My First Love Story

My First Love Story
Episode 123


__ADS_3

“Pagi mima…” sapa Sean yang sudah berpakaian rapi.


“Pagi jagoan mima…”


Ia menyiapkan sarapan untuk Sean dan menaruhnya di hadapan Sean.


“Mima, apa hari ini mima akan bekerja?”


“Iya, mima akan ke rumah sakit sebentar untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Kamu mau ikut?”


“Tidak mima, sean tunggu di sini saja. Tapi mima nggak lama kan?”


“Enggak sayang,…” sahut Kezia seraya mengusap kepala Sean. “Mima akan menemui dada, apa kamu mau ikut?”


“Ya mima, udah lama sean enggak ke makam dada. Sean mau ikut.”  setiap membahas tentang dadanya, semangat Sean pasti akan melonjak berkali lipat.


“Baiklah, habiskan sarapanmu ya sayang…” tukas Kezia. Sean menganggukinya dengan semangat.


Tiba di rumah sakit, Kezia segera menuju bagian manajemen rumah sakit. Ia menemui bagian human resource dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Dokter Albert yang mengetahui hal tersebut, segera menemui Kezia di ruangannya.


“Dok, terima kasih atas bimbingannya selama ini. Mohon maaf kalau saya banyak merepotkan.” tutur Kezia dengan lembut.


“Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu adalah dokter yang cerdas. Saya hanya berpesan, tetaplah menjadi dokter yang professional dan mengedepankan asas kemanusiaan. Semoga kamu sukses di negaramu.” tukas Dokter Albert seraya menjabat tangan Kezia. kezia menyambut uluran tangan dokter Albert dengan segera. Baginya dokter Albert tidak hanya rekan kerja tapi gurunya.


“Key!” terlihat Fritz muncul di pintu ruangannya.


Dokter Albert dan Kezia menoleh bersamaan ke arah Fritz. Nafasnya masih memburu, mungkin ia berlari.


“Saya permisi dulu, kalian teruskan perbincangannya.” Pamit dokter Albert yang diangguki Kezia.


Fritz berjalan mendekati Kezia lalu duduk dihadapannya.


“Kamu mau pulang ke Indonesia?” tanya Fritz dengan terbata-bata.


Kezia mengangguk seraya tersenyum.


Fritz mengusap wajahnya kasar, rasanya ia tidak siap harus kehilangan Kezia.


****


“Kenapa begitu mendadak?” tanya Fritz seraya meneguk latte yang ada di tangannya. Saat itu Kezia dan Fritz berada di bukit favorit Fritz.


“Aku juga gag tau akan secepat ini…”


“Apa kamu akan kembali ke sini?” Kezia hanya mengangkat bahunya. “Ayolah,, aku akan sangat merindukanmu.” rengek Fritz.


“Aku juga fritz.” timpal Kezia seraya tersenyum. “Terima kasih untuk semuanya. Kamu adalah sahabat terbaikku.” ungkap Kezia dengan tulus.


“Hemm.. yaa,, aku sahabat terbaikmu.” tukas Fritz seraya menoleh Kezia.


“Kalau kau menikah, kabari aku…" tukas Kezia. dipeluknya Fritz yang ada di hadapannya. “Ingat, jangan terlalu banyak bermain dengan wanita. Pilihlah yang terbaik yang akan jadi ibu dari anak-anakmu.” lanjut Kezia sambil menepuk pundak Fritz. Fritz mengangguk dan mengeratkan pelukannya.


“Berjanjilah kamu akan melawan kalau sampai ada laki-laki bajingan yang menganggumu. Tendang dia di *********** dan siram wajahnya dengan minuman.” tutur Fritz dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


“Ya aku akan mengingat gerakan pertahanan yang kamu ajarkan.” sunggut Kezia seraya tersenyum.


Fritz melepaskan pelukannya. Ia menampuk wajah Kezia dengan kedua tangannya.


“Jangan lagi bersedih, jangan lagi ada air mata, hem…” Fritz menatap Kezia dengan hangat seolah ia sedang mengalirkan kekuatan yang besar untuk gadis di hadapannya. Kezia mengangguk seraya tersenyum.


****


 


Siang itu, sepulang dari rumah sakit Kezia mengajak Sean untuk berkunjung ke makam Angga. Suasana pemakaman yang sepi dengan bunga-bunga yang menjadi permadani penutup setiap makam. Sebuah batu nisan dengan tulisan “Ryangara P Wibawa” berdiri dengan kokoh. Ada bunga segar yang nutupi bagian atas makam. Ini memang permintaan Kezia pada petugas pemeliharaan makam, agar setiap hari ia menaburkan bunga segar di atas pusara Angga.


Kezia menggenggam tangan Sean yang berdiri di sampingnya.


“Hay kak…” lirih Kezia. Sean menatap wajah Kezia yang berubah sendu. Ia mengeratkan genggaman tangan mimanya. Kezia menolehnya kemudian tersenyum. “Hari ini, aku dan sean mengunjungi kakak lagi. Seperti biasa, kami datang di hari senin." kalimat Kezia terjeda dengan sebuah helaan nafas dalam. Rasanya sangat sulit untuk tidak meneteskan air mata di depan pusara Angga. Setiap bulan ia dan Sean berkunjung ke sana dan setiap bulan juga Kezia membawa cerita baru untuk ia ceritakan pada Angga.


"Kak, Sean sudah semakin besar. Dia anak yang baik dan pintar. Kami hidup dengan baik." Kezia mengusap pucuk kepala jagoan kecil di sampingnya. "Sore ini, Aku dan Sean akan pulang Indonesia. Aku harap, kami bisa hidup dengan baik setelah pindah ke sana. Aku akan selalu merindukan kakak, dan mengirimi do’a untuk kakak. Tenanglah di sana, aku tidak akan menangis lagi dan tidak akan bersedih lagi.” tutur Kezia seraya mengusap nisan Angga dengan lembut. “Bicaralah nak, dengan dada…” lanjut Kezia seraya menatap Sean.


“Dada… sean rindu sama dada. Apa dada tau, Sean sudah menjaga mima dengan baik. Akhir-akhir ini mima sudah makan lebih banyak dan tidak menangis sendirian lagi. Sean akan ikut dengan mima dan akan selalu menjaga mima. I love you dada…” tukas Sean seraya tersenyum.


Kezia mengusap pucuk kepala Sean dan mendekapnya erat. Dalam hati Kezia berucap syukur, pernah bersama laki-laki yang begitu baik dan begitu menyayanginya. Kali ini, tidak ada lagi sakit yang harus di rasakan Angga, dia sudah tenang di sana, bersama pemiliknya.


****


Semilir angin bertiup, membelai wajah dan rambut Kezia. wangi angin yang sama seperti  11 tahun lalu saat menyapa kezia dengan ramah.


Kota Heidelberg, hari ini Kezia akan benar-benar meninggalkannya. Kota yang menyimpan banyak kenangan indah dalam sebagian hidupnya. Keindahannya masih tetap sama, bunga-bunga bermekaran, suasana hijau yang menyegarkan terasa jelas mengisi rongga paru-paru Kezia saat ia menarik nafas.


Sore itu, setelah berpamitan dengan Mahesa dan Anna, Kezia dan Sean menempuh perjalanan menuju bandara. Memori Kezia memutar kenangannya saat pertama kali seorang laki-laki tampan menjemputnya di bandara. Tersenyum ke arahnya dengan hangat. Raut wajah yang tidak pernah bisa dilupakan begitu saja. Lembut, hangat dan tampan.


“Apa mima sedang bersedih karena harus pergi meninggalkan dada?” terka Sean.


“Ya sayang… Tapi kita akan menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sini…” tukas Kezia.


Sean mengangguk mengiyakan. Sean adalah anak laki-laki yang sensitive. Dia belajar dengan cepat memahami pemikiran orang dewasa. Sepertinya Angga mendidiknya dengan cukup keras, menjadikannya anak laki-laki yang mandiri dan benar-benar bisa menjaga dan menemani Kezia.


Perjalanan mereka cukup panjang. Saat pesawat mendarat, Sean masih tertidur pulas. Kezia membangunkannya dengan lembut. Ia menggeliat kecil lalu tersenyum saat melihat Kezia di hadapannya.


“Kita akan turun, apa kamu masih pusing?” tanya Kezia.


“Nggak mima, sean baik-baik saja.”


Kezia bergegas bangkit. Suasana di luar bandara sudah cukup gelap. Perjalanan panjang dan waktu yang berbeda membuat Kezia sedikit Jetleg.


Mereka berjalan keluar bandara dan menyetop sebuah taksi. Sepanjang perjalan Sean memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di tengah kemacetan. Ia tersenyum memandangi suasana baru di hadapannya. Orang-orang berbincang, tertawa satu sama lain bahkan saling berangkulan. Suasana yang berbeda saat berada di Jerman.


“Mima, orang-orang di sini sangat ramah. Aku tidak sabar segera mendapatkan teman baru.” Seru sean dengan semangat.


“Tentu sayang, kamu anak yang baik akan dengan mudah mendapatkan teman.” timpal Kezia.


“Tapi mima,aku tidak mengerti bahasa mereka. Sepertinya aku harus banyak belajar…” dengus Sean dengan wajah sendunya.


“Ya, mima akan mengajarimu. Tapi mima yakin, lama-lama kamu akan terbiasa karena kamu anak yang pintar.” Sahut Kezia seraya mengusap kepala Sean. Sean tersenyum dengan riang.

__ADS_1


Akhirnya, Kezia bisa menembus kemacetan. Perlahan taksi yang membawanya memasuki kompleks perumahannya. Dari kejauhan terlihat kantin milik Eliana yang selalu ia bicarakan. Kezia sengaja tidak mengabari kedua orangtuanya kalau dia akan pulang, karena ingin memberi mereka kejutan.


Mobil terhenti di depan gerbang rumah Kezia. saat itu sudah sekitar jam 8 malam. Kezia turun dan mengajak Sean serta membawa koper mereka. Kezia menarik nafas lega. Rumah yang selalu di rindukannya, Kini nyata ada di hadapannya. Kondisi rumah yang tetap sama, lampu di tembok rumah masih sama, menyala menyinari tangga kecil menuju teras rumahnya.


Kezia mengetuk pintu dengan cukup keras. Terdengar suara seseorang yang berjalan menuju pintu.


“Ceklek.” Seseorang memutar handle pintu dan di susul daun pintu yang terbuka lebar.


Seorang wanita paruh baya berdiri tepat di hadapan Kezia. Ia menatap Kezia nyaris tak berkedip. Tangan kanannya menutup mulutnya karena terkejut.


“Mah…” sapa Kezia. Dengan segera Eliana memeluk Kezia dan terisak di bahunya. Ia tidak pernah menyangka putri yang ia rindukan siang dan malam pulang ke rumahnya. Rumah yang sepi dan jarang terdengar gelak tawa setelah kepergian Kezia.


“Sayang, mamah sangat merindukanmu. Akhirnya kamu pulang nak.” tutur Eliana dengan terbata-bata.


“Iya mah, zia juga kangen mamah.” Kezia mengusap punggung Eliana berulang.


“Kenapa kamu gag ngabarin mamah kalo kamu pulang?”


“Maaf mah, zia cuma pengen ngasih mamah kejutan…” Kezia masih memandangi wajah Eliana yang tidak muda lagi dan terlihat lelah.


“Astaga , lihat siapa ini… hay sayang…” sapa Eliana pada Sean yang sedari tadi mematung karena tidak mengerti dengan pembicaraan Kezia. Kezia tersenyum gemas.


“Sean, Sag Hallo zu meiner lieben oma… (Sean, beri salam untuk oma sayang…)” tutur kezia seraya tersenyum. Sean mengangguk.


“Wie geht es dir, oma? (Apa kabar nenek?)” ucap sean seraya mengecup punggung tangan Eliana. Eliana memandang Kezia karena tidak paham.


“Sean bilang, apa kabar oma?” ujar Kezia yang paham arti pandangan Eliana.


“Ooo ya tuhan… baik sayang. Mamah harus banyak belajar ini sayang…” ucap Eliana seraya terkekeh dan  mengusap pucuk kepala Sean. “Ayo masuk nak, kalian pasti capek.” ajak Eliana seraya menarik koper Kezia.


Kezia mengikuti langkah Eliana bersama Sean. Di ruang keluarga tampak Martin sedang menyaksikan pertandingan bola.


“Pah, liat siapa yang dateng.” Seru Eliana dengan semangat. Martin segera menoleh.


“Zia? Sean?” seru Martin seraya memakai kacamatanya , khawatir salah liat. Ia segera bangkit dan menghampiri Kezia.


“Hay pah… Papah apa kabar?” rangkul Kezia pada laki-laki didepannya.


“Ya tuhan, papah kira papah mimpi. Ini benar-benar kamu nak. Kamu pulang…” lirih martin yang tak kuasa menahan air matanya. Kezia mengusap bahu papahnya dan tersenyum. “Schau dir diesen keinen helden vor dem Großvater an… (lihat, jagoan kecil ini ada di hadapan kakek..)” lanjut martin seraya terjongkok mengikuti postur tubuh Sean.


“Wie geht es dir Großvater? (apa kabar kakek?)” Sean pun mengecup punggung tangan Martin.


“Gute nachricht, sohn. Setz dich du must mude sein.. (Kabar baik nak. Ayo duduklah, kalian pasti lelah..)” tutur Martin seraya membawa Sean ke sofa.


Mata Sean mengeliling melihat suasana rumah Kezia. Ia tersenyum, melihat foto-foto yang terpajang di tembok.


“Mima war sehr lustig , als klein war.. (Mima sangat lucu saat masih kecil…)” gumam Sean saat memandangi foto kecil Kezia bersama kakak dan kedua orangtuanya.


Kezia hanya tersenyum. Sepertinya foto ini baru di pasang oleh kedua orantuanya, karena sebelumnya tidak ada foto mereka di sana.


“Kami sangat merindukan kalian, jadi kami memasangnya di sana…” lirih Martin dengan mata berkaca-kaca.


“Gag pa-pa pah, zia juga kangen sama kakak…” tukas kezia seraya mengusap bahu Martin.

__ADS_1


Mereka menikmati suasana berkumpul bersama. Makan malam bersama dan bercerita hinga larut malam. Terkadang Eliana hanya tersenyum, karena tidak terlalu paham saat mereka berbicara dalam bahasa jerman. Malam pun terlewati dengan penuh kehangatan.


****


__ADS_2