
“Ini aku dimana?” lirih kezia bertanya pada dirinya sendiri.
Saat ini dia merasa sedang berada di sebuah ruangan kaca yang tidak memiliki pintu satupun. Semuanya terlihat gelap bahkan Kezia tidak bisa melihat telapak tangannya sendiri.
Di kejauhan, kezia melihat seberkas sinar yang seolah berjalan mendekat ke arahnya. Seseorang dengan wajah berbinar menghampirinya tampak menghampirinya.
“Hay de… kamu lagi ngapain di sini?” Tanya sesosok bayangan yang tidak lain adalah bayangan mendiang kakaknya.
“Kakak? Kakak ko bisa ada disini? “ Tanya Kezia yang berusaha menghampiri Dika, namun kakinya terasa berat. “Kak, tolong zia....” sambung Kezia seraya mengulirkan tangannya pada Dika.
Dika mendekat dan memegang tangan Kezia dengan erat. “Ayo kakak bantu bangun zia.. Kamu harus segera pergi dari sini, gag seharusnya kamu ada di sini” Dika membantu kezia berdiri dan memapahnya. “Lihat, semua orang sedang menunggumu untuk pulang, apa kamu gag merindukan mereka?” Tanya Dika sambil menunjuk ke arah Eliana dan kelima sahabatnya , termasuk Arland yang serasa sedang memandanginya dengan penuh kesedihan.
Kezia melihat Eliana menangis dalam pelukan Martin, sambil membekap mulutnya. Sementara Kania dan Dena berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. Arland tampak mematung dengan raut wajah sedih yang tak bisa diukur sedalam apa perasaan sedihnya. Sementara Ricko, sedang berusaha menenangkan Sherly yang terus menangis.
“Kak.. aku kenapa? Kenapa mereka menangisi aku?’ Tanya kezia yang kebingungan.
“Mereka menunggu kamu pulang zia, jadi pulanglah… jangan buat mereka terus bersedih…” terang Dika dnegan sneyuman hangatnya.
Kezia berusaha menyentuh Eliana yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, namun tangannya terasa berat, tak bisa terangkat sama sekali.
“Mah, tolong jangan menangis mah… jangan menangis…” teriak Kezia yang tak didengar oleh Eliana. “Sher, berhenti menangis sher, gue akan pulang tapi gue mohon lo berhenti menangis…” teriak Kezia yang lagi tak di dengar oleh Sherly. “Land,,, aku rindu kamu… aku pengen peluk kamu… kenapa kamu sesedih itu…” Kezia frustasi sendiri melihat orang-orang disekitarnya begitu bersedih. “Kak, aku harus gimana, aku mau pulang… aku mau meluk mamah dan sahabat-sahabatku…” pekik kezia yang jatuh terduduk dengan air mata berderai
“Kamu bisa zia, kamu bisa pulang. Kuatkan hati kamu, ingatlah semua wajah yang sedang menunggu kamu, ayo bangun lah…” teriak Dika dengan lantang.
*****
Dan tiba-tiba saja, bulir hangat menetas dari celah mata Kezia.
Sementara itu, Arland yang sejak tadi berdiri mematung, ia mulai memberanikan diri mendekati kezia. Ia menggenggam tangan Kezia yang dialiri cairan infus, dingin, sangat dingin. Ia seolah menyambut Kezia untuk pulang.
“Key… apa kamu akan terus seperti ini? Apa kamu tidak merindukanku?” lirih Arland sambil menggenggam tangan Kezia. Arland mengecupnya perlahan.
“Arland, aku juga rindu kamu, kenapa kalian tidak ada yang mendengar teriakanku, kenapa?” pekik Kezia yang sangat sulit membuka matanya.
“Berapa lama lagi aku harus merindukanmu,berapa lama?” bisik Arland nyaris tak terdengar.
Air mata mulai membasahi wajah Arland. Air mata Arland, menetes dengan hangat di punggung tangan Kezia.
“Arland, tolong jangan menangis. Kamu bilang, kamu paling benci harus menangisi sesuatu. Tolong jangan jadikan aku alasan kamu menangis.” Tutur Kezia dengan tangis di dadanya.
Kezia teringat kata-kata Arland, bahwa dia sangat tidak suka menangisi sesuatu. Hanya 1 kali Arland pernah menangis, yaitu saat papihnya meninggal. Setelah itu dia tak akan pernah menangis lagi. Tapi kali ini berbeda, Kezia lah yang membuatnya menangis. “Kak, aku mau pulang kak, aku mau pulang. Aku gag mau orang-orang yang aku sayang menangisiku…” teriak Kezia pada bayangan Dika.
“Hem... Pergilah. Ikuti kata hatimu. Bahagialah dengan orang-orang yang menyayangimu. Kakak pun akan ikut bahagia.” Tutur Dika sambil mengecup pucuk kepala Kezia dengan lembut.
Tanpa menunggu lama, Kezia segera berlari ke arah cahaya yang ada di hadapannya. Dia sempat terjatuh, namun kembali berdiri dan menguatkan tubuhnya.
“Grep!” sejenak Kezia menggenggam tangan Arland walau sedikit lemah.
Arland terhenyak. Dia segera melihat tangan kezia yang ada di genggamannya. Arland pun baru menyadari, ada air mata yang menetes dari celah mata Kezia.
“Key, kamu bangun key?” ujar Arland setengah berteriak.
__ADS_1
Ricko segera menghampiri Arland, Ricko merasa Arland mulai berhalusinasi setelah lebih dari seminggu ini hanya melamun dan tidak tertidur.
“Bro, lo baik-baik aja kan?” Ricko menepuk bahu Arland, berharap bisa menyadarkannya.
“Ko, liat ko, Kezia genggam tangan gue tadi ko..” tutur Arland sambil memperlihatkan tangan Kezia yang berada dalam genggamannya.
“Land,, Gue tau lo lagi bersedih. Dan kita semua juga bersedih tapi…”
“Ricko, lo pikir gue gila. Liat, Kezia juga nangis..” teriak Arland
Sontak Eliana dan sahabat-sahabat Kezia segera menghampiri Arland. Dan benar saja, mata kezia tampak basah. Tangis Eliana mulai pecah. Mereka nyaris tak percaya.
“Key, kamu bener-bener bisa bangun kan key? Liat, ada aku, ada mamah kamu, ricko, dena , kania dan sherly juga di sini. Ayo key, aku tau kamu mau bangun ayo bangun key, kamu pasti bisa!!” lanjut Arland dengan setengah berteriak.
Jemari kezia mulai bergerak. Kania, Sherly dan Dena berangkulan. Dan Eliana jatuh terhuyung.
“Panggil dokter ko, cepet panggil dokter!” teriak Arland.
Tanpa berfikir panjang, Ricko segara berlari keluar ruangan perawatan Kezia dan mencari dokter. Beruntungnya, ternyata dokter Herdiman sedang berjalan ke arahnya.
“Dok, kezia dok!” teriak Ricko dengan nafas terengah..
“Kenapa dengan Kezia?” Tanya dokter Herdiman yang segera berlari menghampiri Ricko. Ricko tidak menjawabnya, ia segera membuka pintu lebar-lebar.
Dokter Herdiman segera memeriksa Kezia dengan teliti.
“Apa barusan pasien memberi respon?” Tanya dokter herdiman.
Ucapan Arland terhenti saat ia melihat Kezia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, ia berusaha menyesuiakan penglihatannya. Dokter Herdiman tersenyum.
“Nenek….” Lirih Kezia perlahan. Kezia membuka matanya,menggerakkan bola matanya ke kanan ke kiri. Tampak keluarga dan sahabatnya mengelilingi Kezia.
“Nak, kamu udah sadar sayang?” seru Eliana dengan segera. Ia menggenggam tangan Kezia erat.
Kezia melirik Arland yang berdiri disampingnya. Kemudian tersenyum walau masih berat. Tangis Dena dan kedua sahabatnya pecah begitu saja, melihat Kezia yang mulai sadarkan diri.
“Sebentar biar saya periksa dulu ya bu… permisi…” tutur dokter Herdiman. Arland dan Eliana sedikit menyamping.
Dokter Herdiman mulai memeriksa Kezia dengan seksama. Mulai dari kepala hingga ke tangan. Dokter Herdiman mengangguk tanda sebagian pemeriksaan selesai, kemudian mempersilakan keluarga dan sahabat Kezia untuk kembali menemani kezia.
“Mah, nenek mana?” Tanya Kezia sambil menatap Eliana dengan penuh tanya. Suaranya masih parau dan pelan.
“Nenek siapa nak?” Tanya Eliana yang kebingungan.
Mata Kezia kembali mengeliling melihat orang-orang di sekitarnya.
"Ka, nenek mana?" Kali ini Kezia bertanya pada Kania.
“Key, nenek yang lo tolongin baik-baik aja… Dia udah pulang di jemput keluarganya…” tutur Kania dengan tangis di bibirnya.
“Syukurlah….” Lirih kezia.
__ADS_1
Rupanya orang pertama yang Kezia ingat adalah nenek yang dia tolong untuk menyebrang. Dia sangat khawatir sesuatu menimpa nenek tersebut sampai lupa kondisinya sendiri. Kezia kembali menatap Arland yang ada disampingnya.
“Kenapa kalian menangis?” Tanya Kezia dengan tatapan polosnya.
“Kami tidak menangis sedih nak, kami bahagia karena kamu sudah sadar..” lirih Eliana yang menyadari Kezia hanya menatap Arland.
“Mah, apa kaki zia di gips? Kok sampe kebas gini yaa…” lanjut Kezia yang berusaha bangun.
Eliana menatap dokter Herdiman. Dokter Herdiman mengerti benar arti tatapan Eliana.
“Kamu jangan dulu bangun… biar dokter yang periksa dulu…” pinta Arland yang kembali membaringkan kezia.
“Tidak apa-apa, kalau sedikit menyandar tidak masalah kok…” tutur dokter Herdiman.
Dena, kania dan Sherly refleks segera membantu Kezia untuk meninggikan posisinya dengan memutar pedal yang ada di kolong tempat tidurnya. Dokter Herdiman segera membuka selimut bagian bawah Kezia. Ia mengeluarkan alat seperti palu, dan sedikit memukulkannya ke lutut Kezia. tapi kaki Kezia tidak berreakasi.
Pemeriksaan beralih ke tungkai kaki dan telapak kaki, keduanya di periksa, tapi sama, tidak ada reaksi apapun. Dokter Herdiman menggelengkan kepalanya. Semua kekhawatirannya terbukti.
“Bagaimana dok, apa anak saya baik-baik saja?” Tanya Martin segera setelah melihat ekspresi dokter Herdiman.
“Mohon maaf pak, sepertinya syaraf kaki putri bapak terkena dampak dari benturan di kepala dan tulang belakangnya. Sehingga, dia tidak merespon setiap rangsangan yang saya berikan.,,,” terang dokter Herdiman sambil menatap nanar mata Martin.
“Maksud dokter apa? Kaki anak saya....” Eliana menggantung kalimatnya dengan tatapan penuh tanya.
Dokter Herdiman yang mengerti benar arah pertanyaan Eliana, hanya bisa mengangguk.
Kezia tertunduk lesu. Lelehan air mata mulai menetes seirama kedipan matanya. Sahabat-sahabat Kezia hanya terpaku mendengar kenyataan baru yang harus dihadapi Kezia. Ada rasa sesak karena kecewa yang kezia rasakan. Rasa itu semakin kuat saat melihat ekspresi sedih orang-orang disekitarnya. Apakah seumur hidup ia akan menyusahkan dan menggantungkan diri pada orang-orang di sekitarnya? Pasti akan sangat merepotkan. Namun, seiring rasa sedih itu, ada perasaan lain yang menghangatkannya, Kezia bersyukur masih bisa melihat orang-orang yang ia sayangi.
“Dokter, tolong periksa dengan betul, ini semua pasti salah kan dok, iya kan dok?” teriak Martin yang tanpa sadar mengguncang-guncangkan tubuh dokter Herdiman.
Namun dokter Herdiman tak bergeming.
“Pah, tolong hentikan. Mungkin kaki zia cuma kebas aja, karena zia baringan terus. Gag lama lagi juga baik-baik aja. Jadi kalian jangan sedih… Iya kan dok?” tutur Kezia dengan suara lemah.
Dokter Herdiman mendekati Kezia,… ia mengusap pucuk kepala Kezia.
“Lihatlah, dia sedang berusaha menyemangati dirinya sendiri dan tak ingin melihat kalian bersedih, apa kalian tak merasakannya?” gumam dokter Herdiman dalam hati. “Kuat sekali hati kamu nak…” lanjutnya.
Untuk pertama kalinya, hati dokter Herdiman ikut terrenyuh melihat seorang pasien di hadapannya. Ia berusaha menguatkan orang-orang di sekitarnya, padahal ia sendiri sedang rapuh.
Kezia mendongakkan kepalanya menatap dokter Herdiman yang berdiri di sampingnya. Matanya tampak berkaca-kaca.
“Tidak ada sakit yang tidak bisa sembuh. Hatimu kuat, tubuhmu pasti akan kuat. Ikutilah terapi dengan baik, semoga semuanya baik-baik saja…” terang dokter Herdiman yang secara tidak langsung mengiyakan bahwa Kezia memang menderita kelumpuhan.
Kezia mengangguk-angguk mengiyakan. Mencoba mencerna kondisi yang saat ini dia hadapi. Ia menghela nafas dengan berat, hatinya sedih dan air mata tak bisa ia bendung lagi.
“Dokter, saya ingin istirahat sendirian di sini. Bolehkah?” Tanya kezia dengan bibir bergetar. Dokter Herdiman memahami maksud Kezia. ia ingin belajar menerima kondisinya saat ini, dan ada hal yang ingin dia sembunyikan dari orang-orang yang ada disekelilingnya, salah satunya adalah kesedihannya.
“Iyaa,, kamu memang harus beristirahat dengan baik. Jangan dulu banyak bicara dan banyak bergerak. Dan untuk keluarga bisa menunggu di ruang tunggu. Silakan…” Terang dokter Herdiman dengan penuh kesungguhan.
Beberapa pasang mata dengan cemas menatap kezia. namun tidak ada yang berani membantah perintah dokter Herdiman. Kezia mengangkat wajahnya dan memandang orang-orang yang ia sayangi bergantian. Bibirnya berusaha tersenyum, walau terus bergetar menahan tangis.
__ADS_1
****