Sejauh ini Arland sudah berjuang dengan sangat kuat.
__ADS_1
"Land, lo nginep di rumah gue ya..." tawar Ricko yang merasa khawatir dengan kondisi Arland.
Arland menggelengkan kepalanya dan perlahan matanya mulai terbuka. "Gue butuh kezia di samping gue." lirihnya.
Rasanya nafas Ricko tercekat, ia bahkan tidak berani bertanya apa Arland berhasil menemui Kezia atau tidak di Jerman sana. Tapi mendengar Arland mengatakan butuh Kezia di sampingnya, ia pasti hanya ingin sendirian di kamarnya memandangi langit-langit kamarnya yang dihiasi foto Kezia. Segila itu perasaan Arland untuk Kezia.
Ricko memutar arah laju mobilnya menuju apartemen Arland. Ia melirik sahabatnya yang entah memikirkan apa.
"Gue ngeliat dia di taman lagi belajar." Kalimat pertama terucap dari mulut Arland. Ia mengeratkan genggamannya pada kalung yang ada di tangannya, membuat Ricko membagi fokusnya pada jalanan dan sahabatnya. "Gue yang urakan dan ******** rasanya semakin jauh jarak gue kalau harus mendekati kezia. Rasanya gue gag cukup layak buat dia."
"Lo ngomong apa sih, kata siapa lo gag layak?" timpal Ricko mencoba menyemangati sahabatnya. Arland mengalihkan pandangannya pada Ricko dengan tatapan dingin.
"Lo nyanjung gue juga ada batasannya ko." cetus Arland seraya memejamkan matanya.
"Gue bukan lagi nyanjung lo land." kilah Ricko. "Lo belum berusaha apapun untuk menjadi layak. Layak ato nggaknya lo buat kezia, tergantung usaha lo yang belum lo mulai ini. Berusaha aja dulu, toh kalo kezia bukan perempuan beruntung yang dapetin usaha lo, pasti ada perempuan lain yang lebih layak buat lo." kalimat Ricko kali ini terdengar nyeleneh tapi sepertinya benar.
Arland tersenyum tipis. "Perempuan lain?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bisa membayangkan perempuan seperti apa yang kelak bisa menggantikan Kezia di hatinya. Kezia terlalu banyak meninggalkan kesan. Rasa sakit karena di tinggalkan Keziapun terasa begitu manis bagi Arland saat ia tahu alasan Kezia pergi dari sisinya.
"Kezia bukan pergi karena keegoisannya dia pergi buat ngelindungin banyak hal. Paling tidak, dia ingin melindungi kami dan kamu nak arland." ucapan Martin kala itu begitu membekas di hati Arland.
Ya, luka yang di tinggalkan Kezia terlalu indah untuk ia hapus.
*****
__ADS_1