My First Love Story

My First Love Story
Episode 95


__ADS_3

Saat Kezia dan Indira tiba di ruang tunggu operasi, saat itu bertepatan dengan keluarnya Angga dari ruang operasi. Angga masih terbaring lemah dan tak sadarkan diri di atas tempat tidur dengan cairan infus dan darah yang menetes mengisi pembuluh darahnya. Ada senyum lega di wajah Mahesa sekeluarga saat dokter menyatakan bahwa tindakan medisnya berhasil.


Mereka bersama-sama berjalan menuju ruang perawatan Angga dengan dokter Albert yang menyusul kemudian. Ia memprediksi kemungkinan Angga baru akan siuman sekitar 4 jam lagi karena efek obat bius yang belum hilang.


Mahesa dan Anna meminta Kezia dan Indira untuk pulang dulu dan beristirahat. Sementara mereka masih ingin menemani Angga yang belum sadarkan diri. Kezia dan Indira mengikuti saja permintaan keduanya..Mereka pulang dengan di antar Hendra.


Selama perjalanan mereka berbincang dan saling bersenda gurau. Indira bahkan menceritakan masa kecil Angga yang menurutnya sangat lucu.


“Dia itu, penganggu banget. Tiap hari gangguin aku belajar, berantakin kamar aku dan kalo aku marahin pasti ngadu ke mamah sama papah. Makanya aku sebel banget.” Kenang Indira.


“Wah ngeselin banget ya kak…” timpal Kezia.


“Banget!!” sahut Indira. “Kamu tau gag key, aku sama mamah sempet mata-matain dia selama seminggu.” Lanjut Indira.


“Emang kenapa kak?” Kezia mulai penasaran.


“Jadi waktu itu, ada anak perempuan yang datang ke rumah nangis-nangis gara-gara cintanya di tolak sama angga. Angga itu emang jual mahal. setiap perempuan yang deketin dia, pasti di bikin nangis dan nyerah. Akhirnya selama seminggu aku sama mamah nyari tau kegiatan dia sehari-hari. Nyari tau juga temen dia siapa aja. Semua temennya cowok. Aku kan jadi curiga apa jangan-jangan dia gay… Makanya mamah sempet jodohin dia. Tapi dia keburu di vonis sakit dan perempuannya gag mau ngelanjutin perjodohan. Tapi dari situ aku jadi tau, kalo dia juga tertarik sama perempuan.” Terang Indira seraya menghela nafas dalam.


“Loh, aku malah gag tau kalo kak angga punya pacar. Mana aku sering jalan lagi sama kak angga, jangan-jangan nanti dia marah…” cetus Kezia yang merasa tak nyaman.


“Enggak lah, ceweknya gag akan marah…” tenang Indira


“Loh kok kakak tau? “


“Iya lah, kan yang suka angganya. Ceweknya gag tau kalo angga suka…”


“Berarti kak indira juga kenal sama ceweknya?”


“Iya lah, kenal banget malah… Kamu mau tau orangnya?” usil Indira sambil menatap Hendra yang memperhatikan mereka dari spion tengah.


“Emang siapa kak?” Kezia di buat semakin penasaran


“Nanti deh, biar angga cerita sendiri. Itu kan privasi dia….” Sahut Indira yang di sambut tarikan nafas lega oleh Hendra.


“Hemm iya sih, itu privasinya kak angga. Tapi kayaknya aku harus mulai jaga jarak sama kak Angga.” Kezia mulai menyimpulkan.


“Loh ya jangann, nanti angga curiga. Kamu biasa-biasa aja, pura-pura gag tau. Tunggu dia cerita sendiri okey?” sambung Indira dengan senyum tertahan.


“Iya deh…” Kezia terlihat sedikit bingung.


“Tapi, apa kamu gag kesel kalo angga punya inceran cewek?” Indira mulai menyelidik.


“Enggak lah… Tapi aku agak kecewa, kak angga kok cemen gitu? Kenapa gag ngomong aja sama ceweknya? Secara kak angga orang yang baik, ganteng, pinter,, cuma cewek bodoh yang gag mau sama dia…” tutur Kezia.


“Hahhahaaha, iya cuma cewek bodoh yang gag mau sama dia.” Indira sudah tidak kuat menahan tawanya, sampai-sampai Hendra pun ikut tersipu.


“Ihh kak indira, ngagetin aja. Kenceng banget ketawanya…” Kezia reflex memukul lengan Indira karena kaget.


“Hahahaha iya sory sory, lagian kamu  lucuu…” Indira mulai kembali mengontrol dirinya. “Tapi key, kamu sendiri punya pacar gag?”


“Dulu punya kak…” raut wajah Kezia berubah 180 derajat.


“Loh kenapa putus? Gara-gara kamu deket sama angga bukan?” selidik Indira.


“Bukan lah, tapi emang dasarnya aku sama dia gag bisa sama-sama…” kenang Kezia.


“Tapi kamu masih sayang sama dia?”

__ADS_1


Kezia hanya mengangguk. Raut wajahnya mulai terlihat bersedih.


“Udahhh… anak kecil jangan mikirin pacaran dulu.. sekolah dulu yang bener yaa,,,” Indira mencoba menenangkan. Kezia kembali mengangguk.


“Kalo kakak, kapan nikah?”


“Hah ini, pertanyaan horror yang sering di tanyain sama ibu-ibu kompleks, hahhaha..” Indira tergelak mendengar pertanyaan Kezia. Pertanyaan yang kerap membuat bulu kuduknya meremang.


****


“Ting!”


Sebuah notifikasi pesan masuk terngiang jelas di telinga Kezia. Kezia yang baru membuka matanya segera meraih benda pipih yang ada di bawah bantalnya. Dia mengerjapkan matanya karena silau terkena pancaran cahaya layar ponselnya.


“Papah ketemu arland, dia baik-baik aja…” tulis Martin


Matanya Kezia terbelalak mendapat pesan dari Martin. Bayangan wajah Arland seketika kembali mengisi rongga kepalanya. Kezia menggenggam kalung yang diberikan oleh Arland. Tak bisa ia pungkiri, mendengar nama Arlaand selalu membuat hatinya merindu pada sosok yang jauh dari pandangaannya. Semakin ia mencoba melupakan, semakin Arland tak bisa hilang dari ingatannya. Kezia membuka galeri handphonenya, memandangi wajah Arland yang hanya bisa ia kenang. Kezia terisak seraya mengusap wajah Arland dengan lembut. Sekian jauh jarak yang membentang, nyatanya masih belum bisa menghapus sedikitpun kenangan tentang Arland.


“Aku kangen kamu phiu…” lirih Kezia. “Benar, rindu itu berat. Aku hampir gag bisa menanggungnya…” imbuh Kezia yang kembali termenung.


Kezia sangat membenci saat-saat ia terdiam sendiri. Karena di saat seperti ini lah imajinasinya akan menggambarkan Arland dengan sangat jelas. Diambilnya headset yang berada di laci meja kamarnya, lalu ia memutar lagu yang ada di playlist handphonenya. Ia kembali menutup matanya, mencoba mengosongkan isi pikirannya. Berharap semua hal yang tidak menyenangkan adalah mimpi buruk di siang hari.


****


Hari berganti begitu cepat. Tanpa terasa Kezia sebentar lagi akan memulai kuliahnya di Universitas Heidelberg. Hasil test masuknya mendapatkan nilai yang cukup bagus. Bahasa Jermannya pun sudah lebih lancar.


Pagi itu Kezia sudah bersiap dengan baju olahraganya. Ia mulai melakukan gerakan pemanasan di halaman rumah yang rindang. Udara yang sejuk membuatnya beberapa kali merentangkan tangan untuk mengambil nafas dalam-dalam dan merasakan tubuhnya yang semakin rileks. Matahari yang bersinar pun begitu bersahabat, meski terik tak lantas membuat Kezia kegerahan.


“Schnucki, jadi mau pakai sepeda?” tawar Angga yang baru keluar dari rumah dengan memakai pakaian olahraga lengkap. Di tangannya ada skiping yang masih terlilit rapi.


“Okeeyy, kita jogging dulu, jangan lupa air minumnya.” Tukas Angga sambil melempar sebuah botol pada Kezia dan Kezia menangkapnya dengan tepat.


Di depan pintu gerbang, mereka mulai berlari kecil. Angga memakai hoodie yang senada dengan yang di pakai Kezia. langkahnya seirama dan bersamaan. Mereka mengatur nafasnya dengan baik. Beberapa kali mereka melewati orang-orang yang juga sedang beristirahat setelah berolahraga.


“Kayaknya kita kesiangan deh…” tutur Kezia sambil melihat smart watch yang melingkar di tangan kirinya.


“Nggak, suasananya masih cukup adem kok..” sahut Angga Sambil terus berlari.


Tak lama mereka menemukan tempat peminjaman sepeda. Mereka berhenti sejenak lalu meminjam 2 sepeda untuk mereka kendarai.


“Kak, aku yang pendekan aja, kan masih belajar..”


“Nanti kamu di ketawain anak kecil. Udah tenang aja, kan aku yang jagain…”


“Kita pinjem 1 aja kalo gitu…”


“Heemm baik lah…” Angga menyanggupi.


Angga membawa sepeda ke tempat yang lebih luas. Dengan Kezia duduk di boncengan depan. Kedua tangan kekar Angga memegangi sisi kiri dan kanan stang sepedanya. Hidung Angga mencium aroma wangi dari rambut Kezia yang diikat ekor kuda. Angga mengendusnya beberapa kali dan sangat menikmati aromanya. Kezia merasakan nafas Angga yang meniupkan angin ke tengkuknya, membuatnya Kezia menaikan hoodie nya menutupi kepala. Angga hanya tersenyum melihat tingkah Kezia.


Setelah menemukan taman yang cukup luas, mereka berhenti dan turun. Orang-orang tampak berolahraga di sekitar taman yang cukup rindang dengan pepohonan tinggi yang memayungii mereka. Semuanya tertata dengan rapi dan resik.


“Kamu naiklah, aku pegangin.” tutur Angga sambil memposisikan sepeda tepat di samping Kezia. Kezia naik ke undakan yang lebih tinggi sedikit lalu menduduki saddle (jok)nya dengan mantap. “Gowes pelan dulu yaa dan coba seimbangkan badan kamu.” terang Angga. Kezia terangguk sebagai respon.


Kezia mulai membungkukan badannya dan dengan kuat memegangi stangnya. Kakinya menapak di kedua sisi pedal. Perlahan ia memutar pedalnya dengan kaki secara beriringan. Semakin lama semakin cepat. Angga mulai berlari mengimbangi Kezia.


“Astaga kak, ini gimana berentinya?” Kezia terlihat panik.

__ADS_1


“Rem nya key, di tangan kanan kamu…” teriak Angga yang masih berlari mengejar Kezia.


Dengan tiba-tiba Kezia menarik remnya, sepedanya mulai oleng, Angga mempercepat langkahnya dan berhasil memegangi bagian belakang sadlle. Tapi terlambat Kezia sudah terjatuh lebih dulu menimpa tubuh Angga.


Untuk beberapa saat mereka bersi tatap dengan jarak yang sangat dekat. Dada Angga berdegub sangat kencang saat sepasang manik hitam itu menatapnya lekat. Untungnya Kezia yang segera tersadar, ia segera bangkit dari atas tubuh Angga dan berdiri sambil saling menepukan kedua tangannya yang kotor. Sementara Angga malah berbaring seraya memandangi Kezia dengan segaris senyum di bibirnya.


“Kamu kayak anak SD schnucki!” ujar Angga yang tertawa dengan renyah.


“Ish ngeselin! Ayo bangun!” tutur Kezia sambil memukul pelan lengan Angga.


“Aduh sakit…” Angga mengaduh manja. Terlihat sikutnya terluka karena menghantam tembokan saat terjatuh.


“Ya ampun, tangan kakak beneran luka!” seru Kezia seraya meraih tangan Angga. Wajahnya terlihat panik. Angga memandanginya sambil tersenyum. Ia begitu menikmati setiap perhatian kecil Kezia yang membuatnya semakin terbawa perasaan.


“Pemandangan yang indah…” gumam Angga.


“Ish kakak, malah senyum-senyum. Ayo bangun, aku cuci dulu lukanya. “ Kezia menarik tangan Angga dan membantunya berdiri lalu mengajaknya berjalan mendekati kran air yang tidak jauh dari mereka.


“Duduk di sini, aku cuci dulu!”


Angga menurut saja. Kezia mulai mencuci luka Angga dengan perlahan dan sesekali meniupnya agar tidak terasa sakit. Angga masih memandangi wajah Kezia dengan senyum tersungging.


“Kenapa wajahku terasa panas? Ini jantungku juga kenapa cepet banget!” gumam Angga sambil menyentuh pipi dan dadanya bergantian.


“Kenapa, apa dada kakak juga sakit ketiban aku?” Tanya Kezia dengan polosnya.


“Yaa, sedikit…” tutur Angga yang salah tingkah.


“Coba aku liat!” tanpa di sangka Kezia mengangkat sweeter yang membalut tubuh atletis Angga dan mempertontonkan roti sobek yang terbentuk di perut Angga.


Beberapa orang yang melihat Kezia dan Angga tersenyum geli. Wajah Angga pun memerah seketika, tapi Kezia masih dengan santainya memeriksa dengan meraba-raba dada Angga, khawatir dada Angga benar-benar terbentur.


“Gag ada yang merah kok.” Tutur Kezia sambil menatap wajah Angga. Angga memalingkan wajahnya. Demi apapun ia sudah tidak sanggup menahan gejolak perasaannya.


“Key kamu bikin aku gag berkutik!” gumam Angga dalam hatinya. Kezia mengusap-usap dada Angga lalu komat-kamit dengan cepat.


“Hey, kamu ngapain…” tanya Angga yang sedikit menjauh dari Kezia.


“Aku mantrain biar gag sakit.” Sahut Kezia dengan polos. Angga tertawa geli.


“Sudahlah, udah gag sakit kok.” tuturnya seraya bangkit dan menurunkan kembali sweeternya.


“Hemm.. Ternyata mantraku manjur!” tukas Kezia dengan bangga.


“Masih mau belajar sepeda?” tawar Angga.


“Nanti jatuh lagi.”


“Ya  udah, kamu liat aku dulu, nanti baru cobain.” Angga menarik sepeda dan mendudukinya.


Angga mulai menggowes sepedanya perlahan mengelilingi Kezia. Kezia memperhatikannya dengan seksama.


“Aku mau coba!” serunya setelah Angga beberapa kali mengelilinginya.


Angga segera berhenti dan memberikan sepedanya pada Kezia. Perlahan Kezia mulai menggowes sepedanya dan menstabilkan tubuhnya, semakin jauh dan jauh lagi ia menggendarai sepedanya. Angga menungguinnya sambil duduk, karena perasaannya sangat tidak menentu. Saat sudah bisa berhenti, Kezia melambaikan tangannya ke arah Angga. Angga membalasnya sambil tersenyum.


****

__ADS_1


__ADS_2